Menikmati Kampung Sampireun - Garut


Pemandangan kampung Sampireun



Sabtu pagi, setelah mengemasi perlengkapan yang harus dibawa untuk menepi ke desa, kami pun meninggalkan kota Jakarta menuju kota Garut dengan mengendarai mobil sahabat saya. Tidak banyak perlengkapan ‘kostum’ yang kami bawa. Karena acaranya untuk istirahat, maka kami sepakat tidak membawa barang-barang yang memberatkan isi tas. Kecuali jaket dan keperluan untuk menghangatkan badan. Maklum, katanya di Kampung Sampiruen udaranya cukup membuat tubuh menggigil. Jadi baju hangat atau jaket, wajib masuk dalam daftar list. Selain permainan kartu, monopoli dan makanan ringan!
MEndayung perahu di Kampung Sampireun

Jarak yang harus kami tempuh dari Jakarta hingga sampai ditujuan sekitar  5 atau 6 jam lamanya. Itu juga tergantung macetnya lalulintas. (tapi kalau dari kota Bandung cukup makan waktu 1.5 jam saja). Tapi untungnya perjalanan kami tidak dibumbui dengan macetnya, hanya dibeberapa lokasi tertentu saja yang menimbulkan kemacetan sehingga menyebabkan jalan menuju kota Garut tersendat-sendat.
Namun, semua terobati setelah mobil yang kami tumpangi tiba di Kampung Sampireun yang letaknya di Ciparay, desa Sukakarya, Garut, Jawa Barat. Omigosh..!!! so so beautiful place. Danau yang tenang, ada sampan yang berterngger ditepi danau yang siap mengantar kita ke lokasi penginapan. Hmmm… bener-bener transportasi ramah lingkungan. (ya iyalah tanpa bahan bakar.)

WILUJENG SUMPI KAMPUNG SAMPIREUN

            Udara sejuk dipinggir danau langsung menyambut kedatangan kami yang telah diselimuti jiwa yang stress. sajian alam pertama yang dapat kami nikmati adalah pemandangan sebuah danau yang tenang yang luasnya 1.4 hektar, membuat kami seperti anak kecil mendapat mainan baru. Terlihat dengan rapih rumah-rumah berdinding bambu yang menjorok di atas danau yang merupakan cottage-cottge yang siap disewakan. Semua bangunan di dominasi antara bambu dan kayu menjadi unsur dominan di dalam dan luar ruangan. Maklum deh, Kampung Sampireun merupakan resort dengan konsep boutique yang berdiri di hamparan taman yang dikelilingi pohon bambu dan ditengah-tengahnya ada danau dengan kedalaman hampir mencapai 10 meter lebih.

Melihat kedatangan kami, pasukan resepsionis langsung melebarkan senyum manis mereka dan mengucakan salam,“Wilujeng Sumpi di Kampung Sampireun…”
Saya dan keempat teman saya pun membalas senyuman mereka dengan senyuman yang tidak kalah ramahnya. Pelayana dan resepsionis langsung melayani kami untuk menentukan cottage mana yang akan kami huni. (Masing-masing cottage beda tipe dan beda harga.tergantung lokasi.) Satu kesamaan dari tiap kamar ini adalah semuanya menawarkan nuansa pedesaan Sunda yang tenang.
 Lalu kami memutuskan memilih cottage yang bisa muat untuk lima orang yang lokasinya persisi dipinggir danau. Alasannya sih agar kami bisa dengan leluasa menatap keindahan danau dan membuat otak kami cooling down! Kami pun memutuskan menginap dua malam disitu.

BACA JUGA : TRAVELING KE GARUT

            Usai melakukan check in dan transaksi, kami langsung diantar ke cottage yang kami pesan dengan naik perahu yang didayung sama room boy-nya. It’s so amazing! Bener-bener kembali ke desa. Untuk menuju cottage aja kita harus naik perahu dayung.  Dan yang membuat kami semakin terbodoh-bodoh mirip orang udik adalah, ketika melihat segerombolan ikan mas dan Nila mengikuti perahu kami hingga sampai ke cottage. Kapan lagi bisa menyaksikan pemandangan segerombolan ikan menari-nari didepan kami?  Cukup menyenangkan melihat mereka saling pamer body.
Tapi jangan kaget kalau melihat ikan-ikan masnya besar dan gemuk. (Bahkan ada yang sampai segede paha lho.) 



