Hati-Hati Memilih Agen Travel Berlabel “Open Trip” (Mendaki Gunung Merbabu)




Sebagai orang yang suka traveling, gue selalu memanfaatkan “jatah” liburan gue dengan melakukan traveling. Terserah itu perjalanan di dalam kota saja, atau out of town, atau pun ke pulau dan ke Gunung. Yang pasti hal-hal yang berbau alam merupakan destinasi pilihan utama gue. Terkadang mengajak teman untuk traveling bareng itu gampang-gampang susah. Banyak alasan yang membuat jadwal tidak singkron dengan keinginan kita. Karena terbentur ketidak cocokan jadwal libur, akhirnya gue sering nekad melakukan perjalanan seorang diri.

Meski kalau melakukan solo trip, kita akan mengeluarkan biaya yang harus ditanggung seorang diri. berbeda kalau trip bareng-bareng, beberapa biaya bisa di “share” bersama-sama. Ya, misalkan penginapan, transportasi atau juga mengunjungi tempat-tempat yang mengeluarkan bujut. Begitu juga dengan biaya makan. Lumayan bukan?



Hanya saja, kalau trip bareng teman-teman, kita harus toleransi dan menjaga ego masing-masing agar tidak menimbukan hal-hal yang tidak diinginakn saat trip bareng. Kita harus bisa mengalah dan juga sesekali mengikuti kemauan teman yang ikut bareng kita. Karena, trip bareng teman-teman dalam keadaan saling diam hanya gara-gara saling mementingkan ego masing-masing itu sangat tidak mengenakkan. Dan, satu hal, kalau trip bareng teman-teman kita harus saling bertanggung jawab agar trip tersebut berjalan dengan lancar sampai trip berakhir.




OPEN TRIP
Tapi, ada solusi lain agar biaya solo trip kamu tidak membengkak, yaitu ikut join “Open Trip”. Sekarang ini begitu banyak dan menjamurnya agen-agen perjalanan “dadakan” menggelar open trip dengan beberapa destinasi yang menggiurkan. Mulai dari Trip ke pulau, ke gunung, ke desa-desa atau ke Luar negeri, Biasanya para agen berlom-lomba menawarkan paket yang menggoda dengan harga yang  membuat anda tertarik. alias murah dan terjangkau.

Akhirnya, gue pun mencoba ikut open trip yang terpampang di timeline sosial media gue. Awalnya gue menanyakan hal-hal penting soal open trip. Setelah merasa yakin, baru deh gue mendaftar. Apalagi mereka membatasi quota rombongan yang ikut. Membatasi quota jauh lebih baik ketimbang quota unlimited. Bisa tidak nyaman selama melakukan trip. Kebanyakan orang cuy!


Selama ikut open trip, belum pernah gue merasa kecewa karena pelayanan atau pun karena tidak sesuai dengan apa yang ada di itinerary yang ditawarkan si agen sebelum gue mendaftar. Semua berjalan dengan lancar, sampai akhirnya gue puas dan tertarik untuk ikut open trip ke destinasi selanjutnya.



Tapi, Kali ini gue merasa kecewa dan tertipu dengan Agen berlabel Open trip yang menawarkan trip naik Gunung Merbabu. Si agen ini benar-benar sangat tidak professional. Saat dikritik karena gue merasa tidak puas akan pelayanannya bukannya berterimakasih mendapat kritikan dari rombongan yang pernah ikut paket yang ditawarkannya eh, malah nyolot dengan kata-kata sok bijaksana dan terkesan tidak mau disalahkan. “Ada masalah apa dengan team saya?” tanyanya ketus. Kemudian panjang lebar orang yang menurut gue sombong ini mengatakan kalau mereka orang baru yang menjalankan profesi seperti ini berawal dari hobi. Ya iyalah, semua kegiatan dan bisnis bisa sukses meski diawali dari hobi. Asal menjalankannya secara professional dan mau menerima kritikan. Gue juga dulu pernah punya travel agent yang berawal dari hobi. Semua kritikan yang pedas-pedas gue terima dan jadikan “ilmu” untuk menambah masukan untuk memperbaiki lebih baik lagi. Ini eh malah nggak mau menerima kritikan.


Ketika gue menanyakan paket trip tersebut, dia menawarkan harga Rp. 550 rb (include tiket kereta PP). Tap berhubung karena gue tidak naik kereta, tentu yang dipotong biaya ongkos kereta bukan? Jika tiket kereta sekita 100-an, bagaimana mungkin gue dipatkoin harga Rp. 400 ribu?  tapi, gue anggap saja nggak masalah. Itung-itung amal. Dan berharap semoga adventure naik gunung berjalan dengan lancar.

Gue memilih naik pesawat karena masalah efisiensi waktu. Gue pernah naik kereta dari Jakarta –Surabaya – Banyuwangi selama 17 jam. Dan sejak saat itu gue ogah menyiksa diri naik kereta. Toh harga tiket pesawat juga nggak beda jauh dengan kereta. Lebih baik keluar duit lebih ketimbang menyiksa badan yang akan melakukan petualangan naik gunung. Wajib menyimpan energi bukan?



Tiba di Solo, gue langsung ke Boyolali. Karena meeting point dengan rombongan di Boyolali. Subuh hari kami pun berkumpul di basecamp. Seperti Open trip yang pernah gue ikuti, setelah berkumpul, segala biaya hidup selama perjalanan sudah “resmi” ditanggung oleh si penyelenggara trip. Tapi, kejadian kali ini beda. saat sarapan pagi, sebelum naik gunung jelas wajib dong ngisi perut. Gue pikir si Agen sudah menyediakan sarapan untuk rombongan. Tapi dasar nggak ada otak, malah anteng-anteng saja. Kami terpaksa makan dengan biaya sendiri dan itu masih gue toleransi. Padahal di itinerary sudah tertera Sarapan pagi, Makan siang dan makan malam.  di hari pertama. Tapi apa lacur? Capek-capek naik gunung, makan siang malah TIDAK ADA dan malah di rapel dengan makan malam. saat mendaki perut sudah keroncongan si agen malah anteng-anteng saja nggak ada inisiatif. Apa itu harus ditolerin???  JELAS TIDAK!

Sampai akhirnya di posko 3,  pukul 3 sore, mendirikan tenda dan langsung masak. dan pukul 5 sore makan siang digelar dengan keadaan perut sudah tidak bisa menerima. Makanan yang dihidangkan juga sangat tidak sopan. TEMPE dan sosis yang dipotong kecil-kecil lalu digoreng dan dikuahin sudah deh itu yang terpaksa dimakan.  Makan malam tidak ada…

Luar biasa bukan???



Mau alasan telat nyampe posko, seharusnya si agen punya otak kalau mereka itu kami bayar. bukan trip bareng-bareng dan bayar masing-masing. Jadi mereka punya tanggung jawab soal apa yang kami butuhkan. Terutama soal logistic. Ketika belum nyampe Posko dan belum mendirikan tenda, seharusnya pihak agen menyediakan snack untuk dimakan mengganjal perut. bukan diam saja. Parahnya lagi, masing-masing rombongan disuruh bawa minuman (air mineral) dan beli pakai uang sendiri, Kemudian air mineral tersebut saat tiba id posko dikumpulin untuk dipakai keperluan logistic. Hei! seharusnya Anda ebagai agen menyediakan KHUSUS minuman untuk rombongan. Bukan meminta minuman-minuman rombongan untuk keperluan bersama. KAlaupun rombongan bawa minuman, ya itu untuk kepentingan pribadi. MIKIR!!!

Karena makan malam sudah tidak ada lagi, gue memilih tidur. ditambah cuaca sangat ekstrim, sampai-sampai tubuh gue menggigil parah. Sempat khawatir kalau gue kena hipotermia. Berkali-kali gue balurin badan dengan minyak kayu putih.

Keesokan harinya, disodorin sarapan Roti dan susu coklat. Siang harinya makanan agak mendingan. Ada sayur, sosi, nugget, ikan teri. Ya lumayan komplit. di hari kedua gue dan rombongan tidak complain karena logistic masih tepat waktu.  Sampai akhirnya kami pun turun gunung dan tiba di basejam jam 5 sore.  Karena sore menjelang, gue menanyakan ke  salah satu agen soal makan malam.
            “Kita makan malam dimana?” eh dia malah menjawab dengan nada bingung,” hmm.. mungkin kami makan malam di luar.” jawabnya. Jelas dong gue kesal. Karena makan malam masih tanggung jawab Agen. “Ingat lho, makan malam masih tanggung jawab kalian. Lihat di itinerary, makan malam masih tertera disitu.”
Mungkin tersadar atau Sadar karena setelah di kritik, akhirnya si agen memesan Indomie untuk rombongan. INDOMIE lho! Tapi, nggak apadeh. Yang penting dia sadar bahwa kami sudah membayar uang pada mereka. Bukan Gratis.



Sampai akhirnya salah seorang agen meminta uang ke gue (yang kebetulan belum gue lunasi.) disinilah mulai muncul  perdebatan gue dengan si ketua agen yang menurut gue sombong dan tidak mau menerima saran. Malah menganggap gue yang sombong. Sudah jelas-jelas salah kok susah banget mengakui eksalahan. Anda menjual jasa, jika Anda melayani dnegan baik, maka kebaikan akan berkumandang kemana-mana. Jika buruk ya anda harus banyak belajar dan berjiwa besar selalu emneriam kritikan.

Akhirnya gue memberikan Rp.300 ribu untuk trip yang sangat mengecewakan kali ini. Dan gue berjanji, TIDAK AKAN pernah tertarik dengan trip yang digelar akun Isntagram benama @MDPL_Indonesia. Waktu itu gue tergoda dengan foto-foto yang dipajang di instagram tapi ternyata pelayanan sangat tidak professional. MENGECEWAKAN!

Buat Anda yang merasa pemilik akun @MDPL_Indonesia, banyak belajar dari hal-hal kecil. Terutama kritikan orang yang pernah memakai jasa Anda. Karena kritikan merupakan masukan yang sangat jujur. Bukan karena tendesi apa-apa. Supaya bisnis “Jasa” Anda bisa harum dimana-mana. Karena Anda menjual JASA. Pelayanan hal utama harus diperhatikan bukan pamer foto-foto bagus doang.




Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....