Mengunjungi Desa Panglipura, Bangli, Bali

Desa Panglipura, bangli, bali

            Tiba di Desa Palingpura Bangli, jarum jam sudah menunjukkan pukul 19:00 WITA. Saya dan ketiga sahabat sempat bingung, apakah kami bisa masuk ke dalam desa tersebut atau penduduk setempat memberlakukan jam kunjungan untuk pengunjung? Jika pun kami ditolak berkunjung ke desa Panglipura malam hari, kami akan memutuskan mencari penginapan yang ada di sekitar desa tersebut.
Rasa khawatir kami langsung sirna ketika berpapasan dengan beberapa pemuda yang sedang asyik nongkrong sambil bermain gitar disekitar area parkir.
            “Apakah disekitar desa ini ada penginapan?” tanya saya memastikan. Dengan ramah pria tersebut menjelaskan bahwa biasanya penduduk setempat menyediakan Guest house untuk pengunjung yang ingin menginap di desa Panglipura. Tapi, biasanya harus booking dari jauh-jauh hari terlebih dahulu. Jadi warga yang rumahnya ingin disewa bisa menyiapkan kamar yang hendak dipakai,”
            “Tapi, di desa ini juga ada penginapan yang biasanya dipakai untuk pejabat atau orang-orang penting yang sedang berkunjung kesini,” ucap pria tersebut sambil menunjuk 3 penginapan berjejer saling berdekatan tampak dari luar bangunanya sebagian terbuat dari bambu-bambu.
Desa Panglipura, bangli, Bali, Denpasar

Beruntungnya, malam itu kami bisa menginap di penginapan yang biasa dipakai untuk pejabat dan orang penting dengan tarif diskon hingga 50 persen, dari harga Rp.500 ribu/malam menjadi Rp. 250 ribu/malam, ketika masuk ke dalam penginapan, kami serasa nginap disebuah hotel mewah. Lengkap dengan bathup dan tempat tidur dengan kelambu terjuntai panjang dari atas langit-langit kamar sampai ke bawah tempat tidur. Hmmm, seperti sedang honeymoon saja.


Berhubung badan terasa lengket dan kucel setelah seharian explore Bali, saya dan teman-teman memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum  mencari makan malam sambil ngider ke rumah-rumah penduduk untuk melihat aktivitas mereka di malam hari. Udara malam itu terasa lumayan dingin. Maklum lah, Desa Panglipura berada di ketinggian 700 mdpl, untung saja penginapan yang kami sewa menyediakan fasilitas water heater, jadi kami bisa mandi tanpa takut kedinginan.
“Kalau mau makan malam di rumah penduduk ada yang punya warung makanan.Datang saja kesana, dekat kok.” ucap Yoga, pria yang bertugas sebagai pengurus penginapan bagi siapa saja yang hendak menginap di tempat itu.
             Selesai mandi kami langsung mencari warung makan seperti yang dibilang Yoga. Ternyatalokasinya tidak jauh dari penginapan. Cukup jalan kaki beberapa langkah saja sudah sampai di warung sederhana itu.  Kami disambut dengan ramah oleh pemilik warung sambil menyodorkan daftar menu. Ternyata cukup banyak pilihan.  Saya memilih makan nasi capcay dan puyunghai, teman-teman saya memilih nasi goreng dan nasi ayam kecap sebagai santapan malam itu. Lumayan lezat!
Selesai mengisi perut, kami ingin menikmati suasana desa Panglipura sambil berjalan-jalan ke rumah-rumah penduduk. Meski setiap rumah dibatasi dengan tembok namun, setiap tembok terdapat pintu atau akses ke rumah tetangga.
            “Setiap rumah yang dibangun harus ada akses ke tetangga. Tidak boleh ditembok semuanya. Begitu juga dengan rumah tetangga lainnya juga demikian. Jadi semuanya saling berkesinambungan tidak ada yang terputus,” jelas pria paruh baya pemilik rumah makan.

Orang sedang sembahyang di pura

Kami pun berkunjung ke rumah tetangga pemilik warung. Disitu kami melihat seorang ibu sedang sibuk membungkusi kue donat hasil kreasinya sendiri. Merasa tertarik, kami pun mampir dan bercengkrama dengan ibu dua orang anak itu. Perempuan tersebut mempersilahkan kami duduk di bale-bale yang ada dirumahnya.
            “Ini donat terbuat dari ketela (ubi jalar) bukan kentang. Kebetulan ada yang pesan 300 bungkus,” ucapnya sambil sibuk membungkus donat-donat yang sudah dibaluri mentega dan ceres coklat.
Hampir setiap hari perempuan ini membuat donat untuk dijual di sekitar desa dan juga ke beberapa warung yang ada di luar desa Panglipura. Meski bukan mata pencaharian utama, namun perempuan yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru SD ini meluangkan waktunya untuk membuat donat disela-sela waktu kosongnya.

Berjualan di desa panglipura

            “Kebetulan saya hobi membuat kue. Nggak ada salahnya saya salutkan hobi saya ini dan bisa menambah penghasilan dan membantu suami,” ucapnya bijak sana. Kami pun tertarik untuk mencicipi donat buatan perempuan itu. Satu bungkus berisi tiga donat dibandrol harga Rp.5000,- . hmmm, ternyata donatnya nggak kalah lezat dari donat yang ada di toko kue. Sambil menikmati donat buatanya, perempuan itu pergi ke dapur dan beberapa saat kemudian dia membawa empat gelas teh manis panas.
            “Biar makan donatnya lebih nikmat, saya buatkan teh untuk mas-mas dan mbak –mbak. Nggak bayar kok,” ucapnya sambil meletakkan teh manis panas di hadapan kami.   Sambil menikmati donat dan the manis, datang seorang pria sambil menggendong bayi perempuan. Kemudian menyalami kami satu persatu. Ternyata pria tersebut suaminya. Obrolan pun semakin seru, karena sang suami merupakan pria yang aktif di organisasi di desa ini, sekaligus mengajar kursus bahasa Inggris di SMP juga untuk anak-anak dikampung itu. Banyak nformasi tentang desa ini yang kami dapatkan dari pria yang sempat mengecap pendidikan di perguruan tinggi di luar pulau Bali.

            “Desa ini terdapat  236 KK dan menempati 76 kavling. Kalau soal luas, desa ini luasnya sekitar 112 hektar.
jadi lumayan luas untuk dikelilingi,” jelasnya Dia juga menjelaskan kalau hampir semua bangunan rumah di desa ini memiliki model dan bentuk yang sama. Karena ada sejarah dan filosofi dibalik bangunan tersebut. “Perhatikan semua bangunan rumah disini, dari ujung timur ke ujung selatan semua bentuknya sama.  Ini salah satu daya tarik dari desa ini.” imbuhnya lagi. Berhubung malam hari, saya tidak bisa melihat seperti apa bangunan yang dia maksud. Mungkin esok pagi baru bisa terlihat jelas.   
Malam semakin larut udara di desa ini pun semakin dingin, saya dan teman-teman memutuskan akan meng-explore desa Panglipura esok hari. Supaya kami bisa melihat lebih jelas seperti apa wujud desa tradisional yang kini menjadi salah satu alternative objek wisata yang cukup menarik di Bali.
 Pagi-pagi saya terbangun karena terdengar suara musik gendang gamelan dan suara orang sedang sembahyang lewat speaker yang terpasang dibeberapa sudut desa. Suara speaker cukup membangunkan saya dari tidur nyenyak. Saya pun tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk berlama-lama di dalam kamar. Ketika ke luar dari kamar, udara masih terasa sangat dingin. Kabut tebal masih menyelimuti desa ini. Tapi, beberapa warga sudah melakukan aktivitas mereka. Ada yang bersiap-siap pergi ke pura, ada yang berolahraga da nada juga yang sedang membawa belanjaan sarapan. Setiap berpapasan warga desa Panglipura selalu menyapa dengan ramah.
            “Darimana?”
            “Kami dari Jakarta, Pak..”
            “Nginap dimana?”
            “Di penginapan disitu..” jawab saya sambil menunjuk kearah penginapan kami.
Sepertinya dua kalimat bertanya itu selalu dijadikan pembukaan untuk bertegur sapa. Karena setiap berpapasan dengan warga disini, pertanyaan yang kerap keluar dari bibir mereka adalah, Darimana? dan nginap dimana? Setelah itu terjadi percakapan panjang dengan akarab.
Pagi itu, saya dan ketiga teman saya memulai explore desa Palingpura sambil ngobrol-ngobrol dengan warga setempat yang kebetulan berpapasan di jalan. Terlihat kalau hampir semua warga disini senang ngobrol. Pertanyaan satu bisa dijawab dengan panjang lebar. Mengingatkan saya ketika berkunjung ke desa Tenganan di Bali juga. Pagi itu saya melihat seorang bapak membawa bungkusan berisi makanan. Iseng saya bertanya.
            “Beli apa tuh pak?”
            “Nasi kuning untuk sarapan. Kalau mau beli ada di rumah sebelah sana. Nanti belok ke utara. Disitu ada jual aneka makanan untuk sarapan. Harganya juga murah-murah kok. Pergi aja kesana.” Jawab si bapak panjang lebar.
See? Si bapak menjawab dengan panjang lebar dan detil. Jadi saya cukup bertanya singkat pasti akan mendapat keterangan yang super jelas dan akurat.
Kami pun pergi ke rumah yang ditunjuk si bapak. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Kami masuk ke pintu gerbang angkul-angkul (pintu gerbang khas Bali) yang merupakan akses menuju rumah penduduk. Hampir setiap rumah disini ada angkul-angkulnya. Itu menjadi salah satu ciri khas bangunan disini. Setelah saya cermati, setiap rumah dibangun dengan bentuk dan ukuran yang seragam. Bentuk arsitektur bangunan rumah yang tradisional. Tersusun rapih dari ujung ke ujung.
Setiap rumah memiliki dapur dibagian depan bukan dibelakang. menurut salah seorang pemilik rumah yang kami kunjungi, Masing-masing rumah terdiri dari bangunan rumah utama, bale-bale, dapur, jineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk pemujaan.
“Kalau biasanya letak dapur paling belakang tapi disini paling depan. Karena dapur menjadi tempat yang paling penting disini.Kemudian ada tempat suci, Jineng untuk lumbung padi, bale-bale, baru rumah utama,” jelasnya lagi.
Bangunan-bangunan itu berdiri secara sendiri-sendiri dan letaknya terpisah meski jaraknya berdekatan tapi ada batas antara dapur dan bale-bale, tempat suci dan rumah utama. Dan setiap rumah harus ada pura kecil tempat sembahyang.
            “Meski kecil tapi wajib ada pura disetiap rumah. karena setiap hari kami harus sembahyang.kecuali kalau ada acara sembahyang besar, warga sembahyang bersama di pura yang besar di hilir,” Tambahnya lagi.
Pagi itu akhirnya kami menikmati sarapan di salah satu rumah penduduk yang menjual sarapan pagi berupa nasi putih ditambah sayur mayur dan ikan tongkol. Kami langsung memesan di dapur pemilik rumah. cukup unik bukan? Kami dilayani persis di dapur rumah. dan itu sudah menjadi hal yang biasa di desa ini. Menandakan keakraban antara tamu dan pemilik rumah.
BAMBOO FOREST
Selesai menyantai sarapan pagi, kami berjalan-jalan menuju pura yang paling besar di desa ini. Pura ini berada di bagian hilir menuju arah hutan bambu. Pura ini sering dipakai untuk upacara-upacara adat di desa ini. Setiap ada sembahyang besar, maka warga Panglipura memadati pura yang ukurannya lumayan besar ini.

bamboo porest Desa panglipura

Penasaran dengan hutan bambu yang menjadi salah satu icon di desa ini, kami pun berjalan-jalan pagi menikmati udara segar di desa ini. Pagi itu kami ditemani seekor anjing putih yang begitu ramah. Dia menemani kami dengan setianya mengelilingi hutan bambu. Menurut warga setempat, rumah tradisional Bali sebenarnya harus memiliki dasar bambu. Seperti atap rumah yang terbuat dari bambu. Jadi tidak heran mengapa kawasan desa-desa adat selalu ada hutan bambu selain hutan kayu.
Hutan bamboo di Panglipura memiliki luas 45 hektar dan memiliki bermacam-macam jenis bambu. Hutan bambu ini sudah ada sejak desa ini dibangun. Bahkan sebagian dari bahan untuk mendirikan rumah di desa ini diambil dari hutan bambu.

hutan bambu desa panglipura

Karena hutan bambu ini cukup lebat dan tumbuh dnegan subur, tidak heran kalau hutan bambu menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi para turis jika datang ke desa ini.  Seperti saya dan teman-teman menjelajahi hutan bambu melalui jalan setapak yang dibuat oleh warga setempat secara permanen. Jadi tidak perlu takut tersesat jika masuk ke dalam hutan ini.
KARANG MEMADU
Karang Madu

Selain Pura, Bambu forest, alah satu keterangan tulisan yang menarik perhatian saya di papan penunjuk arah di dekat pintu masuk ke desa adalah Karang Memadu. Saya sempat berpikir kalau itu artinya adalah tempat produksi pembuat madu. Ternyata saya keliru besar.
“Karang Memadu itu tempat yang disediakan warga untuk warganya yang ingin menikah lagi. Kalau seorang suami menikah lagi maka dia akan keluar dari kampung ini pindah ke sebelah sana (Karang Memadu),” jelas seorang ibu yang baru saja pulang belanja sayur-sayuran.
“Jadi, disini warganya diizinkan untuk menikah lagi?”
“Tidak ada larangan tapi bagi warga laki-laki yang berniat akan menikah lagi, dia harus siap meninggalkan keluarganya dan tinggal di  tempat Karang Memadu yang sudah disediakan warga.” Jelas perempuan itu.
“Selain itu, mereka yang nekad memadu istrinya, dia juga siap dikucilkan penduduk disini. Ada hukum adat yang harus dterima. Tidak boleh ikut sembahyang bersama-sama. jadi pria yang nekad memadu, maka istri madu dan anak dari yang dimadunya juga akan mendapat sanksi, kalau ada upacara adat dia tidak boleh berbaur dengan warga setempat,” imbuhnya lagi.
Karena begitu berat sanksi yang akan diterima bagi pria yang hendak memadu istrinya, sampai saat ini lokasi Karang Memadu masih kosong tidak berpenghuni. 
“Dulu ada yang sempat mau memadu istrinya, tapi tiba-tiba batal dan tidak jadi menikah dengan perempuan yang madu dimadu. Mungkin takut dikucilkan sama penduduk disini,” cerita ibu itu lagi.
Dengan berlakunya hukum adat dan denda hukum moral untuk keturunan yang diberikan pada pria yang hendak memadu istrinya, sehingga tidak satu pun pria di Panglipura nekad menikah lagi. Dan kehidupan rumah tangga penduduk disini cukup rukun dan harmonis. 

TRI HITA KARANA


Awal mula keberadaan Desa Penglipuran sudah ada sejak dahulu, konon pada zaman Kerajaan Bangli. Para leluhur penduduk desa ini datang dari Desa Bayung Gede dan menetap sampai sekarang, sementara nama “Penglipuran” sendiri berasal dari kata Pengeling Pura yang mempunyai makna tempat suci untuk mengenang para leluhur. Masyarakat Desa Penglipuran mayoritas penduduknya adalah sebagai petani. Desa ini mendapatkan penghargaan Kalpataru dan ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah pada tahun 1995.
Penduduk desa Palingpura penganut falsafah. Sebuah falsafah dalam agama hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan sang Pencipta. Jadi penduduk desa ini sangat menjaga warisan dari nenek moyang mereka secara turun temurun. Khususnya dalam membangun desa ini. Lihat saja semua bangunan tampak seragam dan saling berhadap-hadapan. Masing-masing rumah hanya dipisahkan oleh jalan utama desa.
Begitu juga dengan penduduknya, semua hidup saling gotong royong untuk menciptakan desa ini tampak selalu bersih dan aman. Sejak masuk ke lingkungan desa ini, saya sudah terpaku dengan kebersihan desa ini. Karena setiap warga didesa ini sudah diterapkan soal kebersihan. Wajar kalau hampir setiap tahun desa ini mendapat penghargaan sebagai desa terbersih dari beberapa desa yang ikut berlomba.
“Kami harus mempertahankan juara ini sebagai desa terbersih. Hampir setiap tahun kami memeangkan penghargaan sebagai desa terbersih dan terapih,” jelas seorang pria yang baru selesai sembahyang di pura. 
Karena sering mendapat penghargaan, maka desa ini pun telah menjadi desa adat yang menjadi salah satu tujuan wisata para turis lokal dan mancanegara. Bahkan banyak juga mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas dibelahan nusantara ini memilih desa ini tempat studi banding mereka.
            “Baru-baru ini, mahasiswa dari universitas di Jogja melakukan studi banding disini. Pokoknya desa kami ini sering dijadikan tempat studi banding,” akunya bangga.
Dari hasil kegiatan parawisata, dan kunjungan para turis-turis, desa ini mampu membiayai sendiri hampir semua kegiatan karangtaruna dan kegiatan upacara adat lainnya.  Salah satu pemasukan desa ini selain bertani adalah, tiket masuk pengunjung yang ingin berkunjung ke desa ini. Untuk turis lokal dikenakan biaya Rp. 15.000,- untuk dewasa, dan anak-anak Rp.10.000 sedangkan turis asing dikenakan biaya Rp.30.000,-  untuk turis dewasa dan anak-anak Rp.25.000,- uang tersebut masuk ke dalam kas desa ini untuk dipergunakan kembali pada keperluan desa ini juga.

Sungguh adem rasanya berada di desa Panglipura ini. Jauh dari hiruk pikuk Bali yang sudah begitu terkontaminasi dengan modernisasi. Di desa ini saya masih bisa merasakan ketenangan, keramahan dan juga keakraban antar penduduk. Desa ini juga menjadi desa ramah lingkungan. Karena desa ini tidak mengizinkan kendaraan masuk ke dalam desa ini. Seperti motor dan mobil hanya diizinkan berhenti di parkiran yang sudah diediakan cukup luas. Jika ingi masuk ke desa ini cukup berjalan kaki saja.
Penataan fisik bangunan dan pola penataan kawasan di Desa Wisata Penglipuran sangat kental dengan budaya Bali yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Budaya yang berlaku turun temurun. Nuansa tradisional Bali sangat terasa. Terdapat jalan utama yang membelah desa dengan deretan gerbang/pintu masuk menuju rumah-rumah. Pintu masuk ke tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko. Pintu sengaja dibuat tidak terlalu lebar dengan maksud agar tidak dapat dilalui oleh motor. Tiap gerbang ditempeli tulisan keterangan tentang nama pemilik rumah dan anggota keluarga.
             Saya juga merasakan nikmannya meneguk minuman khas desa Panglipura Cem-Ceman yang terbuat dari daun Cem-ceman yang hanya terdapat di desa ini. Rasanya cukup membuat rasa dahaga hilang seketika. Karena rasanya menyegarkan. Mirip jus buah kedondong. Asem-asem manis. Selain Cem-Ceman ada juga minuman kunyit asem yang juga dibuat di desa ini. Meski sering dijumpai pada penjual jamu gendong. Namun rasa kunyit asem di desa ini lumayan menyegarkan. Hmmm, sangkin nikmatnya, saya dan teman-teman membawa pulang beberapa botol minuman Cem-Ceman dan Kunyit Asem.    
            Jika hendak liburan ke Bali, bosan dengan suasana yang begitu begitu saja, coba menepi sejenak ke desa Palingpura. Mungkin anda akan merasakan sensasi baru pada traveling anda kali ini.
Have a great adventure, buddies!!!





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....