Explore Cipanas - Garut Part 2

foto di papan petunjuk jalan di Cipanas, Garut

DAY 2

Bangun pagi mata langsung segar. Karena menghirup udara segar. Seakan nggak mau melewatkan liburan singkat dengan sia-sia. Pagi itu kami mulai dengan berenang (lagi). Mumpung masih sepi dikolam renang, karena ternyata kolam renang masih penuh sesak para perenang dadakan hingga dini hari. EDAN!!!! Nggak keriput tuh badan berenang berjam-jam??

Meski air terlihat semakin tidak jernih lagi, kami abaikan saja. Kami tetap berenang, menyelam dan lomba kecepatan berenang sambil menahan mulut agar tidak meminum air kolam. Kebayang joroknya tuh air kalau masuk ke dalam tenggorokan.

30 menit berenang, kami pun menyudahinya sambil membilas badan di kamar mandi yang memiliki bak raksasa. Selesai mandi langsung sarapan. (sarapannya minta diantar ke kemar) nasi goreng, telor ceplok dan kerupuk. Ya, sarapan standar ala hotel kelas melati. Sudah syukur dapat sarapan.

Selesai sarapan, kami ngider berjalan kaki. Sambil lihat-lihat suasana pagi. Kebetulan ada tempat penyewaan sepeda. Perjam 10 ribu. Kalau 3 jam 25 ribu. Jadi kami nyewa sepeda untuk eksplore Cipanas pagi-pagi.

ADU DOMBA
Mendayuh sepeda bukan hal baru bagi gue. Kebetulan gue suka olahraga sepeda. Jadi, pagi itu kami mendayuh sepeda mulai melewati perkampungan warga, persawahan, bukit hingga kembali ke perkampungan. Lumayan membakar kalori. Meski sempat ada adegan nyasar namun itu menjadi kisah yang unik. Karena dari hasil nanya-nanya sama warga sekitar, kami pun mendapat informasi kalau pagi itu di kampung ada ADU DOMBA (Ya, ini benar-benar adu domba. Bukan nyuri judul lagi Bang Rhoma). Kami pun bergegas kesana. Dari kejauhan sudah terdengar suara alat music khas sunda (seruling, gendang dan rebana). Beberapa warga juga berduyun-duyun datang ke lapangan terbuka yang biasa dibuat untuk hajatan massal.

Tiba dilapangan tersebut, kami melihat beberapa Domba yang sedang berdiri dan duduk dirumput lehernya terikat seuntai tali sambil menunggu giliran untuk di adu. Di tengah lapangan sedang berlangsung dua ekor domba saling unjuk keperkasaan. Saling adu kepala dengan tanduk melintang panjang. Warga yang datang dari segala usia. Mulai dari anak bayi yang digendong ibunya, segerombolan anak kecil, remaja, dewasa, bapak-bapak, ibu-ibu juga kakek-kakek. Komplit deh.

Acara Adu domba konon katanya digelar sebulan dua kali. Sudah merupakan kegiatan rutin yang menjadi ciri khas dan tradisi. Semua begitu antusias menyaksikan domba-domba beradu. Tapi berbeda dengan gue yang tidak tega melihat domba-domba tersebut diadu. Saling laga kepala dan tanduk. Siapa yang kuat dia pemenangnya. Sampai hitungan kesepulu, domba yang di adu selesai bertarung. Kemudian masuk domba berikutnya untuk adu keperkasaan lagi.
Selesai beradu, domba-domba tersebut melintas didepan gue. Terlihat jelas bagaimana letihnya mereka beradu. Dibagian kepala terlihat luka-luka bekas tanduk lawan. Hmm…. Kasihan dan miris…
Mungin gue tidak cocok datang ke acara tersebut. sebagai pecinta binatang gue paling anti ada hewan yang dianiaya, terluka atau diadu. Bagiku itu sama dengan penyiksaan yang dilegalkan dengan mengatas namakan TRADISI. Padahal, kalau mereka jeli dan peka, hewan yang dilaga atau di adu itu sama dengan menyiksa.

LOMBA BALAP KUDA

Akhirnya, meski acara adu domba belum selesai, gue dan teman memilih menyudahi menyaksikan peraduan tersebut. lebih baik kami menikmati alam pegunungan nan sejuk ketimbang harus menyaksikan domba-domba malang harus terluka. Tapi, ketika sedang asyik mendayuh sepeda, di lokasi yang berbeda kami melihat segerombolan orang  sedang berdiri. Bahkan banyak mobil dan motor berhenti. Rasa penasaran menghantarkan kami ketempat tersebut yang jaraknya tidak lebih 3 kilo meter dari tempat adu domba.
            “Ada apa kang, kok rame-rame?”
            “Ada adu balap kuda..”
            “Dimana?”
            “Tuh di dalam…” (sambil menunjuk kea rah lapangan terbuka)

kami pun bergegas hendak masuk karena rasa penasaran (lagi). Tapi sebelum masuk kami wajib membayar kontribusi sebesar Rp. 5000/orang. Kemudian kami pun masuk ke dalam lapangan yang dipenuhi banyak warga yang ingin menyaksikan lomba balap kuda. Lapangan terbuka yang terlihat kurang terawatt juga dibanjiri pedagang makanan dan minuman. Juga beberapa roda pedati yang terparkir. Ternyata pedati-pedati tersebut tidak berfungsi sebentara karena kuda yang menarik pedati tersebut sedang adu kecepatan diajak lomba balap kuda itu.
Karena perlombaan belum dimulai, kami memilih balik ke Hotel untuk check out dahulu. Karena jarum jam sudah mendekati angka 12 siang dan saatnya untuk check out. Seelsai Check out kami kembali ke arena balap kuda. Acara balap kuda pun sedang berlangsung. Kami bergegas untuk menyaksikan dari dekat.

Sangat menarik sebenarnya. Karena ajang lomba balap kuda sangat tradisional. Tempat perlombaannya (kandang lomba) juga sangat jadul. Lahan untuk arena lomba juga banyak bebatuan, tanah yang tidak landau bahkan cenderung bergelombang. Juga penonton yang begitu banyak sehingga membuat kuda-kuda tidak bisa konsentrasi saat berlomba.
Seperti biasa, dimana ada perlombaan disitu ada aktraksi tari-tarian dengan alat music tradisional. Cukup menarik menyaksikan para joki yang diarah-arak saat memeangkan perlombaan sambil berjoget-joget mengikuti irama musik gendang dan suling.

Tapi, pemandangan yang lagi-lagi membuat gue miris, ketika harus melihat kuda-kuda tersebut di PECUT sama cambuk sebelum bertanding sehingga kuda tersebut kesakitan dan meringkih. Hmm, kenapa harus disakiti????

Meski adu balap kuda belum tuntas, kami pun menyudahi menyaksikan balap kuda tersebut. factor utama karena siang itu matahari SANGAT terik dan membakar kulit. Sebaiknya kami beranjak dari tempat tersebut sebelum kulit kami berubah warna menjadi semakin KELAM. No!

OLEH-OLEH GARUT

Mobil kami pacu dengan kecepatan biasa-biasa saja. Karena siang itu kami masih ingin explore Garut dan sekitarnya. mencari panganan yang khas. Dan siang itu, sebelum makan siang, teman gue pengen beli Darokdok (kerupuk kulit khas Garut). Sebenarnya rasanya sama aja dengan kerupuk kulit lainnya, tapi menurut teman beda. Ya, mungkin dia lebih faham soal Darokdok karena dia dijuluki Darokdok man. Kemudian beli dodol garut yang sebenarnya udah biasa banget. Tapi nggak apa deh, namanya juga lagi di Garut. Tapi jujur gue nggak suka CHOCODUT. Rasanya gimana gituuu…!!!



CANDI CANGKUANG
Selesai belanja Oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Cangkuang yang berada di Desa Cangkuang Kecamatan Leles. Sebenarnya gue sudah cukup lama tau ada Candi Situ Cangkuang di Garut tapi untuk mengunjunginya selalu ada saja halangan. Maka itu, ini saatnya gue mengunjungi Candi yang ditemukan tahun 1966 dan konon katanya 60 persen batu-batu candi tersebut sudah tidak original lagi karena rusak. Tapi, masalah ketidak asliannya bukan menjadi kendala bagi gue. Karena gue bukan pakar arkeologi yang bisa meneliti satu persatu batu-batu yang ada di candi tersebut.

Tiba di Desa Cangkuang, mobil diparkirkan di tempat parkir yang luas. Untuk menuju Candi, kami harus menyeberangi daau atau Situ naik rakit yang terbuat dari bambu. Cukup menarik karena kami menikmati pemandangan Situ Cangkuang dari atas rakit bambu yang di dayuh oleh seorang petugas. Untuk naik rakit kita harus membayar Rp.4000/orang sudah PP. sedangkan masuk ke candi harus bayar Rp. 3000  dan Parkir Rp.7000. (mahalan di parkir ya…)

HISTORIS CANDI CANGKUANG
Nggak nyampe 10 menit diatas rakit, kami pun nyampe di sebuah pulau kecil tempat berdiri kokohnya Candi Cangkuang. Ada perkampungan yang hanya dihuni 6 kepala keluarga. Konon katanya punya historis tersendiri kenapa perkampungan tersebut hanya dihuni 6 kepala keluarga saja. (kalo diceritain disini bisa berlembar-lembar panjangnya).

Kami pun tiba di candi yang tergolong kecil. Karena ukuran canti tersebut tidak lebih dari 4.5 x 4.5 meter. Tapi biar bagaimana pun Candi tersebut cukup menarik untuk dikunjungi. Dikelilingi pohon-pohon besar nan rindang. Selain terdapat sebuah situs candi, di areal Candi Cangkuang Garut ini juga terdapat sebuah makam kuno dari batu yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai makamEmbah Dalem Arief Muhammad yang diyakini sebagai sesepuh pendiri daerah tersebut. Disamping itu, di kawasan Kampung Pulo ini juga terdapat cagar budaya yang berupa pemukiman adat masyarakat Kampung Pulo yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

Satu jam berada di sekitaran Candi, foto-foto, makan jagung bakar dan juga berinteraksi dengan warga setempat, lalu kami pun menyudahi exprole di Candi. Siang itu, kami memutuskan makan siang di sekitaran Candi juga. Tepatnya di Sari Cobek resotan. Suasanannya cukup adem, makan di sawung dipinggir kolam ikan mas lagi. Kali ini ikan masnya terlihat semakin kelaparan. Karena setiap apa yang kami kasih pasti dilahap.  Siang itu kami makan soup buntut, lalapan, karedok, temped an tahu goreng juga kerupuk. Lumayan mengenyangkan.

            Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju kota Bandung. Perjalanan yang tidak ramai sehingga kami bisa melaju pulang tanpa ada rasa dongkol karena macet. Bahkan saat melintasi jembatan Nagrek, kami sempatkan berhenti dan foto-fot sejenak. Coz, I love this bridge..!!
Dua jam perjalanan, kami pun tiba di kota Bandung menjelang sore. Ada rasa lelah, namun rasa puas sepanjang weekend bisa menikmati liburan di kota Garut dan Cipanas dengan segala keragamannya….

Menurut gue, ini liburan yang cukup murah meriah namun berkenan dan penuh cerita…

Kira-kira kemana destinasi berikutnya???

Wait and see…!!!





  

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....