Naik Gunung Rinjani Part 3 - Ngos-Ngosan


MORNINGGGG....



Morning guys…!!!
Hari kedua di Rinjani sudah mulai terasa pegal-pegalnya. Ditambah tidur kurang nyenyak karena udara teramat dingin. Pagi itu gue langsung bergegas keluar dari tenda untuk melakukan pergerakan ringan agar tubuh nggak kaku dan mendapatkan kehangatan. Sementara teman-teman porter mulai melakukan aktivitas masak memasaka. Seperti biasa gue minta teh panas untuk melumerkan badan yang masih dilapisi berlapis-lapis kaos lengan panjang, jaket dan juga sleeping bag yang enggan untuk ditanggalkan karena kedinginan.

Usai minum teh dan menyantap sarapan pagi yang lagi-lagi menunya masih tidak jauh beda dengan hari kemaren. Mie rebus di variasikan dengan sayur kol dan wortel dan telur. Kemudian ada tempe goreng (again). Kami pun melahap sarapan pagi dengan semangat yang tidak menyala-nyala. Karena ekspektasi kami pengen mendapat suguhan makanan yang variatif dengan menu yang berbeda-beda. Namun yang masih menjadi anadalan adala mie goring, mie rebus, wortel dan kol.  (Saat mempromosikan diri via email, para guide dan porter ngaku2 jago masak makanan apa saja. Tinggal request! Ternyata???)


Sebelum berangkat melanjutkan pendakian ke tingkat yang lebih tinggi, kami masih sempat menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang tiba-tiba menunjukkan teriknya. Sepatu, kaos kaki, rain coat yang semalam kena hujan langsung kami jemur untuk beberapa saat. Lumayanlah kering-kering dikit mampu menolong rasa lembab di kaki.

MONYETTTT

Sambil menjemur barang-barang yang basah, kami melihat monyet-monyet liar mulai mendatangi tenda kami. Berbondong-bondong mereka turun dari peradabannya untuk mencari sisa-sisa makanan yang ada di tempat sampah di dekat tenda. Mereka saling berebutan untuk mencari yang terenak dari yang enak. Saling berebutan satu masa yang lain. Bahkan botol saos sambal dan kecap dengan tangkas di ‘embat’ mereka untuk disantap. “Ati-ati kepedasan Nyettt..!!!” pola tingkah mereka menjadi hiburan pagi itu. Kamera gue langsung kuarahkan pada mereka untuk mengabadikannya. It’s so funny expression!

            “Sebentar lagi kita akan memasuki medan pendakian yang cukup menantang.” Ucap Fian si Guide.
            “oke deh! Kita sudah siap tempur kok!” ucap gue dengan semangat 45.

Jujur, meskipun lelah dan badan mulai terasa sakit, namun gue masih memiliki semangat untuk terus mendaki bahkan hingga mencapai puncak. Mungkin efek  olahraga rutin yang gue lakukan ditempat gym selama setahun ini sehingga gue ngerasa medan yang berat ini masih bisa ditolerin. Hampir setiap waktu gue treadmill, naik sepeda hingga renang. Jadi meski ngos-ngosan namun stamina masih oke oke beibeh.

BUKIT PENYESALANNNNN


Perjalanan hari kedua ini menuju Plawangan Sembalun, yang merupakan puncak tertinggi sebelum puncak Gunung Rinjani. Plawangan Sembalun berada di ketinggian   2639 mdpl. Plawangan sembalun menjadi pos akhir yang sering dilakukan para pendaki untuk mendirikan tenda. Karena jika para pendaki tidak ingin mendaki hingga ke puncak tertinggi Rinjani, maka mereka memilih menunggu di Plawangan Sembalun.

            “Welcome to Bukit-Bukit Penyesalan,” canda sang guide. Yang dbarengan dengan tawa oleh teman-teman. Mungkin mereka tertawa diatas penderitaan mereka sendiri. Namun, gue bersyukur memiliki partner naik gunung yang solid. Senang bercanda dan juga tidak menonjolkan ego masing-masing. Kami sadar ini naik gunung! Yang dibutuhkan solidaritas bukan egosentris. Jika ada yang tertingal kami mencpba untuk bersabar menunggu sambil mengendorkan otot-otot yang tegang.

Kami terus melangkah (tepatnya mendaki). Tanjakan demi tandakan semakin tidak bersahabat. Setiap menatap ke atas kami melihat tanjakan yang cukup bikin stress. “busyet mana bonusnya nih? Tanjakan mulu…!”
Kami juga sering berpapasan dengan bule-bule yang naik dan turun dari Plawangan Sembalun. Mereka terlihat ngos-ngosan dan melemparkan sapaan seadannya.

CEMARA TUNGGAL


Istilah Bonus disini adalah apabila kami menemukan jalan yang datar hingga beberapa meter. Karena dengan jalanan yang datar maka kami tidak harus menguras tenaga lebih dalam. Dan kami sangat membutuhkan BONUS itu disela-sela tanjakan yang tiada henti.

Kami mulai memasuki kawasan bukit penyesalan. Julukan ini bener-benar juara deh. Karena cocok dengan wujud bukitnya. Ketika kita sudah mencapai puncak bukit yang kita anggap puncak terakhir, eh ternyata masih ada bayang-bayang bukit lainnya yang lebih tinggi. Begitu seterusnya hingga mencapai dengan babak belur ke bukit penyesalan kelima. Untuk bisa mencapai bukit penyesalan terakhir bukan hal yang gampang. Kami bisa berhenti puluhan kali karena energy kami benar-benar hampir habis. Mau bernafas saja susah. Tarikan nafas dalam-dalam adalah solusi terbaik untuk mengumpulkan energy yang teruras dengan borosnya.

Bahkan teman gue yang kebetulan berpapasan dengan beberapa bule yang baru turun dari Rinjani sempat mengatakan,” bo, lu tau nggak, bule-bule itu mengatakan kalo di atas lagi kita akan merasakan feels like HELL!” ucap Lia sambil ngos-ngosan.

Hmmm, bener-bener Hell!

Rasanya kami benar-benar disiksa tanpa ampun. Tidak ada istilah ‘BONUS’ lagi saat sudah berada diantara bukit-bukit penyesalan. Kami yang sudah setengah putus asa melihat tanjakan demi tanjakan yang terjal. Mau tidak mau harus berjalan diantara kelunglaian kaki untuk bisa terbebas dari bukit penyesalan!

Diantara keputus asaan, kabut putih nan tebal, lagi-lagi hujan kembali beraksi. Hujan yang kami anggap hanya turun sesaat ternyata semakin deras. Baju yang sudah basah akhirnya kami tutup dengan rain coat. Meski hal yang paling malas adalah saat memakai rain coat ditengah tanjakan yang curam dan nafas ngos-ngosoan.


FINALLY, PLAWANGAN SEMBALUN


PLAWANGAN SEMBALUN

Setelah berjibaku dengan rintangan demi rintangan yang teramat berat, sekitar pukul 15:15 WIT, akhirnya kami pun menginjakkan kaki di Plawangan Sembalun. Teman-teman berteriak histeris untuk melepaskan rasa lelah yang bersarang didada. Rasanya tiba di Plawangan merupakan puncak klimaks dari rasa lelah yang tak terbendung lagi.  Gue pun melakukan hal yang sama, menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya kembali dengan berteriak…

Arrrrggghhhhhh…!!!!! FINALLY…..!!!!

Di Plawangan Sembalun sudah ada beberapa tenda turis-turis berdiri. Sementara  gue , Rani dan Inald yang duluan tiba di Plawangan terpaksa harus menunggu teman-teman yang lain juga para porter dan guide yang masih tertinggal di belakang. Parahnya lagi, para porter yang bertugas mengangkat tenda dan perlengkapan masak memasak selalu dating terlambat. Perut yang sudah benar-benar lapar hampir tak kuasa menahannya. Kesal, marah dan menganggap mereka kurang professional meng-handle perjalanan ini mulai terucap.

THANKS GOD..!! SEEE, KABUTTTTT


Hampir dua jam menunggu, akhirnya para porter yang membawa logistic dan perlengkapan tenda tiba di Plawangan Sembalun. “sori kami tadi neduh karena hujan deras.”
Hmm.. kami juga merasakan hal yang sama tapi tidak sampai neduh berjam-jam lamanya.
Mereka pun bergegas memasang tenda, karena kami mulai merasakan kedinginan teramat sangat. Maklum, kami sudah berada pada ketinggian 2639 mdpl. Dinginnya benar-benar menusuk. Baju yang juga masih basah karena hujan tami tanggalkan untuk diganti dengan baju kering sekaligus untuk baju malam. Urusan mandi lagi2 kami kesampingkan. Badan hanya dibersihkan dengan tissue basah saja. 

NENDA DI PLAWANGAN SEMBALUN


DI Plawangan Sembalun lagi-lagi kami harus menelan rasa kecewa yang dalam, konon katanya dari Plawangan kita bisa melihat keindahan Danau Segara Anak tapi kali ini yang terlihat hanya kabut tebal berwarna putih.
            “Waduh, kalo begini tersu sampe puncak gue bener-bener nyesal naik Gunung. Kagak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa difoto. Gimana mau nulis ceritanya ini,”umpat gue kesal.

Sore tiba, makan siang merangkap makan malam pun dimulai. Lagi-lagi kami harus berhadapan dengan Mie rebus, nugget, sayur kol wortel, pudding, kerupuk . ya makanan yang standart dan bikin kami menikmatinya antara enggan dan terpaksa. Kami mulai saling lirik setiap melihat menu yang ada. Variasinya bener-bener begitu-begitu saja. Kalau pun ada perubahan, nasinya berubah menjadi nasi goreng dan kol dan wortel diumpetin didalam gorengan berbentuk bakwan.



Aaarrrrrhghhhhh!!!...

Setelah makan siang plus malam, kami kembali masuk ke dalam tenda untuk tidur lebih awal. Karena pukul 1 dini hari kami harus bangun untuk melanjutkan pendakian ke puncak rinjani. Malam yang awalnya bertaburan bintang lambat-laun redup lalu diganti dengan curah hujan. Lagi-lagi hujan menjadi dominan pada musim ini. Hujan terus turun hingga tengah malam.  Menurut guide, jika hujan tidak berhenti hingga tengah malam, maka kami harus membatalkan mendaki puncak rinjani.

Tapi syukurlah, Tuhan masih baik pada kami yang mulai putus asa karena belum bisa benar-benar menikmati keindahan panorama Rinjani, danau Segara Anak dan gunung-gunung lainnya yang selalu tertutup kabut.

TENDA BULE


Pukul 23:00 WIT, Hujan berhenti dan kami pun sepakat akan mendaki puncak rinjani dini hari nanti.  Perbekalan dan persiapan pun harus benar-benar dilakukan dengan baik. Karena lagi-lagi untuk mencapai puncak Rinjani bukan hal yang mudah. Bahan teramat berat. Untuk kemiringannya saja mencapai 75 drajat. Bisa kebayang gimana gempornya kami nanti saat mendaki……

Tidur dulu ah……. Mengumpulkan energy untuk besok!

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....