Wednesday, 21 June 2017

Tips Mudik Biar Tidak Bikin Mumet




Mudik sudah menjadi kewajiban setiap tahun bagi mereka yang merantau. Momen mudik selalu menjadi momen yang dinanti-nanti. Tidak peduli bagaimana rumit dan sulitnya saat hendak mudik. Mulai dari mencari tiket pesawat, kereta, bis dan armada lainnya. Belum lagi harga tiket yang melonjak drahtis menjelang momen akbar tersebut. Selain urusan tiket, banyak juga printilan-printilan lain yang membuat “terkadang” mudik itu bikin mumet. Mulai dari mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa, hingga oleh-oleh untuk sanak saudara. Atau, jika mudik mengendarai kendaraan pribadi, Kamu juga harus memeriksakan kendaraan Anda di bengkel. Perhatikan kelayakannya.

Nah, supaya, mudik kamu tidak bikin mumet, ada baiknya mengikuti beberapa tips di bawah ini.

1.         Pesan Tiket Jauh-Jauh Hari
Tidak perlu heran kaua menjelang mudik harga semua tiket transportasi melonjak drahtis. Oleh karena itu, untuk menghindari lonjakan yang bikin mumet, ada baiknya kamu memesan tiket jauh sebelum “membanjirnya” pemburu tiket untuk mudik lainnya. Selain harga tiket masih lebih murah, kamu juga tidak perlu antri atau kehabisan saat beli di tiket online.
Selain tiket pergi, kamu juga harus membeli tiket pulang juga. Jangan menunda-nunda membeli tiket setelah berada di kampung. Bisa jadi harga tiket melonjak dua kali lipat lebih mahal. Kecuali, kalau kamu betah di kampung halaman. 



2.         Servis Kendaraan
Kalau kamu memilih mudik naik kendaraan sendiri, hal yang harus diperhatikan dan dijaga adalah kesehatan kendaraan dan juga diri kamu. Periksakan ke dokter dank e servis mobil sebelum memulai perjalanan. Apalagi kampung halaman kamu jaraknya cukup jauh. Stamina di wajibkan harus prima. Juga kendaraan kamu juga harus fit. Jangan sampai salah satunya ada yang bermasalah.

3.         Minimalis Barang Bawaan
Sangkin excited hendak mudik, segala-galanya hendak dibawa untuk dipamerkan di kampung. Itu kuno! Sudah nggak musim pamer-pameran. Emang tujuan kamu di kampung mau bukan pameran alias bazar? Sebaiknya, minimaliskan barang bawaan kamu agar tidak menjadi beban dan juga over bagasi. BAwalah seperlunya saja. Mulai dari pakaian, oleh-oleh dan juga keperluan lainnya. Toh di kampung masih ada sanak saudara yang bisa saling pinjam meminjam. Seperti yang sering gue lakukan kalau mudik, meminjam baju atau celana abang gue yang memang masih satu ukuran . namanya juga saudara. 



4.         Bawa Oleh-Oleh atau Kirim Lewat Jasa Pengiriman
Selain mudik, Bawa oleh-oleh sepertinya sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan. Namun, banyak yang terlalu berlebihan membawa oleh-oleh sehingga mirip orang yang sedang pindahan. Itu membuat kamu ribet sendiri. Jika memang pengen bawa oleh-oleh dalam ukuran banyak, sebaiknya oleh-oleh tersebut bisa kamu kirim via jasa pengiriman jauh sebelum kamu mudik. Selain praktis, juga tidak membebani saat mudik?  Ketika nyampe di kampung, oleh-oleh yang dikirim tersebut pun nyampe juga.

5.         Jangan Membawa Barang Yang Tidak Penting
Terkadang, kita berfikir kalau di kampung nanti membosankan atau jenuh. Maka,  kamu membekali diri dengan barang-barang elektronik yang serba kekinian. Mulai dari perlengkapan permainan games, laptop, gitar dan perlengkapan lainnya. Yang akhirnya benda-benda tersebut tidak tersentuh.  Karena, ternyata di kampung kamu menemukan suasana baru yang jauh mengasyikkan. Oleh karena itu, kalau mudik jangan lebay membawa barang-barang yang tidak penting. Mubajir cuy!

6.         Jangan Lupa Perlengkapan P3K
Mau naik kendaraan pribadi atau pun naik transportasi umum lainnya, yang wajib kamu persiapkan adalah “bekal” kesehatan. Alias perlengkapan P3K. Obat-obatan itu perlu dibawa. Misalkan, obat sakit kepala, masuk angin, obat maag atau obat-obatan yang sering menggganggu kesehatan kamu. Karena pertolongan pertama yang bisa menyelamatkan kamu dari rasa sakit ya bekal obat-obatan tadi. Jangan sampai saat diserang penyakit kamu malah panic at the disco lari-lari  nyari kesana kemari.

7.         Persediaan Makanan di Kendaraan
Bekal makanan dan minuman juga wajib kamu persiapkan. Ya, seperti snack-snack dan minuman ringan. Perjalanan jauh dan kita tidak pernah memprediksi apa yang bakal terjadi saat dalam perjalanan. Persiapkan bekal makanan dan minuman secukupnya. Ya, sekali lagi, buat jaga-jaga. Kalau rasa lapar dan haus menyerang kamu sudah memiliki bekalnya. 


8.         Bawa perlengkapan Kamera
Mudik sama dengan liburan. Rasanya tidak klop kalau perjalanan kamu nan seru itu di abadikan lewat foto atau video. Apalagi sekarang eranya social media. Nggak klop kalau tidak posting di sosmed. Oleh karena itu, selain hape keluaran mutahir, kamu juga mempersiapkan kamera yang bisa mengabadikan semua perjalanan kamu dengan baik. Jangan lupa juga perlengkapan batere, charger serta tripod jika dibutuhkan.

9.         Bawa Uang Secukupnya
Tidak perlu membawa uang dalam jumlah yang berlebihan saat dalam perjalanan. Bawa secukupnya. Jika kurang, kamu bisa mengambilnya lewat mesin ATM. Tujuannya selain menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, uang kamu juga bisa lebih terkontrol pengeluarannnya.



10.   Pakai Pakaian Yang Simple
Banyak orang mudik saltum. Diperjalanan engenakan pakaian yang serba komplit. Celana panjang, baju panjang, jaket, kaos, sepatu dll dll.. duh, ribet banget hidup lo. Sebaiknya hindari mengenakan pakaian yang membuat kamu gerah. Pilih pakaian yang simple dan membuat pergerakan kamu nyaman dan tidak membuat kegerahan. Nggak perlu sok ngartis saat mudik. Yang ada kamu mumet sendiri karena sepanjang perjalanan kamu merasa kegerahan. Cukup celana Bermuda, kaos, sandal, kacamata hitam, topi . Simple bukan?

Share:

MUDIK, Momen Yang Dinanti dan Dibenci




Apa yang ada di dalam benak kamu ketika mendengar kata MUDIK? Tentu yang terbersit dibenak kamu adalah Pulang kampung. Ya, Mudik identik dengan pulang ke kampung bagi mereka-mereka yang sudah meningalkan kampung halamannya demi menggapai cita-cita. Baik itu di ibukota atau di luar negeri. Banyak alasan kenapa mereka hijrah dari kampung halaman ke kota atau luar negeri. Salah satunya tentu ingin bekerja. Atau juga mencari pengalaman meranta. Atau ada juga yang meninggalkan kampung halaman karena bosan hidup di kampung terus dan pingin merasakan sensasi merantau. Namun, setelah merantau, muncul rasa rindu akan kampung halaman begitu besar. Sehingga terjadilah gejolak rasa rindu akan kampung halaman yang dilampiaskan saat hendak MUDIK. MUDIK adalah momen yang sangat dinanti-nantikan oleh perantau.

MUDIK identik dengan perayaan hari-hari besar. Baik itu hari Raya Idul Fitri, Natal, Imlek, Kuningan atau Galungan atau perayaan-perayaan hari besar seluruh umat beragama lainnya. Karena, merayakan hari besar kumpul bersama keluarga adalah momen yang precisius sekali. Karena, pada momen tersebutlah semua sanak saudara berusaha atau mengusahakan untuk kembali ke kampung alias mudik. 



Tidak terkecuali gue. Selalu menyempatkan mudik setiap perayaan Natal atau pergantian tahun di kampung halaman. Meski ritual tersebut tidak bisa gue lakukan setiap tahunnya dikarenakan sudah berkeluarga dan memiliki rencana-rencana liburan lainnya. Namun, momen MUDIK menjadi momen yang sangat berharga plus berkesan bagi gue. Bisa berkumpul bersama sanak saudara, bertemu dengan teman-teman lama dan juga bisa menjejali kuliner khas kota kelahiran.

MUDIK = TEROR


Banyak cerita-cerita menarik yang berhubungan dengan mudik yang gue dapat dari teman-teman perantau. Ada yang menganggap mudik sama dengan TEROR yang menakutkan. Hmm, kenapa begitu? Biasanya, mereka yang enggan mudik dikarenakan ada tuntutan atau kewajiban dari keluarga yang belum mereka penuhi. Salah satunya MENIKAH. Apalagi usia mereka sudah layak untuk memiliki pendamping namun mereka masih betah single alias hidup melajang.
                  “Gue malas mudik. Bagi gue, MUDIK itu kayak TEROR. Setiap saat menghantui hidup gue. Makanya, gue jarang mudik saat lebaran karena malas bertemu keluarga.” Kata teman gue yang single di usia yang sudah hamper kepala 4.
Ada juga celoteh teman yang lainnya yang menurut gue 11-12 dengan alasan teman yang sebelumnya.
                  “Wong, gue belum mau menikah kok didesak terus sih? Itu sebabnya momen Lebaran selalu menjadi momok dalam hidup gue. Kalau tidak mudik ntar dikiran anak durhaka. Kalau mudik, wuihhh, rentetan pertanyaan,”kapan nikah bikin pengen cepat-cepat meningalkan kampung halaman.” ucap sobat gue dengan ekspresi meletup-letup.

Ada juga yang beranggapan kalau mudik sama dengan menyediakan stok uang yang banyak
                  “Gue malas mudik karena sering dimintain uang. Dikirannya gue BANK berjalan kali ye?” teman yang lain membuka obrolan. “Mereka nggak tau apa kalo gue di Jakarta hidupnya pas-pasan? Dikirannya hidup gue mapan dan duit gue sudah tidak berseri kali ye..”lanjutnya dengan umpatan tak kalah pedas. “Makanya, kalo pun gue mau mudik, gue harus menyediakan uang yang ekstra lebih untuk bersedekah ke sanak saudara yang suka minta minta gitu.Mungkin mereka mengira gue sinterklas ya.” Lanjutnya kesal.

MUDIK = REUNI

Namun, selain keluhan seperti mereka, teman gue yang lain justru menunggu momen mudik, Karena bisa berbagi ke sanak saudara. “Gue kan sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Jadi, tidak ada salahnya kan kalau gue berbagi bagi rezeki. Meski nilainya tidak seberapa, namun bagi mereka itu sudah berkat.” Ucapnya bijak.
Ada juga yang menanti-nantikan momen mudik karena rindu makanan khas kampung sendiri.”Kalau sudah mudik, berat badan gue pasti melonjak drahtis. Soalnya semua makanan dan jajanan yang ada di kampung enak-enak. Sayang kalau tidak dicicipi. Kan mudiknya tidak setiap tahun,” katanya memberi alasan.

Hmm, begitu beragam pengalaman tentang mudik bukan? Tentu kamu juga punya kisah tersendiri dengan momen mudik kamu? Atau jangan-jangan kamu termasuk orang yang TIDAK MUDIK, dikarenakan tidak punya kampung halaman? Hmmm… sayang bener. Karena kamu tidak bisa merasakan momen-momen “sakral” saat mudik itu.

Punya, pengalaman seru tentang mudik? Berbagi cerita yuk!!!

Share:

Friday, 16 June 2017

Mario Blanco, Pelukis dan Fotografer Indonesia Yang Baru Menggelar Pameran Tunggal di Hongaria

Me and Mario Blanco

 Gue sudah cukuo lama mengenal karya-karyanya. Tapi, secara personal  dan bertemu face to face baru kemaren sore, saat menjelang buka puasa bersama di salah satu mall di jantung kota Jakarta. Pria paruh baya ini adalah seorang pelukis dan fotografer handal. Bermukim di Bali, tepatnya di Ubud. Kalau dilihat dari namanya, mungkin kamu bisa langsung menebak, siapa sosok pria ini. Ya, Mario Blanco adalah anak dari Maestro, pelukis legendaris Don Antonio Blanco.

Banyak kisah menarik yang kami obrolin saat makan (berbuka puasa) bersama. Sosok yang humble dan murah senyum ini pun tidak sungkan-sungkan mengisahkan apa saja yang ditanya. Terutama soal kesibukannya sebagai seorang fotografer, pelukis dan juga direktur dari Museum Antonio Blanco yang ada di Ubud.  Juga pengalamannya yang baru saja menggelar pameran tunggal di Hongaria.


foto: Mario Blanco


Mario pun memulai obrolannya soal pameran tunggal hasil karya fotografinya yang digelar di Rondella Gallery, Ezstergom, Hongaria. Ada sekitar 47 hasil karya fotonya yang dipamerkan. Foto-foto yang menggambarkan tentang keindahan Bali dan tradisi-tradisinya yang menarik. Juga beberapa foto yang diambil dari beberapa daerah di Indonesia yang juga memiliki tradisi yang menarik.

Pameran tersebut digelar selama hampir satu bulan lamanya. Tepatnya dari tanggal 3 hingga 28 Mei lalu. Banyak pengunjung yang terkagum-kagum dengan hasil karya fotografinya. Karena, saat melihat hasil foto-fotonya, pengunjung seolah-olah menikmati langsung nuansa dan budaya Bal, serta semakin penasaran akan Indonesia.
foto by: Very Barus

Pembukaan pameran foto tersebut juga cukup  unik. Karena Mario ingin menciptakan nuansa Bali seutuhnya, Gallery pun disulap menjadi nuansa Bali dengan memasang penjor dan Poleng. Mario, istri dan anak-anaknya  pun sengaja mengenakan pakaian adat Bali yang khas dengan kebayanya.  Selain itu, Staff Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk Hongaria dan seluruh keluarga besar KBRI Budapest pun mengenakan  pakaian bernuansa Bali, seperti memakai Kamen hitam bertepi poleng dengan udeng/ikat kepala.
 “Namanya juga pameran foto bernuansa Bali. Jadi, saya pun sengaja menciptakan nuansa Bali di Gallery tersebut,” terang Mario. 

foto by: Mario Blanco


Pameran tersebut juga dihadiri para seniman Hongaria. Di luar dugaan, antusias mereka begitu besar akan karya-karya Mario.  “Mereka (seniman-seniman) sangat terpesona dengan hasil foto-foto yang saya pamerkan.” Selain seniman, pembukaan pameran juga dihadiri Walikota Esztergom dan Korps Diplomatik Negara-negara sahabat di Hongaria.   

MELANJUTKAN ESTAFET GENERASI MAESTRO
                  Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah kiasan yang bisa ditasbihkan untuk Mario. Sebagai anak seorang maestro, dia tidak hanya bangga sebagai anak seorang pelukis legendaris. Mario pun sejak kecil sudah memiliki bakat dan kecintaannya terhadap seni lukis.
                  “Saya sudah suka melukis ketika usia saya enam tahun. Saya sering masuk ke studio bapak.” Kenangnya.  “Waktu itu saya masuk ke studio hanya sekedar bermain-main dengan kertas dan cat pewarna bapak.” Lanjutnya.

Meski sang bapak tidak pernah menggiring atau mengajarkan secara langsung tehnik-tehnik melukis, namun Mario seakan merekam setiap gerak tangan sang bapak saat menari-nari di atas kanvas. Matanya begitu tekun melafalkan setiap gerakan tangan yang menghasilkan karya-karya lukis yang mendunia. Kekagumannya akan karya sang bapak pun terus membekas di dalam jiwa Mario. Meski, lagi-lagi sang bapak tidak pernah  menyuruh anaknya menjadi seorang pelukis, namun, darah pelukis yang mengalir di dalam tubuh Mario secara tidak langsung telah menggiringnya menjadi seorang pelukis.
                  “Saat saya mau kuliah, bapak menyuruh saya mengambil jurusan yang tidak ada hubungannya dengan seni melukis.  Tapi, tanpa sepengetahuan bapak, saya justru memilih jurusan Seni Rupa untuk lebih mendalami dunia seni,” kenang lulusan Senirupa di Universitas Udayana, Bali.

                  Beruntunglah Mario mengambil keputusan mendalami dunia seni rupa. Karena, sepeninggalan sang bapak tahun 1999, Mario pun meneruskan estafet karya lukis sang bapak. Mario dan keluarga mengurus museum The Blanco Renaissance Museum yang berdiri megah di kawasan Ubud. Museum sendiri dibangun pada tanggal 28 Desember 1998 di lingkungan kediaman mereka nan asri . Di museum tersebut, tersimpan 300 karya lukis sang maestro dari yang paling lawas hingga lukisan terakhir sebelum Antonio Blanco meninggal dunia. Tidak hanya lukisan sang bapak, di Mueseum pun terdapat beberapa lukisan hasil karya Mario.  

RE-GENERASI KE ANAK

Foto by: Mario Blanco

Hingga kini, Museum Antonio Blanco tertus ramai dikunjungi para turis lokal dan mancanegara. Bahkan masuk ke dalam salah satu destinasil objek wisata yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Bali.  Banyak yang mengagumi karya-karya sang Bapak juga karya Mario.

Hingga usianya yang sudah setengah abad, Mario masih tertus berkarya. Masih rajin melukis dan memotret. Beberapa karyanya pun sering di pamerkan di manca Negara. Baginya seni lukis dan fotografi adalah bagian dari jiwanya. Tidak ingin estafet “seni lukis” terputus sampai pada dirinya, Mario pun menularkan bibit-bibit seni lukis ke darah anak-anaknya. Dua orang anak gadis Mario pun kini menekuni dunia seni lukis sama seperti kakek dan bapaknya.
Jika ingin menikmati hasil karya-karya sang maestro, kamu bisa berkunjung ke Museum Antonio Blanco di Ubud. Siapa tahu kamu pun bisa terjangkit virus melukis ala Blanco.

                  Begitu banyak cerita yang ingin dikisahkan Mario, namun, karena malam semakin larut, dan dia pun harus kembali ke Bali, maka obrolan akan kami lanjutkan kembali saat gue akan berkunjung ke Museumnya kelak.

Nice to meet you, Bli Mario dan sukses dengan karya-karyamu.

BERIKUT BEBERAPA HASIL FOTO MARIO YANG DI PAMERKAN DI HONGARIA 

Foto-foto MArio Balnco
FOTO: MARIO BLANCO

FOTO: MARIO BLANCO

FOTO: MARIO BLANCO

FOTO: MARIO BLANCO

Foto: MARIO BLANCO

foto: MARIO BLANCO



   

    

Share:

Friday, 9 June 2017

Mengukur Kemampuan Sebelum Traveling, Itu Penting




Pekan kemaren, gue bertemu sahabat yang baru saja pulang traveling dari Ladakh, Ibukotanya Leh. Ladakh termasuk daerah semi-otonom di negara bagian paling utara India, Jammu dan Kashmir. Ladakh sendiri berbatasan langsung dengan Pakistan dan China. Memiliki empat musim dalam setahun dan terletak di lingkaran pegunungan Himalaya yang merupakan salah satu gunung tertinggi di dunia.

Dia bercerita, bagaimana dia dan teman-temannya menelurusi Ladakh. Semakin membuat gue penasaran dan excited pengen tahu petualangan seru mereka. Rasa penasaran gue campur aduk antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin teman gue yang tidak suka naik gunung dengan alasan bobot tubuhnya yang cukup berat untuk dipikul, tiba-tiba pergi ke Ladakh yang pusat kotanya berada di ketinggian 3000-an Mdpl?  Sedangkan gue yang pernah mendaki Gunung Rinjani saja hampir ngap-ngapan saat menapaki punjak Rinjani yang memiliki tinggi 3.720 Mdpl. Sumpah! Capeknya luarrrrrrrr biasa. Nafas ngos-ngosan karena oksigens emakin menipis. Cuhu udaranya pun super dingin menjelang sore hingga dini hari. Gue yang tidak tahan udara dingin hamper kolaps. 


Kemudian, dia pun mengisahkan “tragisnya” perjalanan mereka saat  ke Ladakh. “Kebayang nggak sih, kalau pesawat yang kami tumpangi mendarat di ketinggian 3.256 mdpl.”

What???

Gue langsung kaget. Bagaimana mungkin mereka langsung berada di ketinggian yang hamper setinggi puncak Rinjani? Ternyata, Bandara udara Kushok Bakula Rinpoche di Leh memang berada di ketinggian tersebut. Banyak pendaki melanjutkan perjalanan ke puncak yang lebih tinggi lagi. Kemudian, tragedi pun terjadi. Beberapa dari rombongan mereka mengalami AMS atau Acute Mountain Sickness. Penyakit yang sering dialami pendaki ketika berada di ketinggian yang menurut fisik mereka tidak mampu menerima perubahan ketinggian tersebut. 

foto: agus susilo


Biasanya AMS menyerang mereka yang berpindah cepat dari dataran rendah ke dataran tinggi, tubuh dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi oksigen yang lebih tipis. Tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan terserang AMS, bisa tua maupun muda. Gejala akan terasa 24 jam atau lebih, mulai dari saat kita berada di ketinggian, biasanya ketinggian diatas 3.000m, yang terparah gejalanya mungkin bisa terasa sampai tiga minggu. 


Dia dan beberapa temannya sempat mengalami pusing, mual-mual hingga muntah. Ditambah lagi saat itu salju sedang menyelimuti hampir seluruh permukaan tempat mereka berada. PAdahal mereka datang masih di bulan-bulan yang “wajar” untuk dikunjungi turis. Mereka berada di Ladakh bulan Mei lalu.  
                  “Pokoknya duingiiiinnnnn nya minta ampun. Minum 20 drajat.” Katanya. “Yang lebih menyiksa lagi, kami menginap di tenda yang tidak memiliki heater atau pemanas ruangan. Kebayang membekunya bukan?”lanjutnya greget. Selain itu, disana juga minim makanan yang menggugah selera.
                  “Gue tidak suka kari. Tapi, hampir setiap hari yang disuguhkan makanan berbau kari dan kari. Nyaris, setiap menyium aroma kari gue langsung muntah.” Kisahnya dengan mimik wajah jijik setiap kali mengisahkan makanan khas India itu. Sangkin traumanya, setiba di Indonesia, teman gue tidak mau menyentuh makanan khas Padang. Karena sebagain dari menu di Resto Padang ada unsur-unsur Kari-nya.

Kelar deh….

Yang jelas, perjalanan yang berawal dianggap menantang, ternyata benar-benar menantang “maut”. Kalau tidak sigap mungkin diantara mereka ada yang GONE! alias meninggal. Tidak heran ketika ditanya bagaimana perjalanannya ke Ladakh, dia tidak antusias. Bahkan nyaris hampir membuka lembaran kelam dalam perjalanan travelingnya. Bahkan, ketika ditanya foto-foto saat berada disana sangat sedikit dan tidak ada yang membuat gue amazing memandangnya.
                  “Boro-boro hunting foto. Masih hidup saja syukur. Pokoknya selama disana mood gue benar-benar drop deh.” Ucapnya ketus.  





MARI MENGUKUR KEMAMPUAN
Belajar dari pengalaman perjalanan teman gue, banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Terutama soal kesiapan  mental, fisik, stamina dan juga material. Banyak orang beranggapan kalau traveling itu ajang senang-senang dan menghabiskan uang. Anggapan itu sebenarnya sangat keliru.
Selain menguji mental dan nyali, Traveling itu juga ajang mengukur kemampuan kita. Tidak hanya sebatas finansial, juga mengukur kemampuan secara fisik. Sebelum pergi traveling, kita harus tahu kemana tujuan yang kita inginkan. Bukan keinginan teman-teman kita. Kita yang tahu kelemahan kita. Kita yang tahu apa yang disuka dan tidak disuka. Jika kita faham hal-hal tersebut, maka, kita bisa memilih tujuan yang cocok dan sesuai dengan keinginan kita.  Jangan sampai uai traveling kita mengalami trauma yang sangat dalam. 



Seperti gue,

Gue sangat faham betul apa yang gue suka dan tidak. Gue suka gunung dan gue masih sanggup naik gunung. Tapi, ketika fisik gue mengatakan “tidak saatnya” untuk naik gunung, maka, gue akan menolak ajakan dari teman-teman untuk naik gunung. Karena, kalau gue tetap memaksakan, yang terjadi nanti malah merugikan diri sendiri dan juga merepotkan orang banyak. Maka dari itu, kita haru sadar akan kemapuan fisik kita.

Selain itu….

