" I HATE PUASA......"

foto persahabatan sejati

"I HATE PUASA..!!!" Umpat teman gue saat ketemu dengannya kemaren malam.
"WHY???" tanya gue penasaran.
"Setiap bulan puasa, gue boros banget. Uang gue cepat ludes." jawabnya kesal.
"WHY???" tanya gue lagi.
"Soalnya setiap bulan puasa kebanyakan buka puasanya di resto,  kafe atau tempat-tempat keraiaman yang sedang happening lainnya." terangnya lagi.
"Kenapa lu nggak buka puasa di rumah? Pasti lebih hemat kan?"
"Soalnya banyak undangan buka puasa bareng sih. Jadi, mau nggak mau harus datang. Ntar kalo nggak datang dianggap nggak hits."
"Ooo, seperti itu? Trus, kenapa lu salahin puasanya? Kenapa lu benci puasanya? Justru yang harus lu benciin adalah diri elo yang belum bisa mengontrol hawa nafsu elu dong. Hawa nafsu untuk sebuah pengakuan."

Akhirnya obrolan seputar Puasa dan berbuka di tempat-tempat mewah dan mewajibkan dia harus mengeluarkan dana yang tidak sedikitpun terjadi.

foto desert sumoboo


Menurut teman gue yang merupakan "queen of sosmed", berbuka bersama teman-teman itu wajib hukumnya. Dimana pun tempatnya wajib didatangi. Semua itu demi sebuah eksistensi di sosial media. Emang sih, Sosmed itu besar banget pengaruhnya bagi mereka-mereka penggila pengakuan. Bayangkan, hanya gara2 pengakuan di sosmed, orang rela melakukan apa saja. Yang penting eksis.

Seperti teman gue tadi. Dia rela merogoh koceknya dalam-dalam selama bulan puasa, asal dia bisa up date status di sosmed dengan berganti2 teman berbuka, berganti2 tempat berbuka dan berganti2 kostum untuk berbuka. Juga berganti2 foto makanan saat berbuka. Semua berganti-ganti dan semua terjadi demi sebuah "LIKE" atau "LOVE "dari orang2 yang melihat akun sosmednya (FB, Insta,Path,Twit dll dll dll..)

Bahkan, belum selesai bulan puasa, konon katanya dia sudah menghabiskan uang lebih dari 10 juta demi berbuka puasa bersama teman2.

"Kok banyak ya??"tanya gue penasaran.
"Ya, iyalah.. untuk makan saja gue harus ngeluarin duit berapa? Beli baju  untuk berbuka berapa?  beli sepatu berapa? Tas berapa? Pokoknya banyak dah.."
"Jadi..??"
"Iya, dong, masak gue berbuka puasa pakaiannya itu2 doang? Ya harus ganti dong. Harus baru dan beda kalo di posting di sosmed.."

Hmmm... Baiklah....

Kalo begitu, kenapa yang disalahkan Bulan puasanya ya?
Seharusnya yang patut disalahkan ya dirinya sendiri bukan?
Karena dia belum bisa mengontrol nafsu "kekiniannya."
Bukannya Puasa mengajarkan untuk "MENAHAN" hawa dari segala hawa (nafsu)

fruits desert sumoboo

Sementara teman gue yang lain berkata sebaliknya. Selama bulan puasa dia merasa jauh lebih hemat. Karena dia cuma makan saat berbuka sekali doang. Dia juga bisa mengirit pengeluaran karena ritual makan siang selama satu bulan ditiadakan.  bahkan hampir seharian Tidak merokok, tidak ngopi dan juga tidak jajan-jajan yang sebelumnya sering dilakukan.
"Gue sangat suka bulan puasa. Karena selain hemat, gue juga bisa menguruskan badan." katanya sambil tersenyum.
"Jadi, tujuan lu puasa hanya untuk ngurusin badan doang?"
"Nggak juga sih. Yang jelas, setiap puasa berat badan gue pasti turun.Karena makannya dikit."
"Ooo begitu."

Jadi, dari dua kisah teman gue ini, Anda bisa menyimpulkan seperti apa pesan moralnya. atau jangan2 Anda merupakan one of the social media's queens & Kings? Yang sangat doyan pamer berbuka bersama dimana2. Sementara memaknai puasa sendiri hanya menunggu berbuka bersama doang. Selebihnya, ya.... mengurusin badan. Katanya begitu. Meski ada juga yang badanya semakin melebar karena lagi2 tidak bisa menahan hawa nafsu alias rakus saat berbuka. Ya, melar dong. 

Anyway, apakah puasa patut disalahkan??

Tentu tidak!!!

foto persahabatan

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....