Antara Kuliner kaki Lima, Pengamen dan Pengemis



Kuliner ala jajanan di Kaki lima a.k.a pinggir jalan sudah hal yang lumrah di kota-kota besar. Ya, sebut saja Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dll dll dll... Yang namanya nangkring dan makan dipinggir jalan bukan hal 'TABU' bagi kaum Urban. Karena jajanan ala kaki lima bukan berarti jajanannya tidak nikmat dan yummy lho. Tidak heran kalo banyak acara-acara tv yang berbau kuliner sering menayangkan tempat-tempat makan yang beraneka ragam di pinggir jalan. Itu karena jajanannya NIKMAT!

Gue, sebagai penikmat kuliner juga sering melakukan Napaktilas jajanan-jajanan dipinggir jalan. Bahkan beberapa kawasan yang terkenal dengan jajanan pinggir jalannya pasti gue samperin deh. pengen nguji lidah apakah jajajan dilokasi tersebut bener-bener nikmat atau sekedar nongol di tv doang. 

Tapi, yang sering menjadi KENDALA kalo kuliner ala kaki lima adalah BEJIBUN dan BERANAK PINAK-nya pengamen dan pengemis dikawasan tersebut. Bayangin aja, baru saja pantat ini menduduki kursi, eh, rombongan pengamen pengemis sudah langsung berdatangan. Pengamen  langsung menyanyikan lagu-lagu yang TIDAK PERNAH TUNTAS! Nyanyi sebait dua bait lagu langsung selesai dan secepat kilat menyodorkan kantongan menodong penikmat kuliner. 

Tuntas si Pengamen menjual lagu 'nanggung' nya, muncul deh 'scene' si pengemis. beraneka GENRE pengemis nongol di depan mata. Mulai dari pasangan suami-istri, anak-anak, cewek belia berambut mirip disasak, ibu2 dengan bayinya, bapak-bapak dengan tongkatnya, anak kecil dengan dress-code compang campingnya. pokoknya KOMPLIT DEH...!!!

Bagian-bagian seperti ini lah yang membuat gue MALES makan di pinggir jalan. Bukan karena anti sama profesi mereka. Hanya saja, tujuan gue makan di pinggir jalan karena gue pengen menikmati suasana yang 'kaki lima' tanpa harus diganggu suara dentingan GITAR yang nggak jelas nada-nadanya. bahkan suara si pengamen nggak kalah cemprengnya dari suara mesin BAJAJ yang nyaring nggak beraturan.  Gue pengen duduk-duduk sambil makan dan ngobrol dengan teman-teman. tapi boro-boro bisa ngobrol, untuk menikmati hidangan makanan saja pun sulit gue rasakan. Karena baru saja sesuap makanan masuk ke mulut, eh, pengamen sudah nongol. Dua suap, si pengemis nongol..dan begitulah seterusnya....

Kejadian TRAGIS yang bikin gue semakin ENEG sama predikat ngamen yang bukan ngamen adalah, tadi malam saat gue menikmati weekend sambil makan nasi goreng di jalan SABANG (belakang Sarinah). dalam hitungan menit saja, sudah ada 10 pengamen hadir di depan meja gue. ditambah pengemis yang ciri-cirinya ada di bait ditulisan di atas... Bahkan yang bikin gue emosi ada rombongan pengamen berpredikat MAHASIWA nongol di depan meja gue sambil berkata begini,
"Selama malam bapak-ibu, mbak dan mas.. kami dari kelompok PADUAN SUARA UNIVERSITAS INDONESIA ingin mencari sumbangan dengan menyanyikan beberapa lagu..."
kemudian si mahasiswa-mahasiswa yang ngaku kelompok PADUAN SUARA UI pun nyanyikan lagu...(sangkin muaknya gue dengan mereka gue lupa lagu apa yang dinyanyikan mereka). hanya dua sampai tiga bait lagu eh mereka sudah menyodorkan ampop meminta SUMBANGAN...

Kalo emang MAU NYARI SUMBANGAN..bagi yang ngaku-ngaku kelompok PAduan Suara UI, nyanyilah satu atau dua lagu sambil MEMPERTONTONKAN keindahan suara kalian. seharusnya mereka juga bisa membuktikan kalo mereka bener-bener anak UI bukan pengamen.  Bukan hanya satu atau dua bait lagu dinyanyikan  setelah itu selesai. Itu mental sama aja dengan MENTAL pengamen..

Duhh...... yang jelas, beberapa kali makan di jajanan kaki lima, wabah pengamen dan pengemis jauh lebih berbahaya dari pada wabah timbunan LEMAK diperut gue. 

Saran gue:
Kalau mau jadi pengamen... jadikanlah pengamen itu PROFESI yang MEMBANGGAKAN. alias, elo nyanyi dengan kwalitas suara dan menyanyikan lagu yang bener-bener bisa dinikmati orang yang ada di depan elo. bukan asal buka mulut dan genjreng-genjreng alat musik. 

Begitu juga dengan pengemis.... jadikan profesi yang membanggakan juga. KALO TIDAK DIKASIH DUIT jangan NGOTOT dan bertahan pada penDIRI-anmu. 

Fhuiiihhh...!!!!!
Gue ngetik ini dengan rasa dongkol yang mirip ikan Tongkol..!!

Comments

  1. Anonymous09:40:00

    Jangan lupa di bus antar kota juga ga kalah seru...Selagi ngetem di Kampung Rambutan, pengamen ibarat air yang mengalir melalui pintu depan bus,ngamen sebentar (tentu aja ga jelas nada lagunya) selanjutnya masuk diantara kursi penumpang untuk minta duit (malah kadang disertai malak) kemudian keluar lewat pintu belakang (selagi pengamen lain masuk) dan memulai "antrean" lagi untuk ngamen. Stress dah para penumpang .Sori bos, comment gw ga nyambung dengan tag kuliner-nya, tapi same case kan

    ReplyDelete
  2. Anonymous09:42:00

    Sayangnya tulisan elo ini gak di baca sama si pengamen dan pengemis karena mereka lagi pada sibuk ngamen n ngemis hehehe.... seharusnya ini tanggung jawab pemda khususnya satpol pp utk menertibkan mrk.

    ReplyDelete
  3. :))

    Tapi lebih disayangkan lagi, satpol PP pun kayanya gak ditakuti ama pengamen dan pengemis.

    Emang annoying ya kalau baru mau menyuapkan makanan favorit yang sudah ditunggu, tau-tau jrenggggg ada yang ngamen nggak jelas nyanyinya apa. Atau yang 'minta-minta' kekeuh berdiri di samping kita :|

    Negara ini penuh dilema... *gak tau deh solusinya gimana :)


    Join Fan Pages VIVAlog
    Best Regards, Gal's

    ReplyDelete
  4. rese emang... kadang malah pendapatan pengamen lebih besar dari pada kita yang kerja

    ReplyDelete
  5. konde: wakkakakaka betullll..... lebih kaya mereka dari kita ya.....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....