LOST IN MACAU Part 1

Kota Macau

Part 1

Liburan akhir tahun kemaren, gue dan tiga orang sahabat karib gue (Glen, Titin dan Eva) memutuskan liburan ke Macau. Ada kisah yang menurut kami sangat ‘pilu’ dan menyayat hati karena terdampar terlantar di negeri orang yang baru pertama kali kami kunjungi.

Berikut ini kisah Lost In Macau, di negara yang terkenal dengan  sebutan Las Vegas-nya Asia.

Sebenarnya saya dan ketiga teman saya sama-sama belum pernah berkunjung ke Macau. Tapi, sebagai penggila traveling, saya sudah teramat sering membaca dan melihat foto-foto Macau di majalah-majalah traveling. Membuat saya bener-bener harus menginjakkan kaki kesana. Hal tersebutlah yang membuat saya dan teman-teman tergoda untuk menginjakkan kaki ke negara yang hanya memiliki dua pulau terkenal itu. (Taipa island dan main island Macao.)

Rasa penasaran semakin membengkak ketika salah satu maskapai penerbangan memasang tarif super dupper hemat untuk liburan ke Macau, Hongkong dan Bangkok. Maka, tidak ayal lagi, kami pun langsung membooking tiket PAHE itu dari jauh-jauh hari. (kami nge-booking sekitar 4 bulan sebelum hari H).

Eniwei, nyampe lah pada hari H keberangkatan. Dengan semangat 45 kami berangkat dengan maskapai murah meriah mantap itu. Informasi yang kami dapat kondisi cuaca di Macau sedang dingin-dingin empuk. Ya, at lease suhunya mencapai 10 drajat celsius. Maka kami pun membekali badan kami dengan baju tebal (mulai dari sweater, syall, sarung tangan, jaket, kaos kaki dan minuman penghangat seperti bandrek dan kopi).

Selama di dalam pesawat, teman gue, Glen, (yang faham tentang rute perjalanan kami) terlihat sibuk membaca buku panduan traveling, yang disebut-sebut sebagai ‘kitab’-nya para traveler. (meski gue tidak pernah mempercayai buku panduan travelling yang bertebaran di toko buku itu. Karena informasinya suka nggak akurat). Dengan membaca buku travel guide justru kita sering terkecoh dengan apa yang ada saat kita tiba di lokasi. (beda orang beda selera kali ya?)

TIBA DI MACAU
Pesawat landing di Macau International Airport, hari sudah beranjak malam. Ya sekitar sekitar puku 21:00 WIB (gue sengaja tidak men-setting ulang jam tangan gue biar tetap ingat negeri sendiri). Turun dari pesawat udara yang teramat dingin langsung menggerogoti tubuh kami. Sumpah! Baru kali ini gue merasakan gigilan yang maha dahsyat.  Bener-bener bikin kami berempat merinding disko gitu deh. Meski udara di dalam pesawat juga dingin, tapi keluar dari pesawat malah jauh lebih dingin. Udarannya breezy gitu deh.

Alhasil, selama menunggu ngantri di bagian imigrasi, saya dan ketiga teman saling berpelukan. Ya mirip boneka Teletubies gitu deh. Ih, norak nggak sih?
  
NAIK TAKSI
Selesai urusan di bagian imigrasi dan menunggu bagasi, kami langsung keluar terminal bandara. Disini kami mulai merasakan kebingungan. Kepala saling celingak celinguk. Nggak tau mau ke arah mana. Petugas yang berjaga-jaga di pintu keluar bandara pun tidak tau harus mengasih petunjuk apa.

Melihat wajah ‘bloon’nya saja kami sudah nggak yakin kalo dia bisa menjadi juru slamat kami dari kebingungan. Secara dia nggak bisa bahasa Inggris (Catatan: kalau ke Macau jangan pernah bangga  bisa berbahasa Inggris ya. Bakalan Jarang kepake deh!) padahal kami sudah menunjukkan buku ‘guide’ tentang Macau dan arah yang ingin kami tuju. Tapi tetap saja orang-orang yang kami tanya tidak tau.

Sambil menunggu antrian naik taksi, kami terus bertanya ke orang-orang yang kira-kira faham bahasa Inggris atau minimal faham tentang denah di buku petunjuk.

Thanks God, ada seorang turis (bule) yang akhirnya memberi pencerahan. Dia bener-bener juru slamat kami disaat kebingungan nggak tau arah.  Dia nunjukkan arah yang harus kami lalui, dan menganjurkan agar sebelum naik taksi hal pertama yang harus kami tanya pada supirnya adalah, ”Can you speak English? Bukan tujuan atau alamat yang ingin dituju.”

Waduh, bener-bener menolong banget si bule. Gimana kalau kami tadi langsung naik taksi dengan gaya slonong boy tanpa mengetahui si supir bisa atau tidak bahasa Inggris, wah..bisa-bisa jadi nggak nyampe-nyampe ke tujuan sampe seminggu. Ya, karena sama-sama tidak tau harus memberi petunjuk seperti apa.

Dua taksi yang kami berhentikan menyerah ketika gue bertanya pertanyaan klise,” CAN U SPEAK ENGLISH..?? tanpa basa basi si supir langsung beralih ke penumpang berwajah sipit yang ada disebelah kami. Sialan nih supir..!! (Mungkin karena tidak bisa berbahasa Inggris jadi kami pun dicuekin saja.)
Akhirnya kami naik taksi yang ke tiga setelah si supir menjawab “Yes, i can!”
Thanks God! akhirnya nemu juga supir yang bisa bahasa Inggris...

Taksi pun tancap gas setancap tancapnya... kayak dikejar setan..!!!

*Bagaimana kelanjutanya...??? Pantengin aja sampe celeng tuh mata.....

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....