OH, LOCAVORE UBUD....


foto: Locavore
Waktu itu, gue dan Jaja, teman gue, sedang bertugas di Bali. Tepatnya kawasan di Ubud. Kebetulan beberapa hari aktivitas kami dikerjakan di sekitaran Ubud. Nginapnya juga antara Ritz Carlton Mandapa dan Padma Ubud.  
Bosan mencicipi hidangan dari hotel, gue dan Jaja pun mencoba ngider wilayah Ubud untuk mencari santapan makan malam yang lezat. Sebelum meninggalkan hotel, teman gue sudah browsing restoran atau kafe yang recomended. Ya, minimal masuk ke dalam daftar resto rThe ebst atau ecomended versi trip Advisor atau sejenisnya. 

"Kayaknya kita coba Locavore deh. Soalnya dia masuk Asia's best 50 Reastaurant in Asia.."ujarnya. Tanpa pikir panjang, gue menyetujui ajakannya. 

Kami langsung meluncur ke kawasan pusat keramaian Ubud diantar supir mobil hotel. 

Locavore sendiri berada di jalan Dewi Sita Ubud. Setelah di drop sama supir di sekitaran Dewi Sita, kami mulai meraba2 mencari letak restoran tersebut. Dalam benak gue Locavore itu restoran yang BESAR dan MEGAH, jadi kami mencari resto yang berwujud besar-besar gitu deh. Setelah mencari dan bertanya sana sini... Eh, ternyata kami sudah beberapa kali melewati restoran tersebut. 

Kalo dilihat sepintas, restoran tersebut tidak ada yang istimewa. Bangunannya biasa-biasa saja. Kami sempat mikir, bener nggak sih ini resto yang kami cari? Tapi, di depan pintu masuk kami membaca tulisan Locavore. Berarti bener dong.

Sebelum melangkah  masuk ke dalam, kami sempat bingung nyari pintu masuknya mana??? Sumpah terkesan norak banget. Padahal nggak kampung2 banget hidup kami.  Tapi, akhirnya menemukan pintu masuk. Dan, sebelum masuk gue sempat melihat para chef sedang berkarya meracik makanan pesanan tamu. Mereka terlihat dari luar lewat kaca bening yang tembus ke bagian kitchen. Ya, namanya juga open kitchen, jadi kita bisa melihat mereka berkreasi. 

Saat pintu terbuka, kami disambut seorang pria, yang mungkin manager atau supervisornya. Dia menyambut dnegan ramah..
"Sudah booking tempat?"
"Hmmm...." gue dan teman saling berpandangan. Karena dengan yakin 100 persen datang kesini tanpa reservasi terlebih dahulu. Dan ternyata, restoran ini selalu penuh oleh pengunjung. Parahnya lagi, sebelum datang mereka sudah reservasi dulu baru nongol. Jangan kayak kami terlalu pede main datang saja. 

Akhirnya, karena tidak booking tempat terlebih dahulu, maka kami gagal deh mencicipi restoran yang banyak di recomended orang itu. Ya, meski konon katanya harga makanannya agak-agak mahal (mungkin karena target marjetnya bule kali ya...). Tapi, untuk sekali mencicipi nggak apa-apa kali ya mahal atau tidak. Jika mahalnya worth it dengan rasanya, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, jika mahal tapi tidak nendang, ya wassalam... Cukup sekali datang langsung Bhayyyy!!!

Sebelum meninggalkan resto tersebut gue melihat kesekeliling ruangan yang dipenuhi bule-bule. Konsep tempatnya memang sangat hommey. Meski sederhana tapi cozy. Ya, betah berlama2 disitu deh. Hanya sayang, kami tidak bisa mencicipi suasananya karena itu tadi... fully booked!

Foto: Locavore
foto: fb/locavore


Karena "ditolak" secara halus, karena tidak ada tempat, maka kami pun pindah haluan mencari tempat makan lainnya. pilihannya jatuh ke Indus Restaurant masih di kawasan Ubud juga. Dan malam itu kami pun menikmati santap malam di tempat yang tidak kalah cozy dan makanannya juga cukup lezat dan memuaskan. Soal harga, ya, layaknya restoran dengan segmen orang asing. Untuk berdua dengan aneka hidangan, kami harus merogoh kocek sekitar Rp.600 ribu saja...

Mahal nggak ya..??

Menurut gue masih mahal sihhh... karena gue cuma makan nasi Campur Bali dan hot tea. Sedangkan teman gue makan beberapa jenis hidangan yang mungkin menjadi penyebab harga melambung. 



Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....