Gue suka Pantai, suka Ke Pulau TAPI gue tidak suka KEDALAMAN. Oleh karena itu, biar dibilang gratis diving(menyelam) untuk melihat-lihat biota laut, gue akan say NO!. Karen ague sadar, gue tidak suka kedalaman. Bahkan bisa dibilang phobia. JAdi, hal-hal yang berhubungan dengan kedalaman gue pasti trauma dan takut. Oleh karena itu, ketika ditawarain Diving saat di Jailolo, gue menolak dengan tegas.

Banyak hal-hal yang bisa dijadikan ‘Warning” untuk mengukru kemampuan diri sendiri. Kuncinya cuma satu, jangan pernah memaksakan diri agar terlihat keren. Agar dibilang hebat atau pujian-pujian lainnya. Karena sesungguhnya Traveling bukan untuk ajang lomba “pengakuan”. 




Share:

Sunday, 4 June 2017

Yuk, Mengenal Lokasi Terminal Di Bandara Soeta, Supaya Kamu Tidak Nyasar.




Mungkin bagi kamu yang suka traveling menggunakan pesawat terbang, yang namanya terminal keberangkatan sudah katam kali ya…. Sudah faham betul di mana lokasi Terninal 1, 2 dan 3. Bahkan, kamu juga sudah tahu harus turun dimana jika naik Damri atau taksi. Pokoknya serasa rumah kedua deh. 

Tapi, bagaimana dengan mereka yang jarang berpergian naik pesawat? Jangan kan naik pesawat, mengunjungin bandara pun jarang. Sekali hendak pergi naik pesawat eh, nyasar karena salah turun di terminal berapa. 


Baiklah, supaya kamu yang emang jarang naik pesawat atau kamu juga yang doyan berpergian tapi punya daya ingat cetek alias gampang lupa, sebaiknya kamu baca deh tulisan ini yang sengaja gue suguhkan untuk mengenal lebih dekat terminal-terminal  di Bandara Soekarno Hatta. Biar bagaimana pun, mungkin setiap tahunnya bandara yang mulai beroperasi pada tahun 1985 ini pasti melakukan “reformasi” tentang letak atau denah terminal keberangkatan dan kedatangan. 



Kamu pasti sudah mendengar kalau Bandara Soetta ini merupakan salah satu bandara terpadat di dunia. (salah satu ya.) Maklumlah, bandara Soetta kan pintu gerbangnya semua penerbangan yang hendak ke beberap kota di Indonesia. Oleh karena itu, bandara ini memiliki luas 18 km persegi dengan dua landasan paralel yang dipisahkan oleh dua taxiaway sepanjang 2,4 km ini melakukan perubahan pada pengoperasian terminal. Ya, tepatnya, sejak tanggal 9 Agustus 2016 yang lalu. Apalagi sejak beroperasinya terminal baru yang dijuluki Terminal 3 Ultimate



Supaya tidak pusing pala berbie, sebaiknya kamu mengenal lebih dekat terminal-terminal yang ada di Bandara Soetta ini. Bila perlu masukkan ke dalam note di smartphone kamu. 

Berikut keterangannya:

Terminal 1A
Lion Air dengan tujuan domestik seperti ke  Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian, dll/ kecuali Sumatra) dan Wing Air.


Terminal 1B
Lion Air (Tujuan Bali, Lombok, Sumatera)

Terminal 1C
Citilink, dan Airfast Indonesia.


Terminal 2D
Lion Air (Internasional), Batik Air, Air China, All Nippon Airways, Batavia Air, Cathay Pacific, Cebu Pacific, China Airlines, China Southren Airways, Emirates, Eva Air, Japan Airlines, Jetstar, Kuwait Ailines, Lufthansa, Malaysia Airlines, Philipine Airlines, Qantas, Qatar Airways, Saudi Arabian Airlines, Singapore Airlines, Thai Airways Internasional, Tiger Airways, Turkish Airlines, Yemenia, dan Valuair.

Terminal 2E
Citilink (domestik – mulai Januari 2017), Air Asia (Rute Internasional)


Terminal 2F
Air Asia (Rute Domestik), Sriwijaya & NAM Air.

Terminal 3 Ultimate
Garuda Indonesia (Internasional & Domestic Flight), Etihad, KLM Royal Dutch Airlines, Korean Air, Lion Air (Internasional Flight), dan Royal Brunei.


Semoga keterangan ini bermanfaat kamu kamu yang ingin berpergian menggunakan pesawat terbang. Tetap waspada dan safe flight!!

Share: