Melasti di Bali (Rangkaian Menuju Hari Raya Nyepi)

Membasuh kaki syarat dari penyucian diri



Pulau Bali memang masih menjadi tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi turis di negeri ini. Meski banyak destinasi objek wisata yang nggak kalah menarik dan mulai berkembang dan juga sering di ekspose media, namun Bali masih tetap juaranya.  Banyak orang memilih Bali menjadikan destinasi utama untuk berlibur karena selain kita bisa menikmati keindahan alamnya, kita juga bisa merasakan tradisi dan budayanya yang tidak pernah lekang oleh mengalir derasnya budaya asing. 
Begitu juga dengan saya, sangkin cintanya dengan pulau seribu Pura ini, saya mentasbihkan Bali sebagai rumah kedua.  Jika sedang ingin merehatkan diri dikala otak sedang mumet, Bali menjadi pilihan utama untuk kabur dari rutinitas. Begitu juga ketika saya ingin menikmati hinggar bingar nigh life, Bali juga menjadi pilihan utamanya karena begitu banyak pilihan untuk bersenang-senang. Bagi saya, Bali can give us everything we want and need.   

Meski cukup sering bertandang ke Bali, namun saya belum pernah merasakan seperti apa Bali dikala sepi? Ya, disaat umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, apakah Bali masih juga bergejolak?
Untuk memenuhi rasa penasaran, saya memutuskan hijrah ke Bali beberapa hari sebelum warga Bali merayakan Hari Raya Nyepi.  Saya ingin berbaur dengan penduduk setempat dan ingin merasakan Seperti apa sih Bali itu disaat Sepi?  Meski banyak mendengar kabar dari teman-teman kalau di Hari Raya Nyepi pulau Dewata mirip kota Mati dan menyeramkan, namun bagi saya itu hanya sebatas cerita semata.  Kalau belum merasakan kesepian itu saya belum percaya. Jadi saya memutuskan untuk mencoba ber-Nyepi-ria di Hari raya Nyepi.

Packing dan langsung Go…..

MELASTI
Tiba di Bandara Ngurah Rai, matahari teramat terik menyambut kedatangan saya. Berkunjung ke Bali tanpa matahari yang ‘ganas’ rasanya bukan Bali deh. Itu sebabnya kenapa bule-bule menyebut bali sebagai surganya untuk ber-sun bathing. Beruntung saya punya banyak sahabat di Bali. Jika hendak ke Bali, saya hanya mengirim pesan singkat ke mereka, kemudian dengan saling berlomba mereka akan menyediakan waktu untuk menjemput saya? Dan beruntungnya saya, hampir semua punya waktu untuk saya. Sehingga saya yang bingung untuk memilih siapa yang berhak menjemput? (Hmm.. serasa jadi si Poltak Raja Minyak deh!).  tapi, atas kesepakatan teman-teman hanya satu lah yang menjemput saya yaitu Fensi.

Selesai menjemput, saya minta diantar ke hotel kelas backpackers di Poppies Lane, yang menjadi kawasan favorit saya ketika ingin  menikmati hidup apa adanya. Meski tawaran untuk nginap dirumah  Fensi dan beberapa sahabat lainnya terbuka luas. Hanya saja, saya lebih memilih tinggal di penginapan murah meriah ketimbang harus menyusahkan teman-teman. Toh selama di Bali kami bisa bertemu kapan dan dimana saja bukan?
Sebelum hari Raya Nyepi tiba, banyak ritual-ritual  atau acara sembahyang yang dilakukan umat Hindu. Saya mencoba melihat dan mengikuti ritual tersebut dari dari dekat dan ikut berbaur dengan warga setempat. Acara sembayangan pertama yang saya lihat adalah Melasti.

Keesokan paginya, usai breakfast (hotel kelas brackpackers tetap ada breakfast-nya lho), saya berjalan kaki ke pantai Kuta yang dijangkau hanya 10 menit berjalan kaki. Jika sedang berada di Bali, hal paling menyenangkan yang saya lakukan adalah berjalan kaki. Kapan lagi kita bisa berjalan kaki dengan pakaian apa adanya tanpa dipandang ‘miris’ orang-orang sekitar? Ya, di Bali adalah tempat yang tepat!
Tiba dipantai Kuta, ternyata sudah ramai orang-orang berpakaian putih-putih dengan bawahan sarung untuk kaum pria dan baju mirip kebaya encim untuk kaum perempuan. Mereka terlihat begitu serius melakukan ritual sembahyang dipinggir pantai. Diiringi irama musik tradisional yang dimainkan oleh sebagain pemusik yang dengan mahir memainkan alat-alat musik tradisional itu.  Kemudian mereka duduk dipasir membentuk lingkaran.  Ditengah-tengahnya berdiri pura yang terbuat dari kayu. Saya semakin mendekat dan bertanya pada salah seorang warga yang berpakaian seragam hitam  yang sedang mengawasi prosesi acara tersebut. Ternyata beliau seorang Pecalang yang artinya petugas keamanan bagi Umat Hindu.
“Sedang ada acara upacara Melasti. Biasanya sampai sore baru selesai…” ucap pria berbadan tegap itu.  Hampir di sepanjang pantai Kuta banyak digelar upacara Melasti dari masing-masing Banjar. Jadi kebayang bagaimana ramainya pantai kuta dipadati umat Hindu yang sedang upacara adat Melasti.

Menurut  kepercayaan umat Hindu, Melasti adalah proses pembersihan lahir bathin manusia dan alam. Dengan cara menghanyutkan segala kotoran dengan cara menggunakan air hediupan. Itu sebabnya kenapa upacara Melasti dilakukan dipinggir pantai. Selain bertujuan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberi kekuatan dalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi.

Melihat mereka yang mengikuti upacara Melasti dengan begitu khusuk, saya jadi begitu terpesona dengan tradisi dan budaya yang ada di Bali. Setelah berdoa di depan pura, kemudian ketua adat memercikkan air suci ke tangan semua umatnya. Air tersebut lalu diminum. Selanjutnya mereka diberi butiran beras untuk ditempelkan di kening atau di dada mereka. Saya pun tidak tau arti dari  butiran beras yang ditempel dibagian-bagian tertentu itu.

Menjelang sore hari, upacara Melasti, secara bergantian umat Hindu menghanyutkan sesajen atau persembahan mereka ke laut. Kemudian membasuh kaki atau tangan mereka. Sebagian sengaja berdiri persisi di bibir pantai agar kaki mereka terkena deburan ombak  yang sekaligus menjadi air untuk menyucikan diri mereka. Kemudian mereka pun satu persatu meninggalkan pantai.  Saya pun ikut meninggalkan pantai kembali ke Hotel. Yang tertinggal dipinggir pantai hanyalah sampah-sampah hasil dari sesajen yang sudah tak terpakai. 

Comments

  1. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya Indonesia

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta