UJI NYALI MELAWAN PHOBIA

foto: google

UJI NYALI MELAWAN PHOBIA

Meski saya pecinta traveling, namun siapa yang menduga kalau sesungguhnya saya memiliki banyak ketakutan alias phobia. Bahkan gara-gara phobia yang banyak merusak kenikmatan berlibur ini, saya sempat melawan rasa takut itu. Konon katanya untuk menghilangkan rasa takut ya harus dilawan.

Nah, seperti apa sih phoba-phobia yang ada di diri saya?

Baiklah, saya akan membeberkan satu persatu dan mencoba untuk melawannya. Apakah berhasil..?

BANANA BOAT

Waktu itu saya dan beberapa teman sedang liburan di Bali, kemudian  mereka mengajak pergi ke Tanjung Benoa untuk mencoba water sport yang berhubungan dengan uji adrenalin. Saya sempat menolak ajakan tersebut karena saya takut bermain permainan yang berhubungan dengan laut. Satu hal, saya tidak mahir berenang!
Tapi teman-teman memaksa agar saya ikut dan saya harus melawan rasa takut tersebut dengan cara mencoba permainan tersebut.
“Kalau tidak lu lawan rasa takut itu, sampai kapan pun elu pasti akan phobia berada ditengah-tengah laut.”ucap teman sok bijaksana.

Akhirnya dengan segala bujuk rayuan pulau kelapa, hati saya pun luluh untuk mau mencoba beberapa permaian water sport. Itu juga karena mereka sepakat membayari semua permaian tersebut. Kalau bayar sendiri jelas saya ogah. Karena saya yakin tidak mendapat kepuasan dan kenikmatan dengan permainan tersebut.

Wahana pertama yang kami mainkan adalah banana Boat. Mereka sengaja mengajak naik banana karena beramai-ramai (ada 5 orang). Jadi rasa takut saya kendor dikit. Tapi teteeepp, saya memilih duduk dibarisan paling tengah. Meski si petugas menganjurkan agar saya duduk dibarisan paling depan dengan alas an badan saya besar. Tapi saya tetap menolak. Takut cuy!!

Banana boat pun mulai ditarik ketengah-tengah laut.kecepatan dari yang pelan sampai menjadi kencang. Saya mulai cemas. Tapi teman saya Glen malah kegirangan setengah mampus. Secara dia terlahir sebagai anak pantai alias anak yang sudah terbiasa berada ditengah laut, Parahnya lagi dia sengaja menakut-nakuti saya dengan cara menggoyang-goyangkan Banana yang kami naiki. Karena panik dan rasa takut mulai menyerang, saya pun memaki-maki dia dengan suara yang tertiup angin.  Tetep nggak ngefek!

Disaat kondisi lagi panik, tiba-tiba banan yang kami tumpangi dengan sengaja dibalikin dan semua penumpang nyebur kelaut. Maka semakin paniklah saya. Meski sudah pakai save vest, tetap saja rasa takut menghinggapi saya. Saya takut vest-nya nggak berfungsi dengan baik dan saya pun perlahan tapi pasti tenggelam masuk ke dasar laut.
“Tolonggggg…..Tolongggg…” Teriak saya dengan termenggap-meggap.
Saya mencoba menarik  tali yang ada di banana agar bisa bersandar dan merasa aman. Tapi dasar ‘gila’ teman saya malah melepaskannya sambil tertawa. Saya semakin panik dan sangkin paniknya kaki saya pun jadi kram!
Karena sakitnya minta ampun, guyonan teman saya menjadi umpatan bagi saya.
“Lu nggak tau kaki saya kram bangsat..!!! jangan main-main deh!” umpat saya.
Karena kondisinya sudah tidak fun lagi, lalu saya pun dibopong untuk naik ke atas Banana. Suasana jadi hening karena rasa sakit, takut dan kesal itu masih berkelompok didalam pikiran saya.
Akhirnya Banana Boat kembali ke tepi pantai dan saya pun diberi pertolongan pertama oleh petuas dengan cara memijat dan diolesin minyak urut. Saya lihat wajah teman-teman saya ikut cemas.   


PARASAILING (Para=Parachute, Sailing=Berlayar)

Kaki yang kram sudah berangsur-angsur pulih. Kemudian satu persatu teman-teman bermain parasailing. Sementara saya yang masih ragu hanya bisa melihat dari bawah saja. Kelihatannya seru dan asyik nih. Ucap saya dalam hati.
“Ayo Ver, lu harus coba seru bangetttt…!!”ucap Titin.
“Waduh, serem nggak sih?” Tanya saya dengan wajah blo’on.
“Nggak kok. Kan kita diikat pake tali dengan aman.jadi jangan takut deh…”
Selain takut berada ditengah laut, salah satu phobia saya yang lain adalah ketinggian. Bayangin saja, kalau sedang berada di lantai paling atas di mall yang gedungnya menjulang tinggi, dorongan rasa ingin melompat kebawah itu seolah-olah ada. Itu sebabnya kenapa saya tidak suka berada dipinggi ketika sedang berada pada lantai mall yang paling tinggi (Seperti Mall Taman Anggrek, Sensi, Grand Indo dan mall-mall tinggi lainnya.)
Mungkin kasus orang yang bunuh diri di mall itu jangan-jangan mereka emang phobia ketinggian dan atas dorongan rasa ingin melompat kebawah itu ada. (entahlah..)

Akhirnya saya pun mencoba main Parasailing dengan harapan bisa membunuh rasa takut akan ketinggian. Sebelum ditarik  dengan speed boat, body saya sudah dipastikan aman terikat dengan  sebuah parasut  dengan 2 buah harnace (tali kekang). Setelah diyakini aman, kemudian speed boat menarik parasut tadi dengan kecepatan tinggi.

Saya sempat panik ketika perlahan-lahan badan saya sudah terbang dan terbang hingga ketinggian lebih dari 100 meter. Saya mencoba melihat ke bawah tapi apa yang terjadi? Saya berubah menjadi (kembali) panik. Rasa ketakutan yang teramat tinggi menyelimuti jiwa saya. Sangkin takutnya saya tidak berani melepaskan pantat saya agar bisa duduk dengan nyaman. Saya menahan badan saya dengan dua utas tali tadi. Konsetrasi buyar meski sebelum terbang, saya sudah dikasih aba-aba fungsi dari kedua tali yang saya pegang. Tapi semua buayrrr…

Panik…
Gelisah…
Ketakutan ..

Itulah yang ada dibenak saya. Dan saya ingin cepat-cepat turun dari ketinggian ini. Bahkan saya membayangkan bagaimana seandainya tali yang saya pegang ini putus, lalu saya terjatuh ditengah laut tanpa bisa berenang. Lalu saya pun hanyut ke dasar laut. (lagi-lagi hayalannya hanyut dan hanyut)

Setelah kurang lebih 10 menit berada diketinggain 100 meter lebih, parasut pun ditarik ke bawah dan saya yang seharusnya menarik kedua tali agar bisa mendarat dengan sempurna, namun semua gagal saya lakukan. Padahal sebelum terbang sudah dikasih instruksi dengan baik. Yang ada tubuh saya nyungsep  deh ke pasir. Melihat posisi saya yang tertimbun pasir teman-teman pun tertawa.
Apakah saya berhasil melawan ketakutan akan ketinggian? Ternyata masih belum!

FLYING FISH

Usai bermain Parasailing, Saya pun ditantang untuk mencoba permaian lainnya yaitu Fling Fish. Waduh, lagi-lagi yang berhubungan dengan laut. Tapi, karena sudah kadung berada di Tanjung Benoa dan sudah kadung basah, akhirnya saya menyanggupi tawaran mencoba bermain Flying Fish.
Flying Fish adalah permainan dimana tiga buah banana boat dijadikan satu dengan tambahan rubber boat yang melintang didepannya. Kemudian, kenapa disebut Flying Fish karena wujudunya  seperti Ikan yang sedang terbang. Disisi sebelah kiri dan kanan seperti ada sayapnya.

Flying Fish dimanikan max tiga orang. Dua orang penumpang dan ditengah ada seorang isntruktur yang siap mengasi aba-aba atau yang menjaga keseimbangan apabila terjadi ombak besar atau angin kencang.

Hmm… boleh juga mencobanya..
Lalu saya dan teman naik ke banana boat dempet tadi bersama seorang instruktur. Posisi kami disuruh terlentang. Kemudian banana boat ditarik dengan speedboat sekencang-kencangnya sehingga kami pun terbang bersama banana boat dempet tadi.
Melihat angin yang begitu kencang dan keseimbangan tumbuh terkadang miring kekiri dan kanan, lagi-lagi saya tidak nyaman. Saya mencoba menutup mata saya agar tidak melihat keberadaan saya yang ditengah laut dan terbang bersama flying fish. saya semakin takut dan semakin memegang kencang talinya.
“Lama lagi nggak mas? saya takut nih..”
“Nikmati aja… kan seru..”
“Seru ndasmu..!!” umpat saya kesal.

Setelah beberapa menit berputar-putar, akhirnya penyiksaan dengan Flying Fish tuntas. Lagi-lagi saya ditertawakan teman-teman karena wajah saya terlihat pucat pasi.

Apakah saya berhasil melawan rasa takut itu? Ternyata masih belum juga saudara-saudara!  Buktinya sampai sekarang saya masih tetap takut dengan yang namanya ketinggian juga takut jika berada ditengah laut.

BUNGY JUMPING

  Saya bersumpah dan berjanji dengan segenap hati jiwa dan raga. Kagak akan pernah mau lagi ber bungy jumping-ria. Jantung saya benar-benar mau copot saat tubuh ini melayang dengan posisi kepala dibawah dan kaki di atas hanya terikat seuntai tali. Meski dijamin aman terkendali dengan sertifikat internasional. Tapi yang namanya jantung saya detaknya kagak bisa tentram hampir satu jam setelah ber jumping-ria  dari ketinggian 45 meter.  

Untuk mencapai puncak emang disediakan elevator bukan naik tangga. Saat di dalam elevator saja sebenarnya nyali saya sudah ciut. Tapi teman-teman terus ‘ngomporin’ agar saya mencoba. Ya, mau nggak mau harus saya coba. Bahkan ketika kaki saya sudah terikat dengan kencang dan dinyatakan aman, saya hampir saja membatalkan niat saya untuk melompat. Karena melihat ke bawah saja membuat seluruh isi perut saya bergejolak dan muntah.tapi, setelah semua berjalan hanya beberapa menit saja, sensasinya bikin saya KAPOK! kagak lagi lagi deh...!!

Maksud hati pengen melawan phobia ketinggian, eh ternyata masih belum sukses juga.   

Terima  nasib saja lah…!!

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....