Kuliner : Sate Klopo Ondomohen, Ny. Asih Surabaya

Sate klopo Surabaya



Akhirnya gue dan teman-teman turun di Stasiun Gubeng, Surabaya setelah melakukan perjalanan 6 jam dari Banyuwangi. Tiba di kota Buaya, salah seorang teman memberi ide agar kami mencicipi Sate Klopo yang konon nge 'hits' banget di Surabaya. Meski menurut gue itu hanya sugesti. Tapi tidak ada salahnya juga mencicipi. Namanya juga kuliner, apa yang seru danhappening wajib untuk dicoba. Jangan cuma modal dengar doang tanpa pernah mencicipi. 

Hmm.. nyesal banget nantinya!


Kebetulan, siang itu, ada teman yang asli orang Surabaya dan bersedia nge-guideing kami selama beberapa jam di kotanya. Kemudian, kami pun digiring di menuju jalan Walikota Mustajab no.36. Kebayang dong gaya kami yang baru turun dari Gunung Ijen, lalu diajak makan sate dengan tentengan carrier segede gaban dipundak. Pokoknya benar- ala backpackers deh. Masing-masing memikul carries ukuran 65 kg, 45 kg dan berbagai tas kecil melilit dipinggang.  Gue sempat mikir, jangan-jangan orang mengira kami pengungsi dari mana.  Yaa, sutralah, dari stasiun kami jalan kaki sedikit hingga menuju tempat pemberhentian angkot, lalu kami naik angkot yang rutenya melewati jalan Walikota. Tujuannya kemana lagi kalau bukan ke Warung Sate Ny. Asih. Atau lebih kondang dengan nama Satel Klopo Ondomahen. 

BACA JUGA: THE JOURNEY TO IJEN, BANYUWANGI

Siang itu suasana rame banget. Katanya sih maalah keramaian sudah menjadi pemandangan biasa disini. Hmm, berarti benar juga apa kata orang. Kalau mau ke Sate Klopo ini harus sabara ngantrinya. Kami pun bersabar menunggu di depan warung dengan backpack dipundak. Beratttt cuy!!!

BACA JUGA: MENDAKI GUNUNG IJEN


Sementara asap senantiasa mengepul bak corong asap yang setiap saat mengeluarkan asap pembakaran. Mungkin ini cara Sate Klopo menyambut tamu-tamunya yang datang ya?   Meski sejujurnya gue nggak suka asap, karena bisa membuat gue sesak nafas dan pernah pingsan gara-gara asap. Hmm.. asap begitu dahsyat ya bisa membuat gue pingsan! Setelah berdiri dengan kesabaran ekstar, akhirnya ada pengunjung yang selesai makan dan langsung meninggalkan tempat duduknya. Kebayang kalau mereka masih ngerumpi meski makanan sudah habis, kelar deh kelaparan kami menggerogoti persendian tubuh. 





Sate klopo ny. Asih, Surabaya

Siang itu judulnya kami ditraktir teman yang ngajak kami kesini. Meski sempat tolak menolak soal tawar menawar (dan itu hal biasa. Ada yang pura-pura menolak tapi dalam hati sennag. Ada juga yang benar-benar tidak mau dibayarin. Kali ini, kami sih senang-sennag saja dibayarin. maklum, siang itu kami sudah lapar banget. Jadi hajar dehhh!!


PROSES PEMBUATAN SATE KLOPO

Teman kami menganjurkan agar kami memesan sate khas-nya, yaitu sate Klopo Sapi. Ada juga sate ayam. Ya, kami pesan aja semuanya biar bisa mencicipi. Karena penasaran gue pun memperhatikan proses pembuatan sate klopo hits itu. Sebelum di bakar ke tungku, ternyata sate dibaluri dulu pakai beberapa bumbu rasa yang sudah diolah. Kemudian, tusukan-tusukan sate  dibalurin dengan kelapa yang sudah di gongseng. Tau srundeng kan? Atau kelapa gongsneg? ya, gongsengan itu yang dibaluri ke selkujur tubuh si sate hingga merata. Kemudian, si sate di panggang atau dibakar di atas tungku. Proses pembakarannya pun sangat unik. Ya, kayak restoran "open kitchen" gitu deh. pembakaran dilakukan persis di depan pintu masuk warung. Jadi deh kepulan asap mewabah ke dalam warung. hmmm... harum semerbak plus batuk-batuk. 

BACA JUGA: TRECKING KE GUNUNG IJEN
Setelah dibakar dan diyakini dangingnya sudah empuk sate dihidangkan dengan ditaburi bumbu kacang, kecap, cabe iris dan bawang. Agar rasanya semakin menendang, cabe yang ada di bawah  tumbukan sate diulek-ulek dulu biar lebih terasa pedasnya.  Lalu, kami pun mencicipi satu persatu sate klopo dengan nikmatnya. Ada yang pake lontong dan pake nasi. Keduanya sama nikmatnya... Jujur, baru kali ini gue merasa nikmat yang luar biasa makan sate pakai bumbu kelapa. Entah karena lapar atau emang doyan ya? 

Yang jelas, pertama kali mencoba gue langsung suka dan berjanji akan datang lagi jika berkunjung ke Surabaya. 


Oiya, lupa!  Sebelum orderan kami datang, Kami sempat memesan cemilan sejenis bubur sumsum yang dihidangkan pake daun pisang. Bubur sumsumnya dicampur dengan ketan hitam dibalurin gula aren. 

Nikmat! 


Meski rasa bubur sumsumnya tidak jauh beda dengan bubur sumsum yang pernah gue cicipi di beberapa tempat.  Ada juga cenil (diolah pakai tepung kanji atau tapioka) dibaluri kelapa dan gula aren cair. Sepertinya semua hidangan siang itu terasa nikmat. Apa karena kami benar-benar lapar ya?  


Entahlah...


Sate klopo pakai lontong dan bumbu kelapa gongseng

Selesai makan, gue bener-benar puas dengan sate klopo dan cemilan lainnya. Gue pun bernai merekomendasikan kalau sate Klopo Ny. Asih benar-benar nagih.  


Dan, ada hal yang gue suka dari Sate Klopo Ny. Asih ini. Sebelum sukses seperti sekarang, sate Klopo yang merupakan warisan dari mertua atau orangtua sang suami (Haji. Shaloeky) awalnya mereka hanya berjualan di gang sempit yang diberi nama Ondomohen. Kemudian terus berkembang dan semakin laris manis. Dari hasil uang tabungan, mereka membeli tempat untuk berjualan di jalan Walikota. Ya, tujuannya agar saat berjualan tidak digusur-gusur.  

Bapak satu anak asal Madura ini memiliki kegiatan sosial yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain, yakni bersedekah dengan mobil ambulans. Ia membantu warga yang membutuhkan ambulans dengan harga murah, bahkan gratis. Ia hanya punya satu keyakinan, bahwa semakin banyak kita bersedekah, akan semakin banyak rezeki yang kita terima

Bapak Shaloeky bernazar, kelak kalau mendapat rezeki, ia ingin membeli ambulans untuk sedekah. Dan syukur, tak lama setelah bernazar, pada tahun 2010 Shaloeky mengaku mendapat rezeki. Salah satu sumber rezeki tentu saja dari warung sate kloponya yang juga sudah tenar sampai luar kota. Shaloeky lalu membeli mobil Suzuki APV baru seharga Rp 150 juta. Selanjutnya mobil tersebut ia bawa ke karoseri untuk dimodifikasi bagian dalam dan luarnya hingga menjadi sebuah mobil ambulans. Sejak itu, warga sekitar Jalan Ondomohen tidak pernah mengalami kesulitan lagi tatkala membutuhkan ambulans. Baik untuk perjalanan di dalam maupun luar kota Surabaya. Dalam perjalanan waktu, Shaloeky merasa sia-sia kalau ambulans itu hanya dimanfaatkan untuk warga kampungnya saja. Karena musibah tidak datang setiap hari, maka mobil itu akan lebih banyak menganggurnya. Padahal seharusnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lebih luas lagi.

Sebuah kisah yang snagat inspiratif dari pemilik sate Klopo ini. tidak banyak yang memiliki jiwa sosial seperti yang dimiliki pasangan suami istri ini...

pembelajaran juga bagi gue, kelak, jika memiliki usaha, bersosial jauh lebih mulia ketimbang memikirkan materi semata...

Sajian sate klopo Ny. Asih, Surabay

(cenil)

(Bubur sumsum)

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....