Air Terjun Curug Malela : Keindahan Yang Terabaikan

Curug Malela

Sebelum memutuskan untuk nge-trip ke Curug Malela, terlebih dahulu gue mencari tahu info akuran tentang lokasi Curug Tersebut pada teman-teman trip yang sudah pernah kesana. Pertanyaan simple tapi PENTING!

“Eh, kalo ke Curug Malela, bagusnya naik mobil, angkot atau motor?” tanya gue penasaran. 
            “Mending lo naik motor deh. Kalo naik mobil kasihan mobil lu. Kalau naik angkot entar lu harus nyewa ojeg atau jalan kaki yang cukup jauh untuk bisa tiba disaan. ” terang teman gue. 

            “Hmmm…..”

Informasi yang sangat bermanfaat untuk gue yang akan pergi kesana. Secara sudah cukup lama rasa penasaran ingin menginjakkan kaki ke Curug Malela. Hanya saja, gue lupa menanyakan lebih detil jarak tempuh dan kondisi jalan disana. Ya, sudah lah, ntar juga bisa nanya-nanya sama orang yang kebetulan melintas. 

Air terjun Curug Malela sering disebut-sebut berada di kota Bandung. Meski sesungguhnya lokasi air terjun Curug Malela bukan berada di perkotaan kota  Bandung, melainkan di Kampung Manglid, Desa Cicadas, kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Ya, Jangakaunnya cukup jauh dari pusat kota Bandung. 


BACA JUGA: AMAZING CURUG CIMAHI


Akhirnya, dengan modal nekad, gue dan sahabat memutuskan pergi ke Curug Malela siang hari, setelah makan siang. Gue pikir jaraknya pasti cuma satu atau dua  jam dari rumah. Jadi mending berangkatnya siang hari saja. 


Gue mengabaikan mobil gue yang terparkir di garasi. Gue lebih memilih motor untuk pergi kesana. Motor Supra yang menurut gue sudah "renta" tapi masih layak pakai. Berhubung motor tersebut sudah cukup lama tidak dirawat dan jarang dipakai, Jadi wajar kalau ban motornya sudah gundul. Sebenarnya ada keraguan menaiki motor ini. Takut ditengah jalan bocor atau kempes. Bahaya nihh..!!

Tapi, entah kenapa lagi-lagi modal nekad sangat dominan dibenak gue. Akhirnya motor ban gundul tetap menjadi armada yang kami naiki. Biar terkesan berpetualang dan back to nature, kami sengaja membawa bekal makanan dari rumah. Membayangkan akan makan di bawah air terjun nan indah. Hmm.. tentu sangat berkesan bukan??



Curug Malela

Nyussss…..!!!

Perjalanan dimulai saat memasuki daerah CILILIN.  siang itu Jalanan sangat berdebu dan banyak lubang dikanan kiri jalan. Ditambah lagi kombinasi angkot yang suka berhenti seenaknya, juga truk-truk segede gaban silih berganti melewati motor kami. Tapi karena tidak harus buru-buru, kami tetap nyantai di atas kemudi.  Saat melewati pom bensin, gue mengisi bensin sampai full tank. Ya, siapa tahu disana tidak ada penjual bensin. Kan nggak lucu mau berpetualang tapi mogok karena kehabisan bensin. Ih, nggak moal banget sih...

BACA JUGA: THE LODGE MARIBAYA


 Kemudian melaju lagi…

Beberapa menit berlalu, kami sudah melewati Cilili-Cihampelas dan berhenti sejenak di jembatan Cihampelas (Ternyata di Cililin ada Cihampelas, lho. . View-nya lumayan oke untuk foto-foto. Airnya dan pepohonannya  fotogenik banget. karena setiap difoto hasilnya bagus. Jepret jepret sejenak serta ber-Selfie ria. 

Setelah itu kami melaju lagi….

Satu jam berllau, Gue mulai bertanya-tanya, “Masih jauh nggak ya?” akhirnya nanya ke pedagang buah-buahan dan jawabannya, adalahhh…!!

"Punten kang, Curug Malela masih jauh nggak?" tanya gue dengan  bahasa Sunda logat Batak. 

“Curug Malela, Mah masih jauhhhhh Kang," jawabnya dengan logat Sunda yang kental. 

Gue sempat ragu sama jawaban si penjual buah. Karena di benak gue, Curug Malela itu dekat dan cuma bisa ditempuh satu sampe dua jam saja. 
Lalu, kami melaju lagi dengan motor yang kecepatannya sangat terbatas. Mata kami tetap ‘awas’ melihat palang penunjuk jalan, apakah nama Curug Malela masih terlihat. Beberapa plang tidak mencantumkan nama tersebut sehinggu timbul keraguan apakah kami sudah melewati curug tersebut atau salah jalan? Kembali bertanya pada warga yang kebetulan berpapasan, Ternyata jawabannya tetap sama. sama-sama membuat aku dan sahabatdiambang keputus asaan.
            “Masih jauh Kang…. Kalau kesana jalannya rusak parah..”

WHAT?????

Hampir marah, kesal dan putus asa. Temanku menyarankan agar kami membatalkan niat kesana dan berbalik arah  pulang saja. Tapi, Berhubung gue bukan tipe manusia yang gampang putus asa. Kalau belum kesampaian rasanya nggak puas. Meski motor sudah mulai rewel, namun aku tetap ngotot pengen melihat secara langsung seperti apa keindahan Curug Malela itu.

Motor terus melaju dengan kecepatan lelet. Meski perjalanan masih jauh, tapi kami terhibur dengan pemandangan yang lumayan menggoda iman untuk bernarsis dan juga mengabadikan keindahan pemandanagnnya. Pepadian yang mulai menguning, pepohonan yang rimbun serta sungai yang megalir dipinggir padang-padang padi. Pemandangannya sangat menyejukkan mata.

Usai foto-foto, kami melanjutkan perjalan lagi. Kami memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan jarak yang kami tempuh agar tidak stress. Kami menikmati setiap perjalanan yang kami lewati. Tapi sayang, banyak jalan yang tidak bersahabat alias rusak parah. Mirip jaman batu, jalanan penuh bebatuan yang cadas dan runcing-runcing. Hmm..perpaduan antara jaman batu dan jaman perang..jaman batu karena bebatuan, jaman perang karena batunya runcing-runcing mirip bambu runcing yang dipake saat perang… (apa siiihhh!!!! )

Tidak terasa sudah 4 jam kami dalam perjalanan yang penuh putus asa dan kecewa. Curug Masih belum juga tampak. Meski kami sudah sedikit lega melihat petunjk jalan tertulis arah Curug Malela. Berarti kami tidak salah jalan. Semakin mendekai lokasi Curug Malela, jalanan yang kami lintasi semakin rusak parah. Banyak kubangan kerbau, Genangan lumpur yang besar, bebatuan yang semakin membesar. Hebat bener pemerintah daerah setempat yang TEGA mengabaikan jalanan yang begitu rusak parah. Sementara mereka menjadikan CURUG MALELA menjadi salah satu icon objek wisata di Jawa Barat. Namun infra sutruktur disana tidak diperhatikan. 

Konon kata warga yang gue ajak berbincang-bincang, pemimpin daerahnya selalu menjanjikan yang indah-indah akan memperbaiki jalan akses ke Curug. Namun, janji tersebut hanya berGEMA disaat kampanye dan menjelang pemilihan berlangsung. Setelah pemilihan pilkad usai, maka janji itu pun sirna tak berbekas alias melempem alias tidak terwujud…… 


As Ussual, janji-janji palsu sang Pejabat dikala Kampanye.

Sepanjang perjalanan menuju Curug, kami juga selalu berpapasan dengan truk pengangkat batu, pasir atau mengangkut apa saja lah yang melintas. Mungkin salah satu penyebab kenapa jalanan gampang rusak adalah truk-truk bermuatan berat yang selalu berwara-wiri tanpa ada kesadaran untuk berkontribusi memperbaiki jalan (atau jangan2 mereka juga sudah kerap kali dipalak warga untuk perbaikan jalan. We never know!!)

TIBA DI CURUG MALELA

And Finally….

Akhirnya, Air terjun mulai terlihat dari kejauhan. Dengan ketinggian sekitar 60 - 70 Meter dan lebar kurang lebih 50 meter, Air terjun Curug Malela bisa terlihat dari kejauhan. Hatiku mulai berseri-seri. Semangat yang mulai kendur kembali berkobar-kobar. Akhirnya gue bisa tiba di Curug Malela dengan selamat dan motor juga selamat tanpa ada gangguan… Entah kenapa gue begitu excited melihat air terjun yang konon dijuluki miniaturenya Niagara.
 (hmm… oke deh.. nggak apa-apa julukan itu. Tapi Jalannya Cuy diperhatiin)





Tiba di posko, terlihat sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sempat ragu, apa benar ini curug? Kok nggak ada pengunjung? Gue bertemu sama seorang bapak yang menawarkan jasa menjadi guide. Karena nggak demen di guide-in, gue memilih jalan sendiri ke bawah (lokasi) tanpa harus didampingi. Si bapak hanya menjadi penjaga motor kami. Si bapak juga bercerita kalo Curug hanya rame di hari-hari libur. Kalau hari biasa (seperti hari kunjungan gue, senen) sangat sepi.

Ya, bagus deh kalo sepi, jadi gue bisa  foto-foto dengan leluasa. 

Satu hal yang gue sayangkan…

Kenapa akses ke CURUG MALELA tidak diperhatikan oleh Pemerinta? Kenapa tidak dilestarikan? Kenapa tidak dijadikan objek wisata yang bisa menarik banyak perhatian. banyak pengunjung.  Apakah mereka tidak sadar kalau Curug Malela  sangat POTENSIAL menjadi objek wisata yang bisa menghasilkan uang. Yang bisa membuat warga setempat kecipratan rezeki dari banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi tersebut. 

Semoga ada kesadaran dan ada perhatian Pemerintah untuk melestarikannya. 


Amin..


HARGA TIKET MASUK:
Untuk kontribusi masuk ke lokasi, Anda dikenakan biaya sebesar Rp. 5000,- (minta tanda bukti kalau Anda sudah membayar. Karena untuk menghindari calo atau korupsi)


TIPS AND TRIPS:
1. Sebaiknya Datang ke Curug Malela jangan pas hari Libur. Karena akan mempersulit Anda berfoto dengan latar belakang yang bagus. Karena pada foto-foto Anda akan muncul "penampakan" turis-turis yang juga ingin foto narsis di depan Anda. So, pilih waktu yang tepat.

2. Saat foto-foto tetap waspada dan hati-hati. Air mengalir dengan deras, jangan sampai Anda terbawa arus. Utamakan keselamatan ketimbang foto selfie yang over dosis. 

3. Bawa bekal makanan jika ingin menikmati makanan yang Anda suka. Karena akses untuk membeli makanan yang nikmat cukup jauh. Kalaupun ada warung, hanya menjual jajanan seadanya. 

4. Bawa baju ganti jika ingin mandi-mandi. Sayang rasanya kalau tidak menikmati keindahan air terjun tanpa mandi-mandi bukan? 

5. Jangan buang sampah yang Anda. Biasakan menjaga kebersihan dimana anda berkunjung. Masukkan sampah sisa makanan Anda ke kantong plastik, lalu bawa kembali ke rumah Anda atau buang pada tempat sampah yang telah disediakan. MAri kita sama-sama menjaga kelestarian alam. oke buddies??!!





Add caption

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....