NONTON TEATER (KOMA), YANG BELUM JADI BUDAYA DI NEGERI INI

Poster Sie Jin Kwie


Dua hari yang lalu, saya dan dua sahabat pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, untuk menonton pertunjukan Teater Koma yang berjudul SIE JIN KWIE – Di Negeri Sihir. Pertunjukan teater Sie Jin Kwie-Di Negeri Sihir ini merupakan seri ketiga dari sequel  Sie Jin Kwie lainnya.
Ajakkan menonton teater ini juga bermula dari sahabat say Frans yang memang suka sama Teater. Meski sesungguhnya saya bukan penikmat teater, namun sebagai alternatif hiburan lain selain menonton film di bioskop, menonton teater bukanlah pilihan yang salah bukan?

Kami memilih Posisi tempat duduk di urutan W tepatnya di balkon dengan harga tiket Rp.50.000 (saja). Sebenarnya untuk sebuah pertunjukan teater, harga tersebut sangatlah murah.  (sebagai catatan: harga tiket pertunjukkan dimulai dari Rp. Rp.200.000 (weekend) 150.000 (weekdays), Rp.100.000,Rp.75.000, Rp.50.000 hingga  Rp.35.000)

Berbeda di negara-negara maju yang menjadikan pertunjukan teater dan Opera sebuah tontonan wajib yang untuk dipenuhi dan masuk ke dalam kategori tontonan orang terpelajar. Sementara di negeri kita, tontonan teater atau opera hanya diminati komunitas-komunitas tertentu yang menyuka seni teater dan opera.

Saat membeli tiket, banyak bangku yang masih kosong. Dan masalah tersebut menjadi topik perdebatan antara saya dan teman. Kenapa teater kurang diminati di negeri ini?
Kalau menurut saya sih, karena sejak kecil orangtua tidak membiasakan membawa atau mengajak atau melibatkan anak-anaknya menonton pertunjukan yang tergolong  tontonan komplit. Kenapa komplit? Ya karena  terater merupakan hiburan yang mengandung unsure kesenian yang lengkap. Mulai dari seni sastra, seni musik, seni rupa, seni tari, seni suara, tata cahaya hingga multimedia. Bukankan ini hiburan yang komplit..???

Tapi sayang bagi kebanyakan orang, menonton teater masih menjadi sesuatu yang langka atau tontonan ‘orangtua’ yang tidak menarik atau membosankan! Ya, harap dimaklumi, menonton teater kita harus meluangkan waktu minimal 4 atau 5 jam duduk manis ditempat duduk. Meskipun dikasih jedah istirahat, itu juga cuma 15 menit saja. Kemudian pertunjukkan kembali digelar. Sebagai catatan, durasi 4 hingga 5 jam itu juga adegannya sudah dipotong-potong. Jika tidak, bisa-bis akayak nonton wayang semalam suntuk…

Begitu juga ketika saya dan dua sahabat saya menyaksikan teater Sie Jin Kwie yang dimulai pukul 19.30 dan berakhir pukul 00:15 menit WIB. Saya terpesona dengan penataan dekorasi panggung yang benar-benar ‘perfect’. Tata suara dan juga tariannya yang membuat cerita  dari kisah ini bisa ditangkap penonton. Tampilan yang total oleh masing-masing pelakon sebenarnya pantas diacungin jempol. Bagaimana tidak? Selama satu bulan mereka akan tampil di TIM untuk mementaskan cerita trilogy Sie Jin Kwie tadi.  Setiap hari minumal mereka berkonsentrasi di atas panggung selama 4.5 jam. Jelas disinini dibutuhkan stamina yang kuat. Kwalitas suara yang prima dan juga mood yang harus dijaga agar tetap stabil.

Hanya saja, yang sangat disayangkan, penikmat teater di negeri ini memang masih rendah. Kurangnya minat masyarakat yang membuat pertunjukan teater hanya ditonton beberapa orang saja. Selebihnya banyak bangku yang kosong. (semoga saja itu terjadi hanya weekdays not weekend)

Sangat disayangkan bukan?
Apakah teater di negeri ini akan terus seperti ini? Kalah bersaing dengan pertunjukan konser  musik  dan film-film asing yang semakin merajai di negeri ini? 

Semoga pertunjukan teater akan menjadi tontonan wajib untuk semua kalangan dan dianggap bukan tontonan yang monoton dan membosankan!

Tidak lupa saya mengucapkan SELAMAT ULANGTAHUN Yang ke 35 Tahun UNTUK  TEATER KOMA... TERUS Berkarya..

tata panggung yang dominan nuansa china

gaya nih di depan 

Comments

  1. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya Indonesia

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta