THIS IS SAMBAL



Kejadian ini membuat saya bingung memilih antara tertawa geli atau miris sampai menangis tersedu-sedu. Seperti yang dialami saudara saya. Tapi, setelah kejadian tragis ini berlalu sekian lama, entah kenapa setiap melihat sambal ijo (sambal yang terbuat dari cabai hijau diulek hingga halus), saya selalu tersenyum dan ingat sepupu saya.

Ceritanya begini,
Sepupu saya yang tinggal di Jerman dan berlibur ke Indonesia. Secara separuh darahnya ada darah Indonesia (Batak), masak sih nggak pernah singgah ke tanah leluhur bokapnya? Sampai akhirnya Hari yang dijanjikan pun tiba. Sepupu saya memasang bendera Traveling to Indonesia ke  email yang ditujukannya pada saya.

Tiba di Indonesia, sepupu saya celingak celinguk kayak orang bego. Antara kagum atau bingung melihat Jakarta yang ternyata kota Besar. Karena selama ini dalam imajinasinya, Indonesia itu negara kecil dan Jakarta tak ubahnya kota kecil primitif yang dipenuhi belantara. Anda salah cousin! Jakarta itu justru belantaranya gedung-gedung pencakar langit! Juga kota yang selalu dibanjiri dengan mal-mal baru.
“So many shopping mall here...” ucapnya bingung. (itu masih di Jakarta. Belum lagi kota-kota lain.)

Sampai akhirnya, saat kami berwisata kuliner, sepupu saya kepengn makan nasi Padang. Meski tinggal di Hamburg, Jerman, tapi bokapnya masih rajin menyuguhkan hidangan khas Indonesia untuk dia dan adiknya. Dia sudah familiar dengan istilah Sate ayam, sate padang, nasi goreng, nasi padang dan Martabak. Tapi kalau soal rasa jelas beda dengan di Indonesia. Disini rasanya jauh lebih ‘nendang’ ketimbang disana. Maklum deh, bumbu-bumbu masakan khas Indonesia sangat mahal.

Tiba di rumah makan Padang yang ada di pelataran parkir Plasa Senayan. Kami langsung dihidangkan beraneka macam hidangan di atas meja(ciri khas makan di resto Padang), Sepupu saya panik karena dia pikir, kami tidak memesan makanan sebanyak ini. dengan wajah panik dia melihat ke arah saya. 
“Tenang saja, elo makan aja apa yang kamu suka dan cuma itu yang dimakan.”

 Kemudia sebelum makan dia bertanya satu persatu tentang menu yang ada diatas meja. Mulai dari ayam goreng, ayam bakar, kikil, ikan bakar dan ikan sambal goreng. Sampai pada sepiring kecil sambal hijau.
“What is this?”
“This is sambal....”

Dia hanya menganggu antara mengerti atau tidak. Yang jelas semua makanan yang terhidang sudah saya jelaskan satu persatu.
Karena sudah lapar, dia pun langsung mengabil menu yang dia suka. Sementara saya pergi ke toilet hendak cuci tangan. Tapi saat kembali ke kursi, gue melihat wajah sepupu saya sudah memerah dan matanya juga ikut merah sambil bercucuran airmata. Jelas gue kaget campur panik. Ada apa gerangan..??
“What’s wrong?”
Sepupu saya hanya mengibas-ibaskan tangannya ke mulutnya dan tak henti-henti meneguk minuman dingin. Saya lihat ada 3 gelas kosong di depannya.
“What happen..?” tanya saya lagi.

Dengan tergopoh-gopoh sepupu saya berlari ke kamar mandi meninggalkan saya dengan wajah blo’on. Dugaan saya dia kepedasan memakan salah satu menu ikan yang terhidang.  Sampai sekembalinya  dari kamar mandi, sepupu saya menunjuk ke arah piring kecil berisi sambal hijau tadi. Saya lihat piring kecil itu sudah kosong.
Akhirnya saya tersadar, kalau tadi sepupu saya menyantap sambal hijau langsung tanpa campuran apa pun.
“Damn! It’s so fucking hotttt..!!” umpat sepupu saya dengan mimik masih terus kepedasan.

Ya iyalah..secara yang dimakan sambal ijo. Saya aja yang asli orang Indonesia masih anti sambal ijo yang terkenal sadis pedasnya. Apa lagi dia bule yang tidak tahan dengan makanan spicy tiba-tiba menyantap sambal ijo.

Jadi, setiap saya pergi liburan dan melihat setumpuk sambal ijo, saya langsung tersneyum geli. 



Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta