Cerita Tentang Menantang Maut di Pulau Derawan Part 2




Selesai nonton film ALL OF LOST yang dibintangi Robert Redford, film yang banyak menggambarkan kisah seseorang yang berjuang untuk bisa terus survive di tengah laut dengan fasilitas seadanya. Film itu membuat gue jadi teringat dengan pengalaman traveling gue saat pergi ke Pulau Derawan di Kalimantan Timur bersama travelmate gue.  Perjalanan menuju Pulau Derawan benar-benar penuh perjuangan yang banyak memberikan "arti" cerita dalam hidup gue. Dalam bayangan gue, pergi ke Pulau Derawan semudah seperti yang ada pada video-video yang gue lihat di chanel Youtube. ternyata, ntuk mencapai ke pulau tersebut gue dan travelmate harus berhadapan dengan cuaca yang tidak bersahabat. 

Sebelum ke pulau Derawan, gue juga sempat singgah ke beberapa kota dan tempat yang belum pernah gue singgahi. Mulai dari Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan dan beberapa kota kecil lainnya yang ada di kawasan Kalimantan dan sekitarnya. (KAlimantan itu luas banget cuy!) Sejujurnya, tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak gue akan bisa mampir ke kota-kota tersebut. 

BACA JUGA: PERJALANAN PANJANG MENUJU PULAU DERAWAN

Tapi, disini gue pengen berbagi kisah ketika gue berada di Pulau Derawan sampai ketika hendak meninggalkan Derawan. Dimuali dari perjalanan naik gue naik speedboad dari Derawan ke Berau.



Sejujurnya, sebelum tiba di Pulau Derawan, kami sudah ngerasa bakalan mengalami "apes" di pulau tersebut. Karena, setibanya di pulau kecil itu, Hujan deras langsung menyambut kedatangan kami. Awal yang "buruk" bagi gue. Yang namanya liburan ke pulau, tidak ada satu orangpun  menginginkan hujan. Karena rata-rata ingin menikmati pulau dengan terik matahari yang membuat semua terlihat indah. Lihat saja Pulau Derawan di foto-foto dan video yang berwara-wiri di sosmed, adakah yang menampilkan Derawan disaat hujan? tentu mereka memajang foto saat matahari mengganas, sehingga refleksi awan putih dan langit biru dikombinasikan air laut yang biru kehijauan menyempurnahkan foto-foto mereka. Semua terlihat indah. 

Nah, yang gue rasakan apa???

Beberapa hari di Derawan, gue mentasbihkan liburan kali ini merupakan liburan TER-GARING sepanjang perjalanan traveling gue. Memang betul sih, kami datang ke sana pada bulan yang sala. Bulan Desember. Bulan dimana identik dengan musim hujan. Tapi, sekarang kan kita tidak bisa memprediksi cuaca dan musim. TAhun kemaren saja, selama hampir enam bulan musim kemarau mengganas menyerang bumi pertiwi. Nah, alasan yang mendasar kenapa kami nekad Trip ke Derawan ya karena kami mendapat informasi kalau di Daerah Derawan dan sekitarnya sudah lama tidak datang hujan. Ya, sudahlah, langsung 

Cusss.. terbang...

Tujuannya apalagi kalau bukan meng-explore pulau Derawan dan pulau-pulau lain yang ada di sekitaran Derawan. Juga, pengen ber-sun-bathing di pulau yang begitu indah dilayar kaca. Tapi, mohon maaf pemirsa, selama beberapa hari di Derawan, tidak pernah sekalipun kami menikmati sinar matahari. yang ada huja, hujan dan hujan. Sepanjang hari awan terlihat gelap gulita, Semua ditutupi kabut hitam nan tebal dan kemudian disusul dengan hujan deras. 




Buyarrrrrr dahhh!!!

Sejak pagi hingga sore hujan turun dengan derasnya. Kami pun "terjebak" di dalam penginapan yang menyesakkan dada. Karena kami hanya bisa meratapi nasib kami mengendon di dalam kamar. Sumpah Liburan kali ini garing banget Sampai-sampai kami berharap agar bisa secepat mungkin angkat kaki dari Derawan. Karena mustahil kami berlama-lama di pulau ini. Tidak ada hiburan, tidak ada kafe atau resto mewah dan juga tidak ada aktivitas lain selain meratapi nasib. Hmm... kasihan dehh

SAATNYA MENINGGALKAN DERAWAN




Tiga hari "terjebak" di Pulau Derawan, kami pun memutuskan angkat kaki dari situ. Ternyata tidak mudah meninggalkan Derawan. Kami harus menunggu speedboat yang datang untuk mengantarkan kami ke Berau. Karena musim hujan, aktivitas speedboat sangat jarang. Kami pun harap-harap cemas. Takut tidak bisa meninggalkan Derawan. 

Sambil menunggu speedboat, kami hanya bisa duduk-duduk di dermaga menatap air laut yang hiaju. Mungkin Tuhan kasihan melihat kami, yang beberapa hari di Derawan tapi tidak pernah merasakan indahnya pulau itu. Tiba-tiba muncul matahari dengan ganasnya. Munculnya juga cuma sebentar. Alhasil, dengan kepanikan yang mirip orang udik melihat matahari, kami langsung foto-foto sepuas-puasnya dengan sinar matahari "kentang". bebrapa spot yang kami anggap menarik langsung kami jadikan latar belakang foto-foto kami. Ya, biar bisa dipajang di aku sosmed gue, juga bisa ngebohongi teman-teman kalau sepanjang liburan di Derawan semua berjalan dengan lancar dan  indah... 

Preettttt!!!!!

Padahal realitanya, selama beberapa hari di Derawan yang kami lihat air laut tidak jernih sebening kata. Justru berwarna butek karena nggak ada pantulan sinar matahari serta banyak sampah-sampah kiriman dibibir pantai. Jadi, kalau mengingat semua itu bisa nangis darah deh.
   



Akhirnya, speedboad datang juga. Kami pun riang gembira. Tapi sayang pengemudinya sempat menolak mengantar kami ke seberang dengan alasan penumpang tidak ada. Karena saat itu yang akan menyeberang hanya gue dan teman gue. Siang itu awan sudah kembali gelap gulita.  Gue berharap semoga ada penumpang lain yang mau menyeberang biar si pengemudi speedboad mau membawa speedboadnya. Tapi, setelah ditunggu hingga satu jam tidak kunjung ada jua. Akhirnya, terjadi negosiasi, kami mau membayar lebih dari tiket regular. Meski si supir meminta agar kami mencarter speedboadnya dengan harga yang cukup tinggi. Tapi kami keberatan. Kami hanya sanggup membayar dua kali lipat dari harga tiket regular. Tawar menawar semakin sengit karena awan semakin gelap. Gue sempat khawatir kalau nekad nyeberang dengan kondisi cuaca yang gelap.


Puji Tuha, si Pengemudi Speedboad bersedia mengantar kami nyeberang dengan harga tiga kali lipat dari harga biasa. Nggak apa-apa deh, yang penting bisa meninggalkan Derawan. 
Sebelum berangkat , gue berdoa dalam hati semoga dilindung Tuhan perjalanan kami. Gue juga langsung memasang pelampung (vest) di badan gue. Tapi teman gue ogah memasang dengan alasan sudah terbiasa naik kapal dalam kondisi cuaca ekstrim sekalipun. Ya, gue kan bukan dia. Gue sangat parno berada di tengah-tengah laut. Belum lagi gue tidak bisa berenang. Yang ada bisa mati duluan sebelum hanyut. 

Sebelum berangkat, gue perhatikan dengan seksama speedboad yang kami naiki. Sejujurnya sangat tidak layak pakai. Tapi, apaboleh buat.
"Pak, Speedboadnya aman nggak? Mesinnya sehatkan?" tanya gue memastikan. 
"Aman.. jangan khawatir. " jawabnya santai. 
Sementara dari penelikan gue, speedboad sangat abal-abal. Mesinnya nggak singkron dengan body. Disekujur body banyak tambalan-tambalan. Belum lagi alas speed boadnya (Bagian bawah kaki) sangat tipis dan hanya terbuat dari melamin. Kebayang kalo diinjak dengan keras pasti retak. Gue langsung parno dan mikir yang aneh-aneh. Gimana kalau speedboadnya pecah diterjang ombak? Gimana kalau mesinnya mati di tengah laut? Aduhhh serem bangettt!

Yang jelas....


Setelah beberapa menit meninggalkan Dermaga Derawan, si supir speedboad memberi aba-aba agar kami memakai pelampung. dia berteriak, "pakai Vest-nya. kayaknya ombak lagi besar nih" Teriaknya. 


Tuiiingggg!!!.. Mendengar aba-aba itu, nyali gue langsung kedurrrrr. Dan apa yang dia bilang terbukti.  Sepanjang perjalanan, speedboat yang kami tumpang beberapa kali melayang-layang di udara dengan tingginya. Karena ombak yang besar dan angin yang cukup kencang juga.  Karuan saja gue berteriak dan berdoa... "Omigoddd..!!" Kondisi yang gue rasakan benar-benar seperti diambang maut. Sumpah serammmmmm banget. Tapi  entah kenapa si supir tetap tenang. Begitu juga dengan teman gue yang merupakan anak pulau yang sudah terbiasa berhadapan dengan ombak besar. Sementara speedboad terus bergerak dengan kecepatan yang pelan. Karena kata si supir, kalau dilawan dengan kecepatan kencang bisa-bisa perahu akan pecah kena tamparan ombak. Belum lagi kami harus mencari jalur yang aman dari serangan gelombang besar. Aduhhhh..... Jarak yang sesungguhnya dekat tapi kala itu rasanya seperti jauh dan lamaaaaa banget. gue tak henti-hentinya berdoa agar speedboad kami cepat tiba di tepian. NAmun, relaitanya kami masih berada di tengah-tengah laut dengan kondisi cuaca yang gelap gulita, angin kencang gelombang tinggi. Mirip Film Life of Pi

Gue hanya bermohon Agar speedboat tidak kenapa-napa. Mesin tidak mati, body tidak pecah dan si supir bisa mengontrol jalan. Dan kami bisa sampai dengan selamat. 

Gue langsung membayangkan, gimana kalo speedboat becah.Kami terombang ambing dan gue yakin seyakin yakinnya pasti gue langsung mati. Sesjujurnya gue lebih memilih mati ketimbang harus terombang ambil di tengah laut yang tidak pasti. 


Selama hampir 30 menit perjalanan menyeberangi Pulau Derawan ke Berau, mata gue lebih banyak terpejam ketimbang memandangi gelapnya langit dan tingginya ombak. Dan, gue memilih duduk persis di tengah-tengah dan membungkukkan badan. Mirip orang sedang sholat gitu deh. I'm so scared Buddy! Dan, 
ketika ombak gede  mulai reda, gue mencoba membuka mata perlahan-lahan. gue melihat dari kejauhan dermaga Berau mulai terlihat. Gue langsung menarik nafas dalam-dalm sambil mengucap syukur pada Tuhan. 

Puji Tuhan.. Thanks Lord, setelah menantang maut di sepanjang perjalanan, speedboad kami pun akhirnya mendarat di dermaga.  Jadi, banyak pelajaran yang kita dapat setiap berpergian. seperti perjalan kali ini, Kita yang selalu merasa hebat, ternyata tidak tidak ada apa-apanya ketika berhadapan dengan ALAM. dan Alam benar-benar mengajarkan gue untuk sellau down to earth. Alam mengajarkan gue kalau manusia itu tidak ada apa-apanya. Jangan pernah menyombongkan diri. 








Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta