OH, RINJANI PART 2




Hingga 30 menit lamanya menunggu hujan  namun belum juga ada tanda-tanda hujan akan reda. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan alasan agar bisa lebih cepat nyampe di pos 3 dan mendirikan tenda untuk bermalam.

Kami pun berjalan menelusuri ilalang-ilalang yang tajam yang tingginya sepingang. Kalau tangan tanpa sengaja tergesek dnegan ilalang-ilalang tajam itu maka akan meninggalkan bekas seperti kena beset pisau. Untungnya kami memakai rain coat yang hampir menutupi semua badan sehingga kami terselamatkan dari ilalang liar nan ‘nakal’.

Dari ketinggian 1300 mdpl kami terus berjalan untuk menuju pos 2 yang berada diketinggian 1500 mdpl (sumpah, dulu gue nggak pernah hafal tentang ketinggian gunung dengan istilah mdpl-nya). Perjalanan semakin menguras tenaga dan bermandikan keringat. Meski cuaca mendung dan berkabut tidak menghalang keringat membasuh tubuhkan. Bisa dibayangkan gimana beratnya langkah kaki ini untuk melangkah. Namun menurut guide kami perjalanan
Ke pos 2 masih belum seberapa jika dibandingkan dengan perjalanan berikutnya keesokan harinya.
Waduh, dengkul rasanya mau copot mendapat keterangan singkat yang menggetarkan iman. Kami yang sudah teramat kelelahan masih dianggap belum seberapa ‘medan’ yang kami lalui. Jadi seperti apakah beratnya ‘medan’ yang akan kami lalui besok?  Kami hanya bisa pasrah!

Perempuan2 Tangguh


Setelah dua jam berjalan kaki, kami tiba di pos 2 Tengengean. Kami sempat berhenti di jembatan menuju pos dua, namun tempat pemberhentian bukanlah di jembatan tersebut melainkan kami harus berjalan kaki beberapa meter lagi sampai menjumpai pos 2 dengan panggung kecil untuk beristirahat.  Tiba di pos 2 hujan perlahan tapi pasti menghentikan aktivitasnya. Kami mulai membuka rain coat dan kembali menikmati cemilan coklat, buah dan biscuit yang telah kami persiapkan di day pack yang kami gendong sejak keberangkatan awal. Porter yang membawa logistic langsung menurutkan kompor kecil dan mulai memasak mie rebus pengganjal lapar yang sudah menyerang perut kami. Tidak ketinggalan kopi dan tehmanis sebagai teman disaat rasa dingin mulai menusuk tulang.

Siang itu gue benar-benar merasakan nikmatnya mie rebus ‘ala kadarnya’ yang dimasak di wadah kecil yang biasa dipakai untuk kemping. Sangkin nikmatnya, dalam hitungan menit mie rebus tersebut ludes tak berbekas. Begitu juga dengan teman-teman gue (Lia, Rani, Kak Suz dan Inald) yang menyantap mie rebut dengan penuh perasaan (rasa nikmat).

NIKMATTTTT BENERRRR...


Puas icip-icip juga merokok-rokok (bagi kak Suz,Inald dan porter juga guide) kami kembali melanjutkan perjalanan dengan berat hati. Sudah kadung ‘pewe’ di pos 2 tapi kami harus meninggalkan pos sederhana tersebut untuk melangkah lebih tinggi lagi.  Lagi-lagi dengan alasan takut kesorean tiba di pos 3. Karena kami harus bergegas mendirikan tenda untuk bermalam di pos 3.  Jadi kami pun siap siaga melangkah pasti dengan langkah yang (tidak ) pasti.  Karena kami akan menghadapi  pendakian yang lebih menyiksa. Masih ada bukit penyiksaan yang sangat melegenda itu. Karena semua pendaki dibuatnya menyesal diawal bukan di akhir perjalanan.  Itu sebabnya kenapa disebut bukit penyesalan.

Pukul 16:00 WIT
Kami tiba di pos 3 Pada Balong. Para porter yang selalu terlambat tiba di tujuan membuat kami harus menunggu mereka untuk mendirikan tenda. Tidak seperti porter-porter lainnya yang selalu tiba ditujuan terlebih dahulu, kemudian mereka langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makanan. Kami mengalami hal yang berbeda. Selalu datang terlambat.

Malam Pertama tidur ditenda. Dinginnnnnn...


Setelah Para porter tiba di Pada Bolong, mereka langsung mendirikan tenda, kami pun berbenah untuk mengganti pakaian berlapis-lapir untuk tidur. Baju yang sudah melekat sejak keberangkatan sudah terasa sangat basah dan bau keringat. Ditambah lagi efek hujan yang membuat badan jadi lepek! Jangan harap kami akan membersihkan badan dengan membasuh dengan air. No way! Tidak ada air untuk mandi saudara-saudara! Jalan terbaik adalah membersihkan badan dengan tisu basah. Ya, persediaan tisu basah memang diperbanyak dan WAJIB dibawa saat naik gunung.

Malam pertama di kawasan Rinjani, kami mendirikan tenda di dekat pos 3. Lokasinya tampah persis dibawah lembah bebatuan. Sempat khawatir jika batu-batu besar bisa-bisa menimpa kami saat terlelap dalam mimpi yang dingin. Sebelum acara tidur lebih awal dimulai (kami mulai berkurung di tenda pukul 20:00 WIT), acara makan malam dimulai dengan ‘ala kadarnya’  hmm… hari pertama semua makanan masih terasa nikmat saat disajikan. Kami begitu lahap menyantapnya.  Setelah kenyang langsung tidur…..

LUNCH PLUS DINNER PERTAMA DI GUNUNG


·     Hari pertama kami berjalan kaki selama kurang lebih 9 jam. Kebayang gimana letihnya kaki kami bukan?
·         Kalau 9 jam berjalan kaki, kira-kira sudah berapa kalori yang terbakar ya..???

   
 
Ngopi diudara dingin mantapppp

Mumpung ada matahari berjemur ahhh...

Tenda dibawa tebing




Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....