Saturday, 29 July 2017

#RIPChester. Why, Chester..?


Satu minggu berlalu, saat berita kematian sang idola, Chester Bennington, berkumandang di jagad maya dan berita yang menghebohkan di seluruh dunia tanggal 20 Juli 2017 lalu.

Entah kenapa, sejak berita tersebut, gue begitu merasa kehilangan mood. Sosok yang sejak awal tahun 2000 menjadi orang yang gue kagumi, kini telah pergi untuk selama-lamanya. Gue suka lagu-lagunya, gue suka lirik-luruknya. aksi panggungnya, jiwa sosialnya, penyayang binatangnya dan  juga kepeduliannya akan bumi ini. Anti peperangan serta anti hal-hal yang berbau kekeransan.

Tapi, berita meninggalnya Chester dengan cara bunuh diri (menggantungkan tubuhnya di atas seutas tali), sebenarnya gue sangat tidak suka dengan tindakannya itu. Bagi gue, itu hanya dilakukan orang-oorang tolol dan tidak punya pengharapan dalam hidup. Karena hanya orang tolol yang  nekad mengakhiri hidupnya dengan cara tersebut. Berarti my idol is Idiot??

Dalam akun sosmed, gue sempat menulis WHY?? WHY..? WHY CHESTER!! Ya, karena gue masih tidak habis pikir, kenapa dia sampai nekad melakukan itu? Apa yang tengah dia rasakan saat itu? depresi yang teramat dalam kah?  but Why?? begitu banyak cara yang bisa dilakukan untuk terlepas dari itu. (ya, meski kata banyak orang, biasanya orang yang tidak merasakan lebih mudah mengatakan dari orang yang mengalami)

BUT, AGAIN, WHY???


Sejujurnya, gue bukan penikmat aliran musik keras alias Rock. Bahkan gue sangat anti dengan jenis musik yang menurut gue memekakkan telinga. Tapi, entah kenapa, sejak Linkin Park hadir di kancah musik dunia, telinga gue bisa menikmati lengkingan lengkingan suara Chester. Apa mungkin karena aliran musik mereka beda? ada perpaduan tehno, rap dan sebagainya? atau karena ada sosok Mike Shinoda yang membuat musik  LP menjadi lebih renyah ditelinga? 

Entah lah...

Yang jelas, lagu-lagu mereka yang menetas dari album Hybrid Theory, Meteora, Minutes to Midnight dll dll hingga album terakhir mereka yang bertajuk One More Light tetap gue suka. Meski banyak fans yang terkadag kecewa dengan perubahan sentuhan pada lagu-lagu mereka. hingga membuat Chester konon katanya semakin depresi. bisa terlihat dari respon Chester pada haters plus penggemar yang kecewa pada album terbaru mereka. Chester tidak sungkan mengumpat dan marah-marah di sosmed.

Meski banyak perubahan, but, i don't care! Selama gue masih mendengar suara Chester, selama dia masih emnjadi vokalis LP, gue sudah suka.



Salah satu lagu yang menjadi favorit gue dan juga mungkin semua penggemar-penggemarnya, lagu IN THE END menjadi lagu andalan gue kalau  gue sedang mengalami tingkat ke pede-an tinggi. Gue suka "maksa" menyanyikan lagu In the end di ruang karaoke bersama teman-teman. Meski hasilnya, teman-teman teriak menyuruh gue berhenti bernyanyi lagu tersebut karena jelas suara gue sangat mengganggu pendengaran mereka. Ya, suara gue emang jelek. But, i love the song! Meski dihujat, gue  tidak pernah menyerah untuk terus melantunkan lagu yang konon katanya syairnya bentuk isi hati Chester yang mengalami banyak dinamika kehidupan.

Ya, memang, setiap manusia yang hidup pasti mengalami dinamika kehidupan. Ups and downs pasti ada dalam hidupku. tergantung kita mampu atau tidak menghadapinya. Jika, melihat jalan pintas yang dilakukan Chester, mungkin dia "menyerah" dengan kehidupannya. Karena dia begitu tega  meninggalkan keluarganya. Istri tercintanya, Talinda Bennington, anak-anaknya (6 orang), serta teman-teman di lingkungan LP juga musisi-musisi dunia yang juga kehilangan sosok ramah itu. . Tidak lupa penggemar-penggemar setianya. Chester memilih jalan pintas untuk menyudahi hidupnya hanya gara-gara Depresi berkepanjangan yang tidak juga hengkang dari kehidupannya. Drugs, alkohol menjadi pelarian untuk memusnahkan si depresi eh justru semakin menjerumuskannya ke jurang depresi paling dalam.

Tapi... WHY..??? WHY CHESTER???

Gue masih tidak habis pikir, kenapa dia bisa dan nekad melakukan itu? bunuh diri. Menggantung diri? itu kan kelakukan konyol bagi orang bodoh.


Keluarga bahagia, popularitas serta harta yang mungkin lebih dari cukup untuk kehidupan seorang Chester, ternyata tidak mampu membuat dia bahagia. Justru semakin membuat dia terperosok ke jurang depresi yang paling dalam.

DAMN!!!

Gue menulis blog ini antara emosi, kesal dan sedih. semua campur aduk. Karena, sejak seminggu belakangan mood gue terpecah belah dengan membayangan kelamnya hidup seorang idola. Setiap hari gue mendengarkan lagu-lagu LP. Mulai dari yang terbaru hingga yang laWAS. Dan, ternyata ada beerapa lirik lagu yang benar-benar nyata dan merupakan jeritan hati Chester yang dia tuangkan ke dalam syair. Juga lagu-lagunya ada juga mengisahkan tentang putus asa dan sebuah kematian. Lagu yang mengisyaratkan kalau dia punya niat bunuh diri itu ada. (kamu bisa search dan googling deh... Gue nggak sanggup menjelaskan lagu-lagu apa saja itu.)

Banyak spekulasi berita gentayangan di jagad maya tentang kematian Chester. Mulai dari berita Chester dibunuh, Chester mengikuti jejak Idola sekaligue sahabat baiknya Chris Cornell yang juga meninggal bunuh diri pada tanggal 18 Mei 2017 lalu. Dimana Chester sangat kehilangan sosok sahabatnya itu. Di hari pemakaman, Chester melantunkan lagu Haleluya dengan khikmad. Bahkan, Chester juga sempat menuangakn isi hatinya pada akun sosmed-nya tentang mimpinya. Chester memang sangat kehilangan Cornell. Bahkan, konon katanya, wujud dari kehilangannya akan sosok sahabat sejati, Chester nekad bunuh diri di hari Ulang tahun Chris Cornell (20 Juli).

DAMN!!!



Dear my Idol Chester,
gue tidak tahu, apakah sekarang kamu bahagia di alam saja, atau malah semakin tersiksa. Karena sang Pencipta alam semesta tidak pernah mengizinkan umatnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Kenapa kamu tidak mengandalkan imanmu? Tuhanmu??

Terlalu panjang curhatan ini jika gue tuliskan. Intinya gue merasa sangat kehilangan kamu. Kehilangan sosok yang begitu (awalnya) inspiring me. Tapi, cara mengakhiri hidupnya bukanlah cara yang pantas untuk ditiru. Tidak!
Karena, kepergianmu banyak meninggalkan luka. Luka bagi orang-orang terkasihmu. istri tercintamu yang begitu terpukul atas kehilangan soulmatenya. Sampai-sampai dia menuliskan bait demi baik ungkapan hatinya. Ya, sama halnya ketika kamu menuliskan bait demi bait ungkapan hatimu atas kehilangan sahabatmu,Chris Cornell.


REST IN PEACE, CHESTER..
You Will be Missed

Share:

Friday, 21 July 2017

REST IN PEACE, CHESTER BENNINGTON #LINKINPARK


Foto: Google image


Ada 3 musisi yang menjadi idola gue di dunia ini. Bono dari U2, Chester dari Linkin Park dan Chris Martin dari Coldplay. Gue punya alasan tersendiri kenapa sangat ngefans dan mengagumi mereka. Karena, di balik popularitas dan wajah sangar yang mereka miliki, ternyata mereka memiliki hati bak Angel alias malaikat. Mereka sangat Concern terhadap masalah Lingkungan Hidup, masalah kemanusiaan dan juga masalah Sosial. Coba kalian perhatikan dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan, pasti terselip pesan-pesan moral yang mengajak kita (penggemarnya) untuk perduli terhadap Lingkungan hidup dan alam semesta.

Jadi, bagi gue, mereka tidak hanya idola sebagai pentolan di grup mereka, namun secara personal mereka memiliki “souls” yang belum tentu dimiliki penyanyi-penyanyi lain.

Bahkan, dalam hati, gue berjanji, jika waktu memungkinkan, gue akan berusaha untuk menonton konser mereka. Dan Thanks God, gue diberi kesempatan bisa menonton konser Linkin Park sewaktu mereka datang ke Indonesia tahun 2004 dan 2011 lalu. Gue begitu menikmati hinggar bingarnya. 



Begitu juga dengan konser Coldplay di Melbourn, Australia,  akhir tahun 2016 lalu. Gue mendapat kesempatan bisa melihat langsung konser mereka, bernyanyi bersama puluhan ribu penggemar Chris Martin and the genk. Hanya saja, hingga saat ini, gue belum mendapat kesempatan bisa melihat langsung aksi panggung Bono dan U2-nya. Karena, keterbatasan biaya dan jarak yang cukup jauh.
Berharap U2 konser di Indonesia adalah hal yang impossible. Konon katanya, U2 tidak akan mau menggelar konser di Negara yang memiliki reputasi kurang baik terhadap HAM dan juga isu-isu sosial dan politik. Mau menonton konsernya di luar negeri, jelas gue harus nabung bung bung sampe gembung.

KABAR DUKA



20 Juli 2017, ketika baru banun tidur, saat gue membuka smartphone gue. Muncul berita duka yang benar-benar membuat gue shock bahkan gue piker ini mimpi. CHESTER BENNINGTON diberitakan meninggal dunia karena bunuh diri.

OMG…Seriously?

Gue sempat mikir kalau berita itu HOAX. Gue langsung menelusuri berita-berita tentang Chester, dan ternyata berita tersebut benar adanya. Separuh jiwa gue serasa hilang dan ini bukan lebay. Sejak awal 2000, gue sudah mengidolakan grup ini. Hampir semua lagu-lagunya gue suka. Terutama In The End, NUMB, What I’ve done, Leave out All the rest, dan banyak lagi.  Intinya gue suka lagu-lagu Linkin Park. Gue suka jenis suara Chester yang serak tapi melengkin dan juga gue suka aksi panggung Chester.

Sebagai Pengagum Chester, gue punya kenangan tersendiri akan dirinya. Kala itu, tanggal 13 Juni 2004, saat pertama kali mereka menggelar konser di Indonesia yang bertajuk Meteora World Tour. Tepatnya di Pantai Carnaval, Taman impian jaya Ancol, kala itu gue masih menjadi jurnalis di salah satu tabloid ibukota. Gue mendapat kesempatan menghadiri Press Conference sebelum mereka menggelar konser.
Kalau itu, gue langsung memilih posisi tempat duduk paling depan. Supaya bisa melihat dengan puas wajah-wajah personil Linkin Park, juag beriteraksi dengan mereka.

Saat jumpa pers berlangsung, gue perhatikan tangan Chester tidak henti-hentinya mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Sempat mikir, kira-kira Chester sedang menulis apa? Dalam hati, seandainya coretan itu ditinggalkan begitu saja, gue akan mengambilnya.

Ternyata apa yang gue harapkan benar adanya. Usai jumpa pers, semua personil meninggalkan tempat disusul jurnalis yang meliput. Sebelum meninggalkan ruangan, buru-buru gue menyamperin meja jumpa pers dan langsung mengambil kertas yang di corat-coret Chester. Memasukkannya ke dalam tas. Kali aja, bodyguard melihat dan langsung menghadang kemudian merampas kertas tersebut. Nggak lucu juga kalau kami rebut-rebutan kertas kan???

Apa judulnya coba?

Saat suasana sudah tenang, dan kondusif, gue melihat coretan Chester tadi. Ternyata sebuah gambar robot lengkap dengan tanda tangan Chester. Kalau tidak salah, waktu itu Linkin Park akan mengisi soundtrack untuk film Transformer. Jadi, imajinasi Chester masih terbayang-bayang akan film Transfomer kemudian melukisnya ke dalam kertas. Sangkin senangnya, coretan  gambar robot itu gue simpan dan gue bingkai.

Tragisnya, dan yang membuat gue sedih adalah, ketika gue pindahan rumah, beberapa bingkai foto gue pecah dan mungkin petugas yang mengangkat barang-barang gue menganggap gambar robot itu tidak penting sehingga membuangnya begitu saja. Mengetahui bingai gambar robot Chester sudah tidak ada, EMOSI gue meledak bak Bom atom yang meledakkan Hiroshima. Seisi rumah jadi sasaran kemarahan gue. Betapa berharganya gambar itu bagi gue. Mudah-mudahan, gue masih menyimpan file lukisan robot tersebut (smabil ngacak-ngacak file. Namun tidak ketemu juga.)



I’m so sad….

Kemudian, mendapat kabar kalau Linkin Park akan konser ke Indonesia lagi, gue pun menyempatkan diri menontonnya. Ya, tanggal 21 September 2011, ke rinduan gue akan grup ini terobati kembali. Gue bisa menikmati momen-momen disaat seluruh penggemarnya bernyanyi bersama-sama.

Pagi ini, duka yang mendalam menyelimuti jiwa gue. Chester Meningga dunia dengan cara yang menurut gue tragis. Kenapa harus bunuh diri, Chester?  WHY??
Kini, gue tidak bisa lagi melihat Insta Story-mu lagi. Biasanya, hamper setiap saat gue membuka Instagram dan melihat Insta story-mu.

May, Your Soul Rest In Peace, Chester

Kenangan yang sulit gue lupakan adalah, Setiap kali di ruangan Karaoke, ketika disuruh bernyanyi, gue pasti memilih lagu IN THE END. dengan suara gue yang ancur dan bikin telinga bude, gue pede 1000 persen menyanyikan lagu In The ENd.. meski berakhir dengan caci maki teman-teman gue. 

But, I love it... 




Share:

Monday, 17 July 2017

Edan, Objek Wisata The Lodge Maribaya Semakin Semraut




                  Tahun lalu, tepatnya bulan September 2016, gue berkunjung ke objek wisata yang saat itu sangat hits di sosial media yaitu The Lodge, Maribaya. Sangkin penasaran, gue pun bela-belain datang ke sana. Meski lokasinya lumayan jauh dan akses menuju kesana masih banyak jalan yang rusak dan berlubang. Tapi, demi mengobati rasa penasaran, akhirnya gue dan teman pun nekad kesana. Saat itu kami benar-benar menikmati suasana alam nan asri di The Lodge. 

Untuk kisahnya baca disini:



Tapi kini,

Hampir setahun sudah gue tidak menggubris objek wisata The Lodge. Karena, gue pikir, toh gue sudah pernah kesana dan sudah menikmati beberapa wahana. Tapi, setelah setahun, ternyata kemajuan The Lodge begitu pesat. Terutama dengan bertambah banyaknya wahana. Sebenarnya, menurut gue semua itu bukan wahana bermain, melainkan lebih tepatnya wahana untuk foto-foto eksis bagi pengunjung yang rata-rata memang narsi dan eksi. Dijamin mereka berlomba-lomba ingin memajang foto-foto mereka di sosmed. Wahana yang baru seperti Hot Air Balloon, Gantole, Bamboo Sky Scraper, Mountain Swing dan Hammock dan beberapa lainnya. Sedangkan wahana yang dulu Sky Tree, Zip Bike masih tetap ada dan masih tetap ngantri jika ingin eksis.

Kebetulan beberapa dari teman-teman gue kepingin ke The Lodge, mereka memaksa gue menemani kesana. Meski berat hati tapi terpaksa ditemani juga. Kami pun memutuskan pergi kesana saat weekend. Dan, weekend kemaren, gue dan teman-teman akhirnya berangkat kesana. 


Tiba di lokasi,  Suasananya benar-benar mirip pasar ramainya. Atau mirip antrian mau masuk ke DUFAN gitu deh. Rameeeeee-nya ujubilaaaa… Sangat berbeda waktu tahun lalu gue datang.. Meski waktu itu sudah happening tapi suasana tidak seramai dan se-membludak saat itu. Atau mungkin karena hari Minggu? atau juga karena liburan panjang anak sekolah sehingga berbondong-bondong lah orang kesana. Sepertinya dari seluruh penjuru tanah air ngebet datang kesini. Alhasil, karena suasana cukup padat merayap, kami mengurungkan niat untuk masuk. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB. Jatah untuk menikmati wahana sangat terbatas. Ditambah lagi antrian di loket penjual tiket masuk. Mending bubar jalan deh…

Kami memutuskan pergi ke tempat lain  yang lebih santai dan tenang ketimbang harus tumplek-plek dengan ramainya umat manusia. Perubahan lain yang mencolok adalah, sekarang begitu banyak pedagang menjual aneka jenis makanan, minuman, souvenir, buah-buahan dan banyak lagi. Selain itu, tempat parkir dadakan juga tidak kalah hebohnya. Hampir sepanjang jalan menuju gerbang pintu masuk ke The Lodge dibanjiri pedagang dan tempat parkir. Tahun lalu tempat parkir masih diarea lokasi objek wisata The Lodge. Selain itu, juga masih sepi dan terkesan rapih. Sekarang ya, Mirip pasar Antri gitu deh. Suasanannya benar-benar terlihat berantakan dan semraut!


Kami memutuskan datang kembali weekdays. Harapan kami, datang pada hari biasa mungkin bisa lebih rileks dan bisa bernafas lega. Tapi ternyata kami keliru. Suasana disekitaran The Lodge Maribaya tetap saja tidak berubah. Masih dipadati pengunjung , pedagang, tukang parkir dan calo parkir. Sejak pertama menginjakkan kaki ke area tersebut, kesan semraut dan bikin mumet begitumelanda.. Maksud hati ingin menikmati suasana tenang dan nyaman justru dihadapi dengan tumplek ruahnya orang-orang.

Setelah ngantri membeli tiket masuk, kami pun masuk ke dalam The Lodge. Lagi-lagi kami harus dihadapkan dengan membludaknya pengunjung. Masih di pintu masuk kami harus berhadapan dengan padatnya antrian orang. Belum lagi memulai antrian untuk menikmati wahana. Hmmm, liburan yang benar-benar bikin tidak nyaman.

Alhasil, dari sekian banyak wahana foto eksis (bukan wahana permainan ya..), kami hanya bisa menikmati 2 saja. Yaitu, Baloon air dan Gantole. Untuk menikmai Zip Bike, Montain Swing dan wahana-wahana lain antriannya mirip antrian sembako dimusim krisis moneter. Panjaaangggg banget. Mending diurungkan saja deh. Karena benar-benar sudah hilang mood.



Jika ditanya, kapan waktu yang tepat datang ke The Lodge, Maribaya? Gue saja tidak bisa menjawab kapan. Karena, kami sudah mencoba di hari weekend sepertinya mustahil bisa rileks dan santai. Dicoba weekdays, eh, sama saja. Jadi, jika ingin datang kesana, ya harus dipersiapkan mental. Ya, mental untuk ngantri dan bersabar menunggu giliran.

Sekedar memberi saran untuk pihak The Lodge, sebaiknya kenyamanan pengunjung lebih diutamakan ketimbang mraup keuntungan semata. Karena, tujuan orang datang kesitu pasti ingin santai dan rileks dengan menikmati wahana dan suasana. Tapi, kalau keadaaannya sudah tidak nyaman, bagaimana mungkin bisa dan mau datang kesana lagi? Harus ditata lebih baik dan rapih lagi, terutama di pelataran parkir dan pedagang. Jika semua tertata dengan rapih dan baik, semua akan sama-sama diuntungkan. Pengunjung pun akan terus datang dan datang lagi. 



Gue lebih nyaman dengan suasana The Lodge tahun lalu. Masih tidak membludak tukang dan tempat parkir serta pedagang.


Share:

Friday, 14 July 2017

Yuk, Lihat kota Bandung dari Bukit Moko

Hamparan cahaya lampu kota BAndung terlihat begitu jelas dari ketinggian 1500 di Bukit Moko


Sebenarnya nama Bukit Moko sudah cukup lama gue dengar, bahkan jauh sebelum bukit ini menjadi hits dikalangan orang-orang yang suka hunting tempat-instagramable. Tapi, untuk mengunjunginya selalu ada saja kendala. Padahal dulu gue sempat menjadi warga Bandung selama 6 tahun. Eh, justru setelah pindah dari kota Bandung, gue baru bisa datang dan menikmati keindahan kota Bandung dari ketinggian 1500 mdpl.

Bukit Moko terletak di Desa Cimenyan, Bandung. Untuk menuju kesana, kamu bisa melewati jalan Padasuka yang cenderung tanjakan hingga mencapai puncak bukit Moko. Ketika memasuki kawasan Padasuka, sebenarnya ada objek wisata yang tidak kalah menarik yang bisa kamu kunjungi, yaitu Saung Angklung Udjo. Tapi, untuk sementara abaikan yang satu itu ya. Fokus ke Bukit Moko.

Malam itu, gue dan teman-teman sebenarnya ingin menikmati sejuknya kota Bandung di kawasan Dago Pakar. Tapi, entah kenapa ada rasa jenuh berkunjung kesana. Mungkin sudah cukup sering mengunjungi kawasan tersebut sehingga tidak ada godaan besar untuk mengunjunginya lagi. Akhirnya kami mencari alternatif mencari destinasi bagus untuk dikunjungi di malam hari. Akhirnya, muncul ide ke Bukit Moko. Kami pun langsung tancap gas. 


Kami pergi ke Bukit Moko dengan mengendarai motor Matic. (Saran gue kalau mau ke Bukit Moko jangan pakai motor matic atau mobil matic juga.  Karena jalanan banyak yang tanjakan. Sedangkan Matic sulit menjangkau tanjakan yang terjal jika tidak dibantu dengan adegan dorong mendorong.)
Udara malam kota Bandung lumayan dingin. Suhu di pusat kota mencapai 22 drajat. Tapi, anehnya kami tidak membekali diri dengan pakaian yang bisa menghangatkan badan. Seperti malam itu, gue hanya pakai celana pendek, kemeja flannel dan rompi. Sangat tidak layak dipakai di tempat berudara dingin. Maklum lah, kami tidak punya planning berkunjung ke Bukit Moko. Tapi, karena cuma itu yang ada terpaksa dipakai seadanya.

 
WAKTU TERBAIK MENGUNJUNGI BUKIT MOKO

Sebenarnya lokasi Bukit Moko tidak terlalu jauh dari pusat kota Bandung. Mungkin sekitar 30 menit naik motor  bisa mencapainya. Melintasi kawasan tersebut kita melewati beberapa perumahan-perumahan di sekitaran Padasuka. Jadi, kamu tidak perlu ketakutan akan sepinya kawasan tersebut. Bahkan hingga mencapai puncak bukit sekalipun, kamu masih melihat rumah-rumah  penduduk. Sesekali saling bertegur sapa dengan warga setempat.
Bukit Moko sebenarnya hanyalah kawasan puncak tertinggi di kota Bandung. Dari sana kita bisa melihat hamparan luas kota Bandung yang dipadati rumah-rumah dan gedung-gedung. Jika berkunjung pada siang hari, kamu hanya disuguhkan landscape kota Bandung yang mirip kotak-kotak puzzle. Tapi, jika kamu datang pada sore menjelang malam hari, sensasinya bisa berbeda lagi. Kamu bisa melihat taburan cahaya lampu yang begitu amazing ditambah cahaya matahari di langit yang perlahan-lahan akan tenggelam. Indah sekali. 


Oleh karena itu, momen terbaik berkunjung ke Bukit Moko adalah disaat senja atau malam hari. Karena cahaya lampu-lampu terlihat dengan jelas menyinari kota Bandung. Ada juga yang bilang, best moment adalah subuh hari menjelang sunrise. Karena Kota Bandung  masih ditutupi kabut tebal di tambah taburan cahaya lampu yang masih menyalah dan dibantu dengan cahaya matahari yang malu-malu akan menampakkan sinarnya. Sensasi yang beda lagi, bukan?
Hanya saja, gue belum merasakan sensasinya di subuh hari. Maklum lah, selain mata masih ngantuk, gue juga tidak tahan udara yang sangat dingin jika nekad datang disubuh hari. Mungkin kamu bisa mencoba sensasi sunrise di Bukit Moko pada subuh hari.   

 
WARUNG DAWEUNG
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan Pe-er sekitar 30 menit lebih, gue dan teman-teman akhirnya tiba di puncak Bukit Moko pada pukul 22:00 WIB. Udara semakin dingin. Suhu mencapai 18 Drajat. Konon katanya, semakin larut suhu udara angkanya semakin mengecil alias semakin dingin. 


Motor kami parkirkan di depan Warung Daweung. Satu-satunya warung yang ada di puncak Bukit Moko. Dan kita harus masuk melalui Warung tersebut untuk melihat landscape keindahan kota Bandung.
Saat masuk dikenakan biaya retribusi sebesar Rp.25.000,- . Dan kita sudah mendapat makanan dan minuman sesuai selera (malam itu kami minta Wedang, Teh Panas, Pisang Goreng keju, Mie goreng dan sebagainya) Worth it lah untuk biaya segitu. 


Warung Daweung adalah sebuah warung yang namanya diambil dari bahasa Sunda yang punya arti warung melamum. Kenapa dinamakan warung melamun? Mungkin dulunya banyak penduduk setempat sering datang kesitu hanya sekedar duduk-duduk dan melamun. Oleh karena itu, sebutan Daweung atau melamun begitu melekat sehingga dijadikanlah warung tersebut Warung Daweung. Kalau dipikir-pikir lokasinya sangat asyik untuk melamun sih. Asal jangan datang kesitu saat patah hati. Ntar malah berbuat nekad.

TIPS JIKA HENDAK KE BUKIT MOKO
1.         Untuk mendapat best moment, sebaiknya datang sebelum matahari terbenam. Tapi, malam hari dan subuh hari juga menjadi recomendasi untuk mendapatkan momen terbaik juga.
2.         Pakai kendaraan yang layak. Sebaiknya hindari motor matic karena jalanan yang tanjakan dan masih banyak jalan yang rusak alias bebatuan. Tanjakan emmbuat motor matic sulit mendakinya.
3.         Pakai mobil juga harus yang bergarda tinggi. Hindari memakai mobil sedan atau ban ceper. Karena kasihan mobilnya akan berbenturan dengan bebatuan sepanjang perjalanan.
4.         Bawa jaket, kupluk, baju hangat atau pakaian yang bisa menangkal dingin.
5.         Datang beramai-ramai jauh lebih serung ketimbang sendirian.
6.         Jangan membuang sampah sembarangan ya. Jagalah kebersihan.

Share:

Monday, 3 July 2017

Seven Eleven, Riwayatmu Kini. #RIPSEVEL





                  Sejak mendapat kabar “duka”  (akhir bulan Juni lalu) atas ditutupnya tempat nongkrong Seven Eleven, yang merupakan salah satu tempat nongkrong favorit gue untuk menulis atau pun janjian sama teman-teman. Bagi gue, Sevel menjadi tempat yang sangat mewakili keinginan gue. Tempatnya nyaman dan bersih, harga makanan dan minumannya masih ramah di kantong. Fasilitas wifi dan AC-nya juga sangat membantu lancarnya pekerjaan gue.

Hanya saja, setiap kali datang ke Sevel, gue suka kesal dan ngomel melihat ulah pengunjung yang rata-rata ABG atau anak kampus atau juga orang kantoran yang suka nongkrong berlama-lama disitu. Kenapa kesal, menurut gue, rata-rata pengunjung Sevel buta aksara alias tidak bisa membaca.

Kenapa?

Karena hampir disetiap sudut ruangan atau bahkan di meja-meja sudah tertulis pengumuman “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan” Atau “Buang Sampah Pada Tempatnya.” Namun, sayang, pengunjung yang ngaku anak sekolah, anak kampus hingga para pegawai kantor yang notabene berpendidikan, namun sayang ternyata mereka tidak bisa membaca. Karena, pengumuman segede gaban tentang menjaga kebersihan pun tidak bisa mereka baca. Mereka masih membuang sampah seenaknya atau bahkan dengan bangga meninggalkan bekas sampah minuman dan makanan mereka di meja. 

BACA JUGA: SEVEL HITS BENER

Pernah (beberapa kali) gue memergoki segerombolan anak remaja hendak meninggalkan meja yang penuh sampah makanan setelah berjam-jam mereka tempati. Sebelum beranjak, gue menegur mereka dengan sopan dan baik.
                  “Tolong sampahnya dibuang pada tempat sampah ya…”
Tapi sayang dengan lantang mereka menjawab, ”Kan ada petugas yang nanti akan membersihkannya.”
Karena kesal, gue langsung menyuruh mereka membaca stiker bertuliskan tentang Membuang sampah pada tempatnya. Kemudian, dengan kesal dan wajah menggerutu satu persatu mereka mengambil sisa bungkus makanan dan minuman yang sesungguhnya adalah milik mereka. Terserah mereka mau ngomel-ngomel, yang jelas bagi gue, itu sudah menjadi treatment agar otak mereka bisa di fungsikan untuk menjaga kebersihan dimana dan kapan pun.

Selain para remaja tanggung, gue juga sempat menegur sepasang sejoli yang makan dan minum dengan aneka jenis makanan dan minuman yang terhidang di atas meja. Kemudian dengan tidak ada beban, selesai kencan dan makan-makan mereka pergi meninggalkan sisa sampah di atas meja mereka. Lagi-lagi gue menegur agar mereka membuang sisa makanan minuman mereka pada tempatnya. Lagi-lagi adu argument pun sempat terjadi dan gue tidak pernah gentar untuk menghadapi orang-orang yang BUTA akan kebersihan. Biar deh capek dikit namun gue bisa memberi “ilmu” menjaga kebersihan bagi siapa saja yang masih belum mendapat ilmu soal kebersihan  dari orangtuanya.

Selain soal kebersihan yang bikin keki adalah, soal mengambil saos atau sambal ketika pengunjung membeli hotdog, burger, citatos  atau makanan apa saja yang membutuhkan saos sambal dan mayones. Kebanyakan mereka mengambilnya dengan rakus dan tidak pakai takaran kesanggupan isi perut mereka. Sehingga tidak jarang saos sambal dan kawan-kawannya tadi mubajir dan terbuang sia-sia. Jika dihitung sudah berapa banyak kerugian Sevel dari saos dkk itu? Begitu banyak saos sambal, saos mayones atau saos-saos lainnya yang terbuang begitu saja? Setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan hingga setiap tahun. Jika dihitung, jelas kerugian semakin membengkak.

So, wajar kalau akhirnya Sevel tutup dan mengalami kebangkrutan karena setaip tahunnya terus merugi. Salah satu penyebabnya adalah terlalu royal dan baik hatinya pemilik Sevel kepada custumernya. Hanya sayang, custumernya yang Ngelunjak dan berujung pada kehancuran dinasti Sevel.

Sejujurnya, Sevel sudah memberikan “wadah” nyaman untuk bisa duduk-duduk santai dengan aneka jenis makanan dan minuman dengan harga yang masih terjangkau. Hanya saja, di Indonesia, segala sesuatu yang masih dianggap “gratis” sering di habur-hamburkan. Seperti Saos dan kawan-kawan tadi. 

Slurpee adalah Salah satu jenis minuman yang sempat nge hits dikalangan anak muda.



