Explore Goa Sunyaragi Cirebon & Menelusuri Mitos-Mitosnya

foto: Very Barus



Selesai menelusuri Keraton Kesepuhan, dan Taman Kera Plangon,  Gue dan teman-teman kembali menjelajahi objek wisata yang ada di kota Cirebon. Kususnya cagar budaya yang masih dilestarikan dan terawat dengan baik. Kali ini, kami menyambangi salah satu Goa yang cukup terkenal di kota Udang ini. Namanya Goa Sunyaragi. Goa Sunyaragi ini juga merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati atau Keraton Kesepuhan.

Cagar budaya ini memiliki luas sekitar 15 hektar. Lokasinya berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon. Jarak tempuh dari Keraton hanya sekitar 10 menit, kami sudah tiba di kawasan ini. Kalau dilihat dari konstruksi dan komposisi bangunan situs ini bisa disebut sebagai taman air. Oleh karena itu Goa Sunyaragi disebut Taman Air Goa Sunyaragi.

Seperti biasa, sebelum masuk ke objek wisata, kami harus membayar retribusi (karcis). Ya, tujuannya kita membayar tiket masuk, agar uangnya bisa dipakai untuk biaya melestarikan dan menjaga cagar budaya ini. So, wajib bagi pengunjung untuk membayar tiket masuk. Toh, tiket masuknya juga cuma Rp. 10.000 perorang, tapi kamu sudah mendapat banyak ilmu di dalamnya.

foto: Very Barus

Namanya juga cagar budaya, di setiap pintu masuk, petugas langsung menawarkan, apakah butuh guide atau tidak. Berhubung karena ada teman yang sudah pernah kesini, maka, kami cukup mendapat informasi tentang seluk beluk Goa ini.

Pada zaman dahulu kompleks Goa ini dikelilingi danau yaitu Danau Jati. Tapi, seiring perubahan zaman, Danau Jati sudah berubah menjadi jalan raya. Karena danau mongering dan akhirnya dibuat sebagai jalan. Itulah dia jalan Brgjen Dharsono. Begitu juga, ada sungai yang dulu bernama Sungai Situngkul. Lokasinya sekarang menjadi Pembangkit Listrik tenaga Gas. (PLTG). Ada juga persawahan yang kini berubah fungsi menjadi perubahan penduduk.
Di dalam komplek Goa juga banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias objek wisata ini. Ada juga patung gajah, patung wanita perawan Sunti dan Patung Garuda..


foto: Very Barus


Kompleks Tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Pesanggrahan dan Bangunan Goa. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan Goa-Goa berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Uniknya, rata-rata bagian luar kompleks goa bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk  Candi Bentar sedangkan di bagian dalamnya berbentuk Paduraksa. 

Menurut kisahnya, Induk seluruh Goa yang ada di Sunyaragi adalah bernama Goa Peteng (Goa Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Goa Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Goa Pawon. Goa Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Goa Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan.


Kalau melihat  gaya bangunan di Goa ini, terlihat jelas ada sentuhan  gaya Eropa yang kental. Apalagi bangunan Goa Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut memengaruhi gaya arsitekturnya. Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga yang berputar pada Goa Arga serta bentuk gedung Pesanggrahan.


foto: Very Barus



Sakral Dan Mistis

Jika dilihat dari bangunan-bangunannya, goa ini terlihat sangat sacral. Hal tersebut banyak dilihat dengan adanya tempat bertapa yang ada pada Goa Padang Ati dan Goa Kelangenan.Juga ada di tempat sholat dan Pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka dia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah. jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung  Dewa Wisnu. 


foto: Very Barus


Dikelola Pihak Keraton Kasepuhan

Pada tahun 1997, pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkelai. Sejak dikelola pihak keratin, wujud tempat wisata ini pun terlihat lebih hidup dan berwarna. Terbukti dengan semakin banyaknya pengunjung datang kesini untuk sekedar jalan-jalan dan foto-foto selfie, juga ingin mengetahui sejarah dan kisah mistis di balik Goa ini. 


Agar tempat ini tetap terawatt dan lestari, yuk, kita sama-sama menjaga tempat ini. Jangan merusak, mencoret-coret dan juga JANGAN MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Karena masih banyak pengunjung yang kurang menjaga kebersihan. Masih membuang sampah senekanya. Come on guys! Keep the place clean!

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....