(GoVlog) PENTINGNYA INFORMASI DAN KETERBUKAAN DARI ODHA




Jujur.. gue sangat kaget melihat respon yang begitu besar atas postingan tentang Curhat Penderita HIV/AIDS, yang gue tulis di blog gue paa tanggal 17 November kemaren. Bayangin saja, dalam satu hari ada 400-an viewers (pengunjung/ pembaca) tentang postingan tersebut. Padahal, sebelumnya blog gue paling banter dikunjungi oleh blogger antara 100 sampai 250 orang perhari. Menurut gue jumlah pengunjung 100-an saja sudah besar.  Tapi, saat postingan tentang HIV/AIDS kemaren muncul, jumlah pengunjung blog gue naik dua kali lipat. Ya, mungkin juga berkat postingnya gue terkoneksi ke VivaNews yang notabene memiliki peran andil juga.

Tapi disini gue bukan memperdebatakan masalah jumlah viewers blog gue. Justru gue kaget saat ada salah seorang teman yang ternyata juga membaca isi blog gue tersebut. Bahkan dia langsung menelpon gue untuk membahasa tentang HIV/AIDS. Isi obrolan kami justru jauh membuat gue SPEECHLESS. Karena ternyata salah seorang teman kami ada yang sudah terjangkit HIV/AIDS. Nah, lho. Seandainya gue nggak nge-post-ing tulisan tetang HIV/AIDS, mungkin gue nggak tau kalau teman gue sendiri ada yang sudah terjangkit penyakit mematikan tersebut.

Gue hampir tidak percaya kalau teman kami yang terkenal dengan playboy (berwajah tampan pastinya) dan suka dengan kehidupan bebasnya. Suka gonta ganti pacar. (meski dia bukan drugs user). Menurut sahabat gue, dia sudah terkena HIV/AIDS sejak setahun yang lalu..

OMIGOD....!!!!

Parahnya lagi, teman kami tersebut masih merahasiakan penyakitnya pada orangtua,sanak saudara juga teman-temannya. Dia hanya berani curhat pada teman gue yang menelpon ini, karena dia salah satu teman terdekatnya. Menurut temanku ini, dia masih belum siap memberitahukan masalah penyakit yang lambat laun telah menggerogoti kekebalan tubuhnya itu. Sebelum obrolan kami lebih lanjut, masih sempat-sempatnya  teman gue itu mengeluarkan kata kunci ‘jangan bilang-bilang ya..’ Sampai akhirnya terjadi perdebatan sengit antara gue dan sahabat gue masalah ini.

“Pokoknya lo jangan bilang-bilang dan jangan sampai dia tau kalo gue menceritakan masalah penyakitnya ke elo. Dia pasti marah..”

“Lha, kenapa harus ditutupi? Bukannya seharusnya dia langsung memberitahukan kepada orangtuanya agar diambil langkah yang terbaik?”

“Katanya, tanpa dikasihtau orangtuanya dia juga bisa melakukan langkah-langkah yang terbaik. Soalnya dia nggak mau mengecewakan orangtua dan saudara-saudaranya. Gue  tau segalanya. Karena gue menemani dia test HIV/AIDS dan gue juga yang tau hasilnya. Bahkan, sampai dia rutin ke rumah sakit untuk mengambil obat Anti Retroviral (Arv) yang rutin diminumnya. ”

“Kenapa harus ditutupi sih? Sooner or later toh juga masalah ini akan terkuak. Ayo dong suruh dia jujur dan terbuka.”

“Nggak tau deh. Gue juga sudah capek nganjurin agar dia terbuka. Tapi sepertinya dia masih belum siap. Lu tau sendiri bokap nyokapnya kan nggak di Bandung. Jadi dia masih bisa mencari alasan untuk tidak terbuka. ”

“Atau jangan-jangan dia ingin balas dendam dan menularkan penyait tersebut ke orang lain?”

“We never know...!!”

Selesai teleponan, ternyata masalah tersebut menjadi polemik di benak gue. Gimana tidak? Penyakit HIV/AIDS ini ibaratnya sepergi gunung es yang sepintas yang terlihat hanya  ujungnya saja. Padahal dibalik bongkahan es tersebut ternyata  ada yang lebih besar lagi bagian dari gunung tersebut.
Begitu juga dengan penyakit HIV/AIDS. Jika menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) ada sekitar 8000 pengguna narkotika dengan alat bantu  berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS.  Itu masih  data yang terdeteksi. Bagaimana dengan yang tidak terdeteksi? Orang-orang yang  tidak mau memberitahukan  jati dirinya terjangkit HIV/AIDS, justru masih banyak yang bebas berkeliaran.

TIDAK INGIN MATI SENDIRIAN
Melihat kasus sahabat gue yang terjangkit HIV/AIDS, (gue yakin dia tertular HIV/AIDS akibat terlalu bebas melaukan hubungan seks tanpa harus save sex). Karena selama ini, kami sahabat-sahabatnya sering memperhatiakn teman kami itu gonta ganti pasangan. Parahnya lagi, setiap melakukan hubungan seks mungkin dia tidak pernah memakai kondom, sehingga dengan mudahnya virus tersebut menulari tubuhnya.

Mereka yang tertular HIV/AIDS akibat hubungan seks bebas biasanya tidak siap menerima kenyataan kalau dirinya terjangkit penyakit tersebut. Sehingga muncul dibenak mereka ingin balas dendam dan ingin menularkan penyakit tersebut pada orang lain.  Jika hal ini terus terjadi, kita bisa membayangkan berapa banyak orang-orang yang terjangkit penyakit HIV/AIDS karena faktor kesengajaan orang-orang yang masih merahasiakan jati dirinya. Alangkah piciknya mereka yang merasanya mereka tidak ingin mati sendirian, sehingga rela menularkan penyakit tersebut pada orang lain.   

Hmm... Saatnya untuk memberikan informasi dan  keterbukaa tentang jati dirimu sahabat. Percayalah, kamu tidak akan dikucilkan. Masih banyak yang akan merangkulmu.

Bandung – Jawa Barat







Comments

  1. Kami dari Admin GoVlog, perlu meminta data diri Anda yang mengikuti GoVlog AIDS. Data diri ini kami pergunakan untuk pemberitahuan jika Anda terpilih menjadi 10 besar.

    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    Link posting Blog GoVlog AIDS:

    Mohon data diri Anda dikirim ke email tommy.adi@vivanews.com

    Terimakasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....