OH RINJANI PART 1

Menatap jauh ke puncak Rinjani


Tidak pernah sedikit pun terbersit dibenak ini akan naik gunung apa saja yang ada di Indonesia. Karena gue tau naik gunung itu bukan hal mudah dan dibutuhkan tekad dan stamina  yang kuat. Juga sedikitnya memiliki ‘bekal’ pernah naik gunung minimal beberapa kali dalam setahun.

Nah, Gue…?

Hitung mundur 20 atau 15 tahun lalu merupakan momen dimana gue pernah naik Gunung di Daerah Sumatra Utara. Tepatnya Gunung Sibayak, Berastagi. Setelah itu gue KAPOK! Karena capeknya sampe ubun-ubun kagak ilang2.  Dan gue ngerasa naik gunung bukan hobi gue.  Juga sejak itu, setiap ada tawaran naik gunung pasti gue tolak dengan tangkas! Sampai akhirnya aktivitas naik gunung dimasukkan ke dalam kota hitam agenda gue.

Tapi,

Entah setan mana yang menggoda gue, ketika Lia, teman gue mengajak trip ke Lombok kemudian naik gunung Rinjani. Iming2 tiket promo yang diberikan maskapai Garuda Indonesia (750 ribu Jkt-Lombok PP – Murah yaaaa….) yang membuat gue langsung meng-iya-kan tanpa mikir panjang bahwa kami akan naik Gunung Rinjani (3726 Mdpl) yang merupakan Gunung nomer tiga tertinggi di Indonesia Setelah Cartenz Piramid(4.884 M.Dpl) Di Irian Jaya serta Gunung Kerinci (3.800 M.Dpl) Di Sumatra.

Setelah hampir satu tahun tiket dibeli (maklumlah, tiket promo kan kudu dibeli jauh2 hari) Bahkan sampe lupa kalo sudah punya tiket ke Lombok. Akhirnya 28 Maret 2013 kemaren gue dan ketiga teman berangkat ke Lombok naik pesawat Garuda dengan nomer penerbangan GA0432 jam keberangkatan 17.50 delay satu jam menjadi 18.50 WIB (molor lagi sampai pukul 19.15 WIB.

Sebelum berangkat, jauh-jauh hari kita sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan saat naik gunung. Mulai darii jaket, sarung tangan, topi kupluk, trekking pol, dekker untuk menutupi sepatu dari serangan pasir dan batu-batu kecil, juga kacamata hingga tetek bengek lainnya. Kita juga sudah menghubungi Guide dan Porter yang akan menolong kami  membawa barang2  dan logistic saat pendakian.  Untuk porter dan Guide gue dan teman2 mengumpulkan duit sekitar 1.5 juta perorang.

Nyampe di Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah pukul  22:00 WIT (beda waktu 1 jam lebih cepat dari WIB), kami sudah dijemput sama Mas Fian, yang menjadi guide selama pendakian. Kemudian kami dibawa ke penginapan (Paer Doe Home Stay & Restoran) yang berada di desa Sembalun Bumbun, Lombok Timur. Berhubung nyampe di home stay sudah larut malam (pukul 1 dini hari), kami langsung berisitirahat. Karena keesokan paginya petualangan mendaki dimulai. Jadi dibutuhkan stamina yang prima. Tapi sayang, di home stay gue justru sulit memejamkan mata. Hingga suara azan subuh berkumandang baru deh mata gue terpejam. Kemudian  mata kembali terbuka pukul 07.00 WIT. Meski tidur kurang puas namun mau nggak mau gue harus wake up dan berbenah untuk mendaki. Waduh..!!


Rombongan Porter dan Guide (4 porter & 1 guide) sudah menunggu di depan penginapan. Sambil packing barang dan logistic yang mau dibawa. Kami menyempatkan diri breakfast yang sangat ala kadarnya. Gila, nasi putih plus telur rebus doang. Berharap nyerapnya penuh gizi eh, malah dapat makanan yang sangat tidak mengundang selera. Parahhh!!!

Tapi, karena tubuh butuh asupan biar nggak gampang lemas, gue dan teman-teman terpakasa memakan sarapan yang apa adanya. Kemudian, kami naik ke mobil untuk diturunkan di perkampungan yang merupakan jalan pintas dari pintu utama masuk ke gerbang  Resmi Sembalun. Konon katanya bisa menghemat waktu satu jam. Lumayan deh.

BreakFast


Pukul 10.00 WIT

Kami mulai berjalan perlahan tapi pasti melewati perkampungan juga melintasi persawahan penduduk. Udara cukup bersahabat karena mendung dan berkabut. Nggak apa-apa deh ketimbang panas atau hujan. Perjalanan yang mulai mendaki membuat nafas sedikit terengah-engah. Keringat mulai saling berebut keluar dari pori-pori. Mulut juga mulai mengeluh dan mengeluarkan kalimat,” Pos 1 masih jauh nggak?” Tanya teman pada guide. Namun mereka hanya membalas dengan senyuman. Itu pertanda masih jauh bukan?


Melintasi  jalan bebatuan, padang savanna hingga hutan yang menghijau. Maklum lah kami melakukan pendakian saat musim hujan belum berakhir. Pemadangan keindahan Rinjani dipenuhi kabut putih hampir disepanjang pendakian. Terkadang, karena tidak ada yang bisa dilihat selain kabut tebal berwarna putih, kami sempat desperate kalau hingga sampai ke puncak pun kami hanya disuguhi kabut tebal putih doang. Berharap pemandangan hijau yang mampu menyegarkan mata dan menjadi penyemangat terkadang hanya harapan semata.

Setelah berjalan kaki selama 2 jam 20 menit, akhirnya kami tiba di pos  1 Pemantauan dengan ketinggian 1300 mdpl. Cuaca yang tadinya berkabut berubah menjadi mendung kemudian dibarengan dengan turunnya hujan dengan derasnya. Rain coat yang sudah kami kenakan ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan properti kami dari curahan hujan. Akhirnya kami mendirikan tenda darurat di pos 1 untuk menampung para porter, guide juga gue dan teman-teman. Sekaligus mewanti-wanti agar logistik yang dibawa para porter tidak terkena hujan.


Bersambung  >>>>>>




Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....