penginapan di Kampung Sampireun

MAKAN SIANG DI SAWUNG
            Nyampe di cottage perut sudah lapar. Kami tinggal pesan makanan sesuai selera dan meminta rekomendasi makanan apa yang menjadi jagoan di Sampireun. Pelayan menganjurkan agar kami memesan pepes ikan mas. Atau gurame goreng dan sayur asem dan cah kangkung. Serta tidak ketinggalan lalapan. Kemudian nasinya cukup nasi liwet yang disajikan lengkap dengan periuknya. Sebenarnya untuk makan siang kami bisa saja datang ke restorannya yang berada tidak jauh dari cottage. Tapi kami ingin benar-benar menikmati leyeh-leyeh di cottage sambil menatap danau dan ikan-ikan yang sedang bermain.
 Setelah dihidangkan, ternyata apa yang dikatakan si pelayan benar adanya. Makanannya sangat enak! Ditambah lagi sayup-sayup alunan alat musik degung dan kecapi suling yang membuat perut kami tak henti-hentinya merasa lapar.
Oiya, sebenarnya kalau pengen makan di restorannya juga ada kok. Namanya Amanti Kafe Al Fresco. mereka menyajikan segala masakan khas Sunda, masakan Cina dan juga ala Eropa. Tidak ketinggalan masakan continental, dengan variasi makanan yang sangat beragam. Jadi kamu bisa menikmati makan siang atau malam disitu. Asal memperhatikan jam operasinya mulai dari pukul 07:00 - 23:00 WIB.
Sebenarnya makan di restoran ini juga lebih nikmat. Selain tenang dan nyaman, dari restoran ini kita akan melihat perbukitan Amanti. Kalau malam harinya akan terasa romantis karena penerangan dipenuhi cahaya lilin.

MENIKMATI SENJA YANG INDAH
Menjelang senja, udara dingin mulai menusuk tulang. Kami pun bergegas melapis tubuh kami dengan baju hangat. Sesuatu yang indah saah kami menyaksikan langit berubah menjadi berwarna jingga. Matahari yang perlahan-lahan berubah warna benar-benar transformasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Untuk penerangan cottage ini mereka mengandalkan lampu teplok dan juga obor yang sengaja dinyalakan disetiap sudut danau. Cahayanya cukup remang-remang. Bagi pasangan honeymoon moment seperti ini bener-bener sangat romantis. Sementara kami yang bukan pasukan honeymoon enggan terbuai keromantisan suasana. Apalagi kami sempat ditawarkan untuk menikmati makan malam di atas perahu di tengah danau yang hanya diterangi cahaya bulan dan bertaburan bintang dan ditamba cahaya obor. Wow..!!!

            Malam harinya, kami menghabiskan malam panjang sambil bermain kartu di teras cottage. Ya, seperti biasa, permainan standar siapa yang kalah wajahnya dicoret pakai spidol. Tapi, ketika sedang asyik-asyiknya main kartu, tiba-tiba terdengar suara suara kentongan berbunyi. Kami lihat ada perahu menghampiri cottage kami. Ada tiga orang pelayan yang menawarkan minuman penghangat tubuh yaitu sekoteng taua bandrek. Yummy!     



NAik perahu di Kampung Sampireun

Aktivitas Selama di Sampireun
Untuk menikmati aktivitas pagi hari, ada baiknya kamu mengabadikan terbitnya matahari dari pinggir danau. Pantulan sinar matahari pagi di danau benar-benar membuat gambar landscape begitu indah. Kamu juga bisa berolahraga dayung sampan dengan teman-teman sambil mengitari danau seluas 1.4 hektar itu. Terasa lebih seru kalau anda berlomba dayung dengan teman-teman anda. Membakar kalori dengan mendayung sampan termasuk olahraga menyehatkan bukan?
Atau kalau tidak mau repot-repot, kamu juga boleh bermain-main dengan ikan-ikan air tawar yang siap menghampirin kamu ketika menyodorkan makanan. Jangan kaget kalau ikan-ikan tersebut begitu segar-segar, besar-besar dan juga siap bermanja-manja ditangan kamu.

Oiya, setiap pagi, para pelayan berperahu juga akan menyajikan menu sarapanala tradisional. Mulai dari gorengan hingga bubur sumsum yang khusus diantar ke penginapan anda. Anda boleh memilih makanan apa yang kamu suka. Dan kamu bisa menikmati sarapan gorengan dan bubur tadi di atas sampan atau pun di teras cottage.
Usai sarapan, kamu juga bisa mengelilingi kampung Sampireun sambil berjalan kaki atau kalau ingin lebih jauh lagi, kamu bisa meminjam sepeda yang ada tersedia. Jadi aktivitas selama menyepi di desa tidak membosankan bukan?   

            Dua hari berada di Kampung Sampireun ternyata mampu membuat jiwa dan raga kami kembali refresh. Segar dan ceria! Sangkin betahnya tinggal dipedesaan, saat hendak check out rasanya kaki ini berat sekali melangkah meninggalkan keindahan Kampung Sampireun. Danaunya yang tenang, berdayung sampan di danau, sajian makanan dan pelayanannya dan semua yang membuat hati kami tentram.

Jadi siapa bilang menepi di desa bikin kita boring? Justru bisa mengembalikan jiwa kita kembali fresh sebelum kembali berjibaku dengan hiruk pikuknya metropolitan.

Ditulis Oleh:
Very Barus

Adalah seorang Penulis buku, pecinta traveling dan fotografi.



  
sarapan pagi di atas sampan


Cottage di Kampung Sampireun


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta