MINGGU PAGI DI TAMAN LANSIA BANDUNG

 Minggu pagi itu, cuaca cukup cerah, saya bersama dua sahabat yang datang dari Jakarta, khusus untuk menghabiskan weekend mereka di kota Bandung.  Bingung mau jalan-jalan kemana, akhirnya kami memutuskan masuk ke dalam jebakan ‘Batman’. Alias masuk dalam kemacetan kawasan Gasibu Depan Gedung Sate.
Saya faham betul kalau setiap hari minggu pagi, kawasan Gasibu dan sekitarnya tumpah ruah dengan pasar kaget. Untuk itu, saya selalu menghindari kawasan tersebut jika tidak ingin muncul ‘tanduk’ dikepala alias emosi!

Mobil sengaja kami parkirkan di jalan Cisangkui. Tepatnya didekat kedai Yogurt terkenal itu. Kemudian kami berjalan kaki mengitari kerumunan orang-orang yang sedang asyik berdagang. Aneka dagangan ada disitu. Khususnya dagangan yang terjangkau kaum mengengah kebawah.

Lalu kami memilih jalan pintas masuk ke taman Lansia yang berada persis di depan Cisangkui. Mengikuti track yang terbuat dari batu alam. Biasanya banyak orang melakukan olahraga pagi di taman ini. Tapi kali ini, Taman berubah fungsi menjadi sarana jual beli dan juga tempat orang bersantai dengan keluarga.

Akhirnya saya bisa tersenyum menyaksikan keseruan suasana minggu pagi di Taman Lansia. Bayangkan saja, di taman ini saya melihat banyak sekali pemandangan yang menarik. Pedagang pakaian yang memberikan harga diskon hingga 50 persen. Pedagangan sandal anak-anak. Pedagang aneka makanan, mulai dari Batagor, Siomai, bakso, hotdog, kerupuk hingga singkong pedas ala Maichi dan emak-emak lainnya.

Kami terus berjalan melihat semua yang ada di taman tersebut. Pohon-pohon tua yang rindang mengangkal datangnya panas. Banyak orangtua dan anak-anaknya memilih duduk-duduk disebuah tikar sewaan sambil menikmati panganan yang banyak dijual disana. Benar-benar mirip tempat rekreasi murah meria.

Disudut lain, saya melihat seorang pawang topeng monyet sedang memrintah monyetnya melakukan aktraksi. Dengan dipandu si pawang, si monyet terus bekerja dan bekerja. Saya selalu tidak tega melihat monyet menjadi komoditi untuk mencari nafkah. Badannya terlihat kurus dan terus bekerja tanpa henti. Menari-nari, melakukan beberapa adegan seperti sholat, mendorong kereta, menenteng paying, menjadi tentara perang sambil membawa senjata hingga berakrobat-ria. Meski si monyet terlihat lelah, namun si pawang tidak peduli. Bahkan ketika si monyet sedang menikmati makanan yang diberi pengunjungi, dengan sekali sentak saja, leher si monyet yang terlilit rantai besi langsung tersentak dan buru-buru melakukan aktraksinya. Kemudian, si pawang berdiri mendatangi penonton sambil menyodorkan kantongan yang sudah terisi uang ribuan. Hmm… prihatin!

Kami terus berjalan lagi. Di bawah pohon rindang, persis dipinggir jalan, saya melihat seorang pelukis. Entah dia pelukis amatriran atau pelukis yang mencari nafkah disetiap ada keramaian. Saya perhatikan hasil-hasil lukisannya yang sengaja digantung dip agar dan diseuntai tali.
Hmm…. Cukup menarik…lukisannya juga terlihat rapih.

“Berapa kalau ukuran kecil mas?”
“Rp. 30.000,-…”
“Kalau yang besar?”
“Rp.50,000,-..”

Saya teringat ketika sedang berada di Khaosan Road Bangkok. Saya juga terkesima dengan pelukis jalanan yang menawarkan jasanya pada pelancong yang sedang melintas di kawasan tersebut. Saya sempat dilukis juga disana. Dengan ukuran segede buku gambar era SMA dulu, saya membayar 100 Bath atau sekitar Rp. 30 ribu-an gitu deh…
Lukisan yang ditawarkan lebih ke karikatur. Bukan sketsa seperti yang di Taman Lansia ini.
Saya menawarkan ke teman-teman apakah mereka mau dilukis? Eh, ternyata mereka berminat. Lalu saya mencoba menawar harga lukisannya.
“Kalau tiga orang harganya berapa mas?”
“Rp.150.ribu…”
“Lha, itu namanya nggak kurang dong mas. Kurangnya berapa? Biar kami bertiga dilukis…”

si mas pelukis sempat mikir juga. kalo bertahan dengan harga semula tentu kami akan berlalu begitu saja. Kalau ada penurunan harga ya, minimal kami bersedia meluangkan waktu untuk dilukis.

“Ya sudah, kalau bertiga Rp.120.000,- saja…”

Saya lirik kedua teman saya dan mereka mengangguk setuju. Maka, jadi deh kami dilukis ala sketsa…!!!

Satu jam untuk tiga lukisan selesai. Kami pun melihat hasil lukisannya sambil tersenyum simpul. Saya merasa hasil lukisan wajah saya terkesan Tidak maksimal. Wajah saya tidak SEDAP dilihat kesannya… hehhehehhehe.. tapi nggak apa deh, namanya juga menolong sesama seniman. Seperti saya yang seorang penulis buku. Kalau buku saya tidak ada yang membeli tentu saya sedih dan kecewa. Begitu juga dengan si pelukis. Kalau tidak ada yang mau wajahnya dilukis olehnya, tentu dia akan desperate….

Setelah puas mengdari kawasan Taman Lansia, dengan segala polah tingkah pengunjung dan pedagang yang beragam, kami pun keluar dari taman tersebut dengan senyum yang ceria sambil menenteng hasil lukisan sang pelukis dan juga sahabat saya membeli sepatu mungil untuk anak tersayangnya.

Hmmm… ternyata untuk menikmati sebuah liburan itu bisa dilakukan dimana saja tanpa harus merogoh kantong begitu dalam.  Menikmati keramaian di taman Lansia juga bisa menjadi sarana hiburan di minggu pagi.


Suasana di Taman Lansia

Topeng monyet sedang beraksi
Sketsa wajah

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta