Perjalanan Panjang Nan Melelahkan Menuju Pulau Derawan Part 1




Akhirnya punya waktu juga untuk menumpahkan kisah seru gue selama dalam perjalanan menuju Pulau Derawan dan beberapa kota di Kalimantan.
Sebenarnya perjalanan gue ini benar-benar UNPLANNING. Sangat tidak direncanakan. Karena rencana untuk pergi saja gue lakukan seminggu sebelum hari H. Jadi benar-benar unplanning Journey.
Waktu itu  Andi, travel-mate gue bbm, isinya seperti ini:
“Ke Derawan yok?”
“What? Derawan?”
“Iya… Mau nggak?”
“Wah, kalo gue sih mau-mau aja. Tapi tiket mahal nggak?”
“Ntar ya, gue check dulu tiket kesana…”

Sebenarnya gue tergolong orang yang paling susah menolak tantangan. Begitu Andi menantang melakukan trip dadakan ke Pulau Derawan, gue langsung meng-iya-kan saja. Tanpa mikir panjang atau ada keragu-raguan.  Tapi akhirnya nyadar kalau ke Derawan itu butuh biaya yang cukup gede. Karena banyak sambung menyambungnya perjalanan.

Beberapa saat kemudian Andi mengabarkan kalau tiket ke Balikpapan murah. Kalo nggak salah sekitar 450 ribu. Akhirnya, tiket ke Balikpapan pun dibeli. Urusan tiket pulang masih belum juga tau harganya berapa. Yang jelas dari Balikpapan kami akan terbang lagi ke Berau. Jujur saat berangkat ke Derawan, gue sama sekali tidak mengetahui banyak kota-kota kecil disekitarnya.

Singkat cerita The Journey is begin…



Tanggal 13 November 2013

23:30 WIB
Gue berangkat dari Bandung ke Bandara Soetta naik mobil travel. Terpaksa berangkat tengah malam, karena pesawat yang kami tumpangi berangkat subuh. Jadi perjalanan Bandung ke Soetta sekitar 4 jam. Lebih baik menunggu ketimbang terlambat. Tidur-tidur ayam di bandara hal yang biasa kami lakukan. Bagi kami untuk menghemat biaya saat traveling, pilih lah tidur di bandara. (di beberapa Negara bandaranya sangat adem, nyaman dan bersih untuk dijadikan lapak tidur gratis).



Pukul 05.00 WIB
Kami pun terbang bersama Lion Air. Sekitar 2 jam lewat beberapa menit pesawat landing di Sepingan Airport Balikpapan. Perut sudah mulai terasa lapar. Tapi perjalanan masih dilanjutkan ke rumah kerabat Andi. Irwan namanya. Kami memilih naik angkot ketimbang harus buang-buang uang naik taksi. Naik angkot adalah hal yang paling seru saat kita berada di kota atau Negara yang baru kita kunjungi. Karena bisa berinteraksi langsung dengan warga setempat. Setelah dua kali nyambung angkot, akhirnya kami pun tiba di rumah Irwan. Rumahnya sangat sederhana secara penghuninya cukup banyak. Mungkin judulnya tidur desak-desakan. 

Di rumah Irwan kami hanya istirahat sebentar sambil sarapan. Menjelang siang kami melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Awalnya pegen naik angkutan umum (lagi). Tapi setelah dihitung-hitung biaya yang dikeluarkan lumayan gede. Perorang naik bis Rp.100 ribu. Kami bertiga dengan Irwan. Kalau pulang pergi sudah kena 600 ribu belum sama makan dan sebagianya. Akhirnya kami memutuskan menyewa mobil Inova perharinya 350 ribu. Ya, mending nyewa mobil bukan? Cukup sehari aja nyewanya. Karena perjalanan ke Samarinda hanya dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan. (ibarat Jakarta-Bandung dikala weekend)

Pukul 12 waktu sono, kami berangkat. Jalan yang kami lalui mirip perjalanan antar Lintas Sumatra yang banyak hutan atau perkebunan. Irwan bilang, perjalanan ke Samarinda biasanya aman. Nggak ada polisi soalnya jalan yang dilalui banyak perkebunan, hutan atau juga kawasan tambang. Jadi cukup sepi. Sejak keberangkatan gue memilik tidur di jok belakang ketimbang memandangi hutan-hutan yang terlihat tidak menarik. Ditambah lagi, gue orang yang paling doyan tidur kalo sedang on the road. Jadi alangkah bahagianya gue kalo travelmates yang berpergian dengan gue bisa nyetir mobil. Karena sejujurnya gue paling malas nyetir mobil kalo tidak terpaksa. Catat!

Apa daya ternyata omongan Irwan nggak bisa dipegang. Setelah satu jam perjalanan menuju Samarinda. Dan disaat gue sedang tertidur dengan pulasnya. Tiba-tiba gue dibangunkan Andi:
” Ver, lu ada sim nggak?”
“Ada dong.. Mau sim apa? A atau C . unya gue lengkap.Sim B juga punya. Kenapa emang?”
“Ada razia tuh di depan!”

“WHAT…???!!”

Gue langsung tersontak dn terbangun. Entah kenapa setiap kali mendnegar kata Razia, gue langsung parno. (banyak kisah tentang razia yang pernah gue alami, sehingga membuat gue parno) Dan, ternyata mobil kami sudah di stop sama segerombolan polisi yang sedang melakukan razia di tempat sepi. Kalau sudah begini mah tujuannya untuk cari objekkan, alias cari duittt! Oknum-oknum polisi begini yang merusak citra polisi.  Trus, parahnya lagi, ternyata Irwan yang nyetir tidak bawa SIM! Alasannya nggak ngebayangin kalo kami akan nyewa mobil.

WADUH..!!!

            “Jadi gimana nih?”
            “Ya, harus berhadapan dengan polisi deh.” ucap Irwan.
            “Ya udah kalian berdua gih,yang ngadepin polisinya. Gue masih ngantuk.” ucap gue maleas-malasan.

Mereka pun turun dari mobil dan menghadapi polisi yang sok sibuk megang bundelan buku tilang. Gue perhatikan dari dalam mobil, mereka bicara cukup alot. Nggak berapa lama Irwan datang lagi ke mobil nyamperin gue.
            “Polisinya minta 500.000.
            “Apa…??”
            “Soalnya Andi nggak punya SIM dan kita nggak ada surat jalan.”
           “Ahhh, ngacok banget tuh polisi. Kita kan nyarter mobil ngapain juga pake surat jalan. Cukup bukti sewa mobilnya aja tunjukin.”

Akhirnya gue turun dari mobil nyamperin Andi yang terlihat memelas. Si polisi ngotot. Kemudian polisi satunya lagi menyamperin kami (ada 4 polisi yang bertugas). Polisi tersebut melihat SIM gue tertulis nama asli gue.

            “Kamu orang Batak ya?” Tanya polisi ke teman.
            “Bukan saya tapi teman saya yang itu,” jawab Andi sambil menunjuk ke arahku.
Akhirnya si polisi tersebut memperkenalkan dirinya.
            “Saya Simanjuntak..”
            “Saya Barus…”
            “Kampungnya dimana Lae (Lae, saapan akrab untuk orang Batak)

Lalu terjadi dialog antara gue dengan Lae Simanjuntak. Obrolan singkat namun bermakna. Dan gara-gara Lae Simanjuntak kami lolos dari ‘setoran gelap’  sebesar 500.000 ke polisi yang lain. Bahkan Lae Simanjuntak menganjurkan agar yang mengemudi sebaiknya yang punya SIM. Karena di Samarinda pasti akan ada Razia lagi.
Dengan berat hati terpaksa Gue yang nyetir (aktivitas yang paling malas gue lakukan). Meski jaraknya tinggal dua jam lagi, tapi gue tetap ogah nyetir. Namun ketimbang kena razia lagi bisa-bisa uang 500 ribu bener-bener melayang. Nggak apa deh gue nyetir demi keselamatan jiwa dan raga serta isi kantong kami.

Oiya, sebelum berpisah dengan si polisi-polisi tadi, gue sempat nyodorin duit 50.000 ke tangan Lae Simanjuntak. Meski dia menolak tapi temannya yang emang mata duitan ngotot menerima uang tersebut.

(kalo boleh ber-say thanks, gue pengen berterimakasih sama Lae Simanjutak. Gue bener-bener appreciate to u Lae…)

SAMARINDA
Menjelang pukul 3 sore kami Nyampe di Samarinda. Teman gue langsung mampir ke Islamic centre Samarinda untuk sholat. Sebagia non Muslim, gue hanya menemani dan menyempatkan diri memotret masjid megah tersebut. sepanjang perjalanan ke Samarinda rasa ketakutan akan Razia ternyata tidak terbukti. Tau gitu mending gue nyuruh teman nyetir lagi ya. Terpaksa deh jadi supir sepanjang jalan ke Samarinda.



Selesai sholat, kami melanjutkan perjalan mencari makanan yang enak-enak. Tapi ternyata nggak nemu yang enak. Makan yang rasanya STD. ditanya sama warga setempat makanan yang khas di Samarinda yang ada mereka saling celingak celinguk. Ya, sudah lah, akhirnya  kami berkunjung ke rumah sodara teman gue. Kali ini kami memilih rebahan dulu menjelang malam. Karena badan masih terasa lelah dan ngantuk. Udara yang cukup gerah dan panas, membuat udara AC di kamar begitu menggoda untuk rebahan. Dan kami pun tertidurrrrrr….zzzzz……zzzzz…..zzzz….zzzzz

Jam 7 malam kami mulai beredar. Kali ini mencari makanan seafood. Katanya kalo ke Kalimantan (Banjar,Samarinda, Balikpapan atau Pontianak) jangan lupa cicipi Kepiting-nya. Ya sudahlah, kami pun mencariya. Dalam benak gue, kami akan makan seafood dipinggir sungai yang terbentang luas di Samarinda, sambil menikmati suasana malam disana. Tapi apa yang terjadi? Setelah muter-muter kota Samarinda yang terkesan sedikit semraut (di Balikpapan sangat tertib), akhirnya mobil masuk ke parkiran sebuah restoran seafood yang di luar bayangan gue. Kalo makan seafood di restoran yang serba tertutup di Jakarta mah bejibunnnnn..Ngapanin juga jauh-jauh ke Samarinda. Dan orderan yang dipesan juga datangnya lumayan lama. Sempat bikin perut kriuk-kriuk nggak beraturan.
Yang jelas rasa penasaran gue akan seafood Samarinda tidak terobati. Makanan malam itu rasanya juga berlabel B alias BIASA!


Karena malam semakin larut, kami kembali kerumah sodaranya Andi dan kami bermalam disitu. Lumayan nggak ngeluarin biaya untuk nginap di hotel!

DAY 2 BACK TO BALIKPAPAN

Selesai makan malam berlabel B tadi, kami nggak ada planning empuk untuk mencari destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Alhasil, setelah muter-muter nggak ada arah tujuan, kami pun kembali ke rumah sodara Andi. Berhubung besok pagi harus kembali ke Balikpapan, kami memilih tidur lebih awal agar stamina kembali segar bugar. Jadi sehari semalam di Samarinda kurang mendapatkan kesan di hati.  Yang terlihat sedikit berantakan dalam berlalu lintas. Berbeda dengan kota Balikpapan terlihat lebih disiplin, bersih dan juga banyak pilihan untuk kuliner.  

Pukul  8 pagi, setelah menikmati sarapan ala kadarnya, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan kembali ke Balikpapan. Masih dengan formasi yang sama, Gue, Irwan dan Andi, kami meninggalkan Samarinda yang masih kurang meninggalkan kesan manis bagi kami. Karena kami belum menemukan apa yang kami inginkan yang bisa menjadi ‘sesuatu’ yang bisa dikenang. Baik itu kulinernya, objek wisatanya atau juga khas yang ada di kota tersebut.

Perjalanan Samarinda ke Balikpapan lancar jaya. Tidak ada (lagi) razia dijalanan sepi. Semua lancar-lancar saja. Sehingga kami tiba di kota Balikpapan lebih awal dari jadwal yang kami perkirakan.  Sekitar pukul 10.30 pagi kami sudah tiba di Balikpapan. Masih panjang waktu tersisa di Balikpapan. Kami pun kembali menjelajahi kota yang penduduknya kebanyakan warga pendatang. Hampir setiap lokasi yang kami kunjungi banyak orang Makasar, Bone atau juga orang Indonesia Timur lainnya.

            “Memang betul, penduduk asli Balikpapan justru banyak yang mengungsi entah kemana. Meski masih ada tapi kebanyakan penduduk disini adalah pendatang,” ucap seorang warga yang usianya tergolong sepuh mengisahkan sejarah penduduk setempat. Bahkan saat kami kuliner pun justru makanan khas Sulawesi banyak merajai aneka kuliner disana. Tapi kami tetap mencari makanan khas di kota tersebut. meski sedikit susah. Ujung-ujungnya makan soto Banjar. Rasanya cukup menggairahkan jiwa yang lapar akan makanan enak. Dua porsi cukup membuat bibir gue tersenyum lebarrrr..!!

Selesai kuliner, kami kembali kerumah Irwan untuk rehat sejenak. Karena menjelang subuh kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Berau. Ya, perjalanan yang masih panjang menuju Pulau Derawan.

Seperti apa kisah selanjutnya…???

Tunggu ya, gue rehat sejenak…!!
  

Note:
Satu hal yang gue suka dengan kota Balikpapan adalah tertib lalulintas. Kotanya bersih dan juga tidak terlihat ada pengemis dan pengamen. 

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....