THE BANG BANG CLUB - REVIEW

4 Sekawanan Fotografer Perang

Gue baru saja menuntaskan nonton dvd berjudul The Bang Bang Club. Kisah nyata tentang 'sepak terjang' empat orang jurnalis foto (fotografer) yang ditugaskan meliput konflik panas politik Apartheid yang berlangsung sekitar tahun 1990 sampai 1994.

Selain mengisahkan tentantang perjuangan para jurnalis foto (kenapa gue bilang jurnalis foto. karena mereka harus mendapatkan GAMBAR yang berbicara, dengan resiko yang berat. Artinya, melihat hasil foto-fotonya saja orang yang melihatnya bisa membayangkan tragedi yang tengah berkecamuk.)
Berbeda dengan fotografer 'biasa' yang hanya mengambil gambar tanpa memiliki resiko yang berat.

Film ini cukup menegangkan. Tegang dari segi cerita yang terlihat jelas bagaimana anak-anak muda di Afsel begitu gampang tersulut emosi dan membunuh orang yang dianggap bertentangan dengan kekuasaan mereka. Pada tahun 1994 disaat Nelson Mandela yang baru saja dibebaskan dari penjara dan ketegangan di Afrika Selatan sedang dalam masa-masa genting. karena kerusuhan terjadi dimana-mana. (atau disebut bulan-bulan akhir berdarah Apartheid).

Para Jurnalis foto juga menjalankan tugas mereka dalam ketegangan. Karena, sebagai jurnalis foto di negara yang tengah KONFLIK, resiko terberat yang harus dihadapi adalah NYAWA MELAYANG (dan itu terjadi pada salah satu dari 4 jurnalis foto).

Greg (Ryan Phillippe) menjalankan frofesinya yg beresiko




Bang Bang Club nama panggilan untuk fotografer Greg Marinovich (Ryan Phillippe), Kevin Carter (Taylor Kitsch), Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach) dan Joao Silva (Neels Van Jaarsveld) karena mereka selalu di tengah-tengah tembakan, atau "Bang-bang" sebagai kata penduduk setempat. Menyaksikan ketidakadilan yang ditimbulkan oleh antek-antek FW de Klerk, para pria muda tahu bahwa kebenaran harus keluar.Dipicu oleh kemarahan adrenalin dan moral, mereka mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendokumentasikan kengerian perang sipil yang didera bangsa. Dengan bantuan Robin (Malin Akerman), tanpa basa-basi editor foto, foto mereka membantu memfokuskan perhatian dunia pada nasib Afrika Selatan dan menggembleng opini internasional untuk mengakhiri apartheid. Greg Marinovich dan Kevin Carter masing-masing memenangkan Hadiah Pulitzer untuk foto jurnalistik yang menakjubkan mereka, tetapi mereka menyaksikan kengerian mengambil tol menghancurkan.
Menjadi juranlis foto atau fotografer bukanlah hanya sekedar hobi semata. kita harus memiliki kepekaan dalam indra penglihatan kita. tidak asal foto dan selesai. kita juga harus bisa mencari objek yang bisa berbicara. berbicara dalam gambar bukan verbal. 
seperti kutipan dalam film tersebut "Sometimes you get too close" benar adanya. terkadang untuk mendapatkan objek yang bagus, kita harus melakukan pendekatan pada objek yang akan kita foto. seperti yang dilakukan Greg Marinovich (Ryan Phillippe). dengan nyali jurnalisnya, Greg bisa menerobos brigade massa yang dalam kondiis emosi tingkat tinggi. pendekatan yang dilakukannya ternyata manjur membuat Greg bisa mengambil momen-momen BERHARGA yang belum tentu bisa dilakukan rekan-rekan jurnalis foto lainnya. 
Film ini banyak memberikan pembelajaran bagi kamu-kamu yang suka foto. tertarik menekuni profesi jurnalsi foto. Banyak tehnik  yang harus kamu pelajari sebelum terjun di dunia jurnalis foto atau fotografer. dan satu hal.. TIDAK PERLU KAMERA MAHAL untuk mendapatkan angel yang baik. kamera mahal hanya sebagai pendukung saja. asal kamu memiliki sense dan taste juga kepekaan dalam melihat objek. jadi kamera mahal tidak jaminan gambar anda jauh lebih baik dari kamera biasa.   

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....