NAIK KETERA API - DAHULU DAN SEKARANG

Suasana Kereta

Sebenarnya gue adalah orang yang paling suka naik kendaraan umum. (JELAS! Karena gue nggak punya mobil pribadi.) Nggak ding! Maksud SUKA ya bener-bener suka. Mulai dari naik bis, naik busway, naik kereta api, naik kapal, naik pesawat dan naik naik lainnya.  Karena , setiap gue naik kendaraan umum, gue bisa berbaur dengan penumpang lain. Juga bisa mendapatkan cerita-cerita ‘Unpredictable’. Disamping itu, sebagai penyuka fotografi, naik transportasi umum merupakan momen yang EMPUk untuk mendapatkan segudang OBJEK natural. (gue suka foto candid dan human interest).

Jadi, intinya gue cerita ini, gue pengen share tentang naik KERETA API (kalo di Medan sono, naik kereta tuh naik Motor jadi harus ada API-nya baru mereka mengerti bahwa itu kereta api).

Dulu, semasa kuliah gue paling sering naik kereta dari kota kecilku ke kota Medan. Hmm.. perjalanan yang sangat membosankan! Bayangin aja, 8 jam di dalam kereta non AC. Himpit-himpitan dengan penumpang lain. Bahkan kalo sedang APES bisa nggak dapat tempat duduk dan berdiri deh selama 8 jam!!!! Atau tidur sambil bentangin koran dilantainya...Kebayang bukan??? That’s real!

Menurut gue, pengalaman tragis yang nggak pernah gue lupain ya naik kereta di Medan menuju kota RantauPrapat. Keretanya boleh disebut BUSUK! Dan sebenarnya sudah tiak layak untuk dipake. Tapi apa daya, transportasi itu bener-bener menjadi ‘kembang’-nya saat itu. Kalo naek bus jalannya juga nggak kalah sadis. Berlubang kayak kubangan kerbau. Berlumpur dan rusak parah. Ujung-ujungnya naik kereta masih the best choice!

Meski naik kereta disana juga harus waspada, terkadang saat kereta berhenti di stasiun-stasiun (stasiun yang diberhentiin buanyaaakkkk banget! Wajar lama nyampenya) saat kereta berhenti, masuk deh pedagang-pedagang makanan ke gerbong kereta. Mampus nggak sih, kita yang sudah desak-desakan ditambah semakin berdesak dengan masuknya pasukan pedagang. Alhasil, pada saat mereka masuk itu lah sering terjadi kecopetan. Mulai dari tas penumpang hilang. Dompet hilang bahkan sampai HARGA DIRI pun bisa hilang sangkin tumpah ruahnya.

Hmm... tragis dan meringis dah kalo sudah mengingat masa-masa jahiriah dulu!
Makanya, setiap gue mudik ke kota kecilku, jauh-jauh hari harus pesan tiket kereta supaya nasib sial tidak menyertaiku. (ternyata budaya mudik dengan desak-desakan dan antri tiket pernah gue alami juga ya..!!)

Setelah hijrah ke Jakarta, gue baru bisa merasakan naik kereta yang AC-nya nampol kepori-pori. Ya, kereta Parahyangan Jakarta-Bandung dan sebaliknya menjadi transportasi fave gue kala masih sering PP-Jkt-Bdg.  Jujur waktu itu gue suka banget naek kereta ke Bandung (sebelum jalan pintas Cipularang dilahirkan tahun 2005). Disinilah gue baru bisa merasakan naik kereta sambil tertidur pulas karena AC-nya membuat mata merem melek merem melek.

Tapi sayang, sejak tol Cipularang menjadi ‘KEMBANG’-nya jalan pintas menuju Jkt ato Bdg, armada kereta pun mulai diacuhkan. Lambat laun pengguna jasa kereta semakin ciut dan semakin berkurang. Semua lari ke jasa Travel Car dengan alasan jarak tempuh yang lebih singkat dan cepat. Begitu juga dengan gue, mulai berpaling ke Travel Car. Meski sesekali gue kangen naek kereta. Kalo keperjaan di Jakarta nggak mendesak gue harus cepat sampe Jakarta, gue memilih naik kereta ke Jakarta. Karena jujur gue kangen dengan rute-rutenya. Kangen saat melintasi terowongan yang menurut gue seru! Kangen juga dengan suasana di dalam kereta. (meski sampe saat ini jasa Kereta Api belum juga meningkatkan pelayanan agar pemumpangnya bisa balik lagi memakai jasanya. Ini malah MELEMPEM!)

Terakhir gue naek kereta dua pekan lalu. Penumpang SEPI! Disekeliling gue nggak ada penumpang. Sempat berhayal seolah-olah gue juragan minyak yang punya kereta pribadi. Abis sepiii banget cuy!
Pelayanannya juga masih standar nggak ada yang berubah kecuali ada majalah Kereta yang menurut gue COVER majalahnya NORAK dan Kampungan. Toiletnya masih juga sama seperti pertama kali gue naik kereta tersebut akhir 1997. Toilet tidak berfungsi dengan baik. Air krannya ada yang ngucur ada yang mati. Bahkan yang paling SADIS..aroma bau PIPIS yang menyengat hidung. Bener-bener aroma ORIGINAL (kalo parfum original kan baunya lama ilang..begitu juga dengan aroma Pipis ini..sangat original..baunya menusuk sampek ke uluh hati!)

Jadi, sangat disayangkan jika armada kereta api harus tersisih dari armada-armada lainnya. Karena di negara-negara lain, justru transportasi kereta menjadi IDOLA masyarakatnya. Selain cepat juga nyaman... kenapa di negara kita transportasi seperti dianak tirikan ya..?? bukannya dicari solusi untuk berbenah lebih baik, eh malah jam keberangkatannya dikurangi yang seharusnya setiap jam malah beberapa jam sekali....

Kalo sedang ke Luar negeri, gue dan teman-teman juga selalu menyempatkan naik kereta. Emski julukannya beda-beda, mulai dari MTR, BTR, MRT Atau apa saja julukannya tapi sensasinya emang bener-bener bikin gue suka.  Kenapa naik kereta di negara lain itu nyaman ya...?????
 

Suasana di Stasiun KA.BAndung.SEPIIIIIII...

HALAMAN PARKIR JUGA SEPIIII...

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....