DILEMA TOPENG MONYET....

Saya pernah baca di salah satu forum di dunia maya, yang membahas soal TOPENG MONYET dan TRADISI. 
di forum tersebut terjadi perdebatan sengit antara yang pro dan kontra kalau monyet dijadikan Komoditi untuk mencari nafkah. ada yang bilang,
 "Topeng monyet sudah lama ada. bahkan sudah menjadi tradisi budaya Betawi. Kenapa harus dilarang...??? seharunya dilestarikan dong!!"

Sementara disisi pihak yang tidak setuju mengatakan,"Kalau memang mau mencari nafkah yang cari aja sendiri tanpa harus melibatkan monyet? Bahkan banyak monyet yang diperlakukan tidak sewajarkan saat melakukan tugasnya bertopeng monyet.."

Benar-benar dilematis bukan..?

Disatu sisi Topeng monyet memang sudah lama ada. bahkan sampai sekarang dibeberapa perkampungan di ibukota mau pun di kota-kota lainnya di Indonesia, banyak pelaku topeng monyet berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya untuk mempertunjukkan kebolehan si monyet beraktraksi. dan banyak anak-anak dan ibu-ibu terhibur dengan ulah si monyet. 
Tapi, tidak hanya diperkampungan-perkampungan ibukota saja. sekarang aktraksi topeng monyet banyak kita temui diprapatan lampu merah. setiap lampu merah menyala, maka si monyet disuru beraktraksi di depan pengguna sepeda motor. menjelang traffic light berubah ke warna hijau, maka si monyet disuruh menadahkan kantongan plastik ke pengguna sepeda motor yang sudah menyaksikan aktraksinya. 

Beberapa kali saya sempat melihat adegan si monyet beraktraksi. baik itu di prapatan lampu merah, mau pun di taman-taman kota atau dimana saja yang tanpa sengaja saya lihat. si monyet berkatraksi mengikuti iringan musik gendang yang dimainkan oleh si 'pawang'. 
tapi yang membuat saya prihatin, si monyet terkadang terlihat lelah dengan aktraksi-aktraksinya. sesekali si monyet mengelendot di pelukan pengunjung yang tengah menonton aktraksinya. sesekali pengunjung juga memberikan makanan untuk si monyet. Tapi, kenapa si 'pawang' malah asyik menarik-narik leher si monyet untuk terus beraktraksi...

Prihatin bukan...??

Satu hal lagi yang membuat saya miris adalah, ketika si monyet selesai melakukan aktraksinya, lalu si pawang pun membersihkan kaki si monyet dari lumpur yang menempel dengan air di teko. saat kaki dibersihkan, karena begitu haus, si monyet juga meminum air lumpur yang berwarna kehitaman. kenapa si pawang tidak memberikan air minum yang layak ya..??? bukankan si monyet sudah memberikan penghasilan yang lumayan untuk mereka? Kenapa mereka tidak memberikan makanan dan minuman yang layak juga buat si monyet?

Ya, begitulah dilematisnya Topeng Monyet....
Tapi biar bagaimana pun monyet-monyet itu juga butuh perlakukan dan kasih sayang yang layak bukan..???

Lelahnya dirimu beraktraksi Monkey...

Kalo dia mah cuma duduk2 memberikan kode sambil menarik-narik tali yg melingkar dileher si monkey

Si monkey pun lelah.... istirahat sejenak.

Usai melakukan tugasnya, kaki si monkey dipersihkan dari lumpur yang menempel

Meski si Monkey meronta2 karena kakinya dipegang kuat

Tanpa rasa kasihan, si Monkey dibiarkan meminum air yang sudah berlumpur bekas kakinya

Oh, Gosh..!!!! kasih air minum yang bersih kenapa sihhhhh!!!!!

Kasihan banget kamu Monkey... 

Comments

  1. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya Indonesia

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta