SERVICE IS A MUST BE NUMBER ONE : NOTED!





Pelajaran yang sangat berharga yang patut di catat dalam kasus ini adalah: Jangan pernah menyepelekan masalah kecil. Karena akan bisa menjadi BESAR!

Kejadian  ini baru saya alami bersama teman-teman saat vacation di Bali  kemaren. Hal yang bikin hati dongkol, kesal dan sangat marah adalah karena perlakuan, waiters dan waitress di kafe Single Fin Uluwatu sangat-sangat unfair. Para pekerja di kafe terlihat begitu pilih kasih antara tamu lokal dan bule.

Oke deh, gue ceritakan kronologisnya biar lebih faham kenapa kasus kecil ini menjadi besar dan sangat besar.

Sore itu, saya dan ketiga teman saya (Bani, Reggy dan Mano) pengen menikmati Sunset di bilangan Uluwatu.  Tujuan utamanya si ke Padang-Padang Beach. Tapi, berhubung karena (ternyata) lokasi pantai yang sempat dijadikan lokasi syuting film Julia Roberts Eat Pray, Love kurang greget, akhirnya saya dan ketiga teman memutuskan pindah lokasi ke Blue Point Bay yang jaraknya juga tidak terlalu jauh. sebelumnya saya dan teman yang lain datang ke lokasi tersebut menikmati es kelapa muda, dan soft drink lainnya di Single Fin kafe.  Menurut saya lokasinya bener-bener menjadi one of the best spot untuk menikmati Sunset di Uluwatu.  

17:00
Kami sempat turun ke pantainya berniat pengen bermain-main di pantai. Tapi berhubung karena air laut mulai deras dan semakin tinggi, kami sepakat untuk kembali naik dan hanya menikmati detik-detik sunset dari atas. Jadi deh kami memilih minum-minum di Single Fin kafe.

17:30
Kami duduk di Single Fin kafe tepatnya di deretan kursi panjang di luar (menghadapp laut). Sore itu sunsetnya bener-bener masih terasa indah. Untuk menikmati keindahan itu kami memesan minuman kemudian dilayani sama pelayan perempuan. Saya pesan Bir Bintang (meski sesungguhnya saya dan Bani pengen Corona tapi nggak ada) akhirnya Bani pesan Sam Migiel, Mano dan Reggy pesan Kelapa muda (bulat).

Beberapa saat kemudian, orderan datang. Tapi Kelapa mudanya kurang satu.   “Mbak, kelapa mudanya kurang satu nih..” Tapi dicuekin sama si mbak yang kembali sibuk melayani bule-bule.  Saya dan Reggy pun mulai asyik foto-foto sunset . Secara saya suka fotografi, momen-momen matahari terbenam menjadi Golden Time bagi saya dan sayang kalau terlewatkan.

Selesai foto-foto, Reggy kembali nanya minumannya kok belum datang,“Mas, kelapa muda saya mana? Kok dari tadi belum datang-datang juga?”. dengan sok sibuk pelayan pria mencatat kembali orderan, si pelayan kembali ke meja bar. Mungkin dia kembali meminta orderan kelapa muda.

Lalu, kami kembali memesan makanan. Kali ini pesan satu Loyang Pizza dan kentang goreng. Dan si pelayan mencatat kembali orderan kami. Lalu teman saya menimpali,
” Jangan lupa kelapa muda saya ya. Sudah hampir setengah jam lho…”
“Iya..ntar saya cek lagi…” jawab si pelayan.

Kami pun kembali kembali hanyut dalam perbincangan. Mulai dari perbincangan ringan sampai yang berat. Suasana kafe pun semakin ramai didatangi bule-bule. Para pelayan kembali sibuk melayani bule-bule.

18:00
pizza, kentang goreng dan kelapa muda belum juga nongol. Teman saya kembali mengingatkan,” Ver, coba Tanya deh pesanan kita. Kok sampai sekarang belum datang juga? lama bener sih?”

saya pun pergi ke meja bar. Disitu ada beberapa pelayan pria dan wanita sedang berdiri entah menunggu orderan atau sekedar mejeng saja.
“Mas, orderan kami mana?”
“Emang pesan apa..?”
“Pizza dan kentang goreng. Trus kelapa mudanya juga sudah satu jam belum juga datang.”
“Meja berapa mas?”
“Emang lu nggak mencatat meja berapa pesanan kami?”

saya mulai kesal dan langsung meninggalkan meja bar. Kemudian mereka sibuk saling bertanya antar sesama pelayan. Dan begonia lagi semua saling menggelengkan kepala…

Oh, Shit..!!!

“Gila ya, ternyata pesanan pizza kita belum dibuat dan pake nanya meja berapa lagi,” ucap saya setiba di meja.
“Bener-bener lelet deh. Dan keliatan banget mereka pilih kasih antara tamu lokal dan bule. Lihat saja bule disebelah kita, baru datang saja orderannya sudah ada di meja.” Balas teman saya.

Saat sedang ngobrol pelayan perempuan lewat dari meja kami, dengan sedikit kesal teman saya kembali menanyakan kelapa mudanya.
“Mbak, kelapa muda saya mana? Sudah satu jam lho…”
“Sabar dong, kami kan juga sibuk…”
‘WHAT..???  menunggu satu jam kurang sabar apa lagi mbak? Kelapa muda gitu lho.”
Dengan cueknya si pelayan berlalu begitu saja. Jawabannya benar-benar sudah membuat kami hilang kesabaran dan memilih beranjak dari Single Fin.  Teman saya langsung memangggil pelayannya untuk minta bill.
“Mas, minta bill-nya ya… pelayannya benar-benar lambat sekali.”

18:30

Beberapa saat kemudian bill datang dan kami pun hendak meninggalkan kafe tersebut. Pada waktu bersamaan, mamanya teman saya datang untuk ikut ngafe disitu. Tapi karena kami sudah hendak beranjak pergi si mama bertanya,
“Lho, kok pergi?”
“Iya. Service-nya kurang memuaskan. Pesan kelapa muda dan pizza sudah satu jam gak datang. Sementara bule-bule yang lain langsung dilayani.”

Karena tidak memuaskan si mama dan temannya pun bertanya kepada pelayannya. Eh, dengan tidak mengakui bersalah seorang pelayan perempuan malah ikut nyolot dan berkata,” siapa yang sudah satu jam? Kalian kan baru 15 menit disini..?”
“APA..? 15 menit? Lihat dong datanya di orderan. Enak saja kamu bilang kita 15 menit.”
“Iya… saya tau kalian baru datang.”
“Eh, mbak, kalau sudah service tidak bisa membuat custumer puas seharusnya minta maaf kek untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari. Ini kok malah nyolot.”
“Minta maaf? Ngapain saya harus minta maaf…”

Wah, jawabnnya benar-benar sudah membuat suasana yang muali cooling down menjadi GERAH. Si mama mulai naik pitam, Reggy mulai kesal tapi saya mencoba untuk tenang. Karena saya paling tidak bisa dipancing marah. Yang ada bisa rusuh  saya buat.
“kok sombong banget sih mbak. Jadi pekerja itu jangan sombong gitu. Dimana-mana yang namanya pelayanan harus menjadi nomer satu. Ini kok malah melawan dan menyombongkan diri. Goblok banget sih..!”
“Ibu yang Goblok! Karena kami tau kok kalia tadi baru datang. “

kemudian seorang pelayan pria ikut nimbrung dengan sombongnya mencoba menjelaskan dengan alasan yang makin bodoh. “ Kalau ibu tidak percaya kami sedang sibuk, ayo lihat ke dapur kami. Di dapur kami sangat sibuk..”

Omigod..!!! alasan bodoh apalagi yang dibuat pelayan-pelayan ini. Mau sesibuk apa pun mereka di belakang. Yang namanya tamu tidak perlu tau. Yang perlu diperhatikan oleh pelayan-pelayan yang sombong-sombong ini adalah, mengakui kesalahan karena servicenya kurang memuaskan lalu berjanji akan meningkatkan pelayanan lebih baik lagi dikemudian hari.

THAT’S IT…!!!

Ini malah semua ikut menyerang dan memasang wajah garang dan angkuh. Bahkan pelayan pria yang ngaku-ngaku supervisor area mengeluarkan kata-kata FUCK WORDS gitu. Wah, ini bener-bener pelecehan didepan tamu-tamu bule yang menjadikan kami tontonan gratis.

Karena perlakuan yang benar-benar tidak menyenangkan di depan umum, dan mereka semua begitu angkuh dengan kesalahannya. Juga melihat begitu sepele dengan tamu Lokal, akhirnya dengan segala relasi yang ada, si mama menghubungi polisi untuk menyelesaikan kasus sepele yang dianggap sepele tapi menjadi kasus besar.
“Karena kalian sudah melakukan tindakan yang tidak menyenangkan, maka urusan ini akan kita selesaikan dengan hukum. Saya tidak  tidak peduli lagi dengan kata-kata kalian yang sudah menyakitkan hati kami. “

Mungkin mereka mengira si mama menelpon polisi hanya gertak sambal. Mereka tetap pasang barisan kesobongan. Bahkan masih kekeh tetap tidak mau mengakui kesalahan dan minta maaf.
Mama berbincang serius dengan koleganya lewat telepon dan menceritakan kronologisnya. Dan si kolega berjanji akan datang kurang lebh 20 menit kedepan.
“Ingat ya, kasus ini kita selesaikan secara hukum. Sebentar lagi polisi datang kesini.”

19:20
Seorang Polisi yang juga kolega dekat si mama datang bersama ajudannya. Melihat ada beberapa polisi datang, baru deh pelayan-pelayan berwajah sombong tadi memasang wajah ramah. Senyum dan mendekati kami untuk minta maaf. Too late honey!
Kenapa anda begitu susah meminta maaf hanya gara-gara masalah sepele? Sementara kesalahan bukan di custumer melainkan di service kok malah bertahan dengan kesombongan.

Akhirnya, kasus ini dituntaskan dengan proses pencatatan kronologis dan para pelayan yang arogan tadi mengakui telah melakukan tindakan kurang menyenangkan. Tapi sayang, hanya untuk minta maaf saja mereka harus berurusan dengan polisi.  Dan akan diproses karena tindakan kurang menyenangkan…

PESAN MORALNYA….
Jangan pernah anggap remeh dengan masalah kecil. Karena akan bisa menjadi besar dan semakin besar jika kita tidak menuntaskannya dengan sigap dan cerdas.
Kunci paling ampuh untuk mengakui kesalahan adalah MINTA MAAF. THAT’S IT…!!!



Comments

  1. Anonymous13:43:00

    thats truuuue ! so many places in bali more welcome sama bule .. padahal ga semua bule juga tajir haha xx

    ReplyDelete
  2. Anonymous09:00:00

    Betul, mereka cuman respect ma bule doank, dikira orang indonesia ga bisa bayar kalik. In my case, kemarin, di single fin jugak, baru mau masuk nanya tempat aja kaga dikasi, penuh semua kata pelayan2nya, padahal you know what, masih banyak tempat kosong yg ga ada tanda reservednya, tetep aja mereka ga kasih, cafe yang rasis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju! dan gue kapok tuh kesitu… masih jd pelayan saja sudah belagu semua… parahh..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....