CURHAT SOBAT - 1 KEGALAUAN DIRI



Pagi itu, saat gue sedang memulai aktivitas pagi dengan ber-jogging-ria  diseputaran komplek rumah. Tiba-tiba hape gue berdering. Irama music yang sedang mengalun di earphone gue berubah menjadi nada ringtone. Gue ambil hape dari saku celana  dan melihat nama sobat baik gue di layar monitor.

“Halloo…”
“Ver, lo dimana?”
“Ada di Bandung. Lagi jogging. Why?”
“Am so stress, Ver. Please, help me?”
“What’s the problem?”
“Too much..!!! otak gue kayak over loaded menghadapinya.”
“Tell me..maybe I can help you, Dear…”

Karena sobat gue mau curhat, akhirnya gue mengambil posisi duduk yang nyaman untuk mendengarkan curhatnya. Maklum, orang curhat biasanya suka main ‘hantam kromo’ nggak pake etika dalam berbahasa alias nggak pake titik koma langsung tancap gas. Plusss..pake adegan menangis.

“So, what’s the problem?”
“Begini Ver…”

lalu, sobat gue pun mulai memuntahkan permasalahan hidupnya yang sepertinya setiap orang pernah, bahkan sudah mengalami fase-fase kegalauan seperti yang dirasakan sobat gue. (kita sebut saja deh nama sobat gue Mita).
Di usia yang sudah memasuki angka 24 tahun, Mita mengalami  masa kehilangan jati diri dini dan tidak percaya akan masa depannya. Sebagai seorang jurnalis berlabel  ‘kontrak’ di harian berbahasa Inggris di Ibukota, Mita  baru mendapat surat putus kontrak dari media tersebut. alias, masa kerja Mita di media tersebut tidak diperpanjang seperti yang diinginkannya. padahal Mita sangat begitu bangga bisa bekerja di media berskala internasional itu. Namun, apadaya, rasa bangga dan kagum kini padam bak api yang menyala-nyala kesiram air seember. Langsung padam sepadam-padamnnya!

Mita sempat mempertanyakan WHY…??  Namun perusahaan tetap punya penilainan tersendiri untuk setiap karyawan yang bekerja diperusahaan mereka. Mungkin bagi Mita dia sudah bekerja dengan maksimal dan dengan sepenuh hati. Namun, bagi perusahaan itu belum cukup sehingga kontrak kerja pun cukup setahun saja. Meleleh lah air mata Mita sederas-derasnya. Mita langsung menyalahkan dirinya. Menganggap dirinya tidak berguna. Tidak cerdas dan tidak dianggap penting diperusahaan tersebut, sehingga bagi Mita dia dibuang begitu saja setelah setahun mengabdi….

Dimata gue, Mita itu cewek yang smart! Jebolan Universitas negeri terkenal di kota Bandung, jurusan Sastra Inggris. Prestasinya di jalur pendidikan juga tidak minus melainkan plus. Karena nilainya selalu cumlaude. Mita juga sangat jago berbahasa Inggris (ya, iya lah..jebolan Sastra Inggris). Sidejob sebagai translator cukup banyak. Namun ada sedikit kelemahan dalam segi ‘IDELAISME’ . bagi Mita menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia itu bukanlah pekerjaan. Bagi Mita pekerja itu adalah orang yang bekerja disebuah perusahaan bonafid. Ya, meski dengan gaji yang pas-pasan. Padahal dengan mentranslate buku atau materi apa saja dari English to Indonesia, Mita bisa mengantongi upah minimal 5 juta per projek atau bahkan pernah mendapat 20 juta per projek. Tapi, lagi-agi Mita menganggap itu bukan pekerjaan karena sistemnya projek. Kalo sedang tidak ada projek berarti NGANGGUR! Kata Mita.

Masalah satu belum kelar, muncul masalah baru.

Saat pulang ke rumah ortu-nya untuk liburan weekend, maksud hati pengen merehatkan pikiran dari setumpuk permalsahaan, Mita malah diberondong bertanyaan yang bikin Mita semakin stress.
            “Mama itu cerewet banget! Kalo sudah pulang kerumah mulutnya nggak berhenti ngoceh. Bagi dia semua yang gue kerjakan salah dan bahkan gue dianggap anak yang nggak berguna. Ngehek banget nggak sih!!??” umpat Mita dengan suara parau.

Mita berterus terang kalau dia sudah tidak kerja di Koran tersebut. sang mama murka dan menganggap pekerjaan sebagai jurnalis itu kastanya rendah! Nggak punya masa depan. Buat apa ngotot pengen terus bekerja jadi jurnalis? Bahkan sang mama menyarankan Mita untuk cepat-cepat menikah dan tinggal di Garut kota kelahirannya.
            “Gila apa? Gue dipaksa nikah sama nyokap gara-gara gue bilang sudah tidak kerja lagi. Trus, emang nikah itu gampang? Nikah itu nggak pake proses? Pacar aja belum punya. Duh, kenapa hidup gue jadi ribet begini ya??” Mita terus menangis dan gue membiarkan dia mencurahkan segala unek-uneknya biar pikirannya plong! Gue nggak mau menggurui atau menambah beban pikirannya lagi dengan petuah-petuah ‘sampah’ yang dianggap nggak penting baginya. Karena dalam kondisi seperti ini Mita hanya butuh teman curhat bukan ceramah atau petuah.

Akhirnya, Mita memutuskan buru-buru menyelesaikan liburan singkatnya dan kembali ke kosan di Jakarta.  “Sebenarnya gue paling malas pulang ke rumah. Entah kenapa bayangan berhadapan dengan mama sama dengan berhadapan dengan Monster! Suka menuruti kehendaknya saja. Egois dan sadis! Makanya gue nggak pernah kangen sama beliau.”  

Tiba di kosan….

Mita dikagetkan lagi denga musibah baru. Kamar kosannya terbuka secara paksa. Ada bekas congkelan dan saat masuk ke dalam kamarnya, seisi kamarnya berantakan. Benda yang paling penting dalam hidupnya yaitu LAPTOP serta eksternal hard disc hilang serta beberapa benda-benda lainya. Mita semakin meraung. Isakan saja tidak cukup untuk melampiaskan kegundahan hatinya.

            “Maaf Ver, gue nggak sanggup menceritakannya. Nanti kita sambung lagi ya…”

KLIK!

Telpon pun disconnected!
Gue terdiam. Menatap keawan dengan tatapan kosong. Merenung sejenak dan menarik nafas dalam-dalam…

That’s life… 
Pesan moral yang dapat kita petik dari masalah ini adalah: Selalu bersyukur dan mengucap syukur. Karenakeluhan tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Besar kecilnya pendapatkan kita harus disyukuri dan dihargai….itu namanya Rezeki!


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....