Jika dihitung sampai 10, Sevel sudah memberi kenyamanan berupa:
1.         Tempat duduk-duduk yang nyaman dengan kuris dan meja yang nyaman.
2.         Memberi fasilitas AC dan WIFI gratis
3.         Harga makanan dan minuman yang terjangkau.
4.         Jenis makanan dan minuman yang aneka rupa.
5.         Karyawan yang ramah dan mau membersihkan bekas makanan dan minuman kamu.
6.         Tidak ada batas waktu dan juga minimum payment kalau kamu mau duduk-duduk di Sevel.
7.         Sering disuguhkan music yang up to date dan juga info-info menarik lainnya.
8.         Toilet yang nyaman.
9.         Parkir yang luas
10.   Tempat sampah yang cukup banyak tapi JARANG difungsikan pengunjung.

Tapi, kini semua itu hanya tinggal kenangan yang mungkin sedih untuk dikenang dan sulit untuk dilupakan. Gue yakin, banyak remaja ABG, anak kampus dan karyawan-karyawan kantoran merasa kehilangan tempat nongkrong murah meriah. Duduk-duduk santai sambil menunggu teman, menunggu kemacatan dan juga duduk-duduk santai sama pacar atau juga Sevel menjadi tempat “janjian” sama klien yang lagi-lagi ramah dengan kantong. 



MENGULIK SEJARAH SEVEL
Sebagai informasi tambahan, supaya kamu juga memahami sedikit sejarah hadirnya Sevel di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Dikelola oleh PT Modern Sevel Indonesia, anak dari PT Modern International Tbk. Sevel ini merupakan hasil transformasi bisnis dari Modern Grup, Modern grup dulu bergema dengan bisnis fotonya. Tapi, mengalami kelesuan sejak masuknya era digital. Di tengah kelesuan bisnis, Grup Modern akhirnya memutuskan untuk membeli lisensi waralaba 7-Eleven alias Sevel. Tidak sia-sia insting bisnis Modern dijalankan. Karena, Sevel terbukti sukses menyelamatkan bisnis Grup Modern.

Di seluruh dunia, Sevel tersebar di 17 negara dengan jumlah gerai menapai 58.300. Dua pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Awalnya Sevel berdiri di Texas tahun 1927 dengan nama awal Tote'm Stores. Nama Sevel baru digunakan pada 1946. Karena, jam beroperasi toko tersebut hanya buka sejak pukul 7 pagi sampai 11 malam. Maka, berubahlah namanya menjadi Seven Eleven.  Sejak dibuka di Indonesia tahun 2008, Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta mencapai 190. Di tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Kejayaan Sevel menjadi tempat yang paling hits di Jakarta mulai goyah ketika pemerintah memberlakukan undang-undang bahwa setiap mini market dilarang  menjual minuman beralkohol.  Ya, sejak tanggal 16 April 2015, minimarket dilarang menjual minumal beralkohol. Larangan itu tertuang dalam Peraturan menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran,
dan Penjualan Minumal Beralkohol.

Sejak pelarangan itu, gerai-gerai Sevel, Alfamart, Indomart dan rekan-rekannya tidak bisa menjual minuman beralkohol sepertibir, Smirnof, vodka dll. Minumal beralkohol tersebut hanya boleh dijual di supermarket. Tujuan pemerintah memberlakukan undang-undang tersebut untuk menghindari konsumsi alkohol oleh anak-anak dan remaja.Konon katanya, sejak berlakunya aturan tersebutlah onset penjualan Sevel menurun drahtis. Selain itu, persaingan di dunia Convenience store pun semakin ketat. Dulu, Sevel bersaing ketat dengan Circle K. Tapi, sekarang semakin menjamur  mini market-mini market sejenis sevel bermunculan. Sebut saja, Lawson, Family Mart dan bahkan Alfamart dan indomart pun sudah mulai menyediakan fasilitas tempat duduk dan meja untuk pengunjungnya duudk-duduk santai. Hanya saja tidak semeriah Sevel. 



Intinya, jika ditanya, apakah gue merasa kehilangan atas “wafatnya” Sevel? Jawabnya Ya. Gue kehilangan minuman favorit gue yang sering gue beli di sevel, yaitu Hot Greentea Latte dan Teh tariknya.  Hmm, nikmat banget. Mungkin, jika gue kepengen minum minuman yang ada di sevel, gue harus pergi ke Negara-negara tetangga (Sing, KL, Thailand, Jepang dll) yang masih ada lambang Seven eleven yang berdiri kokohnya.  Biasanya, saat traveling ke  luar negeri pun, Sevel menjadi salah satu mini market yang sering gue kunjungi membeli keperluan makanan dan minuman untuk di penginapan. Enath kenapa, Sevel begitu berkesan dalam hidup gue.

Selamat Jalan Seven eleven, 
Beristirahatlah dengan tenang.  
Share: