CURHAT SOBAT 2 : TALAK CERAI

Foto taken from google



            “Iri deh ngelihat foto-foto elu dengan bini lo di Path. Mesra terus.”

Bbm singkat tersebut dikirim Eva menjelang malam tiba. Gue langsung merespon isi pesannya:
” Alaahhh, kayak elu dan laki lu nggak mesra aja. Kemana-mana selalu berdua”
“Hmmmm… itu dulu Ver…”
“Maksud lo?”
“Lo sibuk nggak, gue pengen curhat nih…”
“Curhat apa? Ntar ya, gue lagi nyetir. 30 menit lagi telpon gue aja.oke!!”
“Ok, Ver, ntar gue telp lu ya….”

Bbm singkat berakhir dan gue kembali fokus nyetir menuju pulang ke rumah. Gue sempat mikir isi bbm Eva. Apa maksudnya” Itu dulu,Ver?” Emang ada apa dia dengan Edo, suaminya?
Eva dan Edo sudah memasuki tahun keempat pernikahan mereka. Sejak menikah sampai sekarang terlihat selalu mesra dan kompak. Dimana ada Edo disitu ada Eva. Bahkan, sejak menikah dengan Eva, perekonomian Edo semakin membaik. Eva sangat jago ngatur keuangan. Edo yang pemboros, doyan ngafe di mall atau hang out dengan teman-temannya, kini mulai dikurangan. Eva menjatah uang jajan Edo. Berkat manajemen keuangan yang baik  Eva dan Edo pun berhasil menyisihkan penghasilan Edo untuk beli Apartemen bersubsidi CASH!

WOWW..!!!

Sebuah prestasi yang besar Edo bisa membeli apartemen. Karena selama ini Edo sangat tidak bisa mengatur keuangan. Uang keluar jauh lebih besar dari penghasilan yang dia dapat. Tidak heran kalo sampai usia mendekati angka 50 tahun, Edo belum juga punya rumah.
Oiya, Edo itu seorang duda yang sudah  dua kali gagal menikah. Memiliki tiga orang anak dari istri pertama dan kedua. Menikah dengan Eva merupakan untuk kali ketiga. Eva sebelumnya bekerja sebagai SPG parfum disalah satu mal terkemuka di Jakarta. Kepincut sama Edo yang doyan beli parfum. Sampai akhirnya mereka saling suka, jatuh cinta dan berniat menikah. Selang pacaran setahun, mereka pun menikah secara sederhana. Tapi sayang gue nggak bisa hadir dipernikahan mereka karena sedang berada diluar kota.

Singkat cerita, sejak sebelum nikah sampai memasuki tahun keempat pernikahan, mereka selalu terlihat akur dan serasi. Bahkan agenda akhir tahun mereka selalu dihabiskan di pulau Dewata. Kami sama-sama suka pulau Bali. Tidak heran kalau dua tahun berturut-turut gue menghabiskan tutup tahun bareng mereka. Party all night long. Berjemur di pantai Seminyak. Nge bir sambil enunggu sunset hingga menghabiskan malam-malam panjang di kafe sampe telerrrrr dan juga pelesiran kuliner kepenjuru pulau dewata.
Tiba dirumah, Eva benar-benar menelpon gue. Kelihatannnya pembicaraan ini sangat serius. Gue pun mendengarkan celoteh Eva dengan baik. Lalu Eva pun bercerita.

            “Ver, sepertinya aku dan Edo akan bercerai.”
            “APAAAA…!!!????”

sontak gue terkaget setengah mampus. Sumpah! Ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan. Seriously??
Eva pun melanjutkan ceritanya sambil sesekali terdengar suara isak tangis dari seberang.
            “Edo sudah mendaftarkan gugatan cerainya tanpa memberitahukan gue dulu. Gue kaget dan sangat tersinggung. Soalnya ini benar-benar sepihak, Ver..”

Menurut Eva, sepanjang mereka menikah empat tahun lalu, ternyata pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi. Wah, hebat juga mereka bisa menyembunyikan rahasia tersebut serapat mungkin. Menurut Eva, selama ini dia sangat bersabar dan mengalah melihat tingkah Edo yang masih teramat egois. Keras kepala. Tidak bisa dinasihati. Sehingga pertengkaran demi pertengkaran sering mewarnai hari-hari mereka.
            “Awalnya gue sabar, Ver. Tapi bayangin selama 4 tahun menikah selama itu juga kami sering bertengkar. Siapa yang tahan coba?”

Yang membikin gue kaget adalah, pertengkaran dipicu hanya masalah sepele yang berulang-ulang. Terutama soal disiplin, kebersihan dan juga soal anak. Edo lebih sering berpihak pada anak-anak atau bahkan tidak pernah menghargai jerih payah Eva yang sudah mendidik anak-anak Edo dengan baik.  Bagi Edo eva terlalu mengatur.
            “Kalo gue mengatur demi kebaikan apa itu salah??”

Eva menangis…
Isak tangisnya terdengar jelas.
Eva tidak kuasa menerima kenyataan sebentar lagi dia akan menyandang status janda.
            “Kalau tau endingnya seperti ini, gue ogah menikah sama dia, Ver. Gue pikir dia bisa berubah setelah mengalami dua kali kegagalan dalam berumah tangga. Kalau begini yang salah siapa coba??”

Hmm, jelas gue nggak bisa menilai siapa yang salah dan benar. Karena keduanya pasti punya argument yang berbeda. Juga masing-masing akan membela diri. Tapi, biar bagaimana pun, gue sangat menyesalkan tindakahn Edo yang sudah mendaftarkan gugatan cerai ke PA tanpa minta izin dulu ke Eva. Meski pada saat itu mereka sedang bertengkar hebat sehingga Eva memilih pulang kerumah orangtuanya. Berharap dengan kepulangannya ke rumah ortunya, mereka bisa saling cooling down. Tapi, apa yang diharapkan Eva keliru. Selama dua minggu ditunggu kehadiran Edo untuk menjemputnya, namun Edo tidak kunjung datang. Eva malah mendapat kabar yang mengejutkan kalau Edo sudah mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama.

            “Apa nggak bisa dirembukkan lagi, agar kalian tidak bercerai?”
            “gue nggak tau Ver. Kan yang menggugat dia. Kalo gue ditanya, justru nggak mau bercerai. Mungkin elu bisa menolong Ver, agar dia membatalkan gugatannya.”

Hmm, miris memang kalau dalam pernikahan EGO lebih diandalkan. Karena yang namanya pernikahan tidak ada yang aman-aman saja. Pasti ada pertengkaran, beda pendapat, marah, ribut dan segala tetek bengek lainnya. Namun. Jika semua bisa dilewatkan dan mengerem ego masing-masing, maka semuanya bisa berjalan seiring sejalan. TAPI, kalau salah satu lebih dominan dan lebih mengandalkan egonya, maka KARAM lah pernikahan yang sudah dibina selama empat taun ini….

Apakah gue bisa memberi masukan pada Edo???
We’ll see….


* Gue sih pengennya mereka tidak bercerai. Tapi, semua keputusan ada ditangan Edo…semoga dia bisa ngerem egonya.. karena umur sudah setengah abad juga.. masak mau menduda terus..???    

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....