MISKIN KEBAHAGIAAN - KAYA MATERI ATAU SEBALIKNYA?


Mungkin gue Termasuk orang yang "bisa" hidup di semua kalangan/golongan, tanpa memikirkan apa, siapa,kenapa dan bagaimana mereka. Gue menjalani hidup layaknya air mengalir yang entah dimana berlabuhnya. Hanya saja, dalam pergaulan, mata dan telinga gue tidak akan pernah diam. Karena, dalam setiap pergaulan, gue bisa mendapat banyak "ilmu"  atau "cerita" yang bisa  bisa gue kisahkan. 
Karena Every person i met has a story to tell. Dan semua itu bisa menjadi cerminan bagi diri gue untuk menyikapi hidup. 

Karena....

Tidak selamanya yang jelek terlihat, akan jelek dalamnya..
Tidak semua yang cantik luarnya, akan cantik juga dalamnya...
Tidak semua yang terlihat bahagia luarnya, akan bahagia juga dalamnya..
Tidak semua yang terlihat miskin luarnya...akan miskin juga dalamnya...
Tidak semua yang kaya luarnya, akan kaya juga dalamnya...

Dan...

Semua cerminan itu benar-benar real..nyata..dan semua pernah gue lihat dengan mata kepala gue sendiri...

Ketika, gue berada di dalam lingkungan "high end", gue menyadari, ternyata mereka yang berkelimpahan materi, tidak selamanya menemukan kebahagiaan. Mereka hanya sudah ditakdirkan "lahir" dari keluarga tajir melintir. Tapi, soal kebahagiaan, ternyata dia "miskin semiskin-miskinnya" dia merasa hidupnya nothing! padahal, kalo gue lihat, hidup dia....
sangat enak..
sangat berkecukupan..
apa yang diminta ada... bahkan sebelum di minta juga sudah ada...
mau beli barang ber merek apa pun bisa..
pergi wisata kemana pun bisa..
mau makan di restoran mewah mana pun bisa..
nginap di hotel/villa mewah pun bisa..
Pokoknya everything is BISA....

Tapi...

kenapa dia ngerasa tidak bahagia??
kenapa dia ngerasa hidupnya hampa?
kenapa dia ngerasa hidupnya sia-sia?
bahkan...
kenapa dia sampai pengen bunuh diri segala???

Bagi dia, hidup yang diajalani selama ini hanyala FAKE!
Dia menjalani hidup smeata-mata DEMI GENGSI... Demi menyanggupi ke-gengsian keluargaya yang sudah terpatri sejak dia masih brojol ke bumi ini. 

Sampai akhirnya...
Suatu ketika..
Ketika dia sudah tidak sanggup lagi dengan kepalsuan hidup..
Kami pergi ke sebua vila mewah di Bali.
Dia brcerita...
Dia menangis...
Dia membatin...

Kalau... materi yang dia miliki selama ini tidak sanggup memenuhi rasa "haus"-nya akan kebahagiaan hidup yang real.. Materi hanya sanggup memenuhi kebutuhan Gengsi keluarga... Gengsi nama orangtua yang sudah terlanjur sangat popular..

So, bagi Anda yang merasa "miskin" materi, apakah hidup Anda "kaya" dengan kebahagiaan??? Atau Anda malah miskin materi juga miskin kebahagiaan? 
Kalo itu mah... 

DERITA LO SHAYYYY..!!!!!

So, make your life count...



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....