TREKKING KE GUNUNG IJEN




Trekking ke gunung Ijen sebenarnya tidak sesulit ketika gue naik gunung Rinjani. jarak tempuhnya juga nggak terlalu lama. hanya satu jam hingga 2 jam pendakian kita sudah sampai ke puncang Gunung Ijen. tapi, yang namanya naik gunung tentu rasa lelah itu pasti ada. begitu juga seperti yang gue alami. sempat kelelahan karena saat mendaki banyak debu yang terhirup membuat mata perih dan nafas nyesak...

Berbekal pengalaman naik gunung sebelumnya, kali ini, gue nggak membawa beban yang berat di dalam backpack gue. hanya minuman mineral, Pocarisweat dan tumbler berisi kopi susu panas. sangat NAMPOL banget minum kopi di udara dingin.  gue juga nggak mau ribet pake celana panjang dan jaket tebal setebal kulit badak menempel di badan. karena berdasarkan pengalaman lagi, setelah badan kita melakukan pendakian, niscaya keringat akan mengucur deras di badan. alhasil rasa gerah mulai muncul. dan satu persatu pakaian yang menempel dibadan dilepas. begitulah aku....

Akhirnya, dengan jaket tebal dan kaos tipis melekat dibadan, gue mulai melangkah mendaki perlahan tapi pasti. oiya, gue sengaja pakai sepatu mendaki (Hitec) supaya tidak mengalami cedera saat naik turun medan yang nggak jelas ritmenya.

Gue dan keempat sahabat melakukan pendakian secara acak. awalnya bersama2. lambat laun ada yang melemah dan ada juga yang staminanya tetap terjaga. dialah Mbak Wiwied. meski usianya hampir 60 tahun, tapi ibu dua anak ini luar biasa hebatnya. naik turun gunung sudah hal yang biasa dialakukan. maklum, dia atlit lari dan naik gunung. beberapa gunung tertinggi di indonesia pernah dia daki. ya, cukup salut deh gue dibuat ibu satu ini...selain itu, orangnya juga ceria dan cukup menghibur gue. dari kami berlima, ibu Wiwied juara satunya. gue juara dua dan teman yang lain dijuara berikutnya. 


Tiba di puncak Gunung Ijen, banyak penambang Belerang berlalu lalang dari dasar kawah sambil memikul keranjang berisi belerang yang beratnya mencapai 70-90 kg. cukup berat bukan? namun mereka memikulnya setiap hari. bayangkan betapa beratnya beban hidup mereka. tidak hanya beban hidup, resiko bertaruhkan nyawa juga mereka abaikan. ketika gue turun bawah untuk melihat lebih dekat kawah belerang, nafas gue saja sudah ngos-ngosan menuruni undakan-undakan bebatuan. sementara para penambang yang setiap hari melakukan rutinitas naik turun gunung sambil memikul belerang. miris...

Ketika melihat raut wajah mereka yang keras dan badan yang kurus, hati kecilku miris dan sedih. Ya Tuhan, beri mereka kekuatan agar bisa menjalani hidup dan terbebas dari mara bahaya... entah kenapa jiwa gue suka sensitif ketika melihat sesuatu yang menurut aku miris...

Menikmati kopi susu panas sambil duduk duduk manis  di tebing gunung dan menatap ke bawah kawah, Gue selalu mengucap syukur karena masih diberi kesehatan dan diberi hidup yang jauh lebih baik dari penambang-penambang itu. Gue masih bisa menikmati dan menjalani hidup dengan baik. tapi, tidak henti2nya gue mengucap syukur yang tiada terkira...

Terimakasih Tuhan, atas segala anugerahMu..
atas segala keindahan karya ciptaMu...


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....