TURBULANCE.....WEIRD FLIGHT

Cuaca sangat berkabut



Melihat berita tentang kecelakaan pesawat Merpati tujuan Sorong pekan ini bener-bener bikin bulu kuduk gue bergidik. Ditambah lagi informasi mengabarkan kondisi cuaca yang teramat buruk menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang menewaskan semua penumpang (27 orang).

Berita tersebut mengingatkan gue akan kisah TURBULANCE dahsyat yang sempat gue alami saat pergi ke Surabaya awal bulan lalu. Sangkin seremnya gue bener-bener PASRAH jika terjadi sesutu hal yang tidak diinginkan....

Simak deh ceritanya.....
Weekend awal April lalu, gue, Liza dan Rina (sahabat baik gue) pergi ke Surabaya. Tujuannya menghadiri pernikahan sahabat sekalian jalan-jalan ngider kota Buaya. Gue sengaja memilih jam penerbangan siang hari. Ya, karena gue nggak suka naik pesawat malam hari atau terlalu pagi. Karena pada jam-jam segitu gue suka memprediksikan cuaca kurang bersahabat. Hingga akhirnya gue merasa penerbangan siang hari adalah penerbangan yang paling Comfy...aman dan paling afdol!

Meski teori yang gue pake itu adalah teori yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. So dont try this guide on your vacation!
Pukul 15.30 WIB, pesawat yang kami tumpangi pun take off. Cuaca cukup cerah. Matahari cukup ganas sehingga pantulan sinarnya di jendela masih terasa hangatnya! Semua penumpang juga sudah duduk manis di dalam pesawat. Pramugari juga sudah memperagakan aba-aba cara menggunakan alat pengaman jika pesawat dalam keadaan bahaya. (bosen juga sih melihat adegan yang itu-tiu saja setiap naik pesawat. Nggak bisa diganti apa..???)
Selamat tinggal Jakarta...!!! Bisik gue saat pesawat sudah meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan dari Jakarta ke Surabaya memakan waktu 1.10 menit. Cukup singkat sih sebenarnya. Untuk itu, 30 menit pertama kedua teman gue memanfaatkan waktunya untuk tidur. Sementara gue nggak bisa tidur, jadi memilih bermain-main dengan kamera. Gue suka duduk di dekat jendela karena bisa dengan leluasa memotret landscape. Memotret awan putih, langit nan biru dan juga gue paling demen memotret sayap pesawat. (kalo di hitung-itu ada beberapa puluh sayap pesawat menjadi objek kamera gue)

Teman-teman gue pun tidak luput dari sasaran candid camera gue. Posisi tidur dengan mulut sedang mangap (terbuka) menjadi angel yang bagus untuk di foto tapi menjadi aib yang sangat memalukan bagi mereka. Apalagi kalau sampai foto-foto ‘aib’ tersebut gue pajang di facebook atau twitter. Puluhan komentar sadis berdatangan dari teman-teman kami yang doyan menghujat.

Cuaca semakin gelapppp....


30 menit mendekati kota Surabaya, tiba-tiba cuaca menjadi tidak bersahabat. Awan gelap. Kabut tebal dan juga pesawat mengalami turbulance. Beberapa kali pesawat berguncang-guncang mirip gempa bumi. Gue mulai terdiam bodoh. Dari jendela gue melihat kilatan cahaya halilintar berkali-kali menyambar (entah kemana). Sumpah, cuacanya BURUK banget!
“Berhubung karena cuaca kurang baik, para penumpang dipersilahkan kembali ke tempat duduknya dan memasang sabuk pengaman.” Pramugari memberi aba-aba.

Pesawat kembali berguncang. Kali ini guncangannya lebih kencang. Kedua teman gue terbangun dan wajahnya terlihat begitu ketakutan. Liza memegang tangan gue, Rina memegang tangan Liza (ngaruh nggak ya perpegangan dengan guncangan?)

Pramugari kembali memberikan aba-aba pertanda cuaca kurang baik. Kali ini kalimat yang terdengan dari mickrophone terputus-putus karena efek cuaca jelek tadi. Beberapa kali pesawat berbenturan dengan awan tebal. beberapa penumpang berteriak sambil melafalkan bait demi bait doa. Lampu tiba-tiba dipadamkan. Suasana menjadi terasa sangat mencekam.

Melihat kondisi yang semakin buruk, gue menuntup kaca jendela karena diluar terlihat sangat gelap. Gue berdoa dalam hati. Karena gue benar-benar sangat takut. Antara pasrah dan berharap mujizat Tuhan. Memori gue langsung teringat pesawat Adam Air yang mengalami kecelakaan di atas pesawat dan hilang hingga kini belum ketahuan keberadaannya.    

Kurang lebih sepuluh menit guncangan maha dahsyat menemani perjalanan kami. Membuat jantung kami berhenti sejenak. Membuat diri kami pasrah jika terjadi malapetaka dan pasrah jika umur kami hanya sampai disini. Kami juga  tidak henti-hentinya berdoa minta ampun. (mungkin seluruh penumpang yang lainnya juga melakukan hal yang sama).

Fhuiiihhh...!!! jantung ini kembali lega ketika lampu kembali dinyalakan, pesawat sudah kembali terbang dengan normal (tanp guncangan) dan kemudian peramugari memberi aba-aba kalau sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara H. Juanda. Hmmm....

Thanks God, akhirnya kami mendarat dengan sehat walafiat dan semua itu berkat lindunganMu juga.

Kalau sudah dalam kondisi ‘Kritis’ baru deh manusia-manusia berdosa ini ingat pada TUHAN dan merasa tidak ada apa-apanya dari kuasaNYA.....


Dan...turbulance bener-bener membuat gue PASRAH!

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta