KEMPING KE GUNUNG PAPANDAYAN & HUJAN YANG TAK KUNJUNG REDA

foto very barus


SETELAH reschedule hingga 3 kali, akhirnya rencana mendaki gunung Papandayan, Garut, terwujud juga. Ya, weekend kemaren (12 -14 Agustus), gue dan my best buddies (Deddy, Sari, Uli, Ayu, Wina dan Mbah Doddy) meluncur ke Garut, dengan mengendarai mobil Pajero Sport milik Mbah Doddy. 
Kesepakatan untuk TENG GO tanpa ada tunda-tunda lagi terwujud berkat kegelisahan gue dan beberapa teman yang sudah “ngebet” banget pengen ke Gunung Papandayan yang merupakan salah satu gunung terfavorit di Jawa Barat, dengan ketinggian 2.665 mdp. Meski sempat muncul keraguan dari beberapa peserta. Ditambah lagi satu orang sahabat kami yang tadinya pengen ikut terpaksa gagal akibat sakit Batuk yang kayaknya enggan beranjak dari tenggorokannya. Konon sudah lebih satu bulan batuknya dan sudah berbagai macam cara diobati. Tapi, teteeeeppppp  si batuk betah di tenggorokan. 

Batal ikut deh...

Jumat malam (12/8), gue and the genk sepakat ngumpul di Bakmi GM ThamCit. Kebetulan Uli, tinggal di apartemen tersebut. Supaya nggak jauh2 amat tempat ngumpulnya, kami pun sepakat bersatu padu disana.

Pukul 21:00 WIB

Kita sudah ngumpul, sambil makan bakmi yang menggoda birahi mulut. Tapi, karena gue sudah ngisi perut sebelum berangkat, ya sutralahhhh biarkan mereka mengunyah mie pangsit dan sekutunya selahap-lahapnya. 

pukul 22:00 WIB

Kita sepakat berangkat sambil memperkirakan berapa jam perjalanan menuju Garut plus macat di tol yang setiap weekend menjadi agenda rutin (ya, meski nggak weekends sama saja macatnya)

Sepanjang perjalanan tidak ada agenda yang terlewatkan dari yang namanya ketawa, mencela dan sebagainya. mulut sampe kram karena kebanyakan ketawa. Tapi, Sari, si ratu tidur, langsung merebahkan kepalanya disandaran kursi dan zzz...zzzzz..zzz. Dan karena kemacetan yang memang sangat tidak bersahabat, kita pun terjebak macet yang bikin bete. 

pukul 00:30 WIB
kami memutuskan istirahat sejenak di rest Area KM 39. Awalnya mau duduk-duduk manis sambil ngopi-ngopi di Indomart. Tapi, berhubung pengunjung Indomart yang begitu banyak dan doyan meninggalkan SAMPAH sembarangan, kami pun memutuskan berleha-leha di Starbucks saja. Selain sepi, juga asyik untuk rebahan sejenak sambil menunggu kemacetan reda. 


minuman pilihan di starbucks

Pesan minuman sesuai selera. Secara gue doyan Green tea latte, ya sudahlah, gue pesan itu saja. Oiya, berhubung Sari bekerja di Starbucks, minuman kami pun mendapat diskon yang lumayan dehhhhh……(Kalo ada Sari urusan diskon cincai lahhhh hehheheh)

foto persahabatan

Setelah adegan tidur2-an sejenak di Starbucks bisa menghilangkan rasa kantuk, kami pun melanjutkan perjalanan yang masih ditemani “macet”. Tapi, behubung selama di Starbucks gue belum “menidurkan” diri, maka sepanjang perjalanan menuju Garut mata gue bablas terpejam. Tanpa sadari kami ternyata melakukan adegan istirahat kedua di salahsatu pom bensin di Lumajang. Ya, sekitar pukul 05 subuh mobil terparkir dengan pasukan yang tertidur pulas di dalam mobil. Gue yang sudah terlelap sepanjang perjalanan akhirnya memilih duduk-duduk di warung sambil ngopi dan mencari sarapan. Eh…. ada nasi kuning di warung. Hajarrrr blehhh!!! Meski nasi kuningnya ala-ala gitu deh.. alias rasanya STD (standar cuy!)


foot very barus

Oiya….

Sejak pukul 22:00 WIB, sepanjang perjalanan kami sudah ditemani HUJAN. Sempat resah dan gelisah gitu deh. Waduh, jangan sampai saat naik gunung dan di tenda hujan masih juga turun, alamat tersiksa nih. Pokoknya kami berdoa terus semoga hujan berhenti saat kami tiba di Garut. 


Tapi, apa daya, sesampainya kami di Garut sekitar pukul 9 pagi, tepatnya di Camp David, yang merupakan tempat start awal mendaki dan juga tempat parkir para mengendara mobil dan sepeda motor. (tempatnya cukup luas dan nyaman kok). Meski hujan masih saja pamer kekuasaan. Apa boleh buat, kadung sudah di Bawah gunung Papandayan, kami pun maju tak gentar tetap menghadapi hujan. Kebetulan rain coat dan perlengkapan lainnya sudah kami persiapkan. Maka, hujan yang turun dengan tidak bersahabatnya kami hadapi dengan senyuman..Cieeeeee…!!!

Pukul 11:30 Pagi

Kami pun start trekking ke puncakPapandayan. Sebelum memulai aktivitas, kami sempat makan dulu di salah satu warung yang ada di Camp David. Makan ayam goreng, ikan asin, sambal dan nasi panas… busyettt nampol banget nih ikan asin. Justru kami lebih melahap ikan asin ketimbang ayam. Supah lezatttt bangettt!!! 

foto saat mendaki gunung papandayan


Setelah perut kenyang dan tenaga sudah di charger, kami langsung memulai trekking. Sementer, Deddy, terpaksa naik Ojek (cuyy) karena kondisinya emang kurang fit untuk mendaki. Syukur dia ikut naik gunung, kalo tidak ya gagal lagi deh…

Menurut gue, trekking menuju Puncak Papandayan tidak terlalu berat (bukan sok jago ya), dibandingkan mendaki Rinjani yang bujubuneeeee melelahkan banget. Beda dengan Papandayan yang lebih banyak rute yang landai. Kalaupun ada pendakian tidak begitu menyiksa. So, menurut gue, Papandayan masih “bersahabat’ bagi mereka yang mau coba-coba naik gunung. Karena nggak begitu berat kok. Percaya deh…

foto kebersamaan dengan sahabat


Selain itu, untuk mencapai Pondok Saladah, lokasi yang biasa dipake untuk mendirikan tenda cukup ditempuh selama dua jam. Ya, kalo banyak istirahat bisalah 3 jam.  Kebetulan gue dan teman-teman kebanyakan berhentinya. Nggak bisa lihat warung dikit, langsung berhenti, pesan kopi, makan pisang goreng, bakwan dan teman2nya. Ada juga yang jual semangka. Segerrrrr bangett!!!

So, kalo ke Papandayan jangan takut kelaparan deh. sampe puncak Saladah saja masih ada warung yang bisa memuaskan nafsu mamalia Anda. Pokoknya capek dikit berhenti. Apalagi sepanjang perjalanan trekking kami ditemani hujan. jadi deh perut pengen diisi terus. ditambah lagi pisang gorengnya enyaaakkkkkk bangetttt!! panas-panas gitu cuy!! cuma Rp.1000  harganya. Ya, sudahlah, tanpa terasa gue bisa melahap 5 sampai 10 pisang goreng.. (busyetttttt!!! lapar atau rakus??? entahlahhh!!)

foto very barus/pisang goreng


Sekitar pukul 14:00

Kami sudah nyampe di Pondok Saladah, tenda kami pun sudah di dirikan oleh porter yang memang kami sewa untuk membawa barang2 yang berat. (ya, namanya juga naik gunung santai) jadi, barang2 yang berat2 dibawain porter. Tenda sudah di dirikan, jadi, tiba dilokasi kami tinggal masuk ke dalam tenda sambil menunggu makan siang dan ngopi2. Kebetulan lagi, di lokasi tempat mendirikan tenda, ada beberapa rombongan juga yang mendirikan tenda. jadi deh bertemu teman2 baru. Saling bertukar cerita dan pengalaman. 

Meski sudah di tenda, tapi aktivitas terbatas akibat hujan yang emang BETAH banget turunnya. Nggak berhenti2 cuy. Mana udara semakin sore semakin dingin lagi. Jadi deh sepanjang hari itu kami hanya bisa duduk-duduk dan tidur-tiduran di dalam tenda. nyanyi2 dengan suara PECAH PARAH. nggak apa deh mending nyanyi2 dengan suara nggak jelas ketimbang badan menggigil karena menahan dingin. Sangkin dinginnya, kepala gue hampir migren. PAdahal sudah nutup kepala pake kupluk, celana panjang, kaos kaki, jaket, sarung tangan, syall dan sebagainya. pokoknya komplittt…


foto di dalam tenda

Menjelang malam hujan masih juga turun dan kami pun memasang api unggun untuk menangkal dingin.

Oiya, menjelang malam apesnya gue kebelet boker. mampus dah.. salah satu ritual yang paling gue tidak suka kalo kemping atau naik gunung adalah kebelet boket. Waduh… mana toiletnya agak jauh dari tenda. mikir gimana caranya ya..?? akhirnya atas saran mbah Dody gue terpaksa boket disemak2..(maaf..maafff… terpaksa dilakukan karena kebelet bangetttt… heheheh)

Selesai boker, langsung deh gue tidur. Soalnya udara semakin dingin dan hujan semakin sadis. Parah deh…Sakingkin tidak bersahabatnya, tenda kami kecipratan air hujan juga. masuk dari sela-sela tenda. dan sempat basah deh matras yang kami tiduri. Sumpah, PE-ER banget kalo kemping di musim hujan. Selain mehana dingin, juga wanti2 jangan sampai tenda kebanjiran.  Eh, sebelum tidur, kami sempat pesan gorengan 50.000 (kebayang banyaknya bukan?? sedangkan harga satu gorengan cuma 1000, belinya 50.000...alhasil sampe keesokan harinya kagak habis dan terbuang sia-sia...)


foto kebersamaan bersama sahabat

akhirnya, berharap malam cepat berlalu. Meski tidur tidak bisa nyenyak karena takut saja hujan deras menyerang. Terpaksa tidur-tidur ayam smabil berdoa supaya pagi cepat datang..

13 Agustus…

Morning guys…

Jangan resah.. pagi2 masih hujan juga cuy. Jadi asli deh kemping kali ini hujan kagak pergi2 dengan leluasa. Udara pagi pun terasa dingin. Sejauh mata memandang semua dikelilingi kabut. Kalo di foto terlihat keren sihhh meski tidak bisa melihat pemandangan gunung, lembah dan sekitarnya. Karena semua tertutup kabut. Untungnya, gue dan teman2 tetap menikmati dalam kondisi apapun. Foto2 tetap jalan terus kok. Malah tidak mau terkalahkan hanya gara2 hujan.. Betul nggak teman2??
foto Bunge edelweis di gunung papandayan


Selesai breakfast (nasi goreng yang lumayan enak), kami mulai deh melanjutkan penjelajahan di sekitar kawasan Gunung Papandayan. Karena ada beberapa lokasi yang wajib dikunjungi jika Anda kesini, yaitu, Kawah Papandayan, Hutan mati, Tegal Alun, Tegal panjang, Gober Hut, dan beberapa tempat lainnya. Tapi, karena hujan yang tidak berhenti, ada beberapa lokasi yang tidak bisa kami gapai karena lokasi tersebut BANJIR. Alhasil, kami cuma bisa ke Hutan mati dan taman Edelweis. Jalan menuju hutan mati dan taman edelweis juga benar2 berlumpur mirip kubangan kerbau. sepatu benar2 kotor banget. Trus, rain coat tidak bisa lepas dari badan ini kalau nekat melepasnya itu juga karena mau foto doang. masak selama di Papandayan semua foto pakai rain coat? ya jelek lahhh… Dibela2in basa2 dikit yang penting fotonya bagus hehehhehe

foto very barus


Penjelajahan di Hutan mati, Taman Edelweis dan sekitarnya kami lalui sambil menuju jalan turun ke bawah alias pulang ke Camp David. Lagi2 sejauh mata memandang ditutupi kabut. Meski ada sedikit rasa kecewa, tapi kami tetap bersyukur bisa menikmati every moment. kebersamaan yang selalu bikin gelak tawa itu yang terpenting. Mungkin next trip kami akan arrange ulang untuk datang kesini lagi. Gue juga tertantang pengen datang lagi dalam keadaan cuaca cerah ceria. Gue pengen menikmati pemandangannya secara NYATA….

pohon-pohon mati di hutan mati papandayan


Sekitar pukul 13: 00 WIB

kami tiba Camp David, tepatnya di warung tempat kami awalnya berangkat. Sudah tidak kuasa menahan dingin dan baju yang basah, kami pun Mulai berbenah, membuka baju kotor, sepatu kotor dan sebagainya kami bua dan ganti. Kemudian sebelum beranjak pulang, kami makan siang  dulu.. lagi2 ditemani sambal yang lezat bangetttt…Ikan asin yang juga juara ditemani nasi liwet yang sedappppp dahhh..

foto kaki beramai-ramai


And, finally, kami menyudahi weekend kami dengan penuh kesan. Semuanya terangkum dalam kisah di blog ini. dilengkapi foto2, serta video perjalanan yang akan menyusul. 

Thanks God..
Thanks my Buddies for a great adventure….

foto saat berada di Hutan mati, Gunung papandayan


Next Story, i will tell you, apa yang wajib dibawa sat ke Gunung dalam keadaan cuaca yang tidak menentu. Wait and see guys...


Baca juga perjalanan gue saat explore  Cipanas Garut disini
Juga perjalanan gue ke Kampung Sampireun, Garut disini

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....