PENGORBANAN SEORANG ANAK JALANAN TERHADAP AYAHNYA


"Pagi kak..."
tiba-tiba pesan singkat masuk ke WA-ku.  Nama pengirimnya Sabeni. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku langsung membalas 
"Pagi juga,Ben.. Ada apa?"
"Sibuk nggak kak?"
"Hmm,tidak. Kenapa Ben?"
"Mau nanya kak.."
"Nanya Apa?"
"Kalau ini namanya penyakit apa ya kak?"

Kemudian dia mengirim foto lengan yang tidak begitu jelas. Aku sempat bingung dengan foto tersebut. 
"Itu foto apa? Kenapa?" tanyaku lagi.
"Itu foto ayahku,Kak. Tangannya bengkak dan belum sembuh2 juga.."
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah ke Puskesmas Kak. Tapi bapak tidka betah. Dokter juga nggak tahu sakit apa.."

Akhirnya, untuk lebih jelas, aku meminta dia mengirim beberapa foto lagi. Kemudian, foto dikirim lebih jelas. Lalu, aku mengirim foto tersebut pada teman seorang dokter. Menurut teman, kemungkinan yang bengkak itu adalah TUMOR. Aku langsung terdiam. Seandainya itu betul, berapa banyak biaya yang harus dia keluarkan untuk mengobati ayahnya. Lalu, aku Wasapan lagi dengannya...

"Ben, Bapak punya BPJS nggak? Kalo punya, langsung bawa ke RS saja. Biar langsung ditangani dokter."
"Kayaknya nggak punya Kak..."
"Kalo bisa urus deh. BPJS berguna banget untuk nanti berobat ayah kamu."
"berapa biayanya kak?"
"Ngurusnya nggak bayar. Tapi, ada iyuran bulanan. Coba urus deh.."

Entah kenapa, aku begitu gelisah melihat keadaan ayahnya. Takut terjadi hal2 yang tidak dinginkan. apalgi katanya bapaknya sempat putus asa dengan penyakitnya. 




Siapa Beni? tepatnya Sabeni...
dia adalah seorang anak jalanan yang aku kenal sejak lima tahun lalu. waktu itu, aku sering ikut menjadi Volunteer untuk mengajar anak2 jalanan di Kolong jembatan Grogol di depan Kampus Trisakti. Salah satu dari puluhan anak jalanan yang belajar di kolong tersebut adalah Sabeni. usianya sudah 17-an. Kehidupan sehari2nya ngamen dari bus ke bus. Atau ngamen dimana2. Kemudian hidupnya nggak jelas di jalanan.
Tapi, ketika ada Belajar Mengajar yang diprakarsai Sahabat Anak. Beni salah satu anak jalanan yang rajin ikut belajar. sampai akhirnya, dia melanjutkan pendidikannya pake PAKET C. dan dia bisa menyelesaikan sekolahnya yang tertinggal...

Kisah Beni cukup pilu bagiku...
meski jarang bertemu, tapi, setiap kali tidak datang ikut mengajar, Beni selalu menghubungiku lewat FB,"kak, kenapa tadi tidak datang??"
sampai akhirnya, kontak-kontakan terus terjalin...
Beni juga pernah menanyakan pekerjaan yang cocok untuk dia.."kerja apa saja kak. yang penting halal.."

Miris...
disaat orang susah seperti dia berjuang untuk mebantu keluarga mencari nafkah, tapi, pekerjaan itu sulit di dapat. sampai akhirnya, putus asa sering menghinggapi pikirannya..
"Sedih rasanya jadi orang tidak punya ya Kak.. Kita tidak pernah dihargai siapa-siapa.."
aku hanya memberi penghiburan," sabar... semua indah pada waktunya..."


Meski, tidak bisa membantu lebih banyak, tapi, aku sudah menganggap dia sebagai adik asuh. dia bebas mau bercerita apa saja padaku. berkeluh kesah tanpa sungkan. Meski anak jalanan, tapi, rasa hormat dan sopannya terhapaku begitu tinggi.
Bahkan, ketika ayahnya masuk rumah sakit, dia tidak lupa mengabarkan kepadaku perihat penyakit ayahnya... Sampai akhirnya, dengan sekuat tenaga aku mencoba membantu. Juga minta bantuan pada teman2 lewat FB....Meski hanya beberapa teman yang terketuk hatinya, bagiku itu tidak masalah....

Hampir setiap hari aku mengontrol keadaan ayahnya lewat telepon. menanyakan apakah sudah BPJS sudah diurus. bahkan, aku juga membujuk ayahnya agar mau dirawat di RS...

Semoga, sekecil apa pun pertolongan kita pada orang lain, bisa bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan...

Semoga Tuhan memberi kesehatan untuk ayah Beni yang tengah terbujur tak berdaya....Sembuhkan penyakitnya, Tuhan...


Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....