Lika Liku Kisah Di Security Check In Bandara

Add caption



Apa jadinya ketika semua pasta gigi yang ada di dalam tasmu disuruh dikeluarkan, kemudian semuanya disita oleh petugas imigrasi di Bandar Udara Suvarnabhumi Thailand? Mau marah? Tidak ada gunanya, karena peraturan tetap menjadi peraturan yang wajib ditaati.


Hal yang paling tidak mengenakkan saat traveling adalah, ketika kita hendak kembali ke Negara kita tercinta (Indonesia), kemudian harus melewati bagian Imigrasi  dan berhadapan dengan security check in di negara yang hendak kita tinggalkan.
Banyak kejadian-kejadian memilukan yang pernah saya atau teman-teman yang harus berurusan sejenak dengan pihak security check in. Apalagi saat pertama kali saya melancong ke luar negeri.

Waktu itu saya selesai liburan dari Hongkong dan hendak kembali pulang ke Indonesia. Jujur baru kali ini saya mengalami pemeriksaan yang super dupper ketatnya, sehingga membuat saya panik dan gelisah.  Saat mulai memasuki bagian imigrasi sempat terhadang beberapa saat karena petugas imigrasi begitu cermat memperhatikan wajah saya dan dicocokkan dengan wajah yang ada dipaspor. Mungkin juga petugas memperhatikan setiap sudut bentuk tulang pipi saya. Sehingga membutuhkan waktu yang lumayan lama.

Lolos dibagian imigrasi saya kembali dihadang di bagian security check in, saya yang memakai sepatu kets, jaket tebal (saat itu lagi dingin-dinginnya), jam tangan, ikat pinggang dan apa saja yang ada di dalam saku celana saya harus dikeluarkan.  Dengan wajah dingin (atau memang karakter wajah mereka kali ya yang kaku dan tidak ada senyum-senyumnya. Karena nggak ada satu petugas pun yang memasang wajah senyum ceria malah wajah kaku dan tegang, saya pun ikut-ikutan tegang. Waduh, jangan bikin saya parno dong pak..???

Dengan aba-aba bahasa isyarat dia menyuruh saya membuka jam tangan, jaket, ikat pinggang, sepatu dan semua yang dianggap mengandung magnit kali ya. Saya yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu mulai dongkol dan menatap wajah si petugas dengan sok bengis kemudian ngomel-ngomel pakai bahasa Indonesia tercinta. (waktu itu saya bilang, ribet banget sih hidup lo. Kagak mungkin gue bawa bom tolol..!! gue traveler!).
Kebayang bukan gimana repotnya saya harus membuka semuanya kemudian diletakkan ke wadah plastik yang telah disediakan. Secara koper saya sudah melewati mesin sensor, kemudian saya disuruh masuk melalui pintu sensormatic. Tapi masih saja terdengan suara  Tit..tit..tit…tit…

Saya disuruh mundur kembali, kemudian maju lagi dan mulai diraba-raba semua tubuh saya pakai tangan si petugas plus tongkat ajaib (karena berbunyi saat ada benda aneh di badan saya).  Ternyata dia menemukan dua buah koin kecil mata uang mereka disaku celana saya. Ya mana ketehek kalau itu juga dianggap mencurigakan.  Selesai mengrepek-grepek tubuh, saya pun lolos dari siksaan security check in. narik nafas lega dan cepat-cepat berlalu dari wajah-wajah kaku itu.

Berbeda lagi dengan nasib teman saya yang harus merelakan kosmetik cair branded dengan harga selangit yang baru saja dibelinya di Hongkong, hampir saja disita oleh petugas security check in. meski sudah bujuk rayu agar paket kosmetik tersebut lolos dari incaran security Check in, namun bujuk rayu tersebut tidak berlaku bagi mereka. Benda cair yang melebihi 100 mili tetap menjadi sitaan mereka. Karena tidak rela kosmetik mahal tersebut ditinggalkan begitu saja, maka dengan wajah bersungut-sungut teman saya mengoleskan kosmetik tersebut kewajah, tangan, kaki dan hampir diseluruh badannya.
“Biarin saja deh gue kelihatan seperti orang gila. Yang penting kosmetik tersebut sudah gue pakai. Ketimbang gue serahkan pada mereka lengkap dengan bungkus-bungkusnya. Mending bekas-bekasnya saja untuk mereka,” ucap teman saya geram. “Kalau masih utuh dengan bungkusnya bisa jadi ntar dijual mereka lagi” lanjutnya.

Cerita teman saya yang baru saja kembali dari Thailand beda lagi. Baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta, teman saya ini langsung memuntahkan kekesalannya. “Lo tau nggak, 15 bungkus pasta gigi yang gue beli disita oleh petugas Security Check in sialan itu.” Umpatnya.
“Lho, kok bisa?”
“Nggak tau tuh! Kurang kerjaan aja menyita-nyita barang orang. Sudah jelas-jelas pasta gigi itu gue beli untuk oleh-oleh. Eh, nggak taunya malah nyangkut di bagian security Check in. Gimana nggak kesal?”
“Emang nggak dimasukkan ke dalam bagasi?”
“Ya, gue piker pasta gigi nggak bakalan bermasalah, eh nggak taunya malah disita mereka. Tau begitukan gue masukin ke Bagasi sekalian dengan oleh-oleh yang lain.”

Cukup banyak kisah lika liku para pelancong yang bermasalah dengan petugas imigrasi dan juga security check in di bandara internasional. Untuk itu, ada baiknya supaya tidak mau ribet dengan petugas berwajah sepet itu, ada baiknya kita ikuti saja peraturan yang berlaku. Karena pelajaran yang paling berharga adalah PENGALAMAN! Sepait dan seburuk apa pun pengalaman itu, tetap akan menjadi guru yang berharga dikemudian hari. Betul..???



Comments

  1. Anonymous15:55:00

    Sebenarnya di setiap bandara ada kok tulisan peraturan barang2 yg boleh atau tidak boleh di bawa di kabin, apa lagi di Aussie sangat amat ketat nerapin peraturannya, cuma karena udah lamaaaa tinggal di sini jadi biasa aja tuh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. anonymous: ya kalo biasa mana mungkin akan saya tulis jadi cerita. justru karena pengalaman seru makanya saya tulis.......semua belajar dari pengalaman dan terkadang peraturan sering diabaikan sehingga terjadi miss...!!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....