LOST IN MACAU Part 2....

Macau...


Part 2 

SALAH ALAMAT
Di dalam taksi, sobat gue Glen masih terus aktif membuka-buka buku panduan yang setebal bantal itu, hanya dengan bantuan cahaya lampu dari handphone. karena lampu taksinya remang-remang mirip di warung remang-remang gitu deh.  Saya yang duduk disebelah supir terus ngajak ngobrol si supir biar terkesan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat gitu deh..)
Tujuan gue sih baik,  untuk test pengetahuan umum si supir. juga memastikan apakah dia bener-bener  bisa berbahasa Inggris juga bener-bener tau alamat yang akan kami tuju. Tapi sambil terus mengemudi si supir hanya menjawab ,”Can..Can..” 
(kok jawabannya can can mulu sih? Kami mulai bingung, jangan-jangan si supir bisa berbahasa Inggris gadungan.)

Tiba-tiba si supir memberhentikan taksinya persis di depan hotel Taipa Square. Melihat hotelnya yang menjulang tinggi saja kami sudah kaget. Karena sasaran kami jelas bukan hotel berbintang lima tapi hotel kelas backpacker alias hostel atau motel atau sejenis penginapan yang 3M gitu deh (Murah Meriah Mantap).
“I think, It’s the wrong hotel sir.” ucap saya dengan wajah panik. Teman-teman yang lain juga ikut panik karena si supir  telah mengantarkan kami ke alamat yang salah.
“No..no..no...”balas si supir. (Nah lo..jawabnya kok malah NO NO NO...??)

Dasar sableng! Ternyata si supir sama saja dengan supir-supir yang lain tidak bisa bahasa Inggris. Perbendaharahan kata bahasa inggrisnya cuma YES, NO dan CAN. Selebihnya si supir pasang muka bego! dan pura-pura AMNESIA... Preett!!!!

Damn..!! Si supir taksi tidak bertanggung jawab! Tanpa berdosa dia  malah menurunkan kami di depan hotel megah tadi dan nggak mau nganter ke tempat yang kami tuju. Kami Semakin panik dong.. Tapi, sambil terus berusaha mencari (kayak anak ITIK yg sedang mencari induknya), kami pun  berjalan kaki sepanjang kawasan Taipa hingga mentok ke jalan yang gelap gulita dan bentuk bangunannya pun old building gitu. 

Mulut kami nggak berhenti bertanya ke setiap orang yang berpapasan dengan kami. Tanya sana tanya sini. Hampir semua orang yang kami tanya sama BODOH-NYA dengan si supir taksi tadi. Bahasa Inggris dianggap bahasa PLANET yang sulit dimengerti. Pasang wajah bloon sudah juaranya deh. (Padahal wajah mereka sudah bloon.) 

Fhuiihh...!! Bener-bener membutuhkan energi dan kesabaran tingkat tinggi deh. Karena setiap bertanya kami harus pakai bahasa Tarzan. Mana malam semakin larut dan rasa dingin semakin membuat tubuh kami keriput.  rahang mulut kami pun kerasa KRAM karena kebanyakan nanya tapi nggak dapat jawaban. apes abissss...!


HOSTEL KAWASAN PELACURAN
Malam semakin larut, udara semakin dingin, kaki semakin gempor karena harus menenteng dan mendorong tas segede gaban, mulut juga sudah benar-benar KRAM karena kelebihan kapasitas untuk bertanya. jadi KRAM deh!

Berhubung kaki sudah tidak kuasa berjalan lebih jauh lagi, kami berhenti di sebuah kawasan yang banyak permpuan-perempuan malam yang sedang berdiri dipinggir jalan dengan dandanan super seksi. (nggak kedinginan apa..?) Kami yakin seratus persen mereka itu pelacur-pelacur yang sedang beroperasi. Saya dan Glen pun sempat ditawarin untuk ‘mencicipin’ bodylicius mereka. Tapi kami menolak dengan alasan sudah membawa ‘stok’ pasangan (dua teman kami dijadikan tumbal agar kami tidak digodain terus). Karena kami pengen cepat-cepat dapat kamar dan pengen istirahat.

Ternyata di kawasan tersebut masih menyediakan penginapan (kebanyakan penginapan yang layak huni semua sudah fully booked). Tawaran penginapan tersebut datang dari seorang perempuan yang berprofesi sebagai germo. Meski bahasa Inggrisnya carut marut, tapi kami harus bersyukur karena dia mengerti apa yang kami maksud dan kami juga masih bisa memahami apa yang diucapkannya meski harus butuh tenaga ekstra dan memasang wajah kayak orang bego juga. ditambah lagi lengkingan suaranya mirip anjing serigala  menggonggong saat bulan purnama nongol. tinggiiiiiii banget...!!

Kesimpulannya, malam itu kami dapat kamar untuk istirahat dengan harga Rp. 300 ribu/malam. Untuk berempat

KAMAR MIRIP ASRAMA
Kaki sudah letih, mata ngantuk, perut lampar, maka penginapan yang ditawarkan si germo tadi pun kami terima dengan terpaksa. Kemudian kami mengikuti langkah kaki si germo menuju tangga. Kami pikir posisi kamar ada di lantai dua. Sepanjang kaki melangkah ke lantai dua hampir disetiap anak tangga bertebaran brosur-brosur bergambar perempuan telanjang dengan pose syur lengkap dengan nomer telepon yang bisa dihubungi. Brosur-brosur tersebut kami abaikan, meski gambar-gambarnya sangat menantang dengan payudara menonjol (mirip kayak payudara Malinda si pembobol nasabah Citi bank) 

Lalu kami harus naik lift yang menyeramkan karena wujudnya sudah renta banget. (mirip lift-lift film gangster Cina jaman baheulak).

Dan ternyata kamar kami bukan dilantai dua melainkan berada di lantai 10. Busyet dah....!!! Kami naik lift renta hingga ke lantai 10.  Alangkah kagetnya kami ketika melihat kamar yang ditawarkan si germo Bener-bener mirip asrama tentara yang dilengkapi dua tempat tidur bertingkat. Kamarnya sangat kecil dan sempit. Kamar mandi berada di luar. Selain itu di sebelah kamar kami ada beberapa kamar berdempetan yang dipakai untuk pelacur-pelacur untuk check in dengan pasangan barunya. Jadi kalau pelacur-pelacur dapat tamu, maka si tamu digiring ke kamar tersebut. 

“Nggak apa-apa deh. Malam ini kita nginap disini, besok kita pindah cari hotel yang layak.” Ucap saya membesarkan hati yang mulai gundah.

DESAHAN TENGAH MALAM
Karena sudah letih, maka malam itu kami memutuskan untuk langsung istirahat. Bersiap-siap untuk tidur, baju yang kami pakai sangat berlapis-lapis karena cuaca semakin dingin (katanya semakin tengah malam, suhu udara bisa mencapai 0 drajat. Alamaaakkkk..!!).

Sebelum mata ini terpejam, dari arah kamar sebelah, kami mendengar suara desahan-desahan perempuan. Semakin lama suara desahannya semakin kencang. Pokoknya mirip kayak film-film bokep ganas gitu deh. 
Ahhhh...uuuhhhh...Ohhhhhh...Yeahhhh...Ougggghhh...

Busyet dah...gimana mata bisa terpejam kalo pikiran langsung melayang membayangkan adegan film bokep ada di depan mata. Alhasil, sepanjang pertempuran si perempuan dan tamunya berlangsung, kami tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Kami rela menunggu perempuan pelacur itu selesai bertempur, baru deh kami melanjutkan tidur.

Keesokan pagi harinya, sebelum memulai petualangan di Macau, kami langsung bergegas pindah dan mencari hotel yang layak untuk dihuni. Selamat tinggal penginapan mesum yang teramat parah itu!

Pengalaman ini benar-benar menjadi bagian dari pengalaman seru selama saya traveling ke bebebrapa negara. Rasanya kami benar-benar Lost in Macau!

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....