MENDAKI GUNG MERBABU PART 2 : KOMPLITNYA PENDERITAAN - END



Busyettt...
Gue hampir lupa melanjutkan cerita tentang pengalaman mendaki Gunung Merbabu Awal November lalu. Maklum, kesibukan gue belakangan ini cukup menumpuk. Ditambah lagi gue sekrang sedang giat-giatnya belajar editing video (After effect dan Adobe Premier yang ribettt). Plus kerjaan-kerjaan lain yang susul menyusul. Sehingga kebiasaan tulis menulis gue sedikit keteter. Ini juga, kalau tidak dipaksain menulis mungkin akan kelewata begitu saja. Sementara tahun 2016 sudah hampir diujung tanduk. Tentu lain kisah lagi dong di tahun 2017 nanti...

Baiklah, gue akan melanjutkan kisah Mendaki Gunung Merbabu part ke 2.....

Setelah mulai pendakian dari pintu gerbang jalur SELO, perlahan-lahan kami mulai menapaki jalan yang masih bersahabat. masing-masing membawa carrier yang lumayan bikin mati gaya. Dulu, waktu gue dan teman-teman mendaki Rinjani, segala barang-barang berat diserahkan pada porter. Ya, kami menyewa mereka paket komplit. Sehingga beban yang dipikul tidak berat-berat amat. beda dengan Mendaki Merbabu. Segala-galanya bawa sendiri. Bahkan minuman untuk kepentingan bersama pun disuruh bawa masing-masing minumal 2 botol besar... Kalo begini namanya sebenarnya bukan membawar OPEN TRIP. Ini sama saja dengan naik gunung bersama-sama tanpa ada embel-embel open trip dan bayar uang yang cukup besar ke mereka. Karena semua beban dibawa masing-masing.

Sialannn...



Tiba di posko pertama, kami berhenti. Masing-masing mengeluarkan minumannya sendiri-sendiri. Santai sejenak, lalu berjalan lagi menuju posko berikutnya dengan "medan" yang mulai sedikit tdak bersahabat alias banyak tanjakan dan sedikit "bonus" alias jalam yang datar. Nafas semakin ngos-ngosan. Beberapa teman gue terlihat semakin pucat pasi dan mengeluarkan keluhan keluahn kapok. Ketemu pos pemberhentian, Lagi-lagi kami berhenti untuk mengendorkan urat2 yang mulai tegang. Minum sedikt semi sedikit sampai stamina benar-benar kembali pulih.  Msski berhenti di posko, yang namanya Tim dari si Open trip tidak pernah ada inisiatif untuk menawarkan cemilan atau  apapun sebagai pengganjal perut yang mulai kriuk kriuk. Sebenarnya tanggung jawab mereka menyediakan cemilan dalam perjalanan. Karena KAMI MEMBAYAR mereka UNTUK SEGALA FASILITAS selama pendakian sampai kembali ke Basecamp. Tapi, semua itu hanya ilusia. Sepanjang perjalanan gue dan teman-teman mulai mengeluhkan KETIDAK PROFESIONALAN si pelaku Open trip bernama MDLP-INDONESIA.

Sumpah ini orang sangat bikin gue kecewa.

Untung saja teman-teman pendaki cewek membawa bekal coklat, kokies dan dengan berbaik hati menawarkan pada kami. Sebaliknya, kami pun berbagi bekal untuk pengganjal perut. Dan, lagi-lagi tim si MDPL tetap cuek bebek menjurus ke masa bodo.

Pendakian dilanjutkan sampai ke posko 3. Kalau tidak salah, itu sudah menunjukkan pukul 1 lebih. Jam makan siang sudah lewat. Gue jelas mengeluh,"Sudah lewat jam makan siang nih... LAPARRRRR..!!!" Dengan bodohnya tanpa menawarkan makanan pengganjal atau minimal berhenti di posko untuk memasak air untuk bikin kopi atau teh, eh, mereka tetap cuek saja. Anehnya, justru rombongan pendaki lain yang berbaik hati menawarkan kami cemilan sebagai pngganjal perut.. sementara si MDPL ini fungsinya apa??? ANDA kami bayar untuk apa???  hanya untuk mendirikan tenda saja???

 SHITT!!!



Sampai akhirnya pukul 3.30 kami tiba di Pos SABANA 1 atau posko dimana tempat banyak pendaki mendirikan tenda karena view-nya yang bagus. Secara perut sudah benar-benar lapar. Dan semua peserta berucap "GUE KAPOK NAIK GUNUNG SAMA MEREKA LAGI.." umpatan demi umpatan mulai berkumandang. Wajar doongg... bayangin saja, sejak tiba di basecamp, kami tidak disediakan sarapan. Secara mau mendaki gunung yang tingginya 3000-an. Kami harus sarapan bayar sendiri. Sementara dengan begonya tim MDPL bilang," Makanannya bayar masing-masing ya.."
Kami sempat terbengong-bengong. Bukannya ini sudah tanggung jawab mereka? Di itenerary sudah jelas tertera semua ditanggung panitia sejak di basecamp. Hmmm... Fatal nih..

Sejak awal gue sudah mau protes tapi dilarang teman-teman supaya pendakian bisa berjalan dengan lancar. Secara gue paling tidak bisa melihat sesuatu yang ganjil dan tidak sesuai dengan prosedur. Akhirnya gue sabar-sabarin deh...
setelah tenda didirikan, gue langsung masuk ke dalam tenda. kepala mulai terasa puyeng, ditambah angin yang super kencang. gue sudah mulai malas berinteraksi karena tidak suka basa-basi. Gue cuma bilang,
" Makan siangnya mana??? ini sudah lewat berapa jam...??"
"Iya, lagi dimasakin..." jawab mereka.


Dan akhirnya, makan siang bisa dinikmati pukul 5 sore. Makanan ala kadarnya. Ya, gue tau naik gunung harus menikmati makanan apa adanya. Tapi, TIDAK harus lewat jam begini juga kelesss..... dan hari itu, kami cuma makan SATU KALI doang yaitu makan sore. Makan malam dilewatkan dan akhirnya gue dan teman-teman tertidur karena kelelahan bercampur kesal.

Oiya, meski kesal dengan pelayanan mereka, tapi gue juga nggak mau jadi orang bego dong tidak menikmati keindahan alam pegunungan. Gue ngider sendiri mencari spot-spot bagus untuk diabadikan dan direkam lewat kamera gue. Ya, tujuan gue naik gunung selain ingin menikmati alam, juga pengen mengabadikannya lewat foto dan video. Ya, dinikmati saja... selesai mengambil stock shoot dan gambar, gue balik ke tenda dan mulai pasang atribut untuk tidur. maklum, anginnya kencang bangettt...



DAY 2

Sejak awal sebenarnya gue pengen mendaki sampai puncak alias summit. Tapi, karena kondisi kurang fit dan mood gue bener-bener drop. Akhirnya saat teman-teman mau naik ke puncak tertingginya, gue nyerah. ditambah lagi malam harinya gue nyaris tidak bisa tidur karena menggigil semalaman. Sumpah cuaca dingiiiinnnnnn banget. Plus angin kencang yang super kencang. Gue sempat mikir, jangan sampai tenda kami terangkat dibawa angin kencang. Gue lebih memilih tidur dan beristirahat.

pagi itu gue disodorkan  susu coklat dan roti sebagai pengganjal perut alias sarapan. gue hanya bisa menikmati sunrise dari sekitaran tenda. Hmm.. cukup amazing melihat indahnya matahari terbit. Sayang memang karena gue tidak ikut teman-teman menggapai puncak. Tapi, jangan kayak orang susah,tanpa ke puncak tertinggi gue juga bisa menikmati keindahan yang lain bukan..?? Dan, yang paling gue syukuri adalah, selama di atas perut gue tidak memberontak alias pengen beol. Biasanya, rtual pagi gue adalah BE'OL. sempat khawatir kalau sampai keinginan untuk beol tiba-tiba datang. Berdoa dalam hati, jangan beol dong. Beolnya ntar di basecamp di bawah saja...please..please... dan terwujud...



Setelah teman-teman turun dari summit, kami pun makan siang yang di hari kedua lebih manusiawi dan masuk akal. makanan komplit. kami pun makan bersama-sama di atas plasti yang dibentangkan. cukup nikmat. dan gue sangat menikmatinya...

Setelah makan siang, istirahat sejenak, lalu mulai deh mereka bongkar-bongkar tenda. Bersiap-siap untuk kembali turun gunung. Hmm.. seperti kata teman gue, pendaki gunung itu seperti orang yang tidak punya kerjaan alais bodoh. Capek-capek naik gunung cuma pengen tidur di tenda kedinginan dan sakit-sakitan, setelah itu turun dan pulang...
Hmmmm... itulah seninya naik gunung teman- Semua harus dinikmati suka dan dukanyanya. Kalau naik gunung tidur di hotel itu namanya naik gunung yang lain kelesss yaaa...




PUKUL 1 SIANG  (menjelang pukul 2)

Kami bergegas turun karena cuaca mulai mendung. Takut kalau hujan turun saat dalam perjalanan turun. Sama seperti mendaki, beberapa teman mengalami kesulitan saat hendak turun. Karena jalannya yang sangat licin dan terjal. Namun, sebagai pendaki, semua saling mendukung dan memberi support. "Ayoooo kamu bisa...!!"  teriakan-teriakan seperti itu selalu terdengar. Ya, supaya tidak nge-drop shayyy!!!

sama halnya saat mendaki, setiap menemukan posko maka kami pun berhenti. perbekalan makanan dan minuman mulai menipis. Tapi, gue bersyukur karena sebentar lagi kami akan sampai di basecamp. Ya, sekitar pukul 5 sore, setelah berjibaku turun gunung, kami pun tiba di basecamp> PUJI TUHANNN... rasanya senang banget saat sudah tiba di basecamp. Karena gue dengan bebas melepaskan carrier gue yang sangat membebani selama pendakian. Gue pun bergegas membersihkan tubuh yang sudah 2 hari tidak mandi. Meski udara sangat dingin dan airnya pun seperti air es, tapi gue tetap mandi biar segar. Gue juga memaksakan pasukan di perut gue keluar dari dalam alias Be'ol. Ya, akhirnya gue bisa beol di kamar mandi setelah seharian ditahan-tahan... Hmmmm.... nikmattt!!!



Malam hari, sebelum meninggalkan basecamp. gue dan teman-teman mulai mempertanyakan makan malam. Anehnya, teman-teman yang lain itu kenapa selalu takut mengutarakan isi hati mereka. Beraninya hanya bisik-bisik dan bertanya,"kita makan malam dimana? MAkan malam masih tanggung jawab mereka kan?" gue jawab saja," Ya iyalah..."

Lalu, gue pun bertanya pada salah satu tim MDLPL," KITA MAKAN MALAM DIMANA??" si perempuan itu sempat bingung mau menjawab apa. Bahkan dengan begonya dia sempat menjawab," Hmm... kami nanti makan malam kayaknya di luar bang..." langsung dong gue kesal. Itu bukan jawaban yang cerdas. "Bukannya makan malam masih tanggung jawab kalian?" dengan bego lagi dia menjawab," kayaknya makan masing-masing.."
Langsung dong gue bilang," baca dong itenerary. Disitu tertulis makan malam masih ditanggung MDPL.."

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan temannya, dengan terpaksa mereka memesan mie rubus dan nasi goreng di basecamp untuk kami. Sialan, pura-pura bego atau memang bego ya??

Trus, sebelum meninggalkan basecamp, si perempuan meminta uang Open trip yang memang belum gue kasih pada mereka.
"Bang, katanya uang trip belum dikasih ya.."
"Iya... berapa?"
"Katanya 400.."
"Kok 400? gue kan tidak berangkat bareng dengan kalian. Gue naik pesawat bayar sendiri. Jadi yg gue bayar ya seharusnya biaya selama naik gunung tanpa biaya transportasi."
"Katanya segitu bang.."
"Bilang sama dia, gue tidak mau bayar segitu. Gue bayar setelah potong transportasi. Wajarkan gue tidak dikenakan transportasi?"

Akhirnya, si pemilik MDPL wasap gue menanyakan soal uang. Dan muncul perdebatan via WASAP. gue pun mengutarakan kekecwaan gue terhadap pelayanan dan ketidak profesionalan tim dia. Eh, bukannya minta maaf malah ngajak ngotot. malah mengata-ngatain yang tidak ada hubungannya dengan trip. Gue mau naik pesawat atau naik apa juga itu bukan urusan dia bukan??? kenapa dipermasalahkan?



Gue bilang kalau selama ikut trip apa yang ada di itenerary tidak sesuai. Kalau mau membagikan itenerary baca dulu lalu terapkan. Jangan bisanya membagikan tapi tidak sesuai dilapangan. Eh.. ini orang tetap tidak mau mengakui kesalahan dan tetap ngotot mereka tidak bersalah..malah ngaku-ngaku kalau bisnis open trip yg mereka jalankan itu masih baru dan namanya juga mahasiswa. Busyet... mau baru atau lama, mau anak SD aatu orangtua pun yang menjalankan bisnis, selama dijalankan dengan baik mudah2an akan berjalan dengan baik dan terus sukses dikemudian hari. Tapi, apa susahnya sih minta maaf???? ngaku salahhh...

Ya sudahlah... gue malas berdebat sama orang yang tidak mau menerima saran dan masukan. Yang harus Anda fahami, Anda menjual jasa. Hal utama yang harus anda perhatikan dalam berbisnis jasa adalah PELAYANAN. sekali anda melakukan kesalahan dan tidak melakukan koreksi, jangan harap bisnis anda bisa berjalan dengan lancar. Be humble.... kunci kesuksesan...

Selesai meninggalkan Basecamp, rombongan diantar ke stasiun kereta di Solo. Sementara gue masih tinggal satu malam di Solo karena penerbangan gue esok sorenya. Ya, menikmati kota Solo selama lagi..



Meski kesal dan kurang puas dengan pelayanan, saat berpisah dengan rombongan dan tim MDPL, gue tetap respek dan memberikan tips untuk mereka. Ya, minimal untuk belik rokok beberapa bungkus...

Thank u guys untuk pengalaman naik gunung bersama-sama Anda. Dan buat MDPL Indonesia, sejak malam itu gue pun mulai menghapus pertemanan di Instagram dan wasap. Tidak perlu ada pertemanan lagi dengan orang seperti itu.



Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....