HIV/AIDS TIDAK MENGENAL LATAR BELAKANG KELUARGA



Beberapa waktu lalu, teman gue nyuruh bantuin mentranskrip hasil  rekaman wawancara dia dengan penderita HIV/AIDS. Awalnya gue kaget ada urusan apa dia dengan penderita HIV/AIDS? Bukannya mereka-mereka (ODHA) selalu tertutup untuk hal yang masih dianggap orang kebanyakan itu berbahaya?  Setelah dia menjelaskan, kalo hasil wawncaranya tersebut sebagian dari tugas akhir untuk menyelesaikan skripsinya di Unpad Bandung, dan dia membahas masalah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) sebagai tesisnya.

Gue pun langsung semangat ingin mentranskrip hasil wawancara tersebut. Soalnya gue penasaran pengen mendengar langsung seperti apa sih pengakuan orang-orang  yang terinfeksi HIV/AIDS. Secara gue belum pernah bertemu dan berbicara langsung dengan ODHA.

Sebelum mentranskrip hasil wawancaranya, gue mendengarkan sampai tuntas hasil bincang-bincang mereka. Alangkah kagetnya gue ketika orang yang terinfeksi HIV/AIDS itu bukanlah orang yang berasalh dari keluarga berantakan.  Karena selama ini banyak orang beranggapan, kalau orang-orang yang terjangkit penyakit HIV/AIDS adalah orang yang memiliki latar belakang keluarga yang buram,  broken home, salah didik dan sebagainya yang berhubungan dengan negatif. Sehingga si anak kurang perhatian lalu mencari kebahagiaan di luar rumah dengan bergaul pada orang-orang yang salah. Sampai akhirnya si anak terjerat di dunia narkotika yang berbuntut  tertularnya virus HIV/AIDS. Cerita tersebut klise banget bukan?

Tapi pada kasus ini berbeda, si A (gue sebut saja namanya A) mengaku kalau dia berasal dari keluarga yang sangat harmonis. “Ibu gue seorang ibu rumah tangga biasa. Bokap gue seorang dosen di salah satu Universitas terkemuka di Bandung. Gue anak bungsu dari tiga bersaudara. Hubungan bokap, nyokap dan anak-anaknya sangat baik. Bahkan teramat baik. Taat beribadah. Sehingga dirumah kami selalu merasa nyaman jika sedang berkumpul bersama-sama,”” ucap si A pada wawancara tersebut.

Tapi anehnya si A justru jenuh dengan suasana harmonis itu.  Di usia yang sangat relatif muda (10 Tahun, kelas 4 SD), A mulai main di luar rumah. Main kerumah tetangga yang memiliki kebebasan ‘kebablasan’ dan  dirumah tetangga tersebut A malah bermain dengan orang-orang yang bukan seumuran dengannya.
“Pokoknya  saat kelas 4 SD gue mulai bergaul dengan tetangga yang usianya di atas gue. Kebetulan culture dirumah tetangga gue tuh cukup bebas. Kalo mau minum ya bebas. Jadi gue mulai nyoba-nyoba minum-minuman beralkohol,” tuturnya lagi dengan polosnya.

Kebayang bukan? Kelas 4 SD sudah mencicipi minuman keras. Itu semua berawal dari keingin tauan untuk mencoba hal yang baru. Sensasi baru selain merasakan keharmonisan dirumah yang begitu-begitu saja. Si A malah bertemu dengan orang yang salah. Memiliki tetangga yang kehidupannya bebas merdeka. Karena sudah pernah merasakan ‘sensasi’ minuman alkohol, si A malah jadi penasraan dan pengen mencoba lagi.

  “Karena sering main kerumah tetangga itu. Gue dan teman (yang kebetulan seumuran juga) sering masuk ke kamar kakaknya. Di kamar kakaknya banyak minuman-minuman keras. Jadi deh kami nyolong-nyolong minuman punya kakaknya. Pokoknya kalo ke rumah tetangga gue itu pasti minum deh..” A membeberkan lebih lanjut.

Semaki mendengar cerita si A, gue semakin narik nafas. Prihatin! Di usia seperti A (10 tahun) yang sudah mengenal minuman keras, gue justru masih nggak mengenal apa-apa. Apakah ini karena perbedaan jaman yang semakin membuat orang dewasa secara prematur ya? Bayangin aja, kelas 4 SD si A sudah menjadi pecandu minuman keras. Bagaimana kelanjutannya di bangku SMP ya..?

Kemudian A menceritakan masa-masa dia masuk ke SMP.  Ternyata pergaulan A bukannya semakin membaik malah semakin parah. A mulai berkenalan dengan teman-teman yang dianggap senasib dengannya yang memiliki ‘rasa ingin tau yang tinggi’. Maka A muali bersentuhan dengan pil Rohipnol, Nipam atau kayak pil koplok, Megadon hingga mulai nagih ke Ganja.
“SMP pergaulan gue semakin luas. Gue mulai mengenal Nipam, rohipnol, Megadon dan ganja. Pokoknya nggak ada hari tanpa menyentuh barang-barang itu. Parahnya lagi gue semakin kecanduan minuman keras. Kadarnya malah tambah parah.”

Tapi, meski sudah mencicipi barang-barang haram tersebut, setiap pulang kerumah  A tetap menjadi anak yang baik dan patuh pada orangtua. Sehingga kedua orangtuanya tidak pernah menaruh curiga pada anak bungsunya. “kalo dirumah gue kembali menjadi anak yang baik-baik dan soapn didepan orangtua gue. Pokoknya pinter akting deh,”

Memasuki Bangku SMU, pergaulan A yang salah justru semakin parah. Karena pada dasarnya A sudah mengenal barang-barang seperti Ganja, pil dan sebagainya, di bangku SMU, A terjerumus ke dunia Putaw.

“Karena basik-nya gue sudah nyoba semua jenis narkoba, akhirnya pas ditawarin putaw sama teman, gue langsung nyoba. Karena penasaran seperti apa rasanya. Eh, ternyata rasnaya jauh lebih enak dari semua zat yang pernah gue pake.” Jelas A. “ Pokoknya gue nggak mikir bakalan ketagihan. Yang pasti saat itu ya make dan make aja terus. Hingga akhirnya gue menjadi kecanduan,” lanjut A dengan rasa menyesal yang teramat dalam.

Kita tau, orang yang sudah terjerat dunia Putaw pasti sulit untuk lepas dari jeratannya. Begitu juga seperti yang dirasakan A. sangkin kecanduannya, A rela melakukan apa saja demi mendapatkan barang laknat itu. Mulai mencuri, berbohong pada orangtua hingga merampok dijalan.

“Bayangin aja, gue terjerat putaw selama hampir 8 tahun. Semua rela gue lakukan demi putaw. Mulai dari berbohong, mencuri hingga merampok dijalan. Gara-gara aksi nekad merampok dijalan itu, gue kena tangkap polisi. Lalu polisi menelpon ke rumah memberi tahu kalau gue ada di kantor polisi.  Orangtua gue kaget setengah mati. Sejak itu orangtua gue tau kalo gue pemake dan mereka shock banget!”

Gimana tidak shock jika anak yang dianggap baik-baik, tiba-tiba berada di dalam terali besi gara-gara merampok di jalan. Ayah dan ibu A benar-benar tidak kuasa menahan kesedihan mereka, melihat anak bungsunya berada di dalam bui.
“Kalo pecandu kan rata-rata pinter ngebohong dan jago memanipulasi orang. Jadi selama ini gue pinter memanipulasi keluarga gue dan jago berbohong hanya demi narkoba. Yang penting bagaimana caranya agar bisa dapat barang itu. Urusan berbohong sudah menjadi kebiasaan,” lanjut A.

TITIK JENUH DATANG
Karena sudah tidak tahan dengan keadaan yang terus-terusan berhubungan dengan narkoba. Ditambah lagi terus-terusan mengecewakan hati kedua orangtua dan keluarga, akhirnya muncul titik jenuh di hati A. 
“Gue bilang ke orangtua gue, saya sudah capek dengan pola hidup seperti ini. eh, orangtua gue menanggapinya dengan memberikan tiga pilihan. Mau masuk rehab atau masuk pesantren atau mau lanjut kuliah?”

Mendapat tiga pilihan, A menjadi lega karena orangtuanya bukannya menghakimi dengan tindakan kekerasan atau mengusirnya dari rumah, justru merangkul dan berusaha untuk meloloskan A dari jeratan narkoba.  Berhubung A juga sudah jenuh dengan lingkungan narkoba yang sudah menjeratnya hampir 8 tahun, akhirnya A menyarankan ke orangtuanya untuk memeriksakan kesehatannya terlebih dahulu.
“Gue bilang ke orangtua agar check badan  dulu ke dokter, kira-kira sudah seberapa parah efek narkoba   mempengaruhi badan gue. Akhirnya gue dibawa ke dokter untuk periksa kesehatan. Nggak tanggung-tanggung, langsung general Check up,” terang A antusias.

HASIL TEST POSITIF HIV
Saat melakukan general check up, semuanya di tes. Mulai dari fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi jantung dan segala macem. Sampai akhirnya dokter bertanya pada A, “Kamu dulu suka pake narkoba?” kemudian A menjawab,” ya, suka..” lalu dokternya menyarankan untuk test HIV.

“Waktu itu dokternya nanya, mau test HIV gak? Karena gue kira narkoba mah nggak bakalan mungkin masuk ke HIV. Jadi ya gue sih mau-mau aja test HIV. Pokoknya pada tahun 2001-an gitu pengetahuan tentang HIV sangat minim deh.”
Kemudian, keluar lah hasil tes dan hasilnya POSTIF HEPATITIS C. meski sudah kenap Hepatitis C, si A masih menganggap itu tidak berbahaya. Bisa disembuhkan. “Gue pikir hepatitis C nggak parah juga. Ya udah nggak apa-apa. Nyantai aja. Tapi alangkah kagetnya gue ketika keluar lagi hasil tes berikutnya dan disitu dokter menjelaskan kalo gue POSITIF terinveksi HIV.”

Saat dikasih hasil tes laboratorium lebih lanjut, A didampingi kedua orangtuanya. A dan orangtuanya sama-sama kaget dan shock. Air mata ayah dan ibunya langsung tak bisa terbendung lagi. Sementara A bingung dan  langsung membayangkan kematian.
“Yang jelas saat dikatakan gue positif HIV, gue langsung drop dan dalam benak , gue bakalan cepat mati, dijauhi keluarga,  teman-teman dan nggak bisa punya keturunan. Pokoknya dipikiran gue sudah jauh ke masa depan. “

Setelah hasil tes memvonis A positif HIV, suasana menjadi  hening dan sedih. Terutama kedua orangtua A. karena mereka merasa telah lalai mendidik anak mereka. Bahkan ada momen yang membuat A terharu ketika ayahnya datang menjumpai dia dan malah minta maaf sambil menangis.

“Gue terharu, gue yang telah bikin salah dan merepotkan mereka. Kok malah papa yang minta maaf ke gue. Papa menangis di depan gue dan sampe ngebenturin kepalanya ditembok. “salah papa apa?  Kok kamu sampai kayak gini nak?”
melihat papanya merasa bersalah, A tidak kuasa menahan harunya. Karena dia sadar kesalahan justru bukan pada kedua orangtuanya. Malah dia lah yang bersalah telah melakukan tindakan yang merugikan dirinya dan juga keluarga besarnya.

DIRANGKUL KELUARGA
Tiba di rumah semua keluarga berkumpul dan memberikan support ke A. mereka tidak ingin A merasa terasingkan sejak terkuaknya hasil tes yang Positif HIV. Tindakan bijaksana dari keluarga membuat A secure dan bersyukur memiliki keluarga yang sangat memperhatikannya.

“Gue bersyukur punya keluarga yang benar-benar care sama gue. Mereka  merangkul gue dan mereka selalu memberikan semangat pada gue. Mereka berkata,” apa yang sudah terjadi terjadilah. Kita nggak bisa ngerubah itu. Sekarang kalo pun kamu harus mati ya nggak apa-apa harus mati. Tapi ya minimal kamu bisa berbuat sesuatu untuk diri kamu sendiri.” Kata-kata itu menjadikan semangat bagi hidup gue.” Suara A terdengar parau pertanda tak kuasa menahan haru.

Berhubung karena pengetahuan keluarga tentang HIV/AIDS juga masih minim, sehingga saat pertama tau A positif HIV, mereka mulia memisahkan mana piring, sendok, gelas dan alat makan lainnya yang dipakai A tidak boleh berbaur dnegan yang lain.
“Mereka bukan bermaksud menyakiti, tapi karena mereka tidak tau kalau alat-alat makan tidak akan menularkan virus. Dan gue ngerti kok kalo awalnya mereka demikian. Toh lama kelamaan tidak, setelah kami sama-sama banyak mencari informasi tentang HIV/AIDS ,”

MENGURUNG DIRI
Meski mencoba untuk tegar, namun dari lubuk hati yang paling dalam ada rasa menyesal  karena telah melakukan kebodohan yang sangat menghancurkan masa depan. Ditambah lagi penyakit yang mematikan ini sangat menjadi ‘AIB’ bagi masyarakat umumnya. Untuk itu A mulai sering mengurung diri di dalam rumah. Kalo tidak ada hal yang penting atau kalau bukan karena ajakan orangtua atau saudara, A lebih memilih tinggal di dalam rumah saja.

“Soanya gue masih takut kalo orang lain tau gue terkena HIV pasti mereka akan menjauh dan mengucilkan. Itu yang membuat gue down. Lebih baik gue tinggal dirumah saja ketimbang bertemu dengan orang banyak,” tutur A. 
Selama mengurung diri di dalam rumah, A banyak mencari informasi-informasi mengenai HIV/AIDS. Bahkan A juga mulai mencari komunitas orang-orang yang terkenal HIV/AIDS. Lalu A menemukan salah satu rumah singgah yang kini menjadi basecamp-nya untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan.

BERGABUNG DI RUMAH CEMARA
Setelah menemukan satu tempat yang dianggapnya tepat, akhirnya pada tahun 2005, A bergabung di Rumah Cemara. Sebuah rumah singgah bagi orang-orang yang terinveksi HIV/AIDS akibat narkoba.

“Disinilah gue mulai mencoba untuk memberikan penyuluhan dan juga banyak hal yang gue dapatkan di rumah singgah ini. karena gue bertemu dengan orang-orang yang senasib dengan gue. Tapi gue ingin memberikan penyuluhan-penyuluhan akan bahanya Narkotika dikalangan remaja. Karena itu jangan sampai mereka merusak masa depan mereka. Karena HIV/AIDS tidak mengenal latar belakang keluarga lho..”

Semakin maraknya penggunaan narkoba di Indonesia, memang benar-benar mengkhawatirkan. Bayangin saja, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. parahnya lagi, dari jumlah tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkotika dengan alat bantu berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS, serta sekitar 15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) lain.

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....