TAKSI ARGO KUDA

foto diambil dari Google




Mendapat julukan Argo Kuda tentu ada alasannya. Karena kecepatan argo yang berputar tidak setara dengan kecepatan laju mobil. Kalau sudah begini kita patut waspada dengan taksi curang ini. Yang ada isi dompet dikuras habis hanya untuk bayar argo kudanya. Biasanya yang tricky bukan taksinya melainkan si supir yang pengen cepat dapat setoran tanpa memikirkan kecemasan penumpangnya. Juga berdampak menghilangkan kepercayaan penumpang dengan nama armada tersebut.


Pernah mengalami naik taksi Argo Kuda?

Saya pernah!

Bukan bangga karena pernah taksi naik argo kud. Justru kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih hati-hati dan waspada untuk memilih taksi. karena tidak ingin mengalami kejadian ‘apes’ untuk yang kedua kalinya.

Waktu itu saya baru tiba di Bandara Soekarno Hatta usai menjalankan misi traveling saya. Akibat penerbangan delayed hingga dua jam lamanya, akhirnya pesawat tiba di bandara Soetta pukul 1.30 dini hari. Kebayang bukan gimana susahnya mendapatkan taksi di bandara menjelang dini hari. Hampir satu jam lebih saya berdiri menunggu taksi tapi tidak satu pun muncul. Yang datang malah taksi-taksi tidak jelas identitasnya. Semua taksi yang ber-image ‘baik-baik’ sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Yang ada taksi-taksi gelap atau taksi abal-abal dengan reputasi teramat buru malah rajin membunyikkan klaksonnya. Tidak jarang juga para supir menghampiri dan menanyakan tujuan saya.  Kemudian memberikan harga yang fantastis! Jelas saya menolak jika ke jalan Pramuka Jakarta si supir mematok harga Rp.300 ribu. Busyet!

Saya mulai  tidak menanggapi tawaran-tawaran para supir taksi yang bertubi-tubi menghampiri saya. Sengaja bersikap manis tapi ujung-ujungnya mereka mematok harga dengan sadis. Mending dicuekin saja deh.

Sampai akhirnya muncul taksi dengan warna dan body yang lumayan mulus. Saya pikir ini pasti taksi bereputasi baik, meski nama brandnya bukan si burung biru. Tapi nggak apa deh, saya coba mencoba keberuntungan.  Buru-buru saya menyamperin taksi langsung berinteraksi dengan supirnya.
“Ke Jalan Pramuka pak..”
“Oke…”
“Pake argo kan?”
“Iya…”
Hati saya pun plong karena si supir bersedia pakai argo dan sikapnya juga cukup baik . jadi ke khawatiran saya untuk hal-hal yang mencurigakan mulai berangsur hilang. Taksi pun langsung melaju dengan kecepatan sedang.  Rasa ngantuk yang sudah saya tahan sejak keberangkatan hingga tiba di Bandara sudah tidak terbendung lagi. Sampai-sampai ketika si supir taksi bertanya alamat lengkap, saya menyebutkannya dengan mata setengah terpejam (kayak orang habis nyimeng berlinting-linting). Sebelum mata benar-benar terpejam saya merogoh kantong untuk mengambil uang Rp.10.000-an untuk bayar tol.
            “Ini untuk bayar tol-nya pak..”
            “Nanti turunnya dimana mas?” ujar si supir sambil menerima uang yang saya kasih.
            “Lewat Pramuka trus nanti masuk ke jalan Kayumanis ya pak..”
            “Kayumanis berapa.?”
            “zzzzz…zzzzzz”
Saya sudah tidak menggubris pertanyaannya karena terlanjur terlelap.  Benar-benar terlelap.

Beberapa saat setelah terlelap, badan saya diguncang-guncang si supir. Saya langsung tersontak kaget.
            “Ada apa pak?”
            “Turun dimana mas? Ini sudah masuk jalan Kayumanis?”
Saya benar-benar kaget karena dibangunkan dengan paksa oleh si supir. Pandangan mata saya masih blank. Diluar jendela saya lihat sangat gelap (Ya, iya lah sudah subuh bro!)
            “Oh, sudah masuk Kayumanis ya? Hmm..”

saya masih juga linglung kayak orang habis siuman dari obat bius. Saya langsung melihat ke arah argometer. Mata saya kembali disontakkan dengan nilai nominal yang harus saya bayar. Nominalnya Rp.320.000,-
            “Ha? Tiga ratus Dua Puluh Ribu?”
            “Iya mas…”
            “Kok mahal banget pak? Bukannya tadi jalannya lancer-lancar saja? Tidak ada macet..”
            “Ya, memang segitu argonya. Ya bayar!”

Saya kaget mendapat jawaban ketus si supir. Saya sudah sangat yakin kalau taksi ini benar-benar argo kuda. Sepanjang riwayat saya naik taksi ke Bandara, belum pernah saya merogoh kocek sebesar nominal di atas. Meski pun dalam kondisi macet.
Tapi ini bener-bener edan! Naik taksi pukul 1.30 dini hari dengan kondisi lalu lintas lancar dan ternyata argonya juga berjalan dengan lancar.

Meski berat tapi mau nggak mau saya harus membayar ongos taksi  si argo kuda itu. Karena berdebat kusir juga tidak ada gunanya. Saya juga menyalahkan diri saya kenapa pakai acara tidur saat di dalam taksi. Sehingga saya tidak bisa memantau kecepata argo-nya secara normal.

Hm…. Maksud hati menghindar dari taksi argo kuda, eh, malah mendapat si taksi argo kuda lumping dengan kecepatan edan!

Apes deh!

  

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....