MY DOGS MY FAMILY PART 1

Bouffy Kimmy makan pepaya





Mungkin orang yang rajin ‘mengintip’ sosmed gue, pasti tau kalo gue sangat sayang pada hewan piaraan. Hati gue terlalu ringkih untuk melihat hewan-hewan terlantar (Stray dogs), teranyiaya apa lagi dengan sengaja dibunuh untuk kenikmatan nafsu sesaat. Kalo mengikuti emosi rasanya pengen mencabik-cabik orang-orang yang dengan tega melakukan ABUSED terhadap hewan (apa saja!)

Baiklah,

Gue pengen berkisah tentang anjing-anjing piaraan gue. Namanya Bouffy, Kimmy dan Ollie. Mereka bukan hanya sebatas hewan piaraan yang dianggap tidak butuh terlalu di sayang, dimanja atau diperhatikan berlebihan. Maksud elo? Emang kalo gue merawat mereka dengan baik, apa elu dirugikan? Nggak kan? So, Shut your mouth!

Kenapa gue begitu sayang pada doggy2 gue? Ya, karena gue ngerasa ada ‘kontak batin’ yang belum tentu orang lain merasakannya. Bahkan mungkin bini gue sendiri pun tidak merasakan kontak itu. (maybe!) dan juga pengen menebus kesalahan2 masa lalu gue.

Gue pengen flashback sedikit ke masa lalu, waktu masih imut2 dan masih tinggal di kampung nan jauh dimata.

Sejak kecil, sebenarnya gue sudah diperkenalkan hewan piaraan oleh orangtua gue. Bokap gue tuh sayang sama doggy. Sejak masih SD, kami sudah memelihara 2 ekor anjing kampung. Waktu masih kecil, gue nggak mengerti jenis-jenis anjing. Setau gue anjing ya tetep anjing nggak ada jenis atau rasnya. Apa lagi, waktu kecil, sejauh mata memandang yag terlihat anjing2 kampung semua. Jadi deh gue terdoktrin dengan anjing cuma ada satu jenis yaitu ANJING KAMPUNG! Fungsi bokap miara anjing mungkin untuk disayang sekaligus untuk menjaga rumah. Bokap seorang tentara. Dia menyuruh kami anak2nya mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dua ekor anjing kami yang diberi nama NICO dan BLACKY.  Tugas kami merawat, mengasih makan dan memandikan mereka.

Tapi, dasar masih anak kecil dan ‘belum’ merasakan sayang pada anjing yang sesungguhnya. Akhirnya, anjing2 yang ada dirumah dianggap sebagai HEWAN yang tugasnya cuma MENJAGA rumah. Bukan sebagai FAMILY atau TEMAN untuk bermain. Mereka tidur diluar rumah tidak boleh masuk ke dalam rumah. Meski rumah masih punya garasi mobil yang cukup luas untuk mereka berteduh. Juga halaman rumah yang juga luas untuk mereka bermain.
Tapi, kalo mereka masuk ke rumah langsung dibentak atau terkadang DIPUKUL pakai sapu. (aduh, kalo ingat masa itu gue ngerasa kok JAHAT banget ya pada mereka? Tidak hanya gue tapi sodara2 yang lain)
Bahkan, SADIS-nya lagi, ketika giliran mengasih makan doggy, gue cuma menumpukkan nasi SISA2 dari makan kami yang hanya tulang atau Duri2 ikan serta nasi yang penuh sambal. Lalu gue sodorkan ke piring mereka yang hampir menggunung karena sisa-sisa nasi kemaren masih ada dipiring tersebut. Mungkin begitu juga yang dilakukan kakak atau abang2 gue. Mereka sama tidak pedulinya terhadap nasib anjing yang ada dirumah. Sadis banget bukan? Bahkan kami tidak peduli kalo mereka juga nggak boleh makan yang pedas2. Makan duri ikan. Kalo keselek kan bahaya. Tapi kami tidak peduli.

Ketika bokap melihat tumpukan nasi basi di piring si doggy. Bokap langsung MURKA dan memarahi kami satu persatu. Nasihat demi nasihat dengan suara lantang dikumandangkan di depan kami. “Ngasi makan anjing bukan begitu! Harus begini..bla,..bla..bla..bla…”
Intinya bokap akan marah kalo kami ngasih makan doggy sembarangan. Nasi yang sudah basi di piring harus dibuang. Piringnya dibersihkan. Begitu deh…
Selain itu, kami jarang memandikan doggy, jarang mengurus deh. Sampai2 doggy2 jadi kutuan dan kutunya memiliki badan yang makmur Karena menghisap darah mereka. Kutunya banyakkkkk banget dan kami merasa jijik.!
Lagi2 bokap murka. Kami disuruh membersihkan kutu2nya. Memandikan sampai bersih…!!!

Intinya, waktu kecil anjing2 dirumah sangat memprihatinkan. Kurang kasih sayang dari aku dan keenam saudara2ku. Hanya bokap yang CARE sama mereka. Bahkan, tragisnya, ketika bokap dan gue jogging subuh, NICO dan BLACKY ikut menemani kami berlari. Dan naas, si NICO ketabrak mobil yang melaju dengan cepat. Saat itu memang hati kami sedih. Karena ditinggal pergi si doggy. Mayatnya kami kubur dipekarangan rumah.

Singkat cerita……

Kalau dihitung2 ada berapa ekor doggy yang kami peliharan silih berganti. Ada beberapa yang mati karena sakit ada juga terjangkit rabies dari anjing tetangga. Juga ada anjing kecil pemberian teman kakak gue yang mati dipangkuan kakak gue. Dan semua punya kenangan yang sulit dilupakan…

Kenangan yang paling membuat gue sedih adalah, ketika BOKAP meninggal (2007) Dua ekor anjing piaraanya pun begitu sedih atas kepergian bokap. Sangkin sedihnya, kedua anjing bokap duduk persis disebelah jenasah bokap. Wajah mereka begitu sedih. Selama dua hari mereka tidak mau pergi jauh dari jenasah bokap. Waktu itu aku sudah mulai membuka hati untuk menyayangi anjing.  Meski waktu itu aku jarang pulang ke Sumatra tapi setiap pulang pasti disambut gembira oleh dua anjing bokap. Mereka menyambut aku dengan buntut yang bergerak2.. mereka rindu!

Sejak bokap meninggal dengan pemandangan dua ‘teman’ kesayangannya menemani dia hingga jenasahnya dikuburkan. Aku bisa membayangkan betapa sedih dan terpukulnya hati mereka melihat TUAN nya yang begitu menyayani mereka pergi untuk selama2nya.  Dan sejak kepergian bokap, dua najing itu diasuh oleh kakak dan abangku. Dna gue yakin, mereka mengasuh hanya sebatas menjadikan mereka anjing piaraan. TIDAK ada kontak batin yang bisa membuat mereka menyambung rasa sayang bokap terhadap anjing2 itu…dan kabaranya kedua anjing bokap sudah meninggal juga (mewekkk…).

            Sejak kejadian dua doggy kesayangan bokap menemani kepergian bokap, disitu hatiku mulai terbuka. Dan mulai merasakan betapa anjing itu hewan yang sangaaaatttttttttttt setia pada tuannya. Sangat sayang dan memiliki rasa cinta tanpa batas.
Meski sejak kecil gue sudah diperkenalakn pada hewan (anjing) tapi hati ini masih menganggap mereka anjing yang nggak perlu disayang berlebihan…TAPI gue keliru.. gue salah dan gue merasa bersalah..!!

Akhirnya, gue ingin melanjutkan kebesaran hati bokap gue yang begitu sayang dan perhatian pada hewan piaraannya. Dan gue membuka hati gue lebar2 untuk memelihara anjing. Bukan sekedar sebagai hewan yang dianggap bertugas menjaga rumah. Melainkan hewan yang gue anggap sebagai teman bermain dan teman berkeluh kesah. Dan sejak itu gue membuka hati untuk menyediakan hati gue untuk menyelamatkan hewan2 terlantar, teraniaya atau juga yang membutuhkan bantuan. Meski hanya sebatas kemampuanku untuk menolongnya.

Bahkan, obsesi terbesar gue yang mudah2an bisa terwujud adalah, ingin membuat shelter untuk hewan2 terlantar. Padahal gue memiliki tanah yang lumayan luas untuk bisa dijadikan shelter. Hanya saja lokasi dan tempatnya cukup jauh dan terpencil. rasanya mustahil bisa dijadikan shelter kalau sulit terjangkau.  
Aku juga ingin mensosialisasikan pada umat2 di muka bumi ini, bahwa Anjing itu bukan makanan. Mereka hewan yang untuk dipeliharan. Jadi jangan jadikan mereka santapan untuk memenuhi kerakusan mulut anda. Juga anjing itu TIDAK GALAK! Elu aja yang ngecap anjing galak jadi parno sendiri…

Bagaimana cerita tentang ketiga anjing gue sekarang?

I will tell you in the next chapter……


Kimmy yang hampir mati karena Parvo

Bouffy si tomboy

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....