KETIKA PASANGAN LESBIAN BERCERITA....

foot from Google






            Don’t judge a man fro their style. Karena tidak selamanya apa yang kita duga itu benar.

Suatu pagi, ketika hendak breakfast di Hotel. Saya dan best friend Eddi Bogel berpapasan dengan sepasang perempuan yang terlihat begitu mesra. Saya dan Bogel langsung bisik-bisik. “Pasti mereka Lines (lesbian)”. Dari penampilan dan gerak gerik tubuh mereka memang mencerminkan pasangan yang tengah berbahagia. Yang satu terlihat cantik dengan celana super pendeknya dipadu dengan tank top putih. Wajahnyater lihat kalem dengan rambut sebahu. Sedangkan yang satu lagi tampak maskulin dengan  celana Bermuda dan kaos oblong berwarna yang sama putih. Gayanya sangat androgyn. Mengingatkan saya akan penampilan Kimmy Jayanti si pragawati kondang berkulit seksi itu. Perfecto!

Tiba di resto, eh, ternyata meja kami bersebelahan dengan couple tadi. Mereka tersenyum, kami pun tersenyum. Akhirnya kami saling tegur sapa. Mereka cukup ramah dan asyik diajak ngobrol. Sampai akhirnya mereka menawarkan kami duduk satu meja dengan mereka.
            “Duduk disini aja. Biar seru ngobrolnya.”

Kami pun menuruti keinginan mereka untuk duduk semeja dengan mereka. Perbincangan semakin seru ketika Bogel dengan spontan bertanya,
”Kalian kok mesra banget. Pacaran ya…?”
Sambil terus menyantap sarapannya, si Androgyn mengangguk. Sementara si feminim malah tertunduk malu. Tapi si androgyn langsung menyenggol bahu si feminim dan mereka akhirnya saling lirik dan tersenyum bersama. Mungkin itu signal yang artinya,”kenapa harus malu sayang…?”

Perbincangan semakin panjang lebar meski piring-piring bekas sarapan sudah diangkut para pekerja. Yang tertinggal di atas meja hanya bungkus rokok, asbak rokok buah-buahan dan kopi serta teh manis. Meski awalnya malu-malu, ternyata couple ini bener-bener bisa membuat suasana menjadi ramai. Ibarat sedang nonton Sule dan teman-temannya di acara OVJ. Sama-sama kocak.

Mereka pun membuka tabir soal hubungan mereka. Pasangan ini ternyata  sudah cukup lama berpacaran. Sama-sama tinggal di Jakarta dan berasal dari keluarga tajir. Namun, hasrat seksual yang berbeda dengan orang kebanyakan, hubungan mereka sempat ditentang keluarga mereka. (Ya iyalah… ini Indonesia lho Neng!) Kemudian, karena tidak mendapat persetujuan dari keluarga, si feminim pun kabur dari rumah dan memilih tinggal bersama si androgyn di apartemennya.

Lagi-lagi kedua orangtua tidak setuju dan mencari dimana keberadaan mereka. Niatnya sih cuma satu, pengen memisahkan mereka dan tidak ingin hubungan mereka berlanjut.  Bahkan permasalahan ‘hati’ ini pernah sampai ditangani polisi. Tapi apadaya, semakin mereka disakiti justru hubungan mereka semakin erat.  Kemudian merasa di Indonesia sudah tidak aman untuk menjalin hubungan, couple ini akhirnya sepakat memilih hengkang dari Indonesia dan memilih pindah ke Belanda. Secara di Negara kincir angin itu, hubungan sesama jenis di legalkan. Bahkan undang-undang pernikahan pun berlaku untuk hubungan sesama jenis.
“Jadi kalian baru pulang dari Belanda nih?”
“Tepatnya baru melegalkan hubungan kami di Belanda.”
“Apa…??” (saya dan Bogel sama-sama ternganga kayak orang idiot) “jadi kalian baru menikah?”
“He em…”
“Trus, ke Bali untuk honeymoon?”
“He em…”
“Oooo…”
“Kenapa kami pilih Bali, karena kami suka Bali. Masyarakatnya tidak reseh dengan peraturan agama dan sebagainya. Mereka sangat menghargai hak-hak orang lain.”
“Trus…”
“Selain itu, kami sengaja memilih Bali karena awal pertama kenalan lima tahun lalu ya di Bali.”
“Ow, so sweet..”
“That’s why we love Bali…”

Kisah asmara mereka benar-benar membuat tangan saya pengen cepat-cepat menari-nari didepan tuts-tuts laptop saya. Karena baru kali ini saya mendengar langsung kisah asrama yang begitu penuh liku. Ya, kisah asmara sesama jenis yang berakhir di pelaminan.

Lalu, sambil menyalakan rokok kesekian batangnya, si Androgyn bertanya pada kami berdua. Pertanyaan yang lagi-lagi bikin kami terbengong kayak orang idiot.
            “Kalau kalian sudah berapa lama pacaran? Atau jangan-jangan sudah menikah juga?”
            “Ha? Pacaran?”
            “Iya.. kalian couple kan?” Bogel langsung terbahak-bahak karena kami dikira pasangan Homo. 
            “Kami bukan Couple. Dia ini best friend gue. Kami satu team dalam kerjaan.”
            “Ha? Jadi kalian bukan Homo?”
            “Ya enggak lah. Cuma lingkungan kerja kami banyak yang punya kehidupan kayak kalian. Bagi kami sih fine-fine aja.”
            “Oooo, kirain kalian couple. Apalagi gaya berpakaian elu mirip banci-banci Bali gitu deh.”
            “Sialan Loo…” ucap Bogel sambil memperhatikan pakaiannya pagi itu. Sarung Bali berwarna putih dengan kemeja berwarna putih juga.  Gay looks like deh.
            “Gue suka pakai ini karena adem. Secara Bali panas kan bo..” ucap Bogel dengan gaya melambainya.
            “Tuh, kan gaya lu aja mirip binan –binan hebring…” balas di Androgyn.

Usai ngobrol-ngobrol cantik dengan sweet couple, kami pun kembali ke kamar. Lalu menceritakan kejadian yang baru kami alami pada cewek-cewek kami yang baru bangun dari tidurnya. Mereka terbahak-bahak mendengar cerita Bogel yang mengira kami pasangan Homo. 

            “Syukurin lo..makanya kalo pakai baju jangan ganjen!”


           

Comments

  1. siipp,,nice stories gan

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:41:00

    nice story gan

    ReplyDelete
  3. Hahahahah, sama nih pernah dikatain homo waktu jalan bareng Ruben di Malang. Gegara daku pakai kaos oblong V neck. Ga sadar pas sarapan dilihatin orang di kafe restoran. Ruben yang sadar kemudian, noh jauh2 dari gw set dah kita pasti disangka homo. hahahahahaha... akhirnya kaos oblong yang daku pernah beli di Bangkok ga pernah dipakai lagi... padahal gambarnya bagus. Ga nyadar V neck itu ternyata....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....