TRIP KE JOGJA PART 2 : ANTARA PENGEMIS PENGAMEN DAN TUKANG BECAK

tukang becak di Jogja

Sepanjang perjalanan Bandung-Jogja, entah ada berapa stasiun yang kami singgahin. Meski membosankan tapi setiap di pemberhentian, gue langsung memanfaatkan dengan hunting foto. Nikon dan Lumix gue langsung bekerja mencari sasaran empuk untuk menjadi koleksi candid camera.

Rasa lapar mulai menyerang, kami pun beli Tahu Sumedang di Tasikmalaya  (habis makan eh langsung Sakit perut). Begitu juga Aji yang beli Pecal di stasiun berikutnya. Perutnya ikutan melintir bolak balik ke Toilet. (wajarlah sakit perut. Soal ke higenisan makanan yang masuk keperut  patut dipertanyakan!)

Icon kota Jogja


Nggak terasa sudah jam 4 sore dan kereta kami pun nyampe juga di Stasiun Tugu Jogjakarta.. Wuih... rasanya lega banget deh!

Nyampe stasiun langkah kami sudah dihandang oleh TUKANG BECAK. Menawarkan diri untuk ngantar ke Malioboro. Mereka bilang Malioboro JAUH dan naik becak cuma 5000 kok. Lha, bukannya Malioboro berada persis di dekat Stasiun kereta? (Jadi bagi pelancong yang belom pernah ke Jogja harap di catat, kalo mau ke Maliobroo jangan naek becak. Jalan kaki dalam hitungan menit juga nyampe.)

Meski elo sudah menolak tawaran si tukang becak yang satu, jangan kira tukang becak yang lain nggak akan menghadang elo. SALAH! Mereka mungkin punya prinsip MAJU TAK GENTAR MEMBERI PENAWARAN. Meski sudah jelas-jelas dibilang pengen jalan kaki saja. Eh tetap maksa! PARAH!!! (pokoknya kalo menghadapi para tukang becak harus pasang kacamata kuda deh. Karena sekali dilayani maka semua tukang becak menghampiri.

pengemis di Jogja


Gue dan Aji pun langsung cari makanan di kawasan Malioboro. Persis di sebelah Mall Malioboro ada pedagang mananan. Ada NASI PECEL. Perlu diketahui, gue paling suka nasi pecel. Bumbu kacangnya itu lho bikin lidah gue bergoyang-goyang. Asoy geboy gitu deh. Tapi yang semakin bikin lidah bergoyang dengan MUNCULNYA PENGAMEN cilik. Nyanyi-nyanyi gak jelas gitu deh... Abaikan saja..!! gue Muak dengan pengamen yang nyanyinya tidak serius! Kalau ngamen dianggap sebagai mencari nafkah, maka Ngamenlah yang baik, agar yang mendengar juga bersimpati.

Selesai makan, baru deh kami nyari penginapan. Nggak perlu hotel mewah karena prinsip traveling ala gue, nggak perlu buang duit banyak hanya untuk tidur. Jadi kami memilih Hotel Kartika yang nggak ada bintang di jalan SosroWijayan. (dan ternyata disepanjang jalan itu banyak hotel dan penginapan yang sangat terjangkau. Bahkan disebelah jalan tersebut juga bejubel penginapan yang siap sedia untuk dihuni.)
Dengan harga 85 ribu/malam, kamar yang kami huni lumayan layak deh. Kamar mandi ada di dalam. (Kalo diluar sewanya lebih murah sekitar 65 ribu).

Istirahat sebentar, baru deh kami ngider sepanjang Malioboro sampe ke tugu sampe ke keraton dan sampe kemana-mana deh. Saat keluar dari penginapan, beberapa tukang becak sudah kembali mendatangi kami. Menawarkan jasanya dengan TARIF yang asal-asalan. Tapi tetap kami tolak. Kali ini kami pengen jalan kaki sampe GEMPOR!

Gue merasa kok sepanjang jalan Malioboro itu teramat Semraut. Sangat penuh pedagang, tukang becak, tukang Delman, Pengamen, Pengemis, Motor parkir disepanjang Ruas jalan. Bayangin, gimana kita bisa menikmati jalan yang sangat legenda ini jika semua fungsi jalan berubah menjadi tempat nangkring pada pedagang... Alhasil sepanjang jalan mengkritik sendiri tanpa ada solusi.

angkringan di Jogja



Selesai muter-muter sampe gempor, malam harinya baru deh kami cari ANGKRINGAN. Katanya nasi kucing disini terkenal. Maka rasa penasaran gue membuat kami nangkring di salah satu jalan di dekat kereta.

Busyetttttttt... Rame bener yang Nangkring.
Tapi kami nggak peduli mau rame ato kagak. Yang jelas kami pengen icip-icip nasi Kucing. Baru saja pantat ini duduk di tikar, pengamen bergerombolan sudah muncul. Nyanyi sebait dua bait langsung nyodorin kantongan.. (Hmm.. pengamen dimanamana sama aja.. modal Minta!)
Pengamen pertama kami tolak...Pengemis nyusul..
Kedua ditolak..
Ketiga ditolak..
Sampe makanan yang kami pesan datang, sudah ada lima pengamen dan pengemis menghampiri kami...
Busyet! Banyak bener orang yang bekerja diperusahaan PENGAMEN dan PENGEMIS ya..? kok karyawannya rame banget menjalankan pekerjaanya..?

Selesai Nangkring, bayangkan saja, ada 14 pengamen dan 10 pengemis menghampiri kami, juga ke orang-orang yang nangkring lainnya. Kalo dihitung-hitung setiap orang ngasih mereka 1000 perak (karena uang 100-200 sering dibuang mereka karena dianggap uang receh! Sialan!! Gue aja recehan masih gue simpan dengan baik!))

COBA BAYANGKAN ???????

Dimana kenyamanan NANGKRING di JOGJA lagi? Kalau setiap langkah kita selalu dibuntuti pengamen dan pengemis. Apa pemda setempat sudah tidak peduli untuk membumi hanguskan pengemis dan pengamen ini? SANGAT MENGGANGGU kenimatan berwisata tau..!!!

Akhirnya dengan KEDONGKOLAN dan KEKESALAN terhadap Pengamen, Pengemis dan Tukang Becak, serta delman kami mengakhiri malam pertama di Jogja dengan pulang kembali ke penginapan. Mending di dalam hotel aja deh kami terbebas dari serangan pengamen dan pengemis dan juga tukang becak.
Angkringan...

Kira-kira jika gue datang ke jogja setahun lagi, ada perubahan menjadi lebih baik nggak ya..? atau semakin kacawww...??? Entahlah..!!! Hanya Pemda dan warga setempat yang tau. Jika ingin kotanya terus di Cintai pelancong ya harus BERBENAH bukan TERLENA!

pengemis di Jogja


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....