TRADISI OROM SASADU (MAKAN BERSAMA DIRUMAH ADAT) DI TELUK JAILOLO-HALMAHERA BARAT


Rumah Adat 



Pernah ke Teluk Jailolo di profinsi Halmahera Barat? Ternyata profinsi muda itu memiliki banyak keindahan alam dan budaya serta tradisi yang masih kental dengan unsure budayanya.  RAsanya menyesal jika tidak melihat dan mengikuti langsung tradisi dan budaya di Teluk Jailolo itu.  


Ada satu tradisi yang paling saya suka ketika sedang berada di Teluk Jailolo yaitu upacara Orom Sasadu atau dalam bahasa Indonesianya upacara Makan Bersama di Rumah Adat.

Acara ini benar-benar memperlihatkan bagaimana kebersamaan antar sesama warga yang masih memegang teguh adat istiadat yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Dan para orangtua berharap upacara Orom Sasadu ini tidak
punah dimakan kemajuan zaman. Biasanya upacara ini diselenggarakan sehabis panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, dan dirayakan 7 hari berturut-turut.

Malam itu saya dan teman-teman diundang ke Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, untuk mengikuti upacara makan bersama. Meski jalan menuju desa tersebut banyak ruas jalan yang rusak dan tidak adanya penerang jalan, sehingga cukup gelap gulita, namun setibanya di desa tersebut kami langsung terpesona dengan suasana keakraban yang terjadi di rumah adat yang disebut Sasadu. Rumah adat berukuran 10 x 8 meter persegi ini masih terjaga dan terawat meski usianya sudah mencapai ratusan tahun. Rumah adat tersebut menjadi tumpah ruah dihadiri tamu-tamu yang tidak lain adalah turis lokal juga turis asing dari berbagai Negara yang khusus diundang utuk menikmati acara makan bersama. Kami disambut bagaikan tamu yang sedang berkunjung kerumah dan dihidangkan makanan dan minuman khas daerah tersebut.

Sepajang upacara Orom Sasadu iringan musik dan tari tradisional terus dimainkan oleh kelompok musik yang memainakn alat-alat musik tradisional mereka. Mulai dari alat musik bambu tiup dari bambu dan seruling. Ada juga yang memainkan alat musik gitar juga alat musik Yanger seperti alat musik petik, gitar kecil dan Cello. Biasanya  alat musik ini dimainkan dengan cara digesek namun kali ini dimainkan dengan cara dipukul. Harmonisasi suara musik tersebut membuat tamu-tamu yang datang ikut menggoyangkan badan mereka dan turun ke lantai menari bersama-sama dengan penari yang khusus menghibur tamu-tamu. Saya tidak mau ketinggalan untuk turun ke lantai dan mengikuti gerakan tari khas mereka. Saya menggerak-gerakkan tangan saya seperti tarian Tor-tor tarian khas suku Batak.
Setelah puas menari-nari, saya kembali ketempat duduk karena makanan sudah terhidang dan acara makan bersama akan dimulai. Hmm, saya sangat menikmati suasana ini.

Makanan yang terhidang diantaranya nasi bambu, papeda, sop ikan, sambal, Singkong, Ubi, Kerang, Siput dan aneka jenis makanan lainnya. Semua makanan terhidang di atas meja panjang menyimbolkan hasil bumi yang baru dipanen dan dipersembahkan untuk para tamu yang datang.  Disini terlihat betul kalau tamu benar-benar dianggap seperti raja. Makanan dan minuman apa saja yang diinginkan dipenuhi. Saya dan teman-teman pun tidak bisa menolak ketika ketua adat mempersilakan kami untuk menyantap semua makanan yang ada. Meski perut sudah terlanjur kenyang karena baru makan di penginapan, tapi melihat keramah tamahan mereka, perut yang sudah kenyang kami isi lagi dengan makanan-makanan yang dihidangkan kepada kami.

Tidak hanya makanan yang dihidangkan, malam itu minuman khas juga disuguhkan ke semua tamu. Minuman khas tersebut disebut Saguer (nira) dan cap tikus (nira yang dipermentasikan). Setiap tamu wajib mencicipi Saguer yang masih dipermentasikan didalan sebuah bamboo panjang. Kemudian dituangkan ke dalam gelas. Jika berminat untuk mencoba lagi, Saguer tersedia didalam bambu. Jadi semua tamu boleh minum sepuasnya sampai mabok.
“Biasanya kalau acara Orum Sasadu pasti banyak yang mabok. Dan itu hal yang sudah biasa kami lihat,” ucap seorang warga yang menonton upacara tersebut dari luar rumah adat.

Saguer sama seperti Tuak, Minuman khas Suku Batak juga. Jadi saya sudah sangat familiar dengan aroma minuman tersebut. Hanya saja saya kurang begitu suka meminum Saguer terlalu banyak. Bahkan ketika Cap Tikus ditawarkan ke saya, mencium aromanya saya langsung menolkannya dengan halus. Maaf, aromanya mirip spritus yang sering dipakai untuk alat penerang lampu petromaks. Tapi, teman-teman saya tetap mencicipi Saguer dan Cap Tikus sampai mabok.  Katanya sih Enakkk Gila!!

Upacara Orum Sasadu berakhir ketika satu persatu tamu yang datang mulai meninggalkan rumah adat Sasadu dengan rasa suka cita. Tamu puas, warga setempat dan ketua adat juga ikut puas. Mereka terlihat bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

Hmm, filosofi hidup yang patut dilestarikan nih.


Add caption
Add caption

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....