Desa Tenganan, Bali - Tradisi Yang Tidak lekang Oleh Kemajuan Zaman

Desa tenganan - foto diambil dari google image

            Perjalanan menuju Desa Tenganan Pengeringsingan, sempat membuat saya dan ketiga sahabat menimbulkan perdebatan. Masalahnya kami berempat sama-sama buta rute menuju desa tersebut. Kami hanya mengandalkan jasa google map dan waze yang ada di smart phone. Tapi google map dan waze sempat menimbulkan ketidak akuratan informasi gara-gara ada gangguan signal di perjalanan, sehingga sering rute yang ada di google map dan waze juga mengalami keterlambatan memberi info bahkan sempat beberapa kali salah arah. Disini letak perdebatan antara saya dan teman yang bertugas sebagai navigator Google map.
Ketika keabsahan google map diragukan, kami kembali ke budaya yang malu bertanya sesat di jalan. Akhirnya kami bertanya langsung pada orang yang kebetulan berpapasan dengan kami. Petunjuk arah yang patut dipercaya kebenarannya. Setelah yakin dengan arah yang diberikan oleh orang tersebut, meski sempat bingung menentukan mana arah Timur, Selatan, Utara dan Barat. Karena setiap orang yang kami tanya, mereka memberi petunjuk jalan memalui arah mata angin. Sementara kami sudah terbiasa  dengan petunjuk arah “belok kiri dan belok kanan” . ketika mendapat petunjuk arah menggunakan metode arah mata angin (Utara, Timur, Selatan dan Barat) kami pun kebingungan.
            “Jadi, kami harus belok kiri atau ke kanan pak?” tanya saya.
            “Ya, ke arah utara, lalu belok ke selatan. Nanti dari selatan baru ke arah Barat.” Jawab si bapak tanpa rasa bersalah karena kami semakin bingung dibuatnya. (konon katanya warga Bali masih menggunakan metode penunjuk arah degan menggunakan arah mata angin). Jadi terpaksa kami harus bisa beradaptasi dengan petunjuk arah versi warga Bali.


Setelah menempuk perjalanan selama dua jam lebih dari Kuta, akhirnya kami tiba di Lokasi Desa Tenganan Pegeringsingan yang terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km jaraknya dari Kota Amlapura, Kabupaten Karangasem, 5 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasar.
Kami langsung bergegas keluar dari dalam mobil karena ingin melihat lebih dekat desa yang konon menjadi salah satu desa tradisional dari 3 desa yang tersisa di Bali. ketiga desa tersebut adalah Desa Tenganan, Desa Trunyan dan Desa Sembiran. Ketiga desa tersebut disebut Bali Aga (Pra Hindu) yang berarti bahwa mereka masih hidup dalam pola hidup masyarakat Bali asli. Mulai dari budaya, bahasa, mata mencaharian, bangunan tempat tinggal hingga adat istiadat yang masih murni dan diturunkan pada generasi mereka saat ini. Penduduk setempat sengaja menjaga keaslian desa tersebut  bahkan mereka tidak ingin budaya mereka terkontaminasi dengan arus globalisasi dan modernisasi yang semakin merasuki hampir semua wilayah di pulau Dewata.

Siang itu suasana Desa terlihat sepi. Di parkiran terlihat hanya ada beberapa mobil yang terparkir. Menurut penjaga parkir, sekarang lagi musim sepi kunjungan turis. Kalau sedang musim liburan, parkiran bisa penuh sampai ke bawah (sambil menunjuk area parkir disebelah)  sejujurnya saya lebih senang mengunjungi objek wisata atau desa tertinggal yang pengunjungnya tidak terlalu ramai. Dengan demikian saya bisa dengan leluasa menjelajahi desa tersebut tanpa harus ngantri dan berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Saya juga bisa dengan akrab bercengkrama pada penduduk setempat. Bertukar cerita untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam dan lengkap akan desa tersebut.



Sebelum masuk ke desa Tenganan, di area parkir saya melihat toko-toko kecil menjual aneka kerajinan tangan, souvenir hingga kain khas daerah setempat. Saya dan teman-teman hanya melihat-lihat sejenak tanpa membeli karena, kami ingin melihat ke dalam desa terlebih dahulu. Di dekat pintu masuk, terdapat pos penjaga dan seorang petugas yang mempersilahkan kami mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam desa. Tujuannya adalah untuk mendata jumlah pengunjung yang datang setiap harinya. Di buku tamu juga tertera sumbangan suka rela yang sebenarnya tidak wajib untuk dikasih. Namun, dari beberapa tamu yang sudah mengisi buku tamu, mereka mencantumkan jumlah nominal yang mereka sumbang untuk kepentingan desa tersebut. lalu, kami pun memberikan sumbangan sebesar Rp. 30 ribu sebagai tanda partisipasi kami akan kelestarian desa Tenganan.  Kemudian kami masuk ke desa melalu gapura yang berukuran lumayan kecil. Karena hanya bisa dilalui satu orang saja. Selebihnya desa tersebut dibatasi tembok. Ya, hampir sekeliling desa ditembok sebagai batas hunian desa tersebut.

            Saat kami masuk, kami disambut ramah oleh beberapa warga yang sedang duduk di kursi di bawah pohon rindang, dan di atas meja terdapat beberapa hasil kerajinan tangan yang khusus dijual untuk para turis. Kerajinan tangan yang dijual berupa aneka lukisan yang digambar di atas daun lontar kering kemudian dilukis di atas daun tersebut dengan tinta hitam yang terbuat dari buah kemiri yang sudah dibakar dan dihaluskan, sehingga menghasilkan tinta alami.
            “Silahkan lihat-lihat. Ini hasil kerajinan tangan. Lukisan ini dibuat di atas daun lontar dan dilukis dengan tinta alami.” ujar perempuan paruh baya sambil memperlihatkan kemahirannya melukis di atas daun. Tidak hanya perempuan paruh baya itu saja yang menjajakan hasil kerajinan tangannya. Beberapa pria yang juga duduk bersebelahan juga memperlihatkan kemahirannya melukis dan mengukir. Beberapa dari lhasil ukisan mereka berupa gambar pulau Bali, kalender, peta dan beberapa tulisan yang ditulis dalam beberapa bahasa (Inggris, Jerman, dan bahasa sangsekerta.)  
disebelah mereka, ada beberapa ayam yang dikurung dalam kandang. Keunikan dari ayam-ayam tersebut bulu-bulu mereka diwarnai aneka warna dengan pewarna makanan.
            “Ayamnya kenapa diwarnai bu?” tanya saya penasaran.
            “Supaya unik dan menarik,” jawab si ibu polos.
Saya jadi teringat dengan pedagang anak ayam di ibukota yang mewarnai anak-anak ayam tersebut dengan aneka warna agar menarik pembeli. Begitu juga dengan warga disini, sengaja mewarnai ayam-ayam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kandang berukuran kecil untuk dijual pada pengunjung desa tersebut.

foto diambil dari google image



KAIN TENUN DOUBLE IKAT ATAU KAIN GRINGSING

            Puas bercengkaram dengan pedagang lukisan, saya dan teman-teman melanjutkan masuk lebih dalam ke desa yang siang itu terlihat cukup sepi. Hanya beberapa warga yang terlihat duduk-duduk di depan pintu rumah dan di bale-bale. Hampir semua bentuk rumah di desa ini memiliki model bangunan yang sama. itu menjadi salah satu ciri khas desa ini. Bahkan di sepanjang tembok rumah terdapat beberapa patung-patung aneka rupa yang digantung di tembok, selain tujuannya untuk dijual, juga memperindah tembok-tembok disekitar desa tersebut.

foto diambil dari google image


Sebagai objek wisata budaya, Desa Tenganan memilih cukup banyak keunikan yang menarik untuk dilihat dan difahami. Selain warganya yang cukup ramah pada pendatang, mereka juga tidak pelit memberikan keterangan tentang desa mereka. Jadi kita tidak perlu memakai jasa guide untuk mendapat informasi tentang latar belakang desa ini. Ketika melewati sebuah rumah, kami disapa seorang pria paruh baya, kemudian mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya.
            “Mari, silahkan masuk. Lihat-lihat saja boleh…”
Semula saya beranggapan kalau pria tersebut akan menjebak kami untuk masuk ke dalam dan memaksa kami membeli dagangannya. Ternyata dugaan saya keliru. Ketika kami masuk ke dalam pekarangan rumahnya, dengan ramah pria tersebut memperlihatkan hasil kerajinan tangan yang telah mereka hasilkan bersama istri dan anak-anaknya. Mulai dari topeng-topeng wajah yang terbuat dari kayu, kain tenun, hiasan dinding dan beberapa kerajinan tangan lainnya.  Lalu pria tersebut memperkenalkan istrinya yang sedang asyik menenun.
            “Istri saya sedang menenun kain Gringsing,” ucap pria tersebut lagi.
            “Apa itu Kain Gringsing?” tanya saya penasaran.
Kemudian bapak dua anak itu pun menjelaskan kalau kain Gringsing itu merupakan kerajinan tenun double ikat. Gringsing itu sendiri memiliki arti yang punya filosophi dalam hidup.
            “Gering artinya sakit atau musibah. Sedangkan Sing artinya tidak.  Jadi Gringsing itu artinya penolak bala. Kita warga desa ini tidak menginginkan adanya bala atau musibah yang datang kesini,“ jelasnya membuat saya semakin mengerti kalau kain tenun Gringsing memiliki arti yang cukup kuat di desa ini bahkan di wilayah Bali.


foto diambil dari google image

Kain Gringsing dianggap langka karena proses pembuatan kain itu sendiri memakan waktu cukup lama. Hampir tiga tahun untuk menghasilkan kain Gringsing yang baik.
            “Karena proses pembuatannya dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan juga kerapihan, agar menghasilkan kain yang bagus. Itu sebabnya memakan waktu yang lama juga,” ucap istri pria tersebut sambil memperlihatkan cara memasukkan benang ke alat tenun yang ada dipangkuannya.
Keuletan dan ketelatenan perempuan tersebut terlihat jelas dari dia memadupadankan benang yang terdiri dari beberapa warna yang ada di tangannya, hingga menjadi satu keselarasan dengan hasil kain yang sudah ditenun.
            “Kalau salah warna gimana bu?” tanya saya penasaran.
            “Ya harus dibongkar lagi, diulang lagi. Jadi tidak boleh sembarangan untuk menenun kain Gringsing,” jelas perempuan yang sudah lebih dari 20 tahun menenun kain double ikat atau kain gringsing.  

Kain Gringsing sendiri ternyata sangat langka dan hanya ada di desa Tenganan saja. Tidak heran kalau harga sehelai kain Gringsing dipatok dengan harga yang lumayan mahal.
            “Kain Gringsing wajib dimiliki warga Tenganan. Karena kain ini menjadi salah satu perlengkapan wajib dimiliki dan dipakai untuk acara-acara adat.” Jelasnya.

Jadi, setiap warga harus memiliki kain tersebut sebagai salah satu kain wajib yang dipakai dalam acara-acara adat seperti Ngaben, (pembakaran jenazah), upacara potong gigi juga untuk acara-acara adat lainnya.

MAKARE-KARE (PERANG PANDAN)



            Karena sudah cukup banyak mendapat informasi dari sepasang suami istri nan baik hati itu, akhirnya saya dan teman sepakat membeli beberapa souvenir hasil karya mereka. (bukan kain tenun Gringsing karena cukup mahal). Mereka pun cukup senang karena kami membeli hasil karya mereka. Dan tidak sungkan menyuruh kami datang kembali ke rumah mereka jika sedang berada di Bali.
            Keluar dari rumah, saya dan teman-teman melihat beberapa pria sedang asyik duduk-duduk di bale-bale (balai desa) sambil bercengkaram. Kami pun menyapa mereka dan disambut dnegan ramah. Untuk lebih mengakrabkan diri, kami mencoba ikut nimbrung ditengah-tengah mereka. Ternyata mereka tidak keberatan. Justru banyak memberikan informasi tentang desa mereka.
            “Kalau kalian datang pada bulan Juni, kalian bisa melihat acara adat disini selama satu bulan penuh. Kalau sekarang sedang tidak ada kegiatan adat,”ucap salah seorang dari mereka.
            “Upacara adatnya apa pak?” tanya saya.
            “Makare-Kare atau Perang Pandan,” jawab mereka.
Saya mengangguk karena pernah beberapa kali membaca artikel tentang Perang Pandan. Namun baru kali ini kesampaian datang ke desa yang menyelenggarakan acara adat tersebut. hanya saja timing yang tidak pas membuat saya dan teman-teman tidak bisa melihat langsung acara Makare-Kare tersebut. sesuai namanya, alat yang dipergunakan untuk perang pandan itu adalah Daun Pandan yang telah dipotong-potong dengan ukuran panjang 30 cm. sebagai alat menangkis maka digunakanlah tameng agar bisa menangkis serangan lawan.
            “Sebenarnya Makare-Kare itu bagian dari upacara adat Ngusaba Sambah yang setiap tahunnya digelar. Jadi pas acara puncaknya digelar Perang Pandan,”



Makare-Kare sendiri wajib diikuti para lelaki yang merupakan warga Tenganan. Tapi tidak menutup kemungkinan orang lain (turis) ikut berpartisipasi untuk ikut perang Pandan Itu.
            “Asalkan sebelum ikut, harus mematuhi peraturan yang sudah ditentukan. Kalau ada luka-luka akibat kena serangan lawan, nanti bisa diobati pakai ramuan yang dibuat dari bahan alami,” ujar pria paruh baya yang mengaku sudah beberapa kali ikut Makare-Kare. “satu hal lagi, sebelum bertanding stamina harus prima,” lanjutnya.
Meski saat beradu, tubuh peserta terlihat luka dan berdarah-darah, namun menurut pengakuan pria-pria yang ada di bale-bale yang  mengaku semua pernah ikut Makare-Kare, saat bertanding luka itu tidak terasa apa-apa. Bahkan meski sudah bercucuran darah.
            “Mungkin sangkin semangatnya bertanding sehingga saat luka dan berdara-darah pun kami tidak merasakan apa-apa.” Jelasnya sambil tertawa. “Tapi, setelah perang usai, baru lah kami merasakan perih di beberapa bagian tubuh. Kemudian diobati dengan ramuan alami seperti laos, kunyit, umbi-umbian,” lanjutnya sambil terus tersenyum ramah kepada kami.
            “Atau sebelum bertanding peserta sudah dipasang ilmu kebal?” tanya saya.
            “Kebanyakan orang mengira seperti itu, padahal kami yang melakukannya tidak pernah memakai ilmu kebal. Kami melakukannya karena sudah turun temurun. Sudah biasa,” tegasnya untuk mengkis isu tentang ilmu kekebalan tubuh yang beredar.  
Satu hal yang menarik, pada acara Mekare-Kare, sebelum acara dimulai selalu diiringi dengan tetabuhan khas Desa tenganan yaitu gamelan Selonding.
            “Bulan Juni tahun depan datang saja kesini, kalian bisa melihat langsung acaranya dan kalau mau ikut berpartisipasi juga bisa. Pokoknya setiap bulan Juni pasti ramai dikunjungi turis-turis lokal dan mancanegara.”
Wah, ide yang menarik juga untuk dicoba tahun depan. Tapi, apa mungkin ikut bertanding?

MENJUNJUNG TINGGI ADAT ISTIADAT



            Puas mendapat informasi dari pria-pria yang tengah duduk-duduk di bale-bale, saya dan teman-teman melanjutkan rasa keinginan tau kami dengan menyusuri desa tersebut lebih dalam lagi.  Sambil melihat-lihat ukiran-iukiran yang tergantung ditembok-tembok rumah juga, menyapa beberapa warga yang sedang asyik duduk-duduk di depan rumah. di tengah perkampungan kami melihat beberapa orang sedang sibuk memasak beramai-ramai. Ada yang menyembelih ayam, ada yang memarut kelapa da nada juga yang menggoreng daging di wajan besar.  Disitu juga masih terlihat tenda berukuran sedang dan beberapa kursi-kursi. Pertanda baru diadakan hajatan besar.
            “Kemaren baru saja selesai hajatan kawinan. Kalau kemaren datang pasti bisa menikmati acara kawinan penduduk sini sambil menikmati hidangannya,” ucap seorang ibu sambil membersikan bulu ayam yang baru dipotong. “Sekarang ini beberapa panitia berkumpul untuk makan bersama, pertanda acara kemaren berjalan dengan baik,” lanjutnya lagi.
Terlihat jelas keakraban antar sesame penduduk. Saling gotong royong setiap ada perhelatan. Tidak heran kalau desa ini disebut sebagai desa yang sangat rukun antar warga.



Usai ngobrol dengan warga yang sedang bergotong royong memasak, kali ini kami berpapasan dengan seorang perempuan yang usianya sekitar 30 tahunan, perempuan itu sedang menjajakan dagangannya di keranjang.
            “Jualan apa bu?” tanya saya.
            “Ikan tuna pepes dan sate ikan. Mau nyoba?” perempuan itu menawarkan kepada kami sambil menurunkan keranjangnya dari atas kepalanya.  Terlihat beberapa bungkus ikan pepes yang masih hangat, juga beberapa tusuk sate ikan yang juga masih hangat dikeranjang yang satunya.
            “Ini baru saya buat dan hanya dijual disekitar sini saja,” jelas perempuan itu sambil menyodorkan pada kami masing-masing satu bungkus ikan pepes dan satu tusuk sate. Lalu kami pun mencicipi pepes buatan perempuan tersebut. Ternyata ikan pepesnya sangat enak, begitu juga dengan sate tuna-nya. Bumbunya terasa pas.
            “Wah, ikan dan satenya enak banget bu,Ini dibuat sendiri?“ tanya saya penasaran.
            “Iya. Ini ibu buat dan bahan-bahan bumbu penyedapnya juga saya ambil dari kebun sendiri,” jelasnya.

Selesai makan ikan pepes dan sate, akhirnya kami ngobrol-ngobrol sama perempuan itu di bale-bale yang ada di tengah-tengah desa. (disini ada 3 bale-bale atau Balai desa) yang usianya sudah cukup tua dan masih berfungsi sebagai tempat pertemuan).
Lalu perempuan itu bercerita kalau masyarakat desa di desa ini harus menikah dengan penduduk asli desa ini juga. Tidak boleh menikah dengan penduduk luar. Jika dilanggar maka mereka akan mendapatkan sangsi dikeluarkan dari desa ini.
            “Jadi, kalau menikah ya harus dengan warga disini juga. Kalau sampai menikah dengan orang luar, maka harus siap mendapat ganjaran dikeluarkan dari kampung ini,” tegasnya.

Menurut hukum perkawinan di desa ini, drajat laki-laki dan perempuan sama tingginya. Jadi dalam pembagian warisan maka laki-laki dan perempuan sama-sama mendapat bagian yang sama besar. Berbeda dengan sistem kekeluargaan yang dianut msyarakat Bali pada umumnya.



Meski desa ini terlihat tertinggal dan miskin, namun menurut perempuan ramah ini pandangan itu salah dan keliru. Karena penduduk desa tenganan bukanlah desa yang miskin. Justru tergolong desa yang kaya dan memiliki hasil bumi yang cukup berlimpah. Sangkin kayanya, setiap bulan masyarakatnya mendapat jatah beras satu karung per kepala rumah tangga, juga mendapat jatah uang sebesar Rp.1 juta perkeluarga.
            “Jadi jangan bilang desa Tenganan itu desa miskin. Itu salah. Biar begini, setiap bulan kita mendapat jatah beras dan uang Rp. 1 juta.” Terangnya sambil tersenyum.

Keunikan lain dari desa Tenganan adalah, setiap warga masih menggunakan sistem barter dalam berjualan. Jadi hasil kebun yang dimiliki warga bisa saling tukar menukar dengan hasil kebun lainnya dengan warga setempat. Hidup saling tolong menolong dan kerukunan antar warga setempat memang sangat kental. Jika ada yang melangsukan hajatan, maka sesame warga saling gotong royong membantu hajatan tersebut hingga acara yang digelar berakhir.

            Kami terus menelusuri desa yang cukup unik dan eksotik ini. Karena hampir semua rumah yang dihuni memiliki kesamaan bangunan yang sama persis satu dengan lainnya.  Mereka juga masih menggunakan kamar mandi umum yang terletak di depan di dekat balai desa.
Sampai berada pada pintu gerbang paling belakang pada desa ini, disana terdapat pohon besar yang bersebelahan dengan pura tempat sembahyang dan juga ada makam para leluhur mereka. Semua tertata dengan rapih dan bersih. 
Meski desa ini dibilang desa tertinggal, namun soal kebersihan patut diacungi jempol. Disetiap sudut balai desa juga dibeberapa sudut rumah terdapat tempat sampah. Penduduk setempat sejak dini sudah diajarkan tentang kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi wajar kalau desa tersebut terlihat begitu bersih.



            Rasanya ingin berlama-lama tinggal dan bercengkrama di desa ini. Karena penduduknya yang ramah juga keunikan tradisinya yang membuat saya ingin tinggal beberapa lama lagi di desa ini. Hanya saja, berhubung waktu tidak memungkinkan, maka satu hari waktu yang kami miliki kami pergunakan untuk memaksimalkan keingin tahuan kami akan desa Tenganan. Sebelum meninggalkan desa ini, saya sempat berpapasan dengan perempuan yang usianya sekitar 60 tahunan. Dengan ramah perempuan tua itu menyuruh kami singgah ke rumahnya.
            “Mari singgah. Masuk saja ke rumah saya…” ajaknya dengan senyum ramah.  Sebelum kaki kami melangkah, perempuan itu sudah melanjutkan ceritanya.  Bahwa dia adalah seorang janda yang ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya. “Suami saya meninggal kena serangan jantung. Padahal suami saya masih muda dan kuat. Tapi meninggal tiba-tiba.” Ucapnya sedih. Sejak ditinggal suaminya, perempuan itu banting tulang membesarkan anak-anaknya dengan berjualan di depan rumahnya dan juga menjual aneka kerajinan tangan yang dipajang di dalam rumahnya.
            “Rumah saya sempat dipakai syuting untuk fil  terbaru ibu Christine Hakim. Ibu Christine baik sekali. Dia tinggal disini beberapa minggu. Sampai filmnya selesai,’ ceritanya lagi.
Satu keunikan dari penduduk disini, mereka sangat senang bercerita. Meski tidak ditanya, mereka sudah bercerita panjang lebar tentang kehidupan dan tradisi disini.
            “Ibu christine memperbaiki pintu rumah saya. Juga memberi saya uang. Bahkan dia sempat mengajak saya nginap di hotel tempat dia menginap tapi saya malu, karena saya orang miskin dan tidak pernah nginap di hotel,” ucapnya malu-malu.



            Saya jadi penasaran, dan menunggu film terbaru Christine Hakim yang mengambil lokasi di Desa Tenganan, juga memakai setting rumah tua milik perempuan tua nan ramah ini.

Hmmm, pengalaman yang sangat menyenangkan bisa datang bercengkrama dengan masyarakat Desa Tenganan yang ramah. Semoga saya bisa datang dan menyaksikan acara Makare-Kare tahun depan. I wish!

Berikut tips untuk Anda yang berencana berkunjung ke Desa Tenganan.



1. Seabiknya Anda datang pada bulan juni, karena pada bulan itu diadakan upacara adat yang sering disebut pesta Pandan. Acara ini sangat menarik karena pepasang pemuda berlaga dengan menggunakan alat pandan. Banyak turis lokal dan manca Negara yang penasaran melihat pesta Pandan ini.

2. Sebaiknya datang kesini dari pagi hari, agar Anda bisa berinteraksi dengan penduduk setempat. Atau Anda bisa menginap di salah satu rumah penduduk untuk lebih mencari tahu tentang keunikan desa tersebut.

3. Kain tenun, lukisan, ukiran, anyaman dari daun lontar  Jika Anda tertarik dengan hasil kerajinan tersebut, sebaiknya Anda membelinya. itung-itung membantu dan melestarikan hasil karya mereka.

4. Cicipi makanan khas desa tersebut. Dengan senang hati mereka akan menawarkan pada Anda. Bersikap sopan dan ramahlah, karena penduduknya cukup ramah pada turis lokal dan manca Negara.


Ditulis oleh:

Very Barus
Penulis buku, Traveler dan fotografer

Comments

  1. saya sangat suka dengan tempat2 yang masih melestarikan kebudayaan. semoga bisa ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas...Saya juga demikian, sangat suka yang masih melestarikan budaya dan tradisi...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....