GADIS BERKERUDUNG DAN SEEKOR MERPATI



            Pertemuanku dengan gadis kecil berkerudung ini benar-benar tanpa disengaja. Tapi, seperti kata bijak, semua yang terjadi di dunia ini adalah rencana Tuhan. Ya, begitu juga dengan pertemuanku dengan gadis kecil ini….

Ceritanya begini…

Minggu pagi itu (7/12/14), aku dan teman baru saja nyampe di kawasan jalan Sudirman Jakarta. Seperti biasa, ketika sedang berada di Jakarta, hari minggu menjadi momen berolahraga  masal yang cukup menarik di jalan protokol ibukota yang dijuluki CFD alias Car free Day. Mungkin kalau tidak adaCFD, sangat mustahil aku bisa berjogging ria di seputaran Jalan Thamrin, Sudirman dan sekitarnya. Meski setiap minggu kawasan tersebut dipenuhi orang-orang yang hendak berlolahraga, but I really enjoy it.

Setelah motor sahabat diparkikan di tempat parkir dekat Tugu Sudirman, kami pun mulai melakukan jalan-jalan santai sambil merenggangkan otot-otot sebelum jogging dimulai. Tapi, ketika hendak melintasi sungai Ciliwung di seberang Stasiun kereta Sudirman, ada beberapa orang sedang melihat kearah sungai sambil berteriak,
” Heiii…ngapain disitu? Jangan lompat….” Teriak salah seorang dari beberapa orang yang berkerumun di atas jembatan.
Penasaran, aku dan teman langsung ikut melihat, ada apa  disitu? Ternyata seorang gadis remaja berkerudung (mungkin usianya sekitar 13 tahun), sedang duduk-duduk di atas pipa besar tempat saluran air dan dibawahnya sungai Ciliwung mengalir cukup deras. Karena malam harinya Jakarta baru diguyur hujan deras. Jadi air sungai pagi itu cukup besar. Gadis remaja itu sedang asyik ngobrol sendiri.  

Kaget!

Saat melihat gadis remaja berkerudung duduk-duduk di atas pipa besar, sementara dibawahnya sungai sedang berarus deras. Sempat mikir, jangan-jangan cewek ini sedang stress dan mau lompat bunuh diri. Maklum di Jakarta anything can be happen. Apalagi kulihat gadis remaja itu asyik bicara sendiri sambil memegang sesuatu ditangannya. Bahkan setiap diajak berbicara gadis remaja it uterus menunduk.
            “Ngapain disitu dik?” teriakku. “Awas, jangan duduk-duduk diistu, nanti kamu jatuh. Ayo pergi dari situ..” teriakku lagi.
Tapi, cewek itu diam saja. Dia tetap menunduk sambil mengelus-elus sesuatu ditangannya. Orang-orang yang hendak lari pagi pun semakin banyak melihat kearah gadis kecil itu.  Aku dan teman semakin penasaran…
            “Kamu megang apa dik?”
            “………” diam sejenak.
            “Kamu ngapain disitu?” tanyaku lagi.
            “Burung saya mati..”
Gadis kecil itu menoleh kearahku sambil menunjukkan sesuatu yang ada di dalam genggamannya. Seekor burung merpati berwarna kecoklatan tak berdaya.
            “Burungnya mati kenapa?”
            “Ditabrak mobil. Mau saya buang ke sungai, tapi saya masih sedih.”
            “Eh, jangan dibuang di sungai, dikubur saja.” Ucapku. Sambil menyuruh gadis kecil itu turun dari atas pipa besar. Karena posisinya sangat membahayakan. Seandainya dia terjatuh atau terpeleset, pasti akan terjatuh dan terbawa arus sungai yang deras.   
            “Sini burungnya biar saya bantu kuburin.” ucapku. Dan gadis kecil itu pun menuruti anjuranku. Saat aku menyuruh turun dari pipa tersebut pun gadis remaja itu turun. aku dan sahabatku sepakat untuk membantu menguburkan burung tersebut.
            Aku dan teman pun akhirnya mengurungkan niat lari pagi sejenak. Karena kami hendak membantu gadis kecil itu mengubur burung yang ada ditangannya. Ternyata di dekat sungai ada tangga kecil untuk akses turun ke  sungai. Kami pun menuruni anak tangga perlahan-lahan kemudian menghampiri gadis kecil itu.
Semakin dekat, semakin terlihat jelas kalau gadis itu sedang sedih. Tanganya terus menggenggam erat burung merpati yang sudah mati.
            “Ini burung siapa? Kok bisa mati?”
            “Ini burung saya kak. Tadi ketabrak mobil di jalan Blora langsung mati.”
Aku langsung terdiam. Ikut sedih mendengar ceritanya.  Burung tersebut langsung kupegang dan kuperhatikan kepala burung tersebut masih terlihat jelas ada gumpalan darah membeku. Kalau dari fisiknya burung tersebut tampak sehat dan terawat. Bahkan di ujung ekornya ada seuntai tali berwarna pertanda burung tersebut ada pemiliknya.
            “Trus, kenapa tadi mau dibuang ke sungai?”
            “Biar langsung terbawa air kak..”
            “Jangan dibuang ke sungai, kasihan.  Sebaiknya dikubur ditanah biar bangkainya juga larut dengan tanah. Kalau dibuang di sungai nanti bangkainya dimakan ikan atau hewan lain.”

Aku dan teman pun mencari alat untuk menggali tanah seukuran burung tersebut. gadis kecil itu menatap dengan sedih burung yang sudah kubungkus dengan plastik. Karena tidak ada batang kayu atau alat yang bisa menggali tanah basah tersebut, jalan satu-satunya batu runcing kami pakai untuk menggali kuburan untuk si Merpati malang itu.
            “Setiap hari burung ini saya ajak bermain. Saya terbangkan di sekitar Blora. Kalau sudah terbang pasti balik lagi ketangan saya. Tapi, tadi pas saya terbangkan, burung saya tertabrak mobil lewat,” cerita gadis itu. Aku tatap wajahnya yang terlihat sedih. 
            “Merpati  ini usinya berapa?”
            “Sudah dua tahun saya pelihara kak..”
            “Ohhh..”
            “Bapak kamu tau burung ini sudah mati?”
            “Tau…dan bapak juga sedih. Karena ini Merpati kesayangan saya dan bapak. “
            “Dirumah masih ada burung lagi?”
            “Masih kak. Ada 12 ekor.”
            “Ooo, banyak juga ya…”
“ Karena kami sekeluarga sayang dan senang memelihara burung, kak.”
Aku semakin terharu. Gadis kecil hidup dengan keluarga yang serba kekurangan, tapi masih memiliki hati nurani memelihara satwa dengan baik. ketika satwa kesayangannya mati, bisa kubayangkan gimana sedihnya perasaan dia.

Selesai menggali tanah, merpati malang itu aku masukkan ke dalam tanah. Sebelum dikubur aku menganjurkan untuk mendokan burung kesayangannya.
            “Kita berdoa untuk burungnya ya, dik?” ucapku.
Gadis kecil itu mengangguk, lalu dia memejamkan matanya  Selesai berdoa kami pun bersama-sama mengubru burung Merpati kesayangannya itu.
            “Nanti kalau kamu lewat sini pasti akan terus ingat burung kamu dikubur disini.”
            “Iya kak… terimakasih ya kak…”
Aku dan teman tersenyum, karena sudah membuat gadis kecil ini kembali tersenyum meski hatinya sedang berduka. Kami berhasil mengubur burung kesayangannya di tempat yang aman.

Pesan moral di minggu pagi ini, aku bisa berkenalan dengan seorang gadis remaja berkerudung yang hidupnya sangat serba kekurangan tapi memiliki hati untuk menyayangi dan merawat satwa peliharaannya.  Disatu sisi dia harus iklas kehilangan satwa kesayangannya disaat dia hendak bermain dengan merpati kesayangannya itu.

Touchy Story for me…







Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....