FESTIVAL TELUK JAILOLO-CABARET OF THE SEA




19 Mei 2012

Sekitar pukul 15:00 WIT, lapangan Jailolo dipadati ribuan warga yang datang dari segala penjuru HalBar, karena begitu antusias ingin menyaksikan pertunjukkan akbar di kota mereka. Meski matahari cukup menyengat namun antusias semua warta tidak tergoyahkan. Bahkan sebagian dari mereka sudah menunggu sejak pukul 12 siang karena takut tidak kebagian tempat yang strategis. Meski sesungguhnya kabaret sendiri dimulai tepat pukul 16:00 WIT. Dibuka dengan beberapa kata sambutan dari petinggi daerah setempat.

Gema suara musik berkumandang pertanda aktraksi dimulai. Dari sisi sebelah kiri panggung muncul rombongan kabaret berlari ketengah lapangan dengan seluruh wajah mereka ditutupi kain panjang sehingga yang terlihat hanya kaki-kaki  mereka saja. Kemudian rombongan diarak keatas panggung  besar yang menjadi tempat pertunjukkan kabaret berlangsung.

Tiba diatas panggung, rombongan dipecah menjadi tiga bagian (disisi kiri panggung, sisi kanan dan ditengah-tengah).
Kemudian secara dramatis kain yang menutupi tubuh mereka tersingkap dan terlihatlah  rombonngan kabaret dengan kostum mereka yang berwarna warni.  Warna-warna tersebut memiliki arti tersendiri seperti kostum berwarna hitam merah masuk ke dalam kelompok Pala, kostum cokelat-Merah masuk ke dalam kelopok cengkeh dan kostum Cokelat-hijau masuk ke dalam kelompok kelapa. Sedangkan peserta yang memakai baju tradisional masuk ke dalam kelopok warga atau petani lengkap dengan keranjang atau Soloi di punggung mereka.

Pertunjukkan berlansung skeitar 60 menit dengan mengusung cerita yang menggambarkan Tanah Maluku yang kaya raya akan rempah-rempah. Namun bergejolak berkat keserakahan manusia yang ingin merampas hasil bumi tersebut dari tangan petani dan rakyat.  Terlihat bagaimana orang asing dari belahan dunia berlomba-lomba datang ke Maluku dengan tujuan ingin mengasai hasil bumi tanah Maluku. Disitu menggambarkan bagaimana manusia rela bunuh-bunuhan dan saling menyakiti karena keserakahan untuk menguasai yang sesungguhnya bukan hak milik mereka.

Pesan singkat yang disampaikan dari Cabaret On The Sea ini adalah bahwa hasil alam yang ada di bumi  bukanlah untuk dikuasai oleh sepihak atau dua pihak, melainkan untuk bisa dinikmati bersama-sama. Karena manusia diciptakan oleh sang pencipta tidak mengenak jabatan, kekuasaan melainkan dimata Tuhan manusia adalah sama dan berhak untuk menikmati hasil bumi bersama-sama.

Dipenghujung pertunjukan semua tamu undangan, pejabat dan juga para wartawan dan turis asing menari bersama-sama di tengah lapangan dengan peserta kabaret. Terlihat jelas keharmonisan diujung acara akbar ini. Saya turut merasakan bagaimana suksesnya Festival Teluk JAilolo ini digelar. Terlihat semua tampah bahagia dan gembira.

Semoga Festival Teluk Jailolo di tahun-tahun berikutnya lebih meriah dan menggelegar lagi!









Comments

Popular posts from this blog

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan