CERITA DARI KAMAR 03 .....



Thanks Lord, akhirnya bini gue bisa kembali pulang ke rumah. Setelah hampir 4 hari beberapa hari bed rest  di rumah sakit, akibat Typus yang menyerang. Tidur di rumah sakit itu nggak enak! berbagi tempat tidur berukuran satu orang menjadi dua orang (karena gue tidur di kasur tempat bini gue tidur...hehhehehhe) badan rasanya mau remuk dan pegel2....

Ada kisah mengharukan selama ngendekam di rumah sakit. Bukan tentang bini gue. Melainkan tentang pasien yang ada di sebelah tempat tidur bini. Kebetulan, dalam satu ruangan ada 3 pasien. Sebenarnya, seharusnya  bini ditempatkan di ruang Kelas 1 yang penghuninya cuma dua orang. Tapi berhubung kelas 1 penuh, pihak RS menyediakan dua pilihan, mau ke kelas VIP atau turun ke kelas 2. Aku memilih kelas 2 karena jujur gue nggak suka berada di dalam ruangan yang sepi. Gue bisa nggak tidur semalaman karena bisa merasakan "sensasi" dunia lain yang cenderung banyak di RS. 

Alhasil, bini ditempatkan di kelas 2, kamar no 3. Diisi 3 orang pasien. Dua pasien kena Typus (salah satunya bini gue). Dan yang satunya kolaps gara-gara diabetes. (Seorang ibu tua berusia 60 tahun. tempat tidurnya persis bersebelahan dengan tempat tidur bini gue.) hanya dibatasi tirai yang menutupi ruangan. 

Ini kisah tentang ibu tua itu....

Setelah satu hari bed rest di kamar kelas 3, seorang pasien masuk dalam keadaan tidak sadarkan diri. Masuk ke dalam ruangan di dorong pakai tempat tidur roda. Di mulutnya menempel masker dan selang oksigen dan tabung oksigen ada di sebelah tempat tidur. Dua orang petugas rumah sakit mendodorong tempat tidur roda sampai pada posisi sempurna di dalam kamar. Disebelah petuas RS, ada dua orang pria dan wanita ikut mendampingi. Aku menebak kalau dua orang tersebut adalah anak dari si ibu. (dugaan gue tidak meleset. perempuan yang ikut mendampingi adalah anak si ibu, sedangkan yang laki menantunya)

Setelah diletakkan di kamar o3, petugas meninggalkan kamar. Disusul anak dan menantu si ibu. Mungkin mereka mengira si ibu akan tidur dengan nyenyak dalam beberapa jam karena efek obat tidur yang diberikan dokter. (sebelumnya si ibu berada di ruang IGD). satu jam setela berada di dalam kamar 03. Si ibu siuman alias terbangun dari tidurnya. kemudian dia memanggil-manggil nama anaknya..
"Evii...Eviii..." panggil si ibu dengan suara sangat pelan dan ringkih. 
mendengar si ibu memanggil anaknya, sementara si anak tidak ada di tempat, gue dan bini merespon si ibu.
"Mbak Evi-nya nggak ada bu. (padahal, kami belum berkenalan dgn anaknya)
"Eviii...Eviii..." panggil si ibu lagi. 
"Ada apa bu? mungkin bisa kami bantu." jawabku pelan, sambil menggeser tirai yang terbentang agar bisa melihat si ibu.
"Evi kemana?"
"Nggak tau bu.." 
"Saya ada dimana?" tanyanya lagi.
"Di rumah sakit bu." jawab gue.
"Kok ada disini?"

Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti keluar dari bibir si ibu. gue merespon dengan sabar. Kutatap wajah si ibu yang sedang memandang ke satu titik tanpa ada respon. sepertinya si ibu sedang melamun atau berpikir.

SATU JAM KEMUDIAN...

Setelah tanya jawab semakin "enak", gue dan bini mulai bertanya2 pada si ibu. menanyakan tinggal dimana, anaknya berapa, cucunya berapa dan sakit apa..
kebanyakan pertanyaan tidak dijawab karena si ibu LUPA. dia selalu mencoba mengingat tapi gagal. seperti,
"Anak ibu berapa?"
"Dua.."
"Namanya siapa?"
"Evi dan........" terdiam sambil mengingat.
"Cucu ibu berapa?"
"Dua..."
"Namanya?"
"Lupaa.." jawabnya pelan. 
"Ibu umurnya berapa?"
"60 tahun"

Karena banyak pertanyaan yang susah dijawab, gue jadi teringat dengan PENYAKIT LUPA yang sering diderita perempuan yang sudah manopouse. penyakit tersebut lebih dikenal dengan DEMENSIA bahkan ada yang menyebutnya Alzhemeir. Akhirnya gue mempersilahkan si ibu kembali beristirahat sambil menunggu anaknya datang. 

Menjelang malam, si anak datang membezuk bersama suaminya. akhirnya gue dan bini pun berkenalan. mereka bercerita kalau ibu mereka menderita DIABETES. dan sejak setahun lalu, setelah bapaknya meninggal, kesehatan si ibu langsung drop. (kebayang sedihnya ya, kehilangan soulmate). si anak juga bercerita, kalau si ibu juga punya penyakit LUPA alias Demensia. Ingatannya terus menurut apabila penyakit diabetesnya menyerang. 

KEESOKAN HARINYA...

Si ibu kembali memanggil-manggil nama anaknya. namun si anak sudah tidak ada di ruangan. Mungkin karena anaknya bekerja. Jadi, si anak tidak bisa 24 jam mendampingi. Lagi2 bini gue menemani si ibu ngobrol. Meski lagi2 obrolan sangat terbatas. karena si ibu sulit membuka memorinya. begitu juga ketika gue kembali datang ke RS menemani bini. si ibu mengira yang datang anaknya. 
"Eviii...Evii..."
"Mbak Evi-nya belum datang bu.." jawabku.
"Nak, ibu boleh minta tolong?" tanya si ibu.
"Minta tolong apa bu?"
"Tolong jagain ibu ya.. ibu takut sendirian.."

Aku dan bini langsung terhenyuk. sedih rasanya mendengar kalimat yang keluar dari bibir perempuan 60 tahun itu. kebayang seandainya dia adalah ibuku. dia pasti merasa kesepian, ketakutan. takut ditinggal sendiri. dan takut dengan penyakitnya.

"Nggak usah minta tolong bu. Kami pasti menemani ibu. apa yang ibu inginkan bilang saja. mungkin kami bisa membantu.." jawabku.
"ibu cuma minta tolong dijagain. ibu takut.." jawabnya lirik.

kami langsung mendekati si ibu dan membuat dia tersenyum. "Jangan takut ya bu. ada kami kok.."

Si ibu menggengam erat tanganku, sambil tersenyum."terimakasih,Nak.."

Pesan moralnya:
CINTAILAH IBUMU selagi beliau masih ada. jangan buat dia merasa diasingkan, ditinggalkan dan kesepian... 
  

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....