Naik Gunung Rinjani Part 4 - Akhirnya Sampai Puncak





Setelah cukup lama berhenti melanjutkan cerita tentang Pendakian Gunung Rinjani, akhirnya gue tekatkan untuk menuntaskannya. Nanggung banget kalau ceritanya hanya sampai Plawangan Sembalun. Ntar dikira gue nggak mampu mencapai puncak Rinjani.

Bener! Sumpah! Gue mencapai puncak rinjani yang tingginya mencapai 3726 mdpl lho!

Simak ya ceritanya…..

 Pukul 01: 00 dini hari alarm bb gue bordering dnegan lantangnya. Meski mata masih enggan terbuka namun gue harus bergegas bangun. Busyet, udara dini hari itu sangat-sangat dingin. Gue yang manusia ‘anti dingin’ benar-benar tidak kuasa menahan gigilan badan gue. Mau keluar dari tenda saja enggan. Banyangin saja, badan yang sudah dilapisi berlapis-lapis penghangat namun masih saja mampu membuat badan menggigil.

Satu persatu teman dan porter terbangun. Saling mengingatkan agar bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Subuh itu porter memasakkan makanan untuk menambah stamina. Meski menu yang dimasak sudah bisa ditebak yaitu mie dan mie atau nasi goreng ala kadarnya (heran deh, kagak kreatif banget mereka.) Tapi, nggak apa deh yang penting perut terisi dan stamina bisa terjaga. Selebihnya ditunjang dengan suplemen dan vitamin yang gue bawa.



Pukul 2.30 dini hari kami berkumpul di depan tenda, (7 orang). Masing-masing sudah siap dengan perbekalan seadannya. Head lamp, trekking pol, dekker (untuk penghalang sepatu dimasuki pasir atau kerikil)Karena disarankan agar tidak membawa benda-benda yang memberatkan bawaan. Niat gue membawa kamera CANON 7D gue batalkan karena takut terkatuh atau rusak karena terpeleset saat mendaki. Gue hanya membawa kamera kecil LUMIX yang bisa dimasukkan kedalam saku. Kami membentuk lingkaran dan melakukan doa bersama. Ya, doa itu wajib hukumnya untuk melanjutkan pendakian yang  ‘medan’-nya semakin berat. Selesai berdoa kami mulai melakukan summit kali ini.

“Untuk mencapai puncak rinjani dibutuhkan waktu 3 atau 4 jam” ucap guide yang mencoba memberikan semangat. Tapia pa daya, baru saja melakukan pendakian namun medannya benar-benar snagat curam dan menguras tenaga seketika. Bayangkan kami harus mendaki disubuh hari dengan medan yang bebatuan dan kami hanya diterangi lampu yang ada di kepala. Jika tidak hati-hati maka kaki bisa keseleo atau masuk ke lubang  yang menjebak. Disini kami tidak ingin memperlihatkan siapa yang paling ‘perkasa’ bisa duluan mencapai puncak. Disini dibutuhkan kebersamaan, toleransi dan saling merasa membutuhkan penyemangat. Sehingga satu sama lain tidak merasa ditinggalkan oleh rekannya.




Berhubung malam sebelumnya turun hujan dengan derasnya, jadi subuh ini kami tidak berhadapan dengan debu yang berterbangan melainkan pasir dan tanah yang basah. Bahkan ranting-ranting pohon juga masih menyisahkan sisa air hujan jika kena ditangan sangat dingin sekali.

Satu jam pendakian, kami memilih beristirahat sejenak karena nafas semakin ngos-ngosan. Bahkan rasa optimis yang semula dikobarkan mulai berubah menjadi pesimis. Khususnya teman-teman wanita kami (Lia, Kak Susan dan Rani).  Namun guide dan gue juga Inald yang masih memiliki stamina memacu mereka untuk terus mendaki. Namun usai istirahat pertama, kaki Lia mengalami keselo sehingga untuk berjalan dia mulai tertatih-tatih. Sangat tipis harapan untuk bisa mencapai puncak.  Namun, sebisa mungkin Lia terus mendaki didampingi guide yang senantiasa ada disampingnya. Sementara gue, Inald dan Rani terus mendaki perlahan-lahan.
 


Pukul 5 pagi, kami masih belum mencapai puncak yang diperkirakan bisa ditempuh selama 3 atau 4 jam. Bahkan saat matahari mulai menampakkan sinarnya kami masih berada disetengah jalan. Warna Matahari pagi itu sangat indah jingga menyala. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesepmatan untuk foto siluet dengan latar jingganya matahari pagi. Dibalik sisa-sisa tenaga yang ada kami bertujuh foto-foto seolah-olah sudah berada dipuncak Rinjani, meski sesungguhnya masih sangat jauh! Dari ketinggian itu juga kami melihat indahnya Danau Segara Anak yang terlihat begitu kecil. Lengkungan danau tersebut seolah menggoda kami untuk kesana. (meski emang harus kesana)

Pose demi pose dilakukan untuk melupakan sejenak rasa lelah yang teramat sangat. Namun, setelah matahari semakin meninggi, Guide menganjurkan kami untuk melanjutkan perjalanan karena jika kesiangan maka saat tiba di puncak sinar matahari akan terasa snagat panas. Kami pun mulai mendaki kembali. Semakin berat, semakin sulit dan semakin tipis harapan untuk bisa mencapai puncak.



Akhirnya, ketiga teman gue yang perempuan menyerah! Mereka tidak sanggup untuk melanjutkan pendakian. Mereka berhenti di seperampat pendakian. Meski puncak rijani sudah semakin dekat, namun itu dari pandangan mata, apadaya kaki teras sudah mau lepas karena tidak kuasa mendaki medan yang semakin menyeramkan.

30 menit kemudian, hampir mencapai puncak, Gue dan Inald juga ditemani Iyos sang porter terus mendaki, meski kami berdua pun semakin hampir kehilangan ASA untuk melanjutkan pendakian. Untuk melangkah saja kaki sudah enggan. Ketika diajak beristirahat mata rasanya ingin terpejam pengen langsung tidur. Halusinasi pun mulai berputar kemana-mana. Gue benar-benar merasakan gimana rasanya CAPEK dan BERAT-nya naik gunung. Gue sempat berikrat ini merupakan pendakian gue terakhir gue nggak akan mau naik gunung lagi. Maklum, rasa capeknya benar-benar luar biasa. Pengen nangissssssss!!!

Disaat gue dan Inald hampir kehilangan semangat, kami berpapasan dengan bule yang baru turun dari Rinjani. Dia memberikan semangat pada kami. Dia berkata,” hanya orang yang punya motivasi kuat dan memiliki rasa optimis lah yang bisa mencapai puncak rinjani. Come on! Puncaknya sudah dekat!”

Maka, kami pun mencoba melangkah meski setiap sepuluh langkah kami beristirahat. Gue melakukan strategi tidak ingin melihat ke puncak saat melangkah. Karena setiap melihat ke puncak rasa putus asa semakin kuat. Maka pandangan gue tujukan kea rah sepatu dan bebatuan. Begitu terus hingga tanpa gue sadari gue hampir mencapai puncak. Tiba-tiba rasa semangat muncul karena tinggal 50 langkah lagi gue mecapai PUNCAK RINCANI….



And finally…
Tepat tanggal 31 Maret 2013, Minggu ,  Pukul 8.30 pagi hari  dan bertepatan HARI PASKAH gue berada di ketinggian 3726 mdpl. Ya, gue berada di puncak Gunung Rinjani. Ini pencapaian tertinggi yang gue lakukan seumur hidup gue. Bayangin saja, seumur-umur baru kali ini mendaki gunung yang begitu tinggi. Tapi, karena rasa optimis dan motivasi sesame pendaki akhirnya gue bisa mencapai Puncak. Gue berteriakkkkkkkk sekencang-kencangnya.

THANK U GOD…!!!!

30 meit berada di puncak rinjani, kami berfoto-foto senarsis-narsisnya. Dari puncak Rinjani juga kami bisa melihat gunung Agung yang sesekali tertutup awan. Pagi itu cuaca cukup cerah, langit biru ditutupi awan putih. Dari puncak Rinjanji kami juga melihat Gunung Agung dan danau Segara Anak. Omigod!!!! Alangkah kecilnya diri ini saat berada dipuncak rinjani. Manusia itu benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan sang pencipta.

Puas berfoto-foto berteriak teriak diatas puncak Rinjanji, kami pun kembali turun ke Plawangan Sembalun. Kata si porter cara jitu turun dari rinjani adalah dnegan berlari. Karena kalau berjalan perlahan-lahan juga kaki akan dipaksa untuk berlari. Akhirnya kami melakukan anjurannya dengan berlari. Meski praktis dan tergolong cepat. Namun kaki yang hampir kram terasa sakit. Tapi tidak apalah, biar saja sakit-sakit dahulu asal bisa nyampe dengan cepat ke tenda di plawangan Sembalun.meski berlari, kami juga harus berhati-hati karena dikanan kiri jurang. Jika tidak hati-hati maka kecelakaan bisa terjadi. Karena menurut cerita ada beberapa pendaki yang tewas karena terjatuh dan masuk ke jurang yang sangat curam. Hmmm, menyeramkan bukan?

Yang paling mengejutkan adalah, ketika kami hendak mencapai basecamp di Plawangan Sembalun, eh, kami masih berpapasan dengan teman-teman yang tadi batal naik ke puncak. Ternyata mereka masih tertatih-tatih berjalan menuju basecamp. Kasihan sih mereka berjalan sangat perlahan-lahan. Sementara gue dan Inald berlari hingga akhirnya tiba di tenda.


1 jam 30 menit kami sudah tiba di tenda dan langsung terkapar…..

MELELAHKAN TAPI MEMUASKAN!

Begitulah ending dari pendakian yang teramat melelahkan ini…..

Again…
Thank u God..!!!  


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....