DASAR MONYET YA TETAP MONYET..!!!


Ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Uluwatu. Mungkin sudah lima atau keenam kali. Tapi tidak pernah ada bosan untuk datang dan datang lagi ke kawasan eksotis di ujung Selatan pulau Bali ini. Menurut saya berada di Uluwatu merupakan alternative lain selain harus bermain ke pantai dan pantai lagi. Dari ketinggian Uluwatu kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya. Melihat ritual sembahyang di pura dan juga menyaksikan tari Kecak dan Fire dance yang sering dilakukan menjelang sunset.
Selain terkenal dengan Pura dan Tari Kecak, lokasi ini juga terkenal dengan monyet-monyet yang terkenal nakal. Karena suka mengambil barang-barang pengunjung seenaknya. Beberapa kali berkunjung kesini, saya melihat beberapa turis sedang berurusan dengan monyet-monyet nakal tersebut. ada yang makanannya dirampas pasukan monyet, ada juga topi, kacamata dan bahkan perhiasan dibawa kabur si monyet-monyet badung itu. Tapi, selama kurun waktu itu, saya belum pernah mengalami nasib naas seperti yang dialami para turis lokal dan manca Negara. Mereka harus berurusan dengan pasukan monyet yang berakhir dengan tragis. Barang-barang mereka tak kunjung kembali ke pelukan. Yang ada umpatan, caci maki dan amarah. Tapi, apadaya, semua itu nggak ada gunanya.


Sampai pada hari naas yang tidak pernah saya inginkan. Memang betul apa kata pepatah, kalau sudah apes pasti akan mengalami ke apesan tanpa kita duga-duga. Ternyata kali ini, giliran saya yang mengalami nasib sial harus berurusan dengan pasukan monyet-monyet nakal. Padahal, saya sudah mewanti-wanti pada diri sendiri untuk waspada dan berhati-hati. Bahkan saya ogah berakrab ria dengan monyet-monyet itu. Karena ‘image nakal’ yang disandang mereka sudah mendunia. Cukup deh menghindar dan jangan sok beramah tamah dengan mereka. Dan itu sering saya lakukan setiap berkunjung ke Uluwatu.

Kejadiannya awal bulan lalu, ketika saya dan beberapa rombongan berkunjung ke Pura di Uluwatu sambil ingin menyaksikan tari kecak dan tari api menjelang sunset.  Sebelum memasuki kawasan Uluwatu saya sudah membaca tulisan berupa pengumuman, agar pengunjung berhati-hati terhadap barang-barang seperti kamera, anting, kalung, topi, kacamata dan makanan yang dibawa. Karena  monyet-monyet yang ada disekitar Uluwatu ini siap untuk mengintai barang-barang tersebut. Saya pun selalu berhati-hati akan barang-barang saya.. bahkan sangkin takutnya barang milikku berpindah tangan, topi yang biasa saya pakai setiap berpergian langsung saya copot. Begitu juga dengan hape dan kamera saya genggam erat-erat agar tidak menjadi target mereka.
Setelah merasa aman dan waspada, saya dan rombongan pun masuk menuruni anak tangga menuju tebing curam yang hanya dibatasi tembok berukuran satu meter. Semua sibuk dengan foto-foto. Tidak ketinggalan saya mengabadikan deburan ombak dari ketinggian tebing Uluwatu.
Tapi, ketika sedang asyik melihat bule sedang dikerubutin monyet-monyet nakal, saya mencoba menghindar karena takut menjadi sasaran mereka. Tapi, entah dari mana datangnya, tiba-tiba seekor monyet sudah berada persis di depan saya kemudian dengan sigap menarik kacamata hitam dari wajah saya. Sumpah, seperti terhipnotis ketika kacamata merk Police yang baru saya beli sebelum berangkat ke Bali. ketika kacamata sudah dibawa kabur saya baru tersadar dan mulai panik.
Dengan tanpa berdosa monyet sialan itu membengkok bengkokkan kacamata itu persis di depanku. Meski sudah saya bujuk agar mengembalikan kacamata tersebut sebelum dia merusaknya, namun sia-sia. Sampai akhirnya, dengan sedikit emosi saya hendak merampas kacamata dari genggamannya. Eh, dengan ganasnya si monyet mengaum dan menampakkan gigi-giginya dengan wajah marah. Saya pun mundur dan takut menjadi sasaran gigitan si monyet. Takut kena rabies. Karena salah satu penyebar rabies adalah hewan monyet.
Akhirnya, saya hanya bisa pasrah (meski tidak rela) melihat kacamata saya diremuk-remukan dilipat-lipat hingga tidak berwujud kacamata lagi. Mau marah tidak ada gunanya. Mau ditolongin sama pawang monyet  yang katanya bisa menyelamatkan barang-barang yang dicuri si monyet. Tapi, kalau sudah tidak berwujud lagi buat apa diselamatkan?? Iklaskan saja meski tidak rela.

            Pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini, meski sudah berkali-kali datang ke lokasi yang kita anggap sudah faham seluk beluknya. tidak ada salahnya tetap mematuhi peraturan yang berlaku. Jangan sok yakin dengan insting sendiri. Karena setelah kejadian kacamata seharga Rp. 2 juta melayang dan diremuk-remukan si monyet, baru deh saya kapok untuk membawa atau memakai barang yang harganya lumayan menguras kantong. Atau mending jangan datang ke lokasi ini lagi kalau sudah trauma yang mendalam.


Dasar monyet ya tetap saja monyet!!      

Comments

  1. Itu udah diajarin monyetnya bang ver, kalo ga dikasih duit/makanan dia ga akan ngembaliin.

    ReplyDelete
  2. betul RIo….kerja sama yg baik antar pedagang dan monyet…

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....