Menikmati Indahnya Panorama Kota Berastagi


            Bosan liburan di seputar kota Medan saja? Ada baiknya kamu meluangkan waktu untuk menikmati udara sejuk kota berastagi di Tanah Karo. Jaraknya nggak jauh-jauh banget kok dari kota Medan. Bias ditempuh dengan apa saja. Karena transportasi ke kota yang terkenal dengan kota buah-buahan itu cukup banyak. Naik Mobil atau bus umum butuh waktu satu atau 1.5 jam tiba disana. Begitu juga kalau naik motor beda-beda tipis dengan naik mobil. Bahkan bias lebih cepat nyampenya karena bias nyalip sana-sini (tapi, kalau mau aman lebih baik ikutin peraturan berkendaraan deh!).

Tapi, kalau naik motor, kamu harus mempersiapkan jaket atau baju tebal yang bias melindungi badan kamu dari hawa dingin juga debu. Maklum, udara dingin dan debu bisa mengganggu konsentrasi mengemudi. Seperti yang saya alami saat liburan ke kota Medan kemaren, saya dan teman-teman sepakat melakukan touring ke Berastagi dengan mengendarai motor! Wow, sebuah tantangan yang menarik. Karena seumur-umur saya belum pernah touring naik motor kesana. 

Keesokan paginya, setelah motor di servis di bengkel, (wajib cek kesehatan motor terlebih dahulu kalau tidak ingin trip anda mengalami bencana!) kami berangkat ke Berastagi dengan dua motor (berempat). Perlengkapan yang dibawa juga nggak banyak-banyak amat. Cukup tas backpack berisi minuman, cemilan untuk dimakan dijalan. Juga beberapa potong baju ganti dan celana dalam (karena mau nginap di Berastagi)


Monumen perjuangan berastagi

Pagi itu lalulintas di sekitar jalan Jamin Ginting atau lebih dikenal kawasan Padang Bulan cukup padat merayap. Maklum, kawasan Jamin Ginting terkenal dengan keramaiannya. Disana ada pasar tradisional, Gedung untuk pesta, gereja, kampus USU dan kampus-kampus swasta lainnya. Juga banyak restoran berbentuk ruko yang pagi itu sedang sibuk menerima orderan. Belum lagi, kawasan Jamin Ginting juga terkenal tempat mangkalnya bus-bus antar lintas daerah. Alias, angkutan yang ‘ngetem’ untuk menghantarkan penumpangnya ke kawasan Berastagi, Kabanjahe, Sidikalang dan sekitarnya. Jadi bagi kamu yang pengen pelesiran ke Berastagi dan sekitarnya, dengan naik kendaraan umum, untuk mencari bus-nya kamu wajib datang ke jalan Jamin Ginting. Karena disanalah mereka ngetem. Ongkosnya juga sangat terjangkau. Gampang kok!


            Usai melintasi kawasan Jamin Ginting, nafas kami mulai sedikit lega. Karena lalulintas mulai lengah. Hanya saja, kami harus lebih hati-hati mengemudikan motor kami. Maklum, pengemudi bus umum di Medan dan sekitarnya bener-bener suka nggak pake logika. Ngebut dan saling salib antar sesama bus. Konon katanya itu terjadi karena saling rebut penumpang. Jadi siapa ngebut dia dapat. Padahal itu sangat berbahaya dan juga membahayakan penumpang. Karena di sisi kiri dan kanan jalan ada jurang yang sangat terjal. Slowly but sure,guys!

            setelah hampir 30 menit perjalanan, kami memasuki kawasan Pancur Batu, udara mulai terasa sejuk. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat kami lebih rileks mengemudikan motor. Banyak pemandangan indah yang sayang kalau tidak dinikmati. Begitu juga dengan tradisi-tradisi kampung yang jarang terlihat di ibukota Jakarta, disini saya melihat dengan jelas bagaimana penduduk setempat, khususnya ibu-ibu sedang asyik bercengkaram di depan rumah sambil mengunyah sirih. Saya tersenyum sendiri melihat keakraban mereka

Gereja GBKP Berastagi
Motor terus kami laju melintasi beberapa kawasan yang lumayan terkenal dikalangan penduduk kota Medan. Seperti kawasan wisata pemandian alam Sembahe. Melihat jernihnya air yang mengalir dibebatuan yang besar membuat kami ingin membasuhkan badan ini disana. Hanya saja, kesepatana untuk mandi tidak ada jadi kami hanya bisa melintasi kawasan itu tanpa menikmat airnya yang bening.


Satu jam perjalanan, akhirnya, motor kami berhenti di Sibolangit. Kalau jaman Pramuka dulu, perkemahan Nasional sering digelar di kota Sibolangit. Disepanjang jalan ini kami sangat meikmati sejuknya udara. Kota Sibolangit diapit pegunungan Bukit Barisan dan gunung-gunung besar lainnya. Disepanjang jalan ini banyak berdiri pondok-pondok kecil khusus menjual buah-buahan. Saat itu sedang musim buah Durian. Kesempatan itu pun kami manfaatkan untuk melahap buah durian yang benar-benar matang di pohon. Wajib harus pintar menawar. Karena terkadang penduduk setempat suka memainkan harga jika dilihatnya pembeli berasal dari kota lain. Tapi, harganya tetap masih lebih murah kok dibandingkan di Jakarta

Motor terus kami pacu hingga mendekati kota Tujuan Berastagi. Rasa ingin cepat tiba di kota tujuan sudah tidak terbendung lagi. Meski banyak tujuan wisata lain yang kami lintasi, seperti Tamah Nasional Tahura (Taman Hutan Raya). Tapi kami ingin benar-benar tiba di Berastagi dan menikmati indahnya kota dengan ketinggian sekitar 4.594 kaki dari permukaan laut.

TIBA DI BERASTAGI

Setelah menempuh perjalanan 1.5 jam, finally  kami pun tiba di Kota Berastagi. Kota kecil nan indah dan terkenal dengan budaya Karo-nya.  Karena mayoritas penduduknya bersuku Karo. Berastagi merupakan salah satu kota tujuan wisata yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Mulai dari hotel, resort, padang golf Juga hotel-hotel kelas berbintang hingga kelas melati. Jadi jangan pernah takut kehabisan uang untuk melakukan trip ke kota ini. Aneka jenis kuline juga sangat terjangkau.


Setibanya di kota Berastagi, kami langsung menyerbu tempat makan yang menyediakan makanan khas Karo yaitu Ikan Mas Arsik. Ikan mas berwarna kuning yang dibumbui dengan racikan bumbu beraneka ragam. Rasanya?? Hmmm…… bener-bener mak nyosss…!!! Makanan ini sangat popular di kota Ini. Bahkan, disetiap acara pesta-pesta pernikahan dan pesta adat, suguhan ikan mas Arsik menjadi salah satu menu favorit.

Kota Berastagi
            Puas menikmati pemandangan di puncak Gundaling, kami kembali turun ke kota Berastagi. Kali ini sasaran kami adalah Pasar Buah. Terletak tidak jauh dari pusat kota Berastagi. Kami pun menjelajahi pasar tradisional tersebut dengan wajah memukau. Maklum buah-buahan dan sayuran  yang bener-bener masih segar. Ada buah jeruk, markisa, terong belanda, buah Pepino, tomat, nanas, wortel, labu, kol, kentang, terong dan banyak lagi. Semua begitu menggoda iman untuk mencicipinnya. Bunga-bunga aneka warna nan segar juga banyak dijual disini.



Hanaya saja, jika sedang berada di pasar buah, jangan langsung asal beli. Kamu juga harus pintar-pintar menawar. Kalau tidak jago menawar, Kamu akan dibuat harga tinggi untuk satu batang bunga.  Kejadian ini kerap dialami para turis pendatang yang sering kecewa dengan sikap tidak jujur para pedagang. Logikannya tidak mungkin harga buah-buahan jauh lebih mahal di tempat asal buah tersebut ketimbang harga buah di kota bukan…???

Berastagi


Seperti teman saya yang merasa tertipu saat beli buah jeruk. Satu kilo pasar buah dibelinya Rp. 12 ribu. Sementara di kota Medan sendiri harga jeruk hanya Rp.7000 saja. Dan dia merasa kecewa dengan pedagang yang suka mempermainkan harga pada turis. Seharusnya mereka para pedagang selalu bersikap jujur saat melayani turis pendatang agar tidak kecewa dan jera untuk belanja buah di pasar buah itu lagi.

Selama berada di berastagi, Anda wajib menjelajahi setiap sudut kota ini. Karena begitu banyak hal-hal menarik yang patut Anda ketahui. Terutama soal adat istiadat yang begitu kuat disini. Anda juga bisa melihat pesta adat yang digelar di kota ini. Tradisi seperti ini memang wajib terus dilestarikan. Karena keragaman suku, adat dan budaya membuat kita ingin terus mengeksplore keragamannya.

            Ya, intinya, perjalanan ke Berastagi cukup melegakan mata dan jiwa. Meski sekembalinya dari kota Berastagi, pantat kami terasa panas karena kebanyakan duduk di atas motor…… and so far, this is my good touring I ever had..!!!!


Gunung Sibayak